The Legends Of Yggdrasil

The Legends Of Yggdrasil
Episode 7 - Chapter 9



...Kastil Orc, Shadowarch Maia...


...Rabu, 5 april 4997...


...Pukul 16.17...


"Sssttthh, Hati - hati. Kau dapat mengambil perhatian para orc kalau menimbulkan suara sekecil mungkin." Ucap Hela sambil memandangi para Orc yang sedang berjaga di luar kastil.


"Kau juga berisik tahu! suara mu terlalu besar" Balas Hiyori sambil mengamati para Orc tersebut.


"Mereka kan tidak bisa melihatku bodoh, jadi aku bebas kalau mau bersuara sekeras mungkin."


"Daripada itu, apa kau tahu informasi mengenai makhluk makhluk ini?"


"Kudengar kalau ada ratusan Orc yang berjaga diluar dam didalam kastil, lalu ada Raja Orc yang sedang mengurung dirinya di dalam kastil tersebut."


"Raja Orc? apa dia kuat??'' Tanya Hiyori.


"Sekelas dengan manusia tahap bumi."


"Tahap bumi? aku belum pernah mendengar nama itu, kukira sampai tahap Hitam. Ternyata masih banyak yang belum aku ketahui"


"Yah... itu adalah tahap lanjut setelah tahap hitam. Banyak hal baru setelah kau memcapai tahap ini"


"Hal baru? contohnya??" Tanya Hiyori, tapi sepertinya suaranya terlalu keras hingga menarik perhatian para Orc. Hiyori bersembunyi di bawah semak - semak, tetapi saat ia kebelakang sebuah kaki besar berada di belakangnya.


Orc dengan tubuh raksasa sambil memegang gada kayu mengayunkan senjatanya dan mencoba menyerang Hiyori, Hiyori langsung menghindar serangan it dan hal ini menarik perhatian para Orc lain.


Para Orc langsung mengambil senjata mereka dan berlari ke arah Hiyori. "Sepertinya bakal ada pertumpahan darah lagi, semangat untukmu" Ucap Hela yang melihat dari kejauhan.


"Baramaho : Bara no toge u sasu " Akar - akar duri menjalar dan menusuk para Orc raksasa yang mendekatinya, sebagian dari Orc - Orc itu langsung mati dan sisa - sisa Orc yang masih hidup ia bunuh menggunakan sabit.


Beberapa waktu telah berlalu, Hiyori telah menaklukan para Orc di luar lastil. Ia mengamati dan berjalan menuju gerbang kastil, tetapi saat ia mencoba masuk ke dalam kastil sebuah panah tertancap di lengannya.


Tentu saja itu perbuatan Orcarcher. Ternyata ujung panah tersebut telah diolesi oleh racun , Hiyori merasa kepalanya sangat pusing dan akhirnya terjatuh pingsan.


...Ruangan penjara, kastil Orc...


...Pukul 23.16...


Dimana aku?" Ucap Hiyori, ia membuka matanya dan melihat tangan dan kakinya telah terantai di ruangan batu. Di samping itu, ia melihat elf wanita yang sedang tertidur berumur sekitar lebih dari 500 tahun. Tangan dan kakinya juga ikut dirantai.


"Owh, kau sudah bangun?" Ucap Hela yang datang entah darimana.


"Hela!?"


"Hadeuhhhh, kau terkena racun kupu - kupu tingkat rendah. Racun itulah yang membuatmu pingsan dan berakhir di sini"


"Aku lengah. . ."


"Begini saja, selamat atas keberhasilan mu karena telah mencapai tahapan merah kelas 3, tapi aku memberimu satu ujian lagi"


"Hah!? kenapa tiba - tiba begini??"


"Kau keterlaluan" Balas Hiyori. Tapi tidak lama terdengar suara gerakan kaki, Hiyori langsung pura - pura tertidur dan mencoba mengamati apa yang akan terjadi.


"Ngik ngok ngok ngik!!" Ucap salah satu Orc.


"Ngok Ngok Ngok!!, ngik ngik!!!" Balas Orc lain lalu melihat - lihat ke arah Hiyori, Ia menatap mata Hiyori yang tertutup


"Apa yang mereka bicarakan? mana yang satu ini dekat sekali, salah sedikit aku bisa teriak" Gumam Hiyori sambil mencoba melancarkan aktingnya.


