The Holy Knight and the Lost Soul (Oneshot)

The Holy Knight and the Lost Soul (Oneshot)
Bermalam Dengan Para Penyintas Cilik



Tak lama kemudian, aku mendengar beberapa orang berjalan mendekatiku. Sudah pasti karena kebiasaan, aku refleks melihat ke arah mereka, yang ada di kiriku. Dan, jujur saja, mereka cukup mengejutkanku.


Mereka adalah anak-anak- yang aku asumsikan, warga dari desa ini. Mereka berjumlah 10 orang, dengan total 7 perempuan dan 3 laki-laki. Umur mereka, jujur jika dari penampilan mereka, sekitar 5 hingga 10 tahun.


Mereka berdiri membelakangi para lelaki, itupun lelaki yang lain masih membelakangi anak yang paling tua. Rambut mereka yang berwarna-warni dan baju mereka yang rusak tertutup oleh debu dan kotoran-kotoran lainnya. Juga, tak ada satupun alas kaki yang mereka kenakan.


Sang anak tertua, berambut biru tua dengan tinggi badan sekitar 150 cm, berdiri sembari menghilangkan rasa takutnya kepadaku. Kemudian, kedua lelaki bersembunyi dibelakangnya, yang mana mereka kembar identik dengan rambut berwarna hijau toska juga tinggi badan sekitar 5 cm lebih pendek dari lelaki cilik tertua itu. Lalu, sang gadis pun bersembunyi diantara salah satu dari si kembar, yang rambutnya pirang pudar dan tingginya hanya 2 cm lebih pendek dari si kembar.


Masih sangat belia, namun sudah ditinggalkan kedua orang tua mereka akibat para monster itu.


Aku pun melepaskan pedangku dan membiarkannya menancap pada tanah. Selanjutnya, aku mendekati mereka dengan pelan. Terakhir, aku pun jongkok, menyetarakan tinggi badanku- meski memang masih melebihi tinggi badannya, dan melihat ke salah satu anak yang paling tua- tanpa menyentuhnya sama sekali.


Tatapannya benar-benar orang yang kebingungan. Bahkan, matanya berkaca-kaca selayaknya orang hendak menangis. Karenanya, meskipun aku tak memakai helm sekarang, senyumanku tak bisa membuat mereka senang.


Dengan nada seperti menahan tangis, aku mencoba berbicara padanya tanpa mencoba untuk menggerakan kedua tanganku.


“Nak..., kalian disini seberapa lama...?”


Mereka terdiam, entah kebingungan maupun ketakutan. Aku, sejujurnya, seperti orang yang mencurigakan, tak peduli apapun yang aku kenakan. Bahkan, zirah yang aku kenakan malah terasa semakin menguatkan pandangan buruk mereka kepadaku.


Bercak darah menempel pada bagian paha hingga helm, belum ditambah banyaknya bercak darah pada jubahku. Nada bertanyaku yang terdengar sangat tak nyaman, bagai seorang psikopat. Dan, tinggiku yang menakutkan bagi mereka, secara orang umum sering menghinaku dengan sebutan “White Golem”.


“Tuan kesatria.... Apa kau datang dari ibu kota...?” tanya anak tertua itu dengan pelan dan ragu.


Hanya anggukan penuh keraguan yang bisa aku lakukan kepadanya. Sulit untukku membukakan mulut dan mencoba mengeluarkan sepatah kata dari mulutku. Hingga, aku pun menundukkan kepala secara perlahan.


Tanpa aku sadari, pelukkan pun aku rasakan. Semakin lama, pelukkan tersebut semakin bertambah. Anehnya, pelukkan tersebut terasa sebagai pesan tersirat.


Aku tak mengetahui dari siapa....


Lalu, suara pun terdengar dari sebelah kiri telingaku, tepat pada dadaku.


“Tuan.... Mama bilang, semua orang itu sama. Nggak ada yang nggak bisa nangis.”


Kalimat itu meluluhkan hatiku untuk tidak menahan suara tangisanku. Akibatnya, semua anak ikutan menangis. Dan memang, ini tak bisa ditahan lagi.


