
Aku pun dibawa oleh sang kesatria suci itu menuju ibu kota kerajaan Falmuth, Pastmist. Tentunya, aku menjadi murid dari kesatria itu. Selain itu, aku pun langsung belajar hal-hal akademik secara langsung dengannya seperti belajar dengan guru les yang sangat keras.
Aku sendiri sering membangkang atas perintahnya, yang mana aku tak jarang beradu argumen dengannya. Karena memang, beberapa yang diajarkannya tak sesuai dengan pemikiranku. Bahkan, ada sedikit hal yang dia ajarkan sangatlah kontroversial.
Tetapi, aku baru mengetahui dan memahami semuanya secara perlahan ketika aku mendapatkan invitasi oleh salah satu petinggi kesatria suci.
Selalu berhati-hati dengan orang, bunuh orang yang memang ingin mencelakakan diriku, bahkan terkadang tak ada salahnya jika aku menguping dan mengintip beberapa orang.
Dan, aku sadar jika semuanya berlaku pada semua orang.
Contohnya saja, beberapa bangsawan yang menjadi petinggi kesatria suci selalu menculik, membeli, dan menyiksa para budak, yang notabennya hal tersebut tidaklah terpuji di kerajaan ini. Tak peduli siapapun budaknya- mau perempuan, laki-laki, lansia, remaja, sakit, sehat, semuanya selalu menjadi korban. Dan, kebanyakan diantara mereka meninggal- dengan mengakhiri nyawa sendiri, disiksa pemilik mereka, atau bahkan menjadi tumbal ketika perang.
Itu belum termasuk dengan para bandit, pedagang ilegal, dan monster-monster berbahaya rank B hingga X.
Karenanya, aku pun diberikan perintah oleh tuanku untuk memburu semuanya yang merusak kerajaan ini.
Hasilnya, tuanku benar-benar puas melihat perkembanganku sebagai murid, bawahan, asisten, dan anak angkatnya. Ini ditunjukkan dari wajahnya ketika meninggal, yang terasa benar-benar puas akibat tersenyum hangat ketika aku menangis sangat sedih. Dia benar-benar tak punya keinginan apapun padaku selain selalu percaya pada diriku sendiri.
Dan, 20 tahun kemudian setelah aku terpanggil kedalam dunia ini, aku pun kembali ke hutan pertama, begitulah aku sebutnya, untuk mengunjungi sebuah desa yang terkena serangan monster. Tak ada alasan khusus selain perintah para atasan Kesatria Suci Falmuth. Setidaknya, aku bisa bernostalgia sedikit mengenai awal hidupku di dunia ini.
Tak ada siapapun, hanya zirah putih dengan beberapa kain magis yang ditempelkan dengan sihir, pedang berukuran sedang untuk memburu “iblis”, dan kekuatan yang kesatria penyelamat hidupku yang telah aku pelajari saja yang menemaniku. Takkan aku beritahu alasan mengapa aku sendiri, meski sebenarnya bisa saja ditebak dengan mudah. Namun, para atasan percaya jika aku sendiri dapat menyelesaikan masalah yang terjadi pada desa tersebut.
Meski begitu, aku tetap saja tak diberi tahu detail tentang musuh yang akan aku hadapi. Tentu, ini sama saja seperti misi bunuh diri. Dan memang, aku tahu tujuan mereka melakukan hal ini.
Karenanya, aku menerimanya dengan senang hati. Jika aku menolak ini, aku akan dipaksa untuk keluar dari Kesatria Suci Falmuth dengan cara yang sangat kasar. Jadinya, ini solusi win-win bagiku.
Dan aku takkan lupa ekspresi terkejut mereka ketika aku menyetujui untuk mengambil misi ini.
Benar-benar menyedihkan...!
Namun lupakan saja....
Angin kesedihan biarlah berlalu....
Lalu, aku telah sampai pada suatu tebing yang ingin aku datangi.
Tebing tersebut aku datangi karena aku ingin melihat kondisi desa tersebut dari atas. Tak perlu detail yang cukup rinci. Karena memang, kejutan demi kejutan selalu aku temukan akibat perincian tersebut.
Oke, sepertinya hanya begitu kondisi dari desa itu....
Aku pun langsung menghadapkan badanku ke arah kiri dan mengarahkan pedangku menuju langit- beberapa meter keatas desa itu. Lalu, aku langsung merapalkan sihir pertamaku- pada pertempuran ini, sebagai tandaku untuk berperang kepada musuh-musuh yang bersembunyi di desa itu. Tidak lupa, aku merapalkannya dengan suara yang tegas dan kencang, yang ku harap bisa menurunkan mental musuhku nanti.
“Anti-Buff Flash!”
Cahaya pun menyinari bilah pedangku. Tentunya, aku kesulitan untuk melihat ke arah depanku. Dan pastinya, aku- sebagai perapal sihirnya, sama sekali tak terkena efek dari sihirku.
Akan gawat jika aku terkena efek Anti-Buff dari sihirku sendiri.
Bukan hanya kekuatan dari zirah dan pedangku yang hilang, tetapi pula skill pasif yang sudah aku pelajari akan ikut menghilang.
Bahayanya, aku akan sama seperti pergi menuju medan tempur dengan tujuan bunuh diri.
Setelahnya, aku langsung terjun dari tebing itu dan segera merapalkan sihir lainnya dengan cepat, seperti sihir pertama.
“Mini Teleportation!”
Aku langsung berpindah menuju titik paling tengah dari desa itu dan mendarat dengan aman. Tak perlu waktu lama, musuh yang aku tunggu pun keluar dari persembunyian mereka. Jumlah mereka, ratusan, termasuk dengan penduduk desa ini yang sudah menjadi beberapa jenis «Undead».
Bisa dibilang, mereka cukup bervariatif. Ada yang terburu-buru ingin membunuhku, ada pula yang slow. Bahkan, satu diantara mereka hanya berjarak 1 meter saja dengan diriku.
Dan tentu, mereka tak menyadari jika aku bisa menggunakan sihir tanpa merapalkannya sama sekali.
Aku pun langsung menancapkan pedangku ke tanah dan seketika cahaya putih kekuningan bersinar dari ujung pedang. Kurang dari sepersekian detik, cahaya tersebut langsung meluas hingga 10 meter ke sekelilingku. Dan pada waktu tersebut pula, semua musuh yang aku hadapi musnah.
Bahkan, tak ada sama sekali jejak yang mereka tinggalkan.
Setelahnya, aku hanya perlu memburu musuh yang tak terkena dampak langsung dari sihirku. Aku langsung melesat ke arah kiri dari arah tebing, yang terletak jauh di belakangku. Dan, aku langsung menemukan musuh berikutnya.
Dia merapalkan sihir dengan lambat. Naasnya, ketika sihirnya hampir selesai untuk dirapalkan, dia terpaksa membatalkan sihirnya untuk bisa kabur dari kejaranku. Dan akhirnya, kepalanya langsung terpisah dari badannya akibat tebasan yang aku daratkan pada lehernya.
Selanjutnya, aku langsung mendengar sesuatu dari bekakangku, tepatnya sekitaran titik tengah desa, dan segera berbalik badan. Aku terkejut melihat hal yang ada dibelakangku.