Setelah beberapa detik mengamati wajah Hiyori, Orc itupun berbalik badan.


"Itu dia! kuncinya, tapi bagaimana aku mengambil kunci itu? kalau aku tiba - tiba membunuhnya, pasti akan menghasilkan suara besar" Hiyori mencoba untuk berpikir keras.


Disaat mereka berjalan keluar, Hiyori melancarkan aksinya. Ia membuat akar duri kecil yang yang menjalar, dengan akar duri kecil itu ia segera mengambil kunci dari celana Orc tersebut.


"Dapat!" Ucap Hiyori, sepertinya hal ini tidak disadari oleh Orc itu. Kedua Orc itu keluar meninggalkan Hiyori dan Elf yang ada disampingnya.


Hiyori menggunakan akarnya untuk membuka kunci segel yang ada di tangan dan kakinya, lalu ia melirik Elf yang ada di sampingnya.


"Haruskah aku menolongnya? kalau kutolong aku takut ia akan berkhianat dan malah menyerang ku, tetapi kalau tidak aku mungkin tidak akan bisa keluar hidup - hidup! Ah semoga pilihanku tepat"


Hiyori membukakan rantai egel yang ada di tangan, kaki serta perut Elf yang tertidur tersebut dengan kunci yang ada di tangannya.


"Berat sekali!" Ucap Hiyori sambil mencoba menggendong Elf itu. Saat ia berjalan keluar ruangan, terjadi sebuah gempa kecil yang membuat ia dan Elf itu terjatuh.


Elf itu terbangun dari tidurnya "Tinggalkan saja aku, kau bisa pergi sendiri" Ucapnya.


"Jangan bodoh!" Balas Hiyori sambil mencoba menggendong Elf itu kembali. Saat ia berjalan keluar, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia bingung untuk pergi ke mana.


"Di sebelah kanan, maju dan bersembunyi sejenak kalau ada persimpangan 4" Ucap Elf itu dengan nada rintih. Hiyori menuruti apa yang dikatakan oleh Elf itu, sepertinya pilihannya membawa keberuntungan.


"Berhenti!" Ucap Elf itu, Hiyori telah berada di persimpangan 4, ternyata di sebelah kiri dan kanan terdapat Orc yang sedang berjaga.


Saat waktunya pas, Hiyori mulai berlari maju kedepan, tetapi naasnya salah satu Orc itu melihat Hiyori dan Elf itu yang mencoba kabur.


Hiyori langsung mengetahui salah satu Orc mengejarnya dan diiringi dengan Orc lain, ia berlari dengan cepat agar tidak terlihat oleh Orc - Orc itu.


Elf yang digendong Hiyori berbalik arah danmenembakkan cahaya yang ada di tangannya ke arah atas. Batu - batu di atas runtuh membuat para Orc tidak dapat mengejar sekalipun itu Orc raksasa.


Tetapi para Orc itu tidak tinggal diam, ia membidik panah ke arah Hiyori dan Elf tersebut. Tetapi sepertinya Elf itu memiliki kecepatan insting di atas rata - rata, Ia menahan panah yang hampir menusuk ke lehernya dengan sihirnya.


"Saat ada tangga, naiklah dengan tangga itu sampai ke ruangan atas sekali." Ucap Elf itu.


"Naik tangga? yang benar saja!? ia hanya bisa mengoceh!" Gumam Hiyori.


Hiyori menaiki anak tangga itu satu persatu dengan cepat, tetapi gempa bumi semakin besar, para anak tangga yang sudah dinaiki hancur satu persatu.


"Cepat, kita bisa terjatuh kalau sampai kalah dari kecepatan tangga yang hancur" Ucap Elf itu.


"Orang ini, di diamin ngelunjak. Dikiranya tidak berat apa gendong dia!" Gumam Hiyori yang semakin kesal. Tetapi mengetahui anak tangga yang hancur semakin banyak, ia mempercepat langkah kakinya.


Hiyori dan elf itu telah sampai ke lantai terakhir, ruangan yang berhiaskan langsung oleh malam dan bintang - bintang. Tetapi sepertinya mereka berdua telah ditunggu oleh seseorang bagaikan tamu.