
Aku merasakan jika tubuhku bergetar-getar bagaikan kapal yang terombang-ambing oleh kerasnya ombak, ke kiri dan ke kanan secara berirama, tetapi tidak begitu kencang. Aku pun merasakan jika kedua tangan dam kakiku diikat pada suatu tiang ke arah depan badanku. Rasanya, aku seperti digantung.
Mungkin..., aku cuma bermimpi, pikirku sembari mencoba mengesampingkan segala pikiran negatifku.
Terdengar suara besi pada bagian atas dan bawah diriku. Jika aku gambarkan, jelas sekali seperti suara zirah besi yang biasa kesatria pada zaman pertengahan di Eropa pakai. Tentunya, aku merasa aneh dengan suara besi itu.
Karenanya, aku coba membuka kedua mataku. Seperti sebelumnya, cahaya yang menyilaukan pun terlihat sebelum akhirnya memudar dan objek-objek lain terlihat oleh kedua mataku. Tetapi, aku hanya melihat sepasang kaki didepanku, yang anehnya sedang berjalan melawan gravitasi.
Sebentar..., kenapa kebalik kakinya?
Tanyaku dalam pikiranku berhubung sudah menjadi kebiasaan.
Aku pun mencoba melihat ke bagian bawah badanku. Kepala terasa berat entah mengapa. Namun, aku mengetahui alasannya dengan cepat.
Aku menjadi tawanan tanpa aku sadari.
Apa jangan-jangan, aku tertidur ketika aku sekedar hanya memejamkan mata?
Atau jangan-jangan, aku memang pingsan ketika sedang memejamkan mata?
Tak yakin yang mana yang benar.
Kedua kaki dan tanganku terikat pada sebuah tongkat besi berwarna hitam. Badanku dibiarkan tergantung begitu saja. Tetapi, aku sama sekali tak merasa pusing karenanya.
Aku pun mencoba melihat ke arah orang yang sedang memegang tongkatnya pada bagian depan. Dia memakai celana yang dilapisi besi berwarna hitam dan zirah yang terlihat cukup tebal, setidaknya dari sudut pandangku. Begitu pula dengan sepatunya, bagaikan sepatu boot yang dilapisi dengan banyak plat besi berwarna hitam di sekelilingnya.
Dan aku ingin untuk memastikan pakaian yang dipakai oleh si pemegang bagian belakang tongkat besi ini. Tetapi, aku cukup takut akan resiko jika aku telah siuman/terbangun akibat kepalaku yang bergoyang ke kanan dan kiri seolah-olah ingin memberontak- meski itu adalah tujuan akhirku. Selain itu, aku baru menyadari jika gerakan mengangkat dan menurunkan kepalaku bisa saja membuat kedua kesatria zirah hitam tersebut sadar jika aku telah terbangun.
Jadinya, lebih baik aku bungkam dan mencoba menikmati pemandangan yang aku lewati.
Sepertinya, aku masih berada dalam hutan yang sama. Pepohonan yang aku lihat, meski hanya bagian batang dekat akarnya, terlihat sama semua. Jika pun ada perbedaan antara besar dan kecilnya, asumsiku hanya beda usia saja.
Jalur yang dilewati cukup bergelombang, baik secara vertikal maupun horizontal.
Mereka berdua perlu menaiki dan menuruni beberapa tanah yang memang tidak rata akibat berbagai macam faktor geografis, yang aku sendiri tak begitu mengerti apa saja. Juga beberapa akar pepohonan yang memang cukup besar hingga muncul keluar dari tanah. Selain itu, mereka harus memutari beberapa pepohonan yang menghalangi jalur mereka.
Meski takut, namun..., hey..., tumpangan gratis jangan ditolak....
Jelas, aku mulai merasa haus setelah tak tahu seberapa lama aku tergantung pada tongkat besi ini. Mungkin pula, kedua kesatria itu merasa lelah akibat jauhnya perjalanan mereka. Tetapi, mereka masih memaksakan diri untuk berjalan.
Terasa, kedua langkah kaki mereka melambat, jika mengabaikan berbagai rintangan yang perlu mereka lewati.
Dan juga, aku sama sekali tak menemukan dan mendengar suara hewan sama sekali.
Rasanya, hutan ini memang angker/berbahaya.
Dan benar saja....
Suara raungan monster terdengar dari arah kananku. Terdengar seperti lengkingan burung elang yang menusuk telingaku. Bahkan, kedua kesatria yang menawanku itu langsung terdiam.
Aku hanya membayangkan jika mereka ingin menutup kedua telinga mereka, tetapi tak bisa karena salah satu dari tangan mereka digunakan untuk menahan tongkat besinya.
Tak lama setelahnya, suara langkah kaki terdengar seperti mendekat, yang diiringi dengan guncangan tanah yang sangat mengintimidasi aku dan kedua kesatria hitam itu. Alhasil, mereka langsung berlari menuju arah depan saja, sembari menghindari rintangan dan membawaku, untuk kabur dari malapetaka itu. Namun anehnya, suara langkah kaki dan guncangan tersebut masih berada dari arah kananku, tepat 90° tanpa sedikitpun berganti sudut.
Seolah-olah posisi monster itu dan diriku memang berada dalam satu garis.
Aku hanya bisa berharap jika aku sampai pada markas para kesatria hitam ini karena monster itu jauh lebih berbahaya dibanding siksaan yang akan aku dapat pada markas tersebut.
Dan, hal itu langsung terjadi.
