
Oke....
“Kau siapa?”
Kita mulai dari yang simpel dulu, yaitu mengetahui sedikit latar belakang dari sang kesatria itu. Tetapi, mungkin aku takkan menyanyakan tentang alasannya tak membuka helmnya didepanku. Karena jelas, aku juga, meskipun terkadang saja, tetap menghargai privasi setiap orang.
“Aku...? Hanya seorang kesatria suci dari Kerajaan Suci Falmuth.”
Uwah..., kayaknya, aku lebih baik tak membuat masalah dengannya, juga dengan kerajaan itu. Dari setiap novel dan komik isekai jepang yang aku baca, kebanyakan orang-orang didalamnya adalah orang fanatik, tak terkecuali para petingginya. Dan memang aku akan dalam bahaya jika memang aku berhasil mengulik kebusukan kerajaan itu.
Mungkin aja yang namanya pembantaian ras terjadi atas nama kepercayaan mereka....
Mengenai namanya, akan aku tanya belakangan saja.
“Lalu, apa kau tau cara membuat roti baguette ini?” tanyaku sembari menunjuk ke arah rotinya, yang memang sudah tersisa sedikit.
“Baguette? Apa itu namanya pada tempat asalmu?”
Eh? Punya nama lain toh? Tapi tak apa lah....
“Ya.... Memangnya disini namanya apa?”
“Magical soaked croissant.”
Croissant...? Aneh juga.... Mungkin semua nama roti disini berbeda namanya.
“Sama seperti Croissant pada umumnya. Bikin adonan, panggang, lalu selesai. Namun, ada langkah tambahan yang membuatnya terasa beda, yaitu memasukan berbagai macam sihir kedalamnya untuk membuatnya seperti roti yang sudah menyerap banyak susu di dalamnya dengan penampilan yang sama seperti Croissant pada umumnya.”
Menggunakan sihir untuk merubah isi makanan...? Mungkin aku perlu merubah perspektifku mengenai sihir dalam dunia kuliner. Jelas memang, aku mengetahui jika sihir terkadang sama seperti teknologi.
Menarik....
“Lalu, kenapa roti yang aku makan ini masih terasa lezat, seolah-olah roti ini dalam keadaan yang sama, sekitar 6 jam setelah proses pembuatannya?”
Jujur saja, bagian luar dari roti ini, yang seharusnya masih kering nan crunchy ketika selesai dibuat, terasa cukup keras. Jangan salah sangka, roti itu masih enak dimakan. Hanya saja, dia sudah sedikit lebih keras.
“Aku menggunakan «Item Dimension». Tak hanya pada roti itu, aku menyimpan semua barangku dalam sihirku itu.”
Pantas saja dia bisa langsung mengeluarkan pedangnya dengan cepat. Selain itu, ternyata tangannya yang hilang tadi bukan sesuatu yang buruk.... Tenang jadinya....
Haaaaah....
Irinya aku.... Bisa menggunakan sihir seperti itu, apalagi tanpa merapal, sangat mempermudah hidup. Apalagi untuk aku, yang memang seorang hoarder, penimpun barang, hehehe....
Lanjut....
“Lalu, apa kau selalu merapalkan mantra dengan cara diucap?”
Suasana, entah mengapa, terasa menjadi sangat canggung.
Seolah-olah, aku menanyakan sesuatu yang tak biasa.
“Apa kau bodoh? Tentu tidak!”
Dia pun tertawa terbahak-bahak, sementara aku kebingungan saja.
“Merapalkan mantra dengan mengucapkannya sama seperti mencari mati bagi semua kesatria! Kita takkan tau kapan musuh akan datang, dan hal itu sama seperti memberi info yang berharga bagi mereka. Selain itu, mengucapkannya itu perlu konsentrasi penuh pada ucapannya, bukan pada bayangan dari hasil sihirnya.”
“Benar juga....” Ucapku mencoba mengiyakan perkataannya.
“Yang mana itulah yang justru kami perlukan dibanding hanya mengucapkan omong kosong.”
Tajam sekali ucapannya, tetapi tak salah pula perkataannya.
Aku terkadang tak begitu setuju dengan beberapa isekai yang mengedepankan sihir yang dirapalkan dengan ucapan, atau mungkin semua sihir yang memakai konsep yang sama. Karena memang, merapalkan sihir seperti itu sangatlah lama dan tidak efisien. Bahkan terkadang, seorang yang menggunakan sihir- tak terbatas pada penyihir saja, perlu dilindungi oleh banyak orang.
“Aku kagum dengan konsep sihir yang kalian gunakan....”
Aku mengatakan itu bukan untuk me-nyatir, namun memang aku merasa lega karena akhirnya ada orang yang setuju dengan pikiranku.
“Sayangnya, tak peduli seberapa presisi rapalannya, sihir tetaplah sihir, harus diucapkan pula akhirnya. Berbeda dengan skill, kau terkadang tak perlu merapalkan apapun untuk mengaktifkannya. Jikapun harus diucap, maka efeknya akan langsung terlihat secara presisi.”