Aku bisa merasakan kesedihan mereka akibat berpisah dengan kedua orang tua untuk selamanya. Aku sendiri sudah merasakannya dua kali, ketika aku sedang depresi memikirkan ketika aku tak bisa kembali ke dunia asalku dan ketika tuanku meninggal. Terlebih, aku menghabiskan waktuku dengannya ketika pikiranku memang sudah lebih dewasa dibanding ketika dengan kedua orang tua kandungku.


Tak ayal, aku tenggelam dalam tangisan ini selama 2 jam.


Selanjutnya, aku pun mengumpulkan berbagai macam kayu untuk kebutuhan disini. Mereka pun membantuku untuk mengumpulkan semua bahan-bahan makanan yang tersisa dari seluruh rumah yang ada. Tetapi, aku tak menyuruh mereka untuk mencarinya hingga ke rumah terluar, karena memang cukup berbahaya.


Malam pun datang, aku pun menuju dapur dari rumah yang telah pilih oleh para penyintas cilik itu.


Aku mengisi beberapa panci dan tekonya dengan sihir airku. Lalu, aku memasakkan makanan untuk mereka menggunakan bahan yang telah aku cuci sebelumnya, tidak semua pastinya. Aku pun hanya memasak sup sayuran dan daging saja- yang aku sendiri tak mengetahui itu daging dari apa, berhubung hanya itu yang cukup mudah untuk aku masak.


Tinggal memotong semua sayurannya- diantaranya ada wortel, kentang, dan kembang kol, selagi aku membuat kaldu dagingnya, untuk sop berikutnya ataupun masakan lainnya. Memang, aku hanya mengambil sedikit daging misteri itu untuk sop yang aku buat sekarang. Namun anehnya, dia terasa sangat empuk dan lembut, meskipun baru 2 jam aku merebusnya.


Jika aku boleh ibaratkan, rasanya seperti daging iga yang biasanya orang amerika makan setelah diasap setelah beberapa belas jam dalam alat pengasap, benar-benar mudah lepas dari tulangnya.


Setelah semua bahan sudah terpotong kecil-kecil, aku pun memasukkannya kedalam panci yang kosong- maksudku penuh dengan air dari hasil sihirku. Selanjutnya, aku menambahkan garam dan lada kedalamnya, karena memang aku tak ingin mereka mencicipi sup tersebut tanpa rasa yang lezat, tentu harus sesuai pikiranku. Tetapi, ini yang membuatku cukup bingung akibat aku memang ingin mencicipinya, karena aku selalu berhati-hati untuk memilih dan memakan daging yang ada di dunia ini.


Untungnya, salah satu anak perempuan melihatku untuk memasak makanannya. Dari usianya, dia mungkin berumur 8 tahun. Juga, mata dan ekspresinya sudah tak sabar untuk mencicipi makananku.


Meskipun ini eksploitasi bagiku, namun aku tetap memintanya untuk mencicipi masakanku. Tentu dia senang dan segera mencicipinya. Tapi memang, aku hanya membolehkannya untuk mencicipi kuahnya terlebih dahulu.


“Tuan...! Ini lezat sekali...! Aku yakin kita semua bakal senang memakannya!”


Yup, dia cukup bersemangat untuk mengatakannya, yang mana terdengar sangat tidak sabar untuk merasakan sup tersebut secara keseluruhan. Karenanya, aku semakin ingin untuk mencicipinya.


Terpaksa, aku pun menanyakannya dengan ragu-ragu.


“Makasih, tapi..., apa kau tau ini daging apa?”


Dengan senyum bingung, dia menjawab pertanyaanku dengan simpel.


“Daging sapi, memang ada apa tuan?”


Aku menari-nari dengan sangat liar, tentu dalam pikiranku. Karenanya, aku langsung membuka helmku dan mencicipi kuahnya yang masih hangat. Dan, aku cukup terkejut dengan rasanya, gurih dan rasanya tak begitu berat untuk dimakan setiap saat.


Ah..., confy food....


