
Memakai seragam, mengeluarkan motor, lalu berangkat menuju sekolah adalah keseharian yang lumrah bagi hampir setiap orang di dunia ini, tak terkecuali bagi diriku. Tak peduli mau jam 5:30 ataupun 3:30 sekalipun, aku akan selalu berangkat seperti itu. Utamanya karena aku hanya hidup sendiri di kos-kosan murah ini.
Simpel saja, aku masuk kedalam SMA favorit di kota Bandung melalui jalur spesial yang memang masih legal, namun takkan aku beritahu berhubung tak begitu penting pula untuk disebarkan.
Ups, aku keceplosan....
Meski jauh, aku bersyukur masih bisa mendapatkan kos-kosan yang jauh lebih dekat dibanding dengan rumahku yang terletak pada suatu daerah, yang takkan penting pula jika aku sebutkan. Bisa saja, aku perlu satu hari dari rumahku menuju sekolahku. Selain itu, kos-kosan tersebut cukup murah.
Cukup dengan masa laluku....
Aku pun menyalakan motor dan segera berangkat menuju sekolah pada pukul 3:30. Tak ada alasan khusus selain aku ingin terbebas dari biaya parkir diluar sekolah. Absurd, namun itu diperlukan jika aku memang ingin bisa mengendarai motorku dengan bebas.
Aku pun berada di pinggiran jalan. Bukan berarti aku menyebutkan posisi lajurku sama dengan tak bergerak sama sekali. Sangat jelas, aku masih belum bisa berkendara dengan baik disekitaran kota Bandung.
Ugh, keceplosan lagi....
Aku hanya melaju pada kecepatan 30-40 km/j. Bukannya apa-apa, aku tak bisa berkompromi dengan dinginnya udara, meski aku dibesarkan di dareah pedesaan yang terletak di suatu pegunungan yang ada di tenggara kota Bandung. Bahkan rasanya, hanya hawa es saja yang menerpa bagian depan badanku, meski sweater 1 lapis telah aku kenakan.
Sudahlah....
“Haduh..., tiris pisan ieu hawa....”
(Haduh..., dingin banget ini hawa....)
Selagi aku sibuk mengeluhkan dinginnya udara saat ini, aku pun sesekali melihat ke kaca spion kiri maupun kanan. Sangat jarang motor dan mobil melaju maupun menyusul diriku. Bahkan, aku berani bilang jika dibelakangku tak ada siapapun.
Karenanya, aku kembali fokus kedepan, ke arah jalan lurus yang sama sekali tak bercabang sedikitpun dari semua rambu lalu lintas yang aku lewati, sembari mengeluh mengenai udara yang dingin tersebut.
Namun, aku pun langsung diserempet oleh sebuah truk kargo dari belakangku. Bukan main, truk itu melaju- lebih tepat jika dibilang melesat, bagaikan cahaya sambaran listrik yang terjadi begitu saja sebelum efek dari sambaran itu bisa terasa. Dan tentunya, pikiranku langsung menjadi kosong.
Aku, benar-benar, jarang sekali menerima, bahkan melihat dan mendengar sekalipun, kecelakaan seperti ini.
Akan tetapi, kesadaranku menghilang sebelum aku berhasil menghantam sesuatu, entah trotoar, jalanan, pagar, ataupun langsung menghantam bangunan.
Ya..., aku hanya bisa membayangkan saja apa yang terjadi pada tubuhku tanpa melihat- maksudku merasakan, hal yang sangat menyakitkan itu....
Bisa saja kepalaku-
Lebih baik kita hentikan saja untuk bayangan mengenai tubuh asliku....
***
Aku pun membukakan kedua mataku dengan perlahan. Cahaya yang menyilaukan membuatku yakin jika aku sedang berada di alam lain. Akan tetapi, dugaanku terpatahkan secara perlahan.
Suara angin berhembus menuju hutan ini terdengar samar-samar, hingga akhirnya terasa jelas pada telingaku. Cahaya yang terlihat menyilaukan itu perlahan semakin menggelap dan beberapa bayangan hitam muncul. Sama seperti pendengaranku, bayangan hitam tersebut semakin lama semakin jelas untuk aku lihat.
Bayangan itu merupakan sebuah ranting. Jika aku lihat dengan seksama, warna ranting itu tidak ada bedanya dengan pohon-pohon pada umumnya. Tetapi, itu justru yang membuatku bingung.
Terbangun ditengah hutan, tanpa terdengarnya suara hewan sedikitpun....
Siapa yang menculikku kemari?!!
Inginnya berteriak, namun keheningan ini justru membuatku ketakutan.
Ya sudah, lebih baik aku coba tutup mata saja, barang kali aku hanya takut bagai kucing penakut....