The Hidden Secret

The Hidden Secret
Jack pot




Aku kembali melangkah, oh kedua kakakku tengah berada di ruangan olah raga rupanya, terdengar dari suara bola yang memantul. Pundakku terangkat tak mau peduli, aku kembali ke kamarku.


Ting!!


Ting!!


Ponselku begitu berisik, banyak pesan masuk. Aku bergegas meraih ponsel di meja, bergegas melihat pesan itu dari siapa, bibir kananku terangkat menatap layar, notifikasi yang bahkan tak pernah ku tunggu "Sial" ku lempar ponsel ke kasur. Hawa mendadak menjadi panas, aku merasa sangat gerah.


Ku pikir itu pesan dari Teon rupanya bukan. Grup alumni SMA mendadak berisik, sibuk meremukkan reuni, merencanakan berjumpa setelah sekian lama. Ku ingat aku telah keluar dari grup itu, siapa yang seenaknya memasukkan ku kembali.


"Sialan!!" ku rebahkan tubuh ke kasur, pandanganku lurus ke atas menatap langit-langit kamar, jemariku sibuk memainkan rambut. Aku resah.


Ting!!


Ting!!


Notifikasi tak hentinya masuk, gigiku mengerat kepalaku mulai berdenyut. Aku menoleh menatap ponsel yang berada tepat di sampingku, aku meraihnya mencengkram ponselku erat. Ku beranikan diri membuka pesan itu, ya aku tak berniat membaca isinya pada awalnya. Tapi apa-apaan ini, mereka sibuk menyebut namaku. Ya memang sekalipun aku tak pernah muncul di acara reuni SMA, aku bahkan keluar dari grup sialan itu sudah sejak lama. Owh ayolah siapa juga yang mau bercengkerama dengan orang-orang seperti mereka.


Aku sibuk scrolling membaca percakapan mereka dan masih sama, mereka membawa-bawa namaku dan menertawakannya. Mereka pikir candaan dengan menghina orang itu lucu, tidak sama sekali. Mm, mereka menanyai apa aku akan datang ke acara kali ini?. Aku berpikir sejenak, ah ku pikir untuk kali ini aku memilih datang untuk pertama dan terakhir kali. Dulu aku memang tak pernah membalas hinaan mereka tapi sekarang aku akan menutup candaan yang tak lucu itu.


Saat SMA aku merahasiakan identitasku sebagai putri bungsu Taran, dulu saat memutuskan keluar dari rumah aku memilih tak akan menggunakan nama besar Ayah, karena itu aku di pandang rendah tak memiliki orang tua dan gadis miskin. Sialan pembullyan terang-terangan yang mereka lakukan padaku dulu dan bodohnya aku  tak berani membela harga diriku saat itu. Mereka anak-anak orang berpengaruh, siapa yang akan membantuku  jika aku berpikir melawan mereka. Tentu anak-anak lebih berpihak pada mereka, kekuasaan membeli segalanya bahkan keadilan.


"Malam ini?" aku tersentak kaget, mereka merencanakan reuni malam ini di hotel bintang 5. Kenapa mereka begitu tergesa-gesa ketika aku berkata akan ikut reuni kali ini. Sungguh ini rencana di sengaja mereka. Jadi apakah mereka begitu penasaran denganku, baiklah akan aku ladeni dan membuat semuanya terkejut.


Dalam pertemuan reuni sudah dipastikan membutuhkan partner, sebagian dari mereka pasti sudah ada yang menikah mereka juga akan membawa pacar mereka dan menyombongkan nya. Jika aku datang sendiri jelas akan menjadi momok dan perbincangan. Lalu siapa yang akan aku bawa aku tak memiliki pacar, jika aku membawa kakak kedua akan sangat mencolok dia seorang artis dan musisi terkenal bahan diantara teman-teman kelasku itu pengagumnya. Kakak pertama juga sama wajahnya terpampang di artikel dan poster sebagai pengacara yang berhasil menyelesaikan banyak kasus dan sebagai penerus Ayah anak pengusaha kaya sekaligus anak dari CEO perusahaan komponen salah satu merek ponsel. Membawa salah satu dari mereka itu tak mungkin, teman alumni akan menyadari yang aku bawa kakak kandungku bukan pacar, aku akan ketahuan berbohong. Lagian mereka berdua pasti tak akan mau jika ku mintai tolong.


Ow, bagaimana dengan Teon?. Mungkin dia bisa membantuku, ah sebelum meminta bantuannya hal yang paling penting uang.