Sedikit membingungkan, namun biarlah.
Skill, intinya, jauh lebih superior dibanding sihir.
Namun, dia menjelaskan sisi buruk dari skill.
“Skill hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Bahkan rasanya, sangat sulit untukku menemukan orang yang menggunakan skill. Karenanya, mereka sudah pasti dianggap orang spesial jika memilikinya.”
Sudah pasti, mereka yang mempunyai skill itu sangatlah langka.
Tapi, aku masih belum terbayang seberapa langkanya.
“Memangnya, seberapa langka mereka?”
“Satu dari sekian ratus juta makhluk hidup, kecuali tumbuhan dan mereka yang sudah berubah menjadi arwah, yang ada didunia ini.”
Tunggu, satu dari ratusan juta makhluk hidup????
Berarti, hewan dan monster pun ada yang memiliki skill?
Uwah..., sekarang..., aku merasa ketakutan dengan dunia ini rasanya....
“Tenang saja, kau pasti sudah memikirkannya. Skill itu hanyalah versi superior dari sihir karena betapa instan, irit MP, dan efektif ketika keduanya dibandingkan. Bahkan, efek dari skill dan sihir tidak ada bedanya sama sekali.”
Berarti..., jika skill menghilang itu ada, maka ada pula sihir menghilang.... Juga, Skill sama-sama menguras MP.... Benar-benar membingungkan....
Maksudku, untuk apa Skill itu ada jika sihir lebih sering untuk ditemukan?
Inginnya bertanya seperti itu, namun dia dengan cepat bisa membaca pikiranku.
“Skill sering dianggap dengan «God's Blessing» karena memang para leluhur kami diberkahi oleh para dewa.”
Ah..., anugerah dewa ternyata.... Pantas saja mengapa mereka jauh lebih baik dibandingkan sihir. Selain itu, entah mengapa, aku bisa mengetahui alasan skill itu dibuat jauh lebih baik- bukanlah sempurna, dibanding sihir.
Hanya pikiranku, namun mereka pun sepertinya juga manusia- atau makhluk hidup seperti manusia.
Mungkin, sudah saatnya membicarakan topik yang lain.
Dan mungkin juga..., aku perlu bertanya tentang hal lain..., berhubung dia sudah menyinggung kata “kesatria”.
“Terus, apa kau tau tentang kesatria berzirah hitam?”
Refleks, dia menatapku dengan serius setelah aku selesai bertanya seperti itu. Aku terkejut karenanya. Dan sepertinya, aku menanyakan sesuatu yang sensitif.
“Zirah hitam...?”
“Jadi itu alasanmu diikat pada tongkat besi itu....”
Aku kembali mengangguk, yang mana dia hanya berbicara pada dirinya sendiri. Aku takkan bertanya lebih jauh lagi mengenai ini. Aku hanyalah seorang outsider saja disini.
“Aku jawab singkat saja, mereka adalah musuh kami.”
Nggak heran....
“Oke..., la-”
“Tunggu!”
Dia pun langsung menyela ucapanku. Sepertinya, aku sudah memicu suatu hal yang tak aku sadari. Lebih baik aku ikuti alurnya saja.
“Siapa namamu, anak muda?”
“Namaku...?”
Dia mengangguk dengan pelan, untuk meyakinkan kepadaku jika dirinya serius.
Mau bagaimana lagi...?
Lebih baik aku sebutkan saja namaku.
“Namaku....”
Huh...?
Coba aku sebut lagi....
“Namaku....”
Huh...?!!!
Kenapa aku tak bisa mengingat namaku...?!!!
Aku tak tahu ini efek dari masuknya diriku ke dalam dunia ini ataupun raungan monster panther berkepala kadal itu, namun aku benar-benar takut saat ini. Aku sama sekali tak bisa mengingat namaku, tetapi malah bisa mengingat semua hal pada masa lalu dengan sangat jelas. Apa aku telah melakukan kontrak terlarang?!!!
“Tenang dulu....”
Aku langsung melihat ke arah kepalanya. Meski terhalang helm, aku yakin jika dirinya sedang menatapku dengan tatapan serius. Karenanya, aku hanya bisa mengikuti perkataannya, lagi....
Setelah aku tenang, dia langsung berbicara.
“Oke, kau harus tenang dengan apa yang akan aku bilang. Janji?”
Aku mengangguk dengan yakin. Aku sangat penasaran dengan apa yang akan dia katakan. Bahkan, aku menatapnya dengan serius.
“Baiklah, kau adalah «The Lost Soul».”
“Maksudnya...?”
“Biar aku jelaskan dahulu....”
Oke-oke, aku takkan menginterupsi penjelasannya dahulu.
“Disini, yang namanya orang dari dunia lain itu sudah menjadi hal lumrah. Entah mereka yang dipanggil oleh para penyihir, orang yang langsung bereinkarnasi, ataupun mereka yang langsung terpanggil maupun yang bereinkarnasi langsung ke sembarang tempat. Mereka yang terpanggil atau bereinkarnasi ke sembarang tempat itulah yang biasa kita sebut dengan «The Lost Soul», jiwa yang tersesat.”
