
Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama ruang tamu terbuka, ruang televisi keluarga dan juga ruang makan, tentunya bersebelahan dengan dapur. Lantai dua terdapat kamar yang digunakan Ayah dan juga kakak-kakakku. Lantai tiga kamarku bersebelahan dengan kolam renang juga teras yang cukup luas dan ruangan olah raga berada tak jauh dari kamarku.
Seingat ku ruangan kerja Ayah berada di lantai satu. Tepat di bawah tangga, Ayah selalu lembur. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya. Ruang kerja yang dekat dengan dapur mempermudahkan Ayah mengambil minum ketika haus di tengah malam. Jadi Aku tak mempercayai ucapan kakak dan tetap melangkah keruang kerja Ayah dulu.
Mm!! Ku rasa ucapan Kakakku tak salah. Ruangan itu sekarang berisi barang-barang tak terpakai bisa di katakan gudang. Jemariku menutupi wajah rasanya sedikit malu karena sok tahu, aku telah lama tak kembali ke rumah ini tentu saja ada beberapa hal yang berubah. Hanya karena kamarku masih sama sepeti dulu, aku menyamakan segalanya. Ku garuk pelan kepala yang tak gatal. Menutup pintu dengan pelan, Kakak melirik ke arahku dengan senyum tertahan.
“Cih, enggak lucu!!” Kesal Ku sembari berlalu.
“Dih bilang aja malu!” Serunya lantang.
Hanya ada satu ruangan lagi di lantai tiga dan ruangan itu berada tepat di samping kamarku. Jantungku berdetak tak karuan, terbujur kaku di depan pintu ruangan yang berada di sebelah kamarku. Perasaan ini sangat berbeda saat berjumpa dengan Kakak keduaku, sekejap aku canggung bertemu dengan kakak tadi, tapi perasaan ini bahkan tak dapat ku jelaskan sekarang.
Ku putar gagang pintu. Saat pintu terbuka tampak Ayah sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya, jemari dengan pena bertinta hitam sibuk di torehkan pada kertas-kertas yang terus berganti. Sekarang aku bisa melihat kerutan di wajahnya menandakan Ayah kian menua. Ayah pria yang peka seingat ku dulu, tapi sekarang dia bahkan tak menyadari keberadaan ku yang membuka pintu.
Saat aku kecil dulu, aku berusaha mendekati Ayah dengan terus menerus mengunjungi Ayah yang tengah sibuk di ruangannya. Ketika aku membuka pintu, sorot mata tajamnya langsung tertuju ke arahku dan “Pergi, jangan menggangguku!!” kalimat itu yang Ayah lontarkan dan masih membekas di hatiku. Saat bersamaan kedua kakakku datang mengunjungi Ayah, mereka di sambut hangat olehnya. Aku yang masih berdiri di depan pintu terus diabaikan sampai pintu kembali ditutup oleh kakakku, rasanya aku tak berhak bergabung dengan mereka, tapi kenapa hanya aku? Dulu aku bertanya-tanya, tapi sekarang aku tak peduli lagi. Kisah lama sebaiknya aku tenggelamkan ke dasar hati yang paling dalam, rasanya sesak mengingat-ingatnya lagi.
Dengan hati berat aku melangkah masuk “Kenapa memanggil Ayah?” tanyanya ku dengan hati-hati berusaha terdengar sedikit sopan bagaimanapun dia tetap Ayahku, study ku pun uang darinya. Setidaknya dia tak mengabaikan ku sepenuhnya.
Ayah terdiam, di letakan nya pena di meja menghentikan segala aktivitasnya. Wajahnya mendongak menatapku, sorot matanya masih sama tajam “Kau pulang?!”
Ucapan yang membuat perasaan campur aduk. Kesal, marah, muak semuanya menjadi satu seketika. Jemari mengepal keras, ku mantapkan hati agar tak terus takut dengan ucapannya.
“Ah, iya. Aku pulang Ayah” Aku tersenyum lebar bahkan gigi-gigiku tampak jelas, tapi tidak dengan hatiku yang berdenyut sakit.
Ayah tak bergeming, hanya tatapan datar yang di berikan. Setidaknya katakan sesuatu agar aku tak merasa di abaikan disini.
Ayah menyentuh dagunya, dia mengamati ku lekat-lekat. Setelahnya mengangguk-angguk pelan “Berapa usiamu?”