Dan karena itu, aku menunjukkan wajahku kepadanya. Hasilnya, hanya canggung saja yang dapat kami rasakan. Aku hanya terdiam malu sembari mengenakan helmku kembali, dan anak itu menganga sembari perlahan wajahnya memerah.


Dengan bodoh, aku mencoba menanyakannya tentang wajahku, sebagai pria yang sudah berumur 35 tahun kepada anak perempuan berumur 9 tahun.


“Apa..., kau kaget melihat wajahku...?”


Dengan instan, dia mengangguk dengan kencang. Inginnya, aku bisa mengabaikan alasan dari anggukannya itu. Soalnya..., mungkin saja dia tak ingin menceritakannya seperti dia sudah tau cara membangun privasinya.


Namun, dia malah melakukan hal yang berkebalikan dari apa yang aku inginkan.


“Papa pernah bilang kalo wajah tuan kayak kesatria-kesatria yang ada di cerita-cerita kerajaan.”


Aku pun mencoba mendengarkannya....


Dia yang membuatku seperti ini, oke...!


“Wajahnya tegas, tapi sebenernya penuh dengan kesalahan.”


“Kalaupun senyum, dia cuma ingin semuanya nggak tau penderitaan yang dialaminya.”


Hen..., ti..., kan....


“Juga, dia sangat perhatian, sampe-sampe hatinya dimainin sama cewek-cewek jahat..., nggak tau juga sih maksudnya apaan....”


Ugh....


Semua yang dia katakan..., sakit.... Dia mengatakannya dengan polos.... Tapi untungnya, dia memang polos juga wajahnya masih menggemaskan layaknya kucing yang manja.


Belum hingga tahap menggemaskan yang membuatku kesal seperti kucing yang selalu merusak perabotanku yang terbuat dari keramik....


Membayangkannya saja sudah kesal...!


“Anu..., bisa kita ngomongin hal lain...?”


“Emangnya kenapa tuan kesatria? Kan yang kayak gitu emang baik...?”


Stop..., pls....


Anak ini, mungkin sudah pantas untuk aku panggil sebagai gadis cilik..., sangat, sangat, sangat, dan sangat jujur akan perkataannya. Harus dilindungi..., luar dan dalamnya. Juga, harus dijaga dengan hati-hati, kalo nggak mau nerima rasa sakit pada hati kalian....


Moga aja nggak gitu lagi....


“Ya udahlah, kita mending fokus masak lagi aja....”


“Ya!!!”


Dengan rasa sakit yang masih berasa, aku melanjutkan proses memasaknya. Untungnya, sup yang aku masak matang dengan sempurna, meski beberapa sayuran menjadi terlalu lembek.... Namun ternyata, mereka lebih menyukainya seperti itu dibanding dengan sayur yang memang matang namun keras.


Selesai masak, aku berjalan menuju ruangan yang mungkin saja dipakai pemilik sebelumnya untuk berkumpul bersama para tamu. Karena pada dasarnya, anak-anak yang membawaku kemari, ke ruangan tamu, hanya karena disini ada perapian. Tetapi, aku tak bisa menyalahkan mereka, mereka bisa saja mengasapkan beberapa bunga lavender untuk menghilangkan nyamuk-nyamuk yang mengganggu, selain karena dinginnya udara malam.


Dan..., mereka memang melakukan itu saat ini....


Mereka duduk dengan nyaman depan perapian. Senyum nyaman mereka tak bisa aku hindari dari kedua mataku. Seolah-olah, mereka memiliki kekuatan mistis- semacam charm, untuk membuatku ikut merasa nyaman meskipun aku selalu mengenakan, dan takkan pernah melepaskan, zirahku.


Aku pun..., terdiam- memandangi betapa nyamannya mereka disana....


Dari arah belakangku, terdengar suara langkah kaki beserta suara benda bergoyang dari bahan kayu. Aku tak perlu meragukan mengenai orang itu. Bahkan..., aku rasa aku serasa bodoh jika memang aku meragukan orang itu.


“Woy!!!! Bantu siapin tempatnya!!!!”


