The King Of Priests

The King Of Priests
mysterious plague



sudah satu bulan lebih sejak hansel, wilson dan lucy berangkat dari marlene. hansel terus mengingat kondisi menyedihkan dan mengerikan kota marlene. ia sungguh merasakan perbedaan kondisi dan situasi yang jomplang antara jalan utama dengan jalan kecil gelap bercabang jauh di dalam kota. Hansel juga sesekali memperhatikan alvin yang tampak khawatir. ia terus memperhatikan raut wajah alvin yang terlihat gusar.


"kak, ada apa?" ujar hansel sembari berpindah duduk ke sebelah alvin yang sedang mengendalikan keledai.


"tidak- hanya saja, kudengar terjadi sesuatu di marlene" jawab alvin singkat.


gelagat alvin sangat aneh dalam benak hansel. hansel memperhatikan kaki alvin yang terus mengketuk-ketuk dan wajah alvin semakin terlihat tidak nyaman. hansel hanya bisa terdiam dan memperhatikan jalan di depan mereka. hutan lebat yang kembali mereka lewati sekian lama dan tidak ada perubahan. jalan itu tetap sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan. dari sisi kiri dan kanan jalan terdengar suara burung-burung. hansel juga sesekali melihat cecilia, kondisi wanita itu masih seperti saat di hasgia.


wanita itu membuat hansel terus berpikir bahwa ia masih sangat lemah. hansel merasa segala yang ia lakukan di hasgia belum cukup. hansel terus merasa bersalah pada alvin karena ia membawa alvin ke hasgia.


"kak- aku ingin menjadi kuat" hansel berbicara dengan alvin sembari mengepalkan tangan.


"kau masih muda, nanti juga kalau sudah banyak misi pasti tambah kuat" jawab alvin semau hati, alvin terlihat seakan-akan tidak memperhatikan hansel.


"sejak dari hasgia, kau menjadi seperti ini- sebenarnya ada apa dengan marlene?" tanya hansel mulai kesal.


hansel merasa sikap alvin mulai berubah sejak berangkat dari hasgia. hansel melihat jika alvin tidak lagi berbicara kepada hansel dan yang lain. bahkan ketika leo hampir terjatuh juga alvin tidak menoleh sedikitpun dan terus melanjutkan perjalanan. sikap alvin itu terus seperti itu bahkan ketika mereka sedang beristirahat di penginapan.


hansel kebetulan berada satu kamar dengan alvin. bukan kebetulan sebenarnya, karena semua orang enggan satu kamar dengan alvin yang terus bersikap dingin seperti itu. hanya hansel yang akhirnya bersedia satu kamar dengan alvin meskipun ia juga sebenarnya sudah sangat kesal. hansel merasa jika sikap alvin sudah seperti ketika mereka pertama kali bertemu di desa hylas.


tidak ada sepatah kata sedikitpun keluar dari mulut hansel dan alvin. alvin terus membaca buku cokelat lusuh milik-nya. hansel sungguh heran melihat alvin terus membaca buku yang sama setiap hari. ia semakin penasaran dengan buku itu hingga ingin melihatnya sendiri. tetapi, lebih aneh lagi bagi hansel melihat alvin tidur tanpa baju di cuaca dingin daerah utara seperti ini. kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya hansel melihat tubuh alvin. ia tidak menyangka jika alvin memiliki tubuh yang sangat sempurna. hansel tertawa geli ketika mengingat lucy yang terus memeluk erat perut alvin. ia akhirnya menyadari mengapa lucy terus memeluk erat perut alvin meski kuda mereka sedang berhenti atau bergerak lambat.


"ada apa?" tanya alvin sembari melirik hansel.


"tidak kak, hanya teringat hal lucu- apa kau ingat ketika kita berkuda di hylas?" hansel menjawab sembari menahan tawa.


"tidurlah, besok pagi kita akan pergi" balas alvin dengan dingin.


meski hansel berusaha untuk mencairkan suasana tetapi alvin tetap tidak berubah. sikap dinginnya kembali dan semakin membuat hansel panas. hansel tidak bisa menahan lagi emosi dan perasaan marah dari dalam hati-nya.


..."sebenarnya apa yang terjadi denganmu?!!"...


amarah hansel meledak, ia berbicara dengan nada tinggi. hansel tidak lagi dapat mengendalikan amarah-nya. semua kata-kata dan kekesalan dikeluarkan tanpa jeda sedetikpun. hansel terus berbicara dan berbicara tanpa sadar alvin sudah meletakan buku cokelat lusuh milik-nya sembari terus menatap hansel. tatapan alvin terlihat lesu dan sedih mendengarkan makian dan cacian hansel.


beberapa menit sudah berlalu dan hansel sudah mulai lelah. ia menghentikan cacian kepada alvin dan kini hanya terdiam menunduk. wajah hansel masih merah karena amarah tetapi ia tidak bisa lagi berkata-kata ketika melihat raut wajah alvin yang sedih. rasa bersalah mulai muncul dari hati terdalam hansel dan mulai menyesal karena memarahi seorang pahlawan yang menolong dia dan semua orang hasgia.