Aku masuk ke ruang olah raga kakakku, sampai aku disini aku membulatkan tekad dan keberanian. Pandangan kedua kakakku tertuju padaku, mereka tengah sibuk beristirahat mengusap-usap wajahnya dengan handuk kecil. Bagaimana ini mulutku tiba-tiba tak mau berbicara.


"Kenapa mematung? ada apa?" ucap kak Naka terdengar suaranya yang terengah, ya tentu saja dia habis berolah raga berat.


Otot besarnya itu membuatku kian bergidik, ku harap kakak tak akan marah ketika aku meminta uang. Baiklah, aku menghela napas pelan "Hey kak, bisakah berikan aku sejumlah uang. Yah tidak banyak hanya beberapa mungkin 20 juta"


Secara bersamaan dahi kakak mengernyit, oh ya ampun sekarang aku benar-benar takut "Ya, nanti akan aku kembalikan. Mungkin agak lama proses pengembaliannya" suaraku menjadi pelan.


Rasanya begitu menekan ketika kak Azka berbicara, sial aura kakak pertama menakutkan. Aku sibuk memainkan jemariku, mungkin lebih baik aku tak kemari dan berkata meminta uang. bagaimana jika kakak tahu kalau aku benar-benar tak memiliki uang sama sekali, mungkinkah mereka akan marah padaku bisa saja mereka kian memandangku tak berguna. Itu tak salah sepenuhnya, terbukti dari aku yang ingin bunuh diri, bukankah pikiranku saat itu begitu pendek. Aku bekerja dari dulu, tapi sekarang aku bahkan tak memiliki uang apa yang harus aku katakan sekarang.


"MM, bukankah aku adik kalian. Ya ku pikir masih berhak meminta pada kalian, bukan begitu!!" aku berucap dengan penuh kehati-hatian sebisa mungkin tak menyingung. Bagaimanapun aku membutuhkan itu, jika aku pergi reuni tampa membawa uang itu sama saja mengali lubang sendiri.


Kakak Azka bangun dari duduknya, tampaknya dia mengambil sesuatu dari dompetnya "Aku lupa memberikanmu. ini milikmu" kakak mengulurkan sebuah kartu padaku.


Aku menganga melihat kartu itu "Black Card?" ucapku kaget. Ku genggam tanganku, bagaimana mungkin aku berani mengambil kartu itu. Aku tak akan mampu mengembalikan jumlahnya nanti.


"Itu terlalu banyak. Kakak bisa berikan jumlah yang aku katakan tadi ha..ha.." aku tertawa kecil, canggung kartu itu benar-benar membuatku syok.


"Apa yang kau katakan. Itu memang milikmu bodoh!!" kak Naka melirikku, dia tengah menegak air dalam botol.


"m.. milikku?" aku menatap kak Naka penuh tanya.


"Ya, ini memang milikmu" kakak Azka kembali mengulurkan kartu itu padaku kali ini dia menarik lenganku, meletakan kartu itu di telapakku.


"Ini sungguhan?" aku benar-benar tak percaya, beberapa kali aku menatap kak Azka juga kak Naka secara bersamaan.


"Kenapa kau seperti mendapat jack pot" ketus kak Naka.


Apa ini, kenapa mereka memberikanku kartu ini. Tapi aku benar-benar senang, seperti yang kakak ku katakan ini jack pot, aku bahkan tak berharap mendapatkan sesuatu yang berlebihan seperti ini.


Aku memeluk kak Azka aku benar-benar senang, mungkin aku harus memperbaiki pikiranku yang selalu berpikir mereka membenciku.


"Ya, tapi ayah yang mempersiapkannya untukmu sejak lama. Bukan kak Azka" ucap kak Naka, dia bangun dari posis duduknya, menarik ku yang masih memeluk kak Azka.


Deg!!


Ayah? dia menyiapkannya? apa dia memikirkan ku selama ini. Ah, lebih baik ku pikirkan setelah ini. Sebaiknya aku menemuinya nanti.


Aku melepas pelukanku pada kak Azka "dan kau juga kak" aku memeluk kak Naka


Aku tersadar, rasanya aku melakukan hal yang salah. Bergegas aku melepas pelukanku pada kak Naka yang terdiam. Kedua kakak saling menatap, mereka tampak bingung namun samar-samar aku melihat sudut bibir mereka yang tertarik. Tiba-tiba saja rasa senang itu menyeruak mengalahkan perasaan takut dan bagaimana bisa aku dengan berani memeluk kedua kakakku. Duh, rasanya malu. Bergegas aku kembali ke kamar.