Aku membelalak, tak bisa berkata-kata mendengarnya, bahkan dia tak tahu usiaku sekarang. Itu hal yang wajar untuk Ayah yang sudah menua, jagan lagi merasa sakit dengan pertanyaan semacam itu.
“23 tahun!” ucapku sedikit ketus, suasana hatiku menjadi buruk sekarang. Bagaimanapun tampaknya aku tak pandai berpura-pura baik-baik saja.
“Tidak akan!!” ucapku spontan.
Apa-apaan ucapan Ayah, setelah lama tak berjumpa dan baru kembali ke rumah ini. Sekarang dia berbicara pernikahan, Ayah ingin mengusirku secara halus dengan berbicara pernikahan? Huh itu sangat lucu.
Ayah menopang dagunya, dia menatapku begitu tajam. Suasana berubah mencekam, rasanya bagaimanapun aku akan tetap kalah jika berhadapan dengan Ayah yang keras ini. Bagaimanapun juga, jika Ayah tetap memaksa agar aku menikah saat itu juga aku memilih menjadi lebih keras kepala sama sepertinya.
“Edword, bukankah dia tunangan mu?. Dia mengirimkan pesan pernikahan padaku dua hari lalu” tuturnya sembari mengeluarkan sebuah amplop berstempel dari laci mejanya.
Dahiku mengkerut, mendengar nama Edword membuatku kian memanas. Setelah semua yang dia lakukan padaku belakangan ini, seolah tak pernah terjadi apapun. Bagaimana dia bisa dengan berani mengirimkan pengajuan pernikahan pada Ayahku, tak malukah dia menampakan wajah di depanku lagi. Ah, aku lupa pria sepertinya tak memiliki rasa malu. Mungkin dia pikir aku tak bisa menolaknya karena hubunganku dengan Ayah tak baik. Sekalipun Ayah menyuruhku aku tak akan sudi menyetujuinya. Aku tahu niatnya menikah denganku tentu saja kerja sama menguntungkan dengan keluarga Taran, tapi disini aku yang dirugikan.
“Yang benar saja Ayah, tak mungkin aku menikah. Ayah tahu sendiri kedua kakakku yang berumur belum juga menikah!!” beruntung memiliki kakak yang belum menikah rupanya berguna untuk beralasan.
“Bukan masalah jika kamu ingin menikah lebih dulu. Ayah ingat kamu sangat mencintai si Edword itu?” nadanya terdengar meninggi.
Cih, menjengkelkan. Mencintai Edword? Itu kebodohan yang pernah aku lakukan, mengingatnya membuat ku mual. Sok tampan dengan wajah itu yang sibuk bercumbu dengan banyak wanita.
“Aku sudah putus dengannya. Itu terjadi sudah sangat lama, dia pria bajingan!!” ucapku terdengar sarkas.
Tampak Ayah agak terkejut mendengar ucapanku, Owh aku melakukan kesalahan dengan berucap tak sopan. Aku tertunduk, bagaimana jika Ayah marah, dan memintaku keluar dari rumahnya ini. Toh selama aku pergi tak membuat keluarga Taran kehilangan apapun. Aku mendongak pelan, mencoba mengamati ekspresi Ayah. Sekarang aku khawatir, aku tak punya uang kemana aku akan pergi nanti.
"Begitu” Ayah memasukan kembali amplop itu ke lacinya.
“Kembalilah” suruhnya.
Hanya itu, Ayah memanggilku hanya untuk itu? Tak ada hal lain? Aku menatap Ayah yang kembali sibuk dengan aktivitasnya, tampak senyum kecil terbesit di bibirnya. Apa maksud dengan senyuman itu?.
“Tak ada yang ingin Ayah sampaikan lagi?” Aku bertanya saking penasaran. Aku kira Ayah akan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakiti hati, mengatakan kalimat menusuk padaku, memarahi, memaksaku untuk tetap menikah dengan Edword atau hal-hal menyakitkan lainnya.
Ayah mengangguk pelan, tanpa menatapku. Ayah kembali sibuk dengan dokumen-dokumennya lagi. Aku keluar dengan terus menatap Ayah yang membingungkan ku, sampai pintu ruangannya ku tutup rapat Ayah tak berucap apapun. Aku menggaruk pelan kepalaku, terheran dengan situasi saat ini. Oh, untuk apa memusingkannya, dengan cepat aku menghilangkan kekhawatiran tak berguna itu, ini situasi yang menguntungkan bagiku.