"maaf kalau aku bersikap dingin, sebenarnya aku tidak ingin membicarakan ini tetapi sedang terjadi wabah di marlene. aku hanya takut kalian terkena wabah itu dan memikirkan cara untuk melindungi kalian dari wabah itu" alvin akhirnya bicara serius meski dengan pelan.


"wa- wabah? wabah apa kak?" tanya hansel khawatir.


awalnya alvin enggan menceritakan hal ini pada hansel karena alvin tahu betul bagaimana sifat hansel. tetapi hansel terus bersikeras hingga alvin menyerah dan membuka mulut.


menurut saksi, kejadian ini dimulai dua minggu yang lalu. sebuah wabah aneh muncul di daerah kumuh kota marlene dan menyebar seperti api. situasi marlene berubah total dan semakin memanas. wabah itu membuat orang-orang ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri keluar kota. tetapi raja yang mengetahui hal itu segera memerintahkan agar marlene ditutup. kota itu di isolasi sehingga keempat jalur utama benar-benar lumpuh total.


semua dokter dan priest dengan kekuatan penyembuhan telah dikerahkan ke marlene. tetapi tidak ada diantara mereka berhasil menemukan cara mengobati orang-orang marlene. jangankan cara mengobati, jenis wabah itu juga sampai saat ini belum diketahui. wabah ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


wabah yang membuat siapa saja yang terkena akan berperilaku liar dan tidak terkendali. mereka berperilaku impulsif seperti kehilangan semua daya pikir dan nalar. orang-orang ini melakukan segala hal yang mereka mau tanpa memikirkan akibat pada diri mereka dan orang lain. mereka membunuh, memperkosa dan melakukan kejahatan lain-nya. kondisi marlene sungguh mengerikan seperti neraka. wabah ini sungguh mengerikan dan yang lebih mengerikan lagi, tidak ada yang tahu bagaimana wabah menyebar.


"ki- kita harus menolong mereka" meski gemetar hebat, alvin terus berpikir untuk menolong orang-orang marlene.


meski ketakutan, hansel melihat alvin sangat bersemangat ingin menolong orang-orang marlene. tidak ada keraguan sedikitpun terpancara dari mata-nya. hansel juga merasa ingin membantu marlene sama seperti hasgia, ia merasa jika mereka perlu menolong. meski sesungguhnya hansel tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan orang-orang marlene dari wabah.


hansel mengerti bahwa kondisi ini benar-benar berbeda dengan hasgia. mungkin permasalahan hasgia dapat diselesaikan oleh alvin dan jayden. tetapi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan seperti wabah. tidak ada yang tahu asal mula wabah aneh itu dan tidak ada yang tahu bagaimana cara mengobati orang-orang yang telah terjangkit.


mereka berdua sungguh paham bahwa kondisi ini diluar kemampuan mereka. hansel juga memikirkan lucy yang merupakan priest dengan kemampuan penyembuhan. priest dengan kemampuan ini cukup langka dan hampir pasti lucy entah dipaksa atau sukarela akan berhadapan langsung dengan orang-orang terjangkit wabah.


tidak ada kata-kata keluar dari mereka berdua. baik hansel maupun alvin hanya terdiam dan akhirnya memutuskan untuk tidur. saat ini tidur merupakan pilihan terbaik dibandingkan harus terus memikirkan marlene. setidaknya mereka bisa mengalihkan pikiran mereka untuk sesaat sebelum tiba di marlene.


...****************...


pagi sudah tiba dan sekali lagi hansel dan lainya kembali menempuh perjalanan menuju marlene. tidak terjadi apa-apa selama dalam perjalanan kali ini. semua berjalan begitu lancar hingga hansel sedikit melupakan cerita mengenai wabah marlene meski ketika melihat wajah alvin akan langsung membuatnya teringat kembali.


hansel dan alvin juga telah menceritakan semua hal pada leo, wilson dan lucy sedangkan gregory sepertinya sudah mengetahui hal ini dari jayden. reaksi ketiga teman hansel itu juga tidak jauh berbeda dengan hansel. mereka bertiga gemetar mendengar wabah mengerikan yang membuat orang-orang menjadi kejam dan seperti tidak memiliki pikiran juga perasaan.


selama dua minggu mereka berusaha untuk tidak membicarakan marlene di perjalanan. karena setiap kali seseorang mulai membicarakan marlene, raut wajah semuanya akan berubah menjadi cemas dan takut. masing-masing mereka membayangkan kondisi mereka jika terkena wabah itu termasuk alvin. karena semua orang tahu apa yang akan terjadi jika priest terkuat kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


"hansel, ada sesuatu yang sangat penting yang harus kusampaikan padamu" alvin tiba-tiba menghentikan keledai dan mengajak hansel sedikit masuk ke dalam hutan.


meski hansel kebingungan, ia langsung bergerak mengikuti alvin. mereka berdua terus berjalan menjauhi jalan dan tiba disebuah pohon besar. hansel terus memperhatikan alvin dari belakang. ia tidak dapat menebak raut wajah alvin saat ini tetapi ia paham jika alvin sedang dalam tekanan besar.


