The Hidden Secret

The Hidden Secret
kakak kedua




Aku melirik pelan ke arahnya. Wajahnya begitu dekat denganku, benar sangat dekat Ayah. Ayah masih sama, dia tetap tampan dengan perangai kerasnya yang tak berubah. Dahi Ayah mengernyit antara percaya atau tidak melihat keberadaan ku. Ayah memalingkan wajahnya, tatapannya kembali lurus dia masuk ke dalam rumah tanpa berucap sepatah kata padaku. Ku tatap tas yang di tenteng, jelas Ayah baru pulang dari kantornya. Tentu saja aku bingung dengan reaksinya tapi yasudah setidaknya aku tak di usir.


Aku menghela napas perlahan memberanikan diri masuk ke dalam rumah ini.


“Owh, siapa ini?”


Sambutan tak ramah langsung di lontarkan, tak lain kakak keduaku yang sibuk memainkan ponselnya di sofa tamu. Pandangannya teralih padaku, dia menatapku begitu lekat. Sudut bibirnya terangkat, jelas dia tak senang dengan kepulanganku. Aku terdiam, mengalihkan pandanganku ke arah lain. Lama tak bertemu rasanya canggung. Ayolah untuk apa aku mempedulikannya. Toh pemilik rumah ini tak melarang ku masuk. Aku menaiki tangga melewatinya, tak mau berurusan dengannya.


"Main masuk aja!!" Kakak beranjak dari duduknya, agak berlari mengejar ku.


Aku tetap tak menghiraukannya, terus melangkah menaiki anak tangga.


“Berhenti!!”


Pekiknya begitu lantang sampai gendang telingaku terasa sakit. Ku tutup telingaku dan terus melangkah. Tak peduli sekeras apapun dia menghentikan ku, sekarang aku bukan anak kecil lagi yang takut padanya.


“Aku bilang berhenti, telingamu tak berfungsi dengan baik?!” lengan kiriku di raihnya, di cengkeram dengan erat. Terpaksa aku menghentikan langkahku, tangan kananku berusaha melonggarkan pegangannya yang semakin kuat.


Aku menatapnya lekat "Bisakah jangan menggangguku!" ketus ku.


Kakak mengangkat kedua tangannya "Aku hanya sedikit terkejut, melihat adik tercinta pulang sendiri ke rumah ini. Owh, apa yang terjadi sampai kau kembali pulang?!" ucapnya dengan sedikit penekanan.


Aku mengernyit kesal, sialan aku benar-benar membencinya. Sudah ku duga dia akan bertingkah seperti itu, kakak yang paling berisik dengan ucapan pedasnya itu. Aku berusaha bersabar, melanjutkan langkahku. Semakin di acuhkan kakakