The Holy Knight and the Lost Soul (Oneshot)

The Holy Knight and the Lost Soul (Oneshot)
Sang Kesatria Suci Penyelamat Hidupku



Aku, dengan sangat perlahan, membuka kedua mataku. Di saat yang bersamaan, rasa pusing seperti ditusuk pun muncul dan semakin menguat seiring kedua mataku terbuka lebar. Tak ayal, aku langsung berteriak kencang akibat dari rasa nyeri itu.


Aku pun tak bisa menggerakan badanku untuk sementara. Rasa pusing itu bertambah ketika aku mencoba mengangkat tanganku dengan perlahan ataupun memutarkan kepalaku ke arah kiri. Itu juga berlaku ketika aku mencoba untuk berbicara.


Sialnya, aku sekarang sangatlah lapar....


Kesatria itu pun datang dan duduk di arah sebelah kiri badanku. Dia memandangi wajahku dengan secara terus menerus. Tetapi, aku tak bisa melakukan apapun.


“Anak muda, tidurlah..., malam masih panjang.”


Seperti terkena sihir, aku pun tertidur sesuai perintahnya pada malam tersebut, yang aku sendiri tak menyadarinya jika itu malam.


***


Keesokan harinya, aku membuka kedua mataku dan sama sekali tak terasa nyeri sama sekali pada kepalaku. Karenanya, aku mencoba berdiri dengan perlahan. Badanku benar-benar lemas, bagaikan tak ada tenaga sama sekali.


Karenanya, aku berniat untuk mencari makanan di sekitar sini.


Awalnya....


Namun, aku melihat ke arah kiri, dan melihat kesatria terakhir yang sudah membunuh monster itu. Dia menatapi perapian yang sudah menjadi abu. Jika aku tebak dari gestur tubuhnya, dia antara sedang introspeksi diri ataupun sedang murung.


Aku tak bisa menyalahkan siapapun, karena mungkin saja itu takdir....


Rasa lapar yang seharusnya sedang aku rasakan menjadi mati rasa sekarang. Masih ada, namun sama sekali tak mengganggu fokusku kepada sang kesatria itu. Aku pun penasaran dengan kondisinya dan perlahan mendekatinya.


Tetapi, baru satu langkah, dia refleks melihat kebelakang sembari mengangkat pedangnya. Seketika aku membatu dan terdiam ketakutan. Ku harap dia sadar jika aku bukan orang jahat.


“Oh..., kau sudah bangun, anak muda....”


Rasanya, jika dia orang biasa, aku sudah pasti memarahinya. Namun, dia bukanlah orang yang ingin siapapun marahi. Bahkan, kata-kata yang ada dalam pikiran akan luruh semua bagaikan kotoran yang dibersihkan menggunakan cairan kimia yang kuat.


“Ayolah, kemari....”


Rasa lemasku semakin bertambah rasanya. Bukan karena lapar saja, aku takut jika dia akan berbuat jahat padaku, meski sebenarnya aku yakin dia takkan melakukan itu. Buktinya saja, zirahnya itu berwarna putih dan aku tak terikat pada tongkat menyebalkan itu.


“B-baiklah...,” jawabku dengan gugup.


Aku memutuskan untuk berjalan dengan normal saja. Akan terasa sangat canggung- bahkan bisa menjadi menegangkan, jika aku berjalan dengan lemas. Setidaknya, aku ingin dia merasa jika aku benar-benar tidak ragu padanya.


Ya..., tidak dengan ekspresi wajahku....


Aku pun berdiri disampingnya dan duduk dengan perlahan. Aku hanya melihat ke arahnya dan melihat tangan kanannya menghilang hingga siku-nya. Aku panik melihat itu, karena pedangnya dia angkat dengan tangan kanan, bukan dengan tangan kiri.


Kemudian, bagian tangannya kembali seperti semula. Malahan, dia sekarang memegang sebuah roti baguette yang memang tinggal bagian ujungnya saja. Setidaknya, itu lebih baik untukku makan dibanding harus memakan rumput.


“Makanlah,” ucapnya sembari memberikan rotinya padaku.


“Makasih...,” jawabku sembari menerima rotinya.


Aku pun segera untuk melahap seluruh rotinya. Akan tetapi, dia langsung memberikanku peringatan. Untungnya, itu tepat sebelum aku menggigit rotinya dengan lebar.


“Jangan makan rotinya dengan terburu-buru.”


“Jika kau memakan roti itu dengan potongan besar maupun tergesa-gesa, kau akan mati akibat perutmu yang kesulitan untuk mengolah makanan yang banyak.”


Tak salah baginya, aku lapar bagaikan belum makan selama berhari-hari lamanya....


Berhari-hari lamanya....


Benar juga....


“Jika boleh tahu, apa yang terjadi padaku setelah monster itu menyerangku?”


Dia terdiam. Aku tak langsung panik. Dengan pemikiran positifku, aku hanya menebak jika dia memerlukan waktu untuk menjawab pertanyaanku.


“Kau..., pingsan selama 2 minggu lamanya....”


2 minggu?!


Bahkan setelah 2 minggu, rasa pusing dari teriakkan monster itu masih belum menghilang. Malah, terasa menguat. Jelas, aku mungkin salah satu orang yang beruntung.


Bisa saja orang meninggal ketika mendengar suara itu, seharusnya.


“Hey, aku berterima kasih karena telah merawatku selama 2 minggu.”


Dia hanya diam. Dan, aku tak peduli dengan kesunyian ini berhubung memang aku takkan bisa menebaknya dengan benar. Lalu, ya..., memakan rotinya dengan perlahan seperti yang dibilang olehnya.


Secara mengejutkan, rotinya penuh dengan susu, bagaikan roti tawar yang dicelup lama pada susu. Padahal, rotinya benar-benar kering, yang pastinya ketika aku makan nantinya akan terasa seret di tenggorokan. Benar-benar menipu mata dan pikiran.


Dan..., istilah “lidah, mana bisa dibohongi” rupanya memang benar..., yang awalnya aku pikir hanya sebagai bagian dari marketing saja.


“Terkejut?” tanya kesatria itu tanpa memandang ke arahku.


Aku memandanginya sementara, lalu kembali fokus ke rotiku. Aku bisa bilang, makanan ini cukup lezat sebagai sarapan. Bahkan bisa saja, aku akan membawa ini jika aku menjadi pengembara.


Pengembara....


Benar juga, ini bukan alam lain jika aku pikir secara dalam....


Jadi, tak ada salahnya jika aku mencoba menanyakan tentang dunia ini.


“Hey, aku ingin bertanya satu hal.”


Kali ini, dia langsung merespon permintaanku. Tak terduga, tetapi biarlah. Mungkin saja dirinya memang seperti itu.


“Boleh saja, bahkan jika masih banyak hal yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawabnya sesuai dengan pengetahuanku.”


Ya..., itu artinya aku bisa bertanya banyak hal padanya tanpa ragu.


Oke....


“Kau siapa?”