
Pagi hari pada keesokan harinya ketika semua anak-anak sedang tertidur, aku memberikan surat kepada mereka dan meninggalkan mereka begitu saja di bangunan yang mereka pilih sebagai rumah mereka. Aku berjalan menjauhi bangunan itu, juga menjauhi kerajaan itu. Dan aku tak bisa berbuat banyak selain membunuh para undead yang berhasil di bangkitkan di desa ini.
Akibatnya, aku merasa berat hati untuk meninggalkan desa ini. Bukan apa-apa, anak-anak itu takkan bisa bertahan hidup tanpa diriku, karena memang potensi berbahaya dari monster ganas yang akan datang ke desa ini tidaklah kecil. Namun, aku perlu pergi dari sini secepat mungkin.
Itu karena..., aku sedang berlomba untuk memperebutkan sesuatu dengan waktu juga pihak kerajaan....
Meski begitu, semakin aku berjalan, semakin berat hatiku untuk meninggalkan desa ini. Dan semua penyintas cilik disini sadar betul dengan kondisi hatiku, tebakku. Lalu, tebakanku menjadi nyata tanpa aku duga.
Ketiga lelaki dan gadis itu berlari mendekatiku dan langsung menangis ketika mereka sudah memeluk kedua kakiku. Aku tak bisa menatap ke arah wajah mereka. Namun, aku tak bisa menyembunyikan rasa sedihku.
“Tuan Artze!! Padahal kau berjanji takkan pergi dari sini!!!” ucap gadis cilik itu.
Itu, yang gadis itu katakan, bukanlah sebuah janji.... Itu adalah keinginan terdalamku, jauh dari lubuk hatiku.... Itu juga merupakan bentuk tanggung jawabku untuk bisa mengasuh ke-10 anak yang selamat dari serangan undead.
Namun, waktu dan situasi sedang tidak bersahabat denganku....
Mengabaikan apa yang kerajaan itu sedang kejar adalah sama seperti aku mengabaikan kondisi anak-anak ini. Mereka pasti akan melakukan pembantaian yang sama kepada anak-anak ini jika tujuan mereka sudah tercapai. Bahkan tak menutup kemungkinan, mereka bisa saja menguasai dunia.
Karenanya, aku perlu jujur dengan mereka. Aku perlu merelakan mereka. Juga, aku perlu teguh untuk melakukan misi bunuh diri yang aku buat sendiri.
Juga, sudah waktunya aku memanggil mereka dengan nama mereka masing-masing tanpa mereka tahu dari mana aku mengetahui nama mereka.
“Thiwan, Gatran, Gatrus, juga Celeste, aku harus pergi dari sini. Aku ingin mencuri apa yang sedang dicari oleh Falmuth. Jika tidak, hal yang sama pada desa ini akan terjadi pada kalian juga.”
“Tuan Artze, kita nggak peduli dengan hal itu! Kita nggak ingin liat Tuan Artze sedih kembali! Dan juga, kita ingin Tuan Artze bisa hidup bersama kami!!!”
Aku tersenyum, akan kehangatan, kebahagiaan, juga kesedihan yang ada dalam diriku maupun pada sekitarku.
“Celeste, aku berterima kasih atas kepedulianmu....”
Aku pun membalikkan badan dan jongkok. Kemudian, aku mengelusi kepalanya seraya memeluk keempat anak yang selamat dari serangan monster undead itu. Lalu, aku melepaskan pelukkanku dan membuat mereka menatap wajahku, meski terhalang helm kesatria ini.
“Sebagai gantinya, aku ingin kalian berjanji padaku.”
Keempat anak itu mulai mengangguk. Aku seharusnya siap untuk mengutarakan janji yang ingin aku buat kepada keempatnya. Tetapi, aku terasa sangat menyedihkan, disaat keempat anak itu siap, akulah yang tak siap untuk menyampaikannya.
Imbasnya, aku segera menggelengkan kepalaku, tak peduli jika mereka berempat akan melihatku dengan heran.
“Thiwan, aku ingin kau memimpin semua anak yang ada disini. Aku ingin kau bisa bijak dalam mengambil keputusan. Aku juga ingin kau selalu bermusyawarah kepada semuanya jika kau hendak mengambil keputusan. Janji, ya?”
“I-iya, Tuan Artze....”
Setelah tenang, aku langsung menatap kepada si kembar.
“Gatran, Gatrus, aku ingin kalian menjaga semua anak disini. Jangan kalian merasa yang paling kuat diantara mereka. Kalian juga butuh bantuan dari yang lain.”
Keduanya hanya mengangguk sembari kembali menangis. Dan lagi, aku memeluk mereka hingga mereka tenang. Setelahnya, aku melepaskan pelukkan ku dan menatap gadis cilik yang membantuku saat masak semalam.
“Celeste, makasih.... Kau sudah membantuku untuk menyiapkan masakan semalam. Aku janji, aku akan kembali lagi kemari dan akan bermain denganmu jika keadaan memang tidaklah berbahaya.”
Dia menangis lebih kencang dibanding ketiga lelaki itu. Bukan karena dia wanita, namun karena perkataan yang aku ucap dengan seenaknya. Aku terlalu naif juga egois kepadanya.
Ya..., aku sudah pasti bukanlah orang yang baik....
Mengatakan hal itu kepada gadis berusia 9 tahun....
***
Aku pun berdiri menatap ke arah mereka. Mereka pun melihatku dengan senyuman. Aku menjadi tenang dan tak begitu khawatir untuk meninggalkan mereka.
Akan tetapi, setelah aku selesai membalikkan badanku serta berjalan beberapa meter, Thiwan memanggilku dan menanyakan sesuatu dengan suara yang lantang. Aku tak menyangka jika dia mulai berani untuk melantangkan suaranya.
Namun, aku justru merasa semangat dan merasa seperti dia adalah rivalku.
“Tuan Artze!!! Kau akan pergi kemana?!!!”
Dengan senyum juga suara lembut sembari melihat ke arah matahari yang baru terbit- di sebelah kiriku, aku pun menjawab perkataannya.
“Menyusuri hutan ini.”
Jelas, mereka takkan bisa mendengarku. Karenanya, aku pun ikut melantangkan suaraku. Semoga, suaraku bisa menggetarkan semangat mereka.
“Aku akan menyusuri hutan ini, mencari orang-orang yang memang tersesat didalamnya!!!”
Setelahnya, aku langsung berangkat sembari melebarkan tangan kiriku dan memberikan jempol atas kepada mereka berempat. Tentunya, mereka berteriak semangat sembari melompat-lompat, karena memang suaranya terdengar bergetar-getar. Aku semakin membara untuk melakukan apa yang aku katakan kepada mereka.
Meski memang, aku tak mengatakan semuanya dengan lengkap....
Aku akan menyelamatkan Lost Soul lainnya. Aku takkan membiarkan mereka berhasil tangkap oleh siapapun selain diriku. jikapun sudah, aku akan merebutnya dari siapapun musuhku nanti.
Semoga, apa yang aku lakukan adalah apa yang ingin kau lakukan, tuanku....