The Other Side Of Me

The Other Side Of Me
should i trust you?



**DAVID’S POV


10.07, rumah**.


Kepalaku terasa pusing dan aku ingin muntah. Itulah yang pertama kali kurasakan ketika membuka mata. Aku berusaha meraih ponsel yang kuletakkan diatas nakas dan sialnya ponsel itu meleset dari genggamanku. Mataku berkunang-kunang dan seketika objek yang kulihat menjadi berganda, pandanganku nggak fokus.


Aku minum terlalu banyak semalam.


Lima gelas penuh tanpa kompromi, jauh lebih mabuk daripada Reagan. Hal terakhir yang kuingat adalah bertemu Sandra di kafe.


Dan sekarang aku ada di rumah


Tunggu. Dirumah?


Apa Sandra membawaku kesini?


Holy shit! Bagaimana dia tahu alamat rumahku?


Maksudku, rumah Hadi.


Aku mencoba menyeimbangkan tubuhku untuk berdiri tegak dan keluar dari kamar, namun ibuku lebih dulu mengetuk pintu.


“masuk” gumamku. Aku berdeham, kesal, suaraku tiba-tiba saja serak. Apa yang kulakukan semalam sampai suaraku terdengar seperti kodok di malam hari?


Ibuku masuk membawa nampan dengan segelas air kelapa muda dan sup merah.


Dia nggak mengatakan apapun, hanya meletakkan nampan itu di atas meja dan memberiku senyuman kecil lalu berjalan keluar.


“apa Sandra nganter aku pulang semalem?” tanyaku sebelum ibuku menghilang dari pandangan


“iya, dia kesini”


“gimana dia bisa tahu rumah ini?”


Ibuku terdiam, dan aku menunggu jawaban. Kenapa begitu sulit baginya untuk jujur?


“mum, aku nggak bertanya untuk dapat jawaban seperti itu” kataku menuntut.


“dia nelepon mama dari Hpmu semalem. Dia bingung harus bawa kamu kemana dengan kondisi mabuk berat”


“bodoh” gumamku.


“jangan nyalahin Sandra. dia Cuma nyoba nolongin kamu. You’re lucky you met her.”


Ibuku benar. Dalam kondisi mabuk bisa saja seseorang merampokku semalam. Di kota sesibuk ini, semuanya sangat mungkin terjadi di malam hari


“kalau nggak ada hal lain yang mau tanyakan, mama bakal turun kebawah” ujar ibuku


“go, do it then” jawabku ketus.


Ibuku pergi tanpa menjawab dan aku menatap kosong makanan yang dia bawakan untukku. Aku sedang nggak dalam suasana hati yang baik untuk makan. Pikiranku berkelana pada kejadian semalam.


Ibuku memberitahu kalau minggu depan dia dan pria itu akan melangsungkan pernikahan di Bali. I was freak out las night. Reaksi pertamaku adalah marah besar pada mereka. kenapa begitu mendadak?


Aku masih belum cukup tenang setelah mereka memberitahuku soal kabar pertunangan mereka yang berlangsung dua bulan sebelumnya. Aku ingat, hari itu tiba-tiba saja ibuku mengajakku pindah kemari dan sosok Hadi Sanjaya semakin gencar berusaha membangun hubungan ayah dan anak denganku. Aku merasa ada yang janggal namun aku nggak sempat memikirkan kalau dia dan ibuku sudah bertunangan.


Bagaimana aku bisa begitu bodoh?


Bagaimana bisa ibuku melanggar janjinya sendiri padaku?


Lagi lagi, semua gara-gara cinta.


Aku nggak memikirkan hal lain kecuali meninggalkan rumah dan mengajak Reagan minum bersamaku. Kristi ada disana semalam. Aku mulai berpikir sesuatu terjadi diantara mereka berdua, namun aku mencoba mengabaikannya. Satu jam dia menemaniku dan mendengar semua keluh kesahku tentang keluargaku dan aku berakhir sendirian di bar karena Reagan terlalu khawatir pada Kristi. Dia bahkan nggak membiarkan dirinya mabuk. Detik berikutnya, seorang penari strip mendekatiku dan menawarkan diri, namun aku menolaknya dan memutuskan pergi dari bar.


**** love for making my people leave me.


aku meneguk habis air kelapa yang diberikan ibuku dan meninggalkan supnya di atas nakas. Setengah jam setelah pusing di kepalaku sedikit berkurang, aku turun ke bawah menuju kamar mandi dan membersihkan diriku. Hadi sedang duduk di meja makan dengan ibuku, membicarakan sesuatu yang entah apa. Mereka menatapku seperti hendak mengatakan sesuatu tapi aku mengabaikan mereka. aku nggak berniat bicara dengan mereka. satu-satunya yang kupikirkan adalah bagaimana caranya mencari apartemen baru yang cukup murah untuk mahasiswa. Penghasilanku sebagai anggota band masih belum mencukupi untuk menyewa apartemen besar.