Masuk akal juga nama dari «The Lost Soul» itu sendiri.
Tetapi..., kenapa ini bisa terjadi...?
“Banyak orang yang bilang jika TLS itu adalah orang yang meninggal dalam kondisi misterius. Lalu, orang yang meninggal biasanya tak memiliki masalah apapun. Malah, hidup mereka cukup nyaman.”
Entah mengapa, deskripsi yang dia sebutkan memang sesuai dengan kondisiku. Aku hidup cukup jauh dari rumahku hanya untuk memfokuskan diriku pada kehidupan SMA-ku. Bahkan, aku berhubungan baik dengan kebanyakan guru dan murid disana.
Seram, itu yang bisa aku sebut untuk menggambarkan kondisiku saat ini.
“Tetapi, kebanyakan orang, termasuk diriku, tak mengetahui alasan pasti dari terpanggilnya para TLS ke dunia ini. Akibatnya, banyak orang yang membuat berbagai macam spekulasi mengenai munculnya TLS sendiri. Karena, semua yang terpanggil maupun bereinkarnasi kesini harusnya memiliki suatu kesalahan terpendam pada masa lalunya.”
Aku langsung melebarkan kedua mataku begitu kalimat terakhir yang dia ucapkan itu selesai. Aliran ingatan masa laluku terlihat sangat jelas. Bahkan, semuanya muncul begitu saja dengan instan.
Dimulai dari aku menyiksa banyak orang yang selalu memojokkan keluargaku, bersikap arogan dengan orang-orang kaya yang hendak membeli lahan keluargaku, hingga bersilat mulut dengan semua keluargaku akibat sifatku yang terkadang cukup arogan.
“Dan biasanya, para TLS memang takkan bisa mengingat nama mereka. Tak banyak yang mengetahui alasannya. Namun, aku hanya bisa berasumsi jika TLS memang datang ke dunia ini tanpa menemui utusan dewa, yang mana menjadikan mereka seperti penyusup dalam dunia ini.”
Sepertinya, aku memiliki peran sebagai orang jahat dalam dunia ini. Aku benar-benar merasa menyesal atas perbuatanku sebelum datang ke dunia ini. Dan, aku memang harus siap atas semua hukuman yang akan aku terima.
“Namun tenang saja, di mata kami, TLS adalah hewan liar yang bisa dijinakkan. Dengan itu, para TLS bisa mendapatkan nama mereka dari tuan mereka. Tetapi pula, hanya takdir yang menentukan jika kau akan mendapatkan tuan yang baik, maupun yang jahat, atau bahkan hidup sama sekali dengan tanpa nama.”
Perkataannya yang terakhir tidaklah buruk. Tetapi memang, aku tak bisa bergantung pada takdir begitu saja. Namun pula, jika memang aku mendapatkan takdir yang cukup buruk, maka harus mengubah jalur dan caraku untuk mendapatkan hidup yang aku dambakan.
“Karenanya....”
Seketika lingkaran sihir terbentuk diatas tanah yang luasnya hanya bisa memuat aku dan sang kesatria. Memang, aku kebingungan akibat hal itu. Tetapi, aku tak merasa terancam.
Mungkin, akan ada hal baik yang datang padaku.
Dia pun berdiri dan mencoba untuk melanjutkan kalimatnya.
“Aku akan mengikatmu pada diriku dengan kontrak nyawa!” serunya sembari melihat kepadaku dan mengarahkan tangan kirinya pada tubuhku.
Seketika aku merasa tubuhku melayang menjauhi tanah secara perlahan. Tubuhku sama sekali tak bisa aku gerakkan. Dan kembali, aku sama sekali tak merasa adanya ancaman ataupun hal-hal yang memang akan menyulitkan hidupku.
“Akan aku perintahkan padamu untuk mencari hal-hal yang menggambarkan dirimu pada masa lalumu!”
Seketika aliran ingatan masa lalu muncul kembali. Namun kali ini, ingatan yang muncul tak terbatas pada kesalahanku saja. Dan memang, ingatan-ingatan yang terpilih cukup random.
Namun, aku sama sekali tak membencinya....
“Artze! Kau akan menjadi bawahanku mulai saat ini!”
Artze..., dibaca Art, ditulis A, R, T, Z, E....
Ya..., nama yang sama sekali tak aku benci....
Malahan, nama itu terasa sangat melekat pada diriku.
“Apa jawabanmu atas semua perintahku?!”
Aku pun turun dan langsung melakukan jongkok seperti kesatria pada umumnya. Aku benar-benar merasa jika dia benar-benar orang baik. Karenanya, aku akan menjawab pertanyaannya sepenuh hatiku.
“Baiklah, tuanku.”
Aku tersenyum dengan puas setelah memberikan jawabanku. Lalu, aku berdiri dan menatapnya dengan sangat percaya diri. Benar-benar perasaan yang sangat berbeda dibanding pada masa laluku.