
Seekor Undead Wyvern terpanggil melalui sebuah lingkaran sihir berwarna ungu tua. Secara berurutan, monster itu menggunakan sayap- yang menyatu dengan tangannya, untuk menarik dirinya dari dimensi lain dan melesat ke udara untuk mencari mangsanya. Atas hal itu, aku pun langsung mencari posisi untuk bersembunyi dan mencoba membuatnya turun tanpa menyerangku.
Aku pun mencoba memikirkan rangkaian serangan demi serangan untuk mengakhiri hidup monster itu kedua kalinya. Tetapi, aku langsung diinterupsi oleh monster itu, yang langsung menggunakan kaki belakangnya untuk menghancurkan bangunan yang sedang aku masuki, sebelum aku sendiri berhasil bersembunyi dan mengawasinya. Karenanya, aku langsung terekspos pada area terbuka, yang membuatku berada dalam posisi tidak menguntungkan.
Wyvern yang bangkit dari kematiannya itu pun langsung menyemburkan nafas apinya kepadaku. Aku pun langsung kabur sebelum api tersebut mengenai diriku. Tetapi, dia langsung melesat ke depanku dan segera untuk menyemburkan nafasnya kembali.
Dan sekarang, saatnya aku untuk memutarkan situasi....
Aku hanya melesat menuju monster itu sembari memerhatikan kapan dia akan menghembuskannya. Jarak antaraku dengan monster itu semakin mengecil. Hingga, dia langsung menghembuskannya ketika aku berada dititik yang cukup dekat dengannya, sekitar 3 meter.
Tentunya, aku refleks melompat ke udara. Hal tersebut membuat monster itu mengangkat kepalanya supaya semburan nafas apinya bisa mengenai diriku. Dan usahanya tak sia-sia sama sekali.
Nafasnya kian mendekatiku seiring melambatnya pergerakanku di udara.
Seketika, aku langsung berada di atas monster itu dan segera aku menancapkan pedangku pada lehernya. Jika aku telat, bahkan tidak, menggunakan sihir teleportasi itu, sudah pasti api itu akan melahap sebagian besar dari darahku. Juga, timing-nya benar-benar tepat untukku menggunakan sihirnya.
Monsternya sendiri terkejut dan langsung tumbang setelah aku menancapkan pedangku. Tentu, dia takkan menjerit kesakitan, berhubung dia hanyalah mayat hidup saja. Akan tetapi, aku menyadari jika monster itu menjadi lebih rileks.
Seakan-akan dia telah terbebas dari besi belenggu yang membatasi kebebasannya.
Dan, aku pun terkejut ketika ada suara orang di dalam kepalaku ketika aku turun dari badan mayat hidup tersebut dan melangkah beberapa langkah.
“Jiwa yang hilang nan tersesat, terima kasih telah membebaskan diriku.”
Aku hanya tersenyum, mencoba menghilangkan kesedihan yang ada pada hatiku setelah melihat kematian monster itu. Rasanya, aku bisa merasakan kepahitan untuk hidup kembali, apalagi jika aku takkan bisa menggerakkan tubuhku sebebas mungkin. Sungguh, bagiku, itu sama seperti penyiksaan.
Jelas ini ulah musuh yang aku bunuh sebelum Wyvern itu muncul. Itu karena, monster itu muncul tepat setelah dia terbunuh. Untungnya, hanya satu bangunan yang berhasil dihancurkan monster itu.
Dengan lelah, secara mental, aku pun menancapkan pedangku di tanah dan merapalkan mantra untuk memusnahkan semua mayat yang ada di sekitar desa, meskipun aku memang tak mengecek keseluruhan desanya.
Kemudian, dengan suara yang goyah, aku mengucapkan mantra sihirnya setelah aku merapalkan semuanya dalam kepalaku.
“Dispel, Purification Extreme....”
Aku merapalkan dua sihir sekaligus. Dan pasti, MP- Mana Point tentunya meski aku tak menyebutkan diawal, terkuras habis-habisan. Selain akibat keduanya adalah sihir tingkat tinggi, aku menggunakannya dengan lebar yang sangat luas, setidaknya menurutku saat ini.
Warna kuning dan putih serasa bercampur disekitarku, yang muncul dari tanah, ketika aku selesai mengaktifkan sihirnya. Perlahan, semua mayat hidup yang tak bisa bergerak maupun hidup, termasuk monster itu, menghilang seperti hantu-hantu yang urusannya telah selesai sepenuhnya dari dunia. Terasa sangat menyedihkan, meskipun aku sadar jika aku juga sama seperti hantu-hantu yang aku sandingkan dengan mayat-mayat hidup tersebut.
Menundukkan kepala dan menangis sembari menahan tubuhku pada pedangku, itulah yang aku lakukan saat ini. Kepergian banyak orang selalu meninggalkan kesedihan bagiku. Tetapi, mereka selalu yang menjadi alasanku untuk bisa hidup lebih baik lagi.
Tangisanku yang pelan pun bertahan selama aktifnya sihir itu, selama cahaya yang muncul dari tanah masih ada.
Setelahnya, aku pun menegakkan tubuhku kembali dan melihat ke arah langit. Setidaknya, mereka telah melintas menuju alam yang lain. Juga, sekali lagi, menguatkan alasanku untuk tetap menjadi yang lebih baik lagi.
Karena itu, aku tersenyum tipis, berusaha menghilangkan semua kepahitan dalam pikiran dan hatiku.