Haruskah aku datang ke pernikahan mereka?


Apakah setelah menikah lagi ibuku akan melupakanku?


Apa mereka berniat untuk memiliki darah daging mereka sendiri setelahnya?


Kemana aku harus pergi?


Bisakah bandku bertahan di saat aku, Reagan, dan Kristi nggak lagi bisa berkomunikasi dengan baik?


Apa yang akan kulakukan setelah ini, mengingat keputusan sidang komisi disiplin kampus waktu itu?


Pikiranku penuh dengan hal-hal seperti itu dan entah berapa lama sudah aku menyandarkan keningku di tembok, dibawah guyuran air dingin dari shower mengalir membasahi tubuhku.


Aku berhenti ketika suara ibuku terdengar dari balik pintu kamar mandi, bertanya apakah aku baik-baik saja di dalam.


Aku nggak menjawabnya. Kumatikan shower, kukeringkan tubuhku dan melilitkan handuk pada pinggangku.


I’m staring blankly on her eyes and left without a word.


Aku mengenakan kembali kaos hitam dan hoodie biru dongkerku kemarin dan mengemudikan motorku menuju kos Sandra, namun dia nggak ada disana. Waktu menunjukkan pukul satu siang ketika aku sampai. Mungkin masih ada kelas yang harus dia hadiri.


Aku nggak tahu harus pergi kemana lagi, aku benci di rumah, aku nggak mungkin datang ke kampus, dan bar belum buka di siang hari. Jadi kuputuskan menunggu Sandra pulang di depan kosnya, di bawah sebuah pohon rindang sampai aku tertidur karena bosan.


***


SANDRA’S POV


15.32, di depan kos.


Aku terkejut melihat David tidur bersandar pada pohon besar yang ada di depan kosku. Orang-orang sekitar kosku mengatakan kalau sudah dua jam lebih dia menunggu dan tidur disini dan dia terlalu keras kepala untuk mendengarkan orang-orang supaya mencari tempat yang lebih nyaman.


Aku menarik nafas panjang dan berpikir dalam hati sambil menatap pria blasteran yang sedang tidur pulas itu


Dia sama keras kepalanya seperti Jason yang nggak akan pergi sebelum bertemu denganku.


Aku menepuk bahunya dengan keras, membuat David tersentak kaget dan berdiri. Matanya merah dan kantong matanya terlihat jelas. Rambutnya berantakan. Dia bahkan masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin. Apa dia sempat tidur dan membersihkan diri?


“mau apa kesini?” tanyaku ketus


“kenapa kamu bawa aku pulang ke rumah semalem?” matanya langsung fokus menatapku, bibirnya membentuk garis lurus, dia terlihat nggak senang


Aku memutar bola mata “lalu kemana lagi? Aku nggak punya pilihan lain”


“jangan pernah bawa aku balik ke rumah kalau kamu nemuin aku mabuk lagi”


“aku pun nggak berharap ketemu kamu dalam kondisi kayak gitu”


David membuang muka dan mengacak-acak rambutnya


“kamu tidur nyenyak semalem?” tanyaku. Aku nggak bisa menahan diri menanyakannya melihat kantong matanya itu


“gimana aku bisa tidur nyenyak di saat aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku lakuin?!” dia mengangkat suaranya padaku, dan aku membuat beberapa langkah mundur darinya. Rasanya percuma berdebat. Dia sudah menungguku selama dua jam lebih. Pasti ada sesuatu yang penting, atau setidaknya mengganggunya sehingga dia mau menunggu selama itu.


“sudah makan? Kita bisa cari kafe kalau kamu memang mau ngomong sesuatu”


Kruuukkkk


Aku mendengar suara perut. Tentu saja itu David. aku kembali memutar bola mataku


“let’s go find a cafe then”


***


Aku lantas tertawa geli, dan meneruskan makan pancake yang ku pesan.


David menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi setelah ia selesai makan dan menghembuskan nafas lega. Dia terlihat sedikit lebih tenang setelah makan. Rona wajah frustasinya sedikit berkurang dibandingkan tadi.


“aku belum makan apapun sejak semalem” jawabnya


“begitu rupanya” aku mengangguk.