Kepala monster itu langsung melahap badan kesatria didepanku dan langsung melewati kesatria dibelakangku dan diriku begitu saja. Aku langsung terjatuh dan tak bisa berlari untuk menyelamatkan diriku sendiri. Karenanya, aku mencoba untuk bilang kepada kesatria hitam itu untuk bertarung saja.
Akan tetapi, aku tidak sadar jika mulutku selama ini telah disekap oleh perekat, yang memang mirip seperti perekat-perekat kertas pada umumnya.
Aku pun melihat kesatria itu berlari ke arah berlawanan, berharap memang bisa selamat dari kejaran monster itu. Sayangnya, langkah kaki monster itu jauh lebih cepat dan panjang dibanding sang kesatria itu. Karenanya, nasib yang sama pun menimpa kesatria itu.
Aku sendiri hanya terdiam melihat ke arah kesatria hitam terakhir berlari. Perlahan, langkah kaki monster itu mendekatiku, begitu pula dengan getarannya. Aku pun tak bisa melakukan banyak hal selain terdiam ketakutan.
Dengan perlahan-lahan, monster itu muncul.
Kepalanya terlihat seperti kepala kadal. Badannya seperti panther. Dan ekornya seperti campuran dari ekor rubah dan serigala.
Badannya berwarna hitam pekat dengan bagian ujung kaki berwarna perak. Bahkan rasanya, kaki-kaki monster itu memanglah perak itu sendiri. Dan kuku-kukunya seperti pedang yang sangat tajam.
Hal ini diperparah dengan ukurannya yang sama dengan 3 rumah mewah disatukan, belum termasuk dengan panjang ekornya.
Aku memejamkan mata dan berharap jika aku tak mati.
Lalu, terdengarlah suara dentuman meriam dari arah kanan.
Refleks, aku melihat ke arah suara tersebut, namun tak ada meriam yang melesat monster itu. Tentunya, aku kebingungan karena suara tersebut sama sekali tidak mirip seperti suara ledakan akibat hantaman meriam. Namun, monster itu pun ikutan melirik ke arah yang sama.
Tanpa aku sadari, ledakan langsung terjadi pada punggung monster itu. Sudah jelas jika monster itu kesakitan. Namun aku tak menyangka jika monster itu masih berdiri, bahkan sama sekali tidak menekukkan kakinya.
Aku hanya bisa terdiam membeku. Aku benar-benar tak punya kesempatan untuk bisa bertahan hidup dari monster itu. Meskipun bantuan datang, aku takkan yakin jika mereka berhasil menumbangkan monster itu.
Kemudian, dari rindangnya pepohonan disekitar monster itu, muncul sekelompok kesatria zirah putih yang mengenakan beberapa senjata raksasa yang sedang menerjang monster tersebut. Mereka langsung menancapkan senjata mereka pada tubuh monster itu, bahkan beberapa diantara mereka mendarat menuju daratan sembari melukai monster itu. Alhasil, monster itu tumbang akibat luka yang diterimanya.
Meskipun tumbang, bukan berarti monster itu mati.
Suara raungan yang telah aku dengar sebelumnya, terdengar kembali. Kali ini, kepalaku benar-benar serasa hendak pecah. Dan yang membuatnya semakin parah adalah monster itu meraung lebih lama dibanding sebelumnya.
Wajar jika para kesatria tak bisa berdiri. Selain karena zirah dan senjatanya yang berat, pusing pun dirasakan oleh mereka. Parahnya, itu berlangsung hingga monster itu selesai meraung.
Dengan kepala berkunang-kunang hebat, aku melihat ke arah monster itu.
Sialnya, apa yang aku takutkan menjadi nyata.
Monster itu langsung melahap sebagian besar dari kesatria itu. Tak ada satupun bagian tubuh mereka yang tersisa. Bahkan, cipratan darah menyembur kemana-mana, sebagian besar mengenai badan dan kakiku.
Tetapi, hanya ada satu orang yang masih hidup.
Dia pun berdiri dengan menggunakan pedang raksasanya untuk menahan tubuhnya. Perlahan namun pasti, kedua kakinya mampu menahan tubuhnya kembali. Akan tetapi, senjatanya pun hancur tepat setelah kedua kakinya sudah bisa kembali menahan tubuhnya.
Dan itu bukanlah masalah baginya.
Dia langsung melesat kebelakang monster itu melalui bagian bawahnya. Dengan cepat, dia mengambil pedang dari temannya yang sudah dimakan oleh monster itu dan melompat ke atas tubuh bagian belakang monster itu. Setelahnya, dia langsung melesat kembali menuju bagian depan sembari menyiapkan pedangnya untuk membelah leher monster itu.
Dia pun menebas leher bagian kiri monster itu, namun dia tak berhasil membuat kepala monster itu lepas dari badannya. Tetapi, luka yang dia hasilkan sangat serius, yang mana monster itu sudah dijamin akan mati. Alhasil, monster itu kembali mengamuk beberapa saat sebelum akhirnya tumbang untuk terakhir kalinya.
Aku pun melihat ke arah kesatria itu, yang sedang menunggu kematian dari monster itu. Pedang yang dia pakai pun hancur. Namun, pedang tersebut justru menjadi kecil bagaikan pedang yang biasa dipakai untuk melawan manusia pada umumnya.
Dan untuk kedua kalinya, kepalaku sudah tak bisa bekerja sama lagi dengan keinginanku. Kedua mataku menjadi sangat berat setelah semua rasa kunang-kunang tersebut menjadi hilang. Aku pun tertidur kembali, untuk waktu yang tak aku sebutkan sekarang.