..."hansel, aku ingin kau membunuhku- jika aku terjangkit wabah itu"...


kata-kata alvin membuat hansel benar-benar terkejut. hansel berteriak kepada alvin dan meminta alvin berhenti berkata omong kosong. ia mendekati alvin dan membalikan tubuh alvin. betapa terkejut alvin ketika melihat priest terkuat, raja para priest memasang raut wajah tidak berdaya dan takut. bukan karena alvin lemah, tetapi karena ia sangat kuat. hansel sendiri tidak mampu membayangkan jika alvin kehilangan kendali.


"aku bisa mengendalikan diriku ketika menyerang hasgia sehingga kota itu masih utuh, tapi- ji-jika aku-- jika aku hilang kendali di marlene--" alvin tidak sanggup menyelesaikan ucapan-nya sendiri. ia terlalu takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada marlene. hansel tidak mampu membendung air mata-nya lagi. ia memeluk alvin dengan sangat erat sembari menangis dengan keras


setelah beberapa saat, hansel dan alvin kembali ke kelompok. leo, wilson dan lucy terus memasang wajah khawatir. mereka tidak bisa menyembunyikan kecemasan sejak mengetahui kondisi di marlene.


"kurasa lebih baik memang kita kembali ke hasgia" ujar wilson cemas dan disetujui dengan anggukan oleh semua orang.


"tidak bisa, bagaimanapun marlene adalah rumahku-- aku harus menyelamatkanya apapun yang terjadi" balas alvin meski sesungguhnya ia sangat berat mengatakan hal itu.


"tunggu, kak-- apa kau adalah priest marlene?" tanya hansel terkejut.


alvin mengangguk dan bercerita bahwa ia lahir dan besar di marlene. alvin dan ratu julia merupakan teman masa kecil di marlene. mereka berdua adalah yatim piatu dan tinggal bersama seorang wanita paruh berbama helena. meski helena bukanlah seorang yang berada, ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan alvin dan julia. helena selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka berdua. helena juga selalu ada untuk mereka dan mereka ada untuk helena hingga suatu hari alvin dan julia mendapatkan kesempatan belajar di akademi priest aksitia.


sejak saat itu alvin dan julia jarang bertemu dengan helena. meski begitu helena tidak pernah mengeluh dan ketika alvin atau julia menemuinya, helena selalu menyambut mereka dengan hangat. bahkan meski julia telah menjadi ratu dan julia ingin membawa helena ke aksitia, ia menolak. helena tidak ingin menjadi beban bagi julia yang merupakan seorang ratu dan memutuskan untuk tinggal di marlene hingga saat ini. karena itulah, alvin sungguh bersikeras untuk pergi ke marlene.


hansel tidak menyangka bahwa alvin merupakan priest marlene karena selama ini ia selalu menyangka alvin berasal dari aksitia. sejak awal hansel memang agak aneh dengan sikap alvin yang sangat cemas dan takut tetapi bersikeras untuk tetap melanjutkan perjalanan ke marlene. hansel juga mulai paham alasan alvin berbicara bahwa dirinya takut jika hansel dan lainya akan terkena wabah. hansel mengerti jika menyelamatkan marlene merupakan keinginan pribadi alvin tetapi disaat bersamaan alvin juga tidak ingin membahayakan hansel dan lainya.


semua orang tahu bahwa perjalanan ini akan sangat berbahaya. tetapi ketika melihat raut wajah alvin yang sedih, khawatir, takut dan merasa bersalah sekaligus membuat mereka tidak tega membiarkan alvin sendiri. Terlebih hansel yang telah menyaksikan betapa terpuruknya alvin belakangan ini.


mereka semua saling memandang satu sama lain dan mengangguk. sebuah keputusan bulat berhasil dibuat. mereka semua memutuskan untuk pergi ke marlene dan membebaskan kota itu. keputusan itu dibawa hansel ke hadapan alvin. hansel berdiri dihadapan raja para priest, menatap mata birunya dan tersenyum hangat. senyuman yang berhasil melunturkan segala emosi buruk, pikiran buruk dari alvin. hansel berhasil membuat sang priest terkuat kembali bangkit dan kini telah siap sepenuh hati juga pikiran untuk menghadapi apapun yang sedang terjadi di kota besar marlene.