David mengambil kembali garpunya dan membuat potongan kecil di pancake ku, lalu melahapnya. Aku lalu mendorong piring pancakeku ke arahnya, bermaksud membiarkan dia mengambil lebih banyak, dan dia tanpa berpikir panjang langsung menghabiskannya


Inikah sisi lain dari David James Scott? Baru seminggu lebih aku mengenalnya dan dia sudah menujukkan table mannernya yang sangat buruk


“ceritain apa yang terjadi semalem” perintah David saat pancake di atas piring sudah habis bersih dan hanya menyisakan lelehan es krim coklat


“kamu mau detilnya atau garis besarnya aja?”


“detilnya” jawab David.


“kamu bikin takut pelayan kafe dan dia hampir nelepon polisi karena kamu dateng dalam keadaan mabuk berat, terus—“


“aku udah tahu bagian itu. terus” David memotong pembicaraanku


Aku mendengus “fine. Aku dateng, kamu meracau soal pernikahan mamamu, aku bawa kamu pulang ke rumah, dan kamu marah besar disana. You almost destroy all of your parents’ furniture”


David mendengus, pandangannya beralih ke luar jendela “the deserve it, Sandra. harga furniture itu nggak sebanding sama apa yang aku alami seumur hidup”


“apa yang bikin kamu marah besar soal pernikahan mamamu? Apa yang terjadi sama papa kandungmu?” tanyaku penasaran.


“aku nggak nungguin kamu selama berjam-jam buat jawab pertanyaan pribadi semacem itu” jawab David dengan nada datar. Dia terlihat nggak nyaman dengan pertanyaanku, jadi kuputuskan untuk diam.


Aku cukup bisa memahami kenapa dia nggak ingin mengatakannya. Kami berdua masih seperti orang asing. Seminggu lebih saling mengenal terlalu cepat untuk bicara soal masalah pribadi.


“oke, jadi apa yang mau kamu lakuin setelah ini?” tanyaku, merujuk pada kegiatan kami. Yang jelas, aku berniat untuk kembali ke kos dan menghabiskan waktu di kamarku dengan daftar novel dan film yang belum ku selesaikan. Aku butuh hiburan, beberapa hari ini membuaku stres, jujur saja


David mengangkat bahu “i have no idea. i dont have anywhere to go”


“mungkin kamu bisa ngajak temenmu buat hangout? A few hour with your friends can make you forget about your pain”


“aku bahkan nggak yakin apa mereka


bener-bener temenku” jawabnya


“kenapa?”


David menatap mataku, mempelajariku, lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah


“should i trust you, Sandra?”


“aku nggak akan maksa kalau memang kamu belum bisa percaya sama aku. Aku ngerti, rasa percaya butuh waktu”


David diam, matanya fokus menatap sesuatu dan nggak beralih daripadanya selama beberapa saat. Rasa penasaran membuatku mengikuti kemana arah pandangannya.


Seorang gadis berambut ombre hijau dan pria tinggi dengan rambut tebal di wajahnya. Wajah mereka terlihat familiar. Oh, aku baru ingat. Kristi dan teman David yang entah siapa namanya. Si pria melingkarkan lengannya di pundak Kristi dan Kristi melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. mereka terlihat bahagia, sampai akhirnya mereka menyadari keberadaan David dengan pandangan yang tertuju pada mereka.


Aku menata David dan memperhatikan rahangnya mengeras, wajahnya masam melihat kedua orang itu


“let’s get outta here” ujar David yang tiba-tiba berdiri dan menarik tanganku.


Aku yang kebingungan hanya bisa mengikutinya dan berpura-pura nggak melihat Kristi dan temannya.


Detik ketika kami lewat dihadapan mereka, Kristi memanggil nama David dan menghentikannya. Gadis itu terlihat panik, bingung hendak berkata apa. Sementara temannya hanya menatap gadis itu dengan prihatin ketika Kristi melepaskan tangannya dari pinggangnya untuk mengejar David


“David.. hei.. kamu disini... sama dia?” tanya Kristi sambil melemparkan pandangan sinis padaku. Aku memutar mata, berharap nggak ada lagi drama yang harus terjadi. Bukankah seharusnya nggak masalah bagi David? dia bilang dia nggak tertarik pada Kristi


“mind your own bussiness bitch” jawab David dengan sinis, lalu kembali menggenggam tanganku


“anyway...congrats for you two.” Dia lalu menarikku kembali keluar dari kafe.


Kristi dan temannya lantas mengikuti kami keluar.