Yup, dia yang berteriak marah seperti itu adalah gadis cilik yang membantuku di dapur tadi.


Dia pun mencoba memasuki ruangan ini dengan mudahnya, meski pintunya telah aku halangi akibat sedang berdiri menatapi kondisi anak-anak yang lain. Dia pun menaruhnya- alat-alat untuk makan, di lantai kayu sebelum semuanya sudah dirapihkan. Wajar bagiku, mungkin saja kayunya cukup berat untuk dia bawa.


Siapa tahu....


Anak-anak yang lainnya pun membuat alas khusus untuk panci supnya. Cukup mudah, hanya dengan beberapa balok kayu yang cukup rata yang kemudian disusun membentuk persegi. Bukannya apa-apa, mereka sendiri yang bilang jika akan terasa tak sopan jika wadah makanan yang besar, terutama jika sudah berisi makanan, ditaruh langsung di lantai.


Aku tak mengherankannya, tetapi itu dilakukan karena sebenarnya mereka memakai etika petualang. Biasanya, panci, ataupun alat masak lainnya, jarang ditaruh dekat dengan api unggun. Satu-satunya cara, hanya dengan menggantungnya ataupun menaruhnya pada lubang perapian, yang sebelumnya sudah dibuat.


Bahkan saking seringnya dilihat, banyak warga-warga dari desa terpencil menggunakan cara yang sama untuk menggunakan alat masaknya.


Selain itu, ada juga yang menggunakan besi yang cukup tipis untuk mengalasi peralatan lainnya dari bara api ketika mereka hendak memasak sesuatu.


Karenanya, kehangatan semakin terasa pada mereka....


Tak lama kemudian, mereka pun menyelesaikan alas untuk menaruh sup dagingku ini dan aku langsung menaruhnya disana. Lalu, semuanya mengambil mangkuk mereka masing-masing beserta dengan supnya. Terakhir, aku pun membagikan roti tawarku yang berbentuk bundar kepada mereka.


Mereka tak begitu peduli, karena mungkin roti seperti ini memang sudah umum.


Mereka pun mengangkat kedua tangan mereka setinggi dada. Kemudian, mereka memejamkan kedua mata mereka. Lalu, mereka pun mengucapkan dua kata yang sama.


“Selamat makan.”


“Selamat makan!”


Perlahan, mereka menyendokkan sayur sup mereka ke mulut. Beberapa langsung tersenyum semangat, beberapa langsung meneteskan air mata. Namun dimataku, mereka sama-sama menikmati supnya.


Karena itulah, mungkin sudah giliranku untuk memakan masakan buatanku sendiri.


Aku membuka helmku dan menaruhnya di samping kananku. Kemudian, aku mengambil mangkukku dan mengangkatnya dengan tangan kiriku. Namun seketika, mereka semua terdiam.


Aku sudah bisa menebak ekspresi mereka. Tetapi ternyata, tebakkanku tidak tepat semuanya. Karenanya, aku berekspresi bingung.


4 orang berekspresi terkejut hingga matanya berkaca-kaca- bagai orang yang menemukan cahaya hidupnya, 4 orang lainnya berekspresi terkejut akibat tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Satu lagi, sang lelaki cilik yang aku tanya duluan sebelumnya, berekspresi hendak menangis.


Pengecualian bagi gadis itu, karena memang dia sudah melihat wajahku.


“Tuan..., apa kau sebenarnya memang tuan Artze...? Anak dari-”


Aku langsung mengangguk pelan yang disusul dengan suaraku untuk memotong ucapannya dan menyampaikan permintaanku kepada mereka.


“Ya, aku memang Artze. Namun, aku bukan lagi seorang Kesatria Suci Falmuth. Jadi tolong..., jangan hubungkan aku dengan kerajaan itu lagi....”


Semua pun menatapku dengan sedih. Semua tak percaya dengan apa yang aku percaya, atau pun hanya berusaha untuk memahami apa yang aku ucapkan. Dan memang, tatapan mereka malah menjadi cerminan kepada hatiku saat ini.