“David, denger, ini nggak seperti yang kamu pikir” Kristi memohon agar David memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Aku bingung harus bersikap seperti apa. Aku seperti orang asing yang ada di tengah-tengah konflik cinta segitiga


“apa pendapatku penting? Kalau kalian jalan, ya jalan aja. Kenapa repot-repot jelasin ke aku?” tanya David dengan senyum mirisnya.


“aku nggak mau kamu merasa terasing gara-gara—“


“Kristi! Biarin David pergi” gumam pria itu


“kamu denger Reagan, kan? Just... dont think about me. I know he likes you, and i know you’re a ***** for going back and forth between me and him! Whose side are you on, Kristi? Are you trying to destroy our friendship just because of love?!” nada bicara David mulai meninggi dan tangannya mengepal keras di samping tubuhnya


“David—“ aku bermaksud menenangkannya


“dont call him *****! You dont have any right to call her that!” Reagan lantas maju dan membela Kristi. Kini dua pria itu saling melempar tatapan tajam satu sama lain. hanya tinggal menunggu waktu sampai salah satu dari mereka mulai menyerang. Seketika aku teringat pada Jason.


David hanya tertawa miris “so this is how it ends? You two are dating behind my back and i’m just a fucking stupid donkey who doesnt have any idea about it? What am i for you? Am i just a fucking thirdwheel when you guys are dating, kissing, or even fucking together?”


“shut you fucking mouth David!” Reagan menarik kerah jaket David dan bersiap melayangkan pukulan pada sahabatnya itu namun Kristi terlebih dahulu menghentikannya. Sementara aku, aku hanya berdiri mematung. Entah harus bersikap seperti apa ditengah konflik tiga sahabat ini


“kamu nggak pernah memperlakukan dia dengan baik. Kamu bahkan nolak dia ketika dia ngasih semua perhatiannya ke kamu. Lantas apa hakmu buat marah kalau Kristi akhirnya milih aku? Cemburu? Apa hakmu buat cemburu? Dude, use you logic and stop being emotional about everything!” ujar Reagan


David hendak membuka mulutnya, namun aku menghentikannya


“David, please. Bisa kita pergi? kuasai dirimu, oke?” aku menggoyang dan menarik lengan jaketnya, dan David memutuskan untuk mendengarkanku, dan kami berjalan bersama ke parkiran motor


“DAMN IT!” David memukul jok motornya sendiri. Aku hanya diam menyaksikannya meluapkan amarahnya. Jauh lebih baik daripada dia melampiaskannya pada Reagan. Aku takut dia akan berakhir seperti Jason yang harus menderita kerusakan pembuluh darah dan tulang hidung. Aku melihat luka di buku-buku tangannya yang belum sepenuhnya kering. Ada banyak luka di sana.


Ku kira dia sering menggunakan tangannya untuk memukul atau menghancurkan sesuatu.


David, pria yang ada di sampingku ini... seperti inikah dia yang asli?


Apa yang dia sembunyikan sampai-sampai hidupnya jadi seperti ini?


“sekarang kamu tahu salah satu alasan kenapa aku nggak percaya cinta. Hubungan sahabat yang awalnya baik-baik aja sekarang jadi rusak!” Katanya sambil menunjuk ke arah kafe


“aku tahu”


David diam sejenak, mengatur nafasnya yang berat, mengusap wajahnya dengan frustasi


“should i trust you?”


“apa?”


“haruskah aku mulai percaya sama kamu ketika satu persatu orang terdekatku menjauh karena cinta?”


Tanya David sambil memandangku dengan putus asa.


Aku nggak tahu harus menjawab apa. Lidahku kelu dan hatiku merasa iba melihat pria yang berdiri di sampingku ini. Aku memang belum terlalu mengenalnya, dan aku memang belum tahu apa yang membentuknya menjadi seperti sekarang.


Tapi aku berusaha memahami, bahwa seseorang terbentuk karena lingkungannya. Bukan seratus persen kesalahannya ketika dia mempunyai pandangan yang buruk soal cinta. Dia hanya butuh seseorang untuk membantunya meluruskan pandangan itu.


Aku nggak yakin aku adalah orang yang tepat untuk dia percaya, karena aku sendiri pun memandang cinta sebagai sesuatu yang menyakitkan. Aku telah patah. Aku telah rusak karena cinta


Tapi disinilah aku, dipertemukan kembali dengan sosok pria yang bermasalah dimana aku merasa berhutang padanya.


Jika aku ingin membayar hutang itu, aku harus membuatnya percaya padaku


“iya.... kamu bisa percaya sama aku” jawabku sambil memeluk tubuh tingginya. Nafasnya perlahan mulai stabil, dan dia menarik tubuhnya dari pelukanku


“then proof it to me, Sandra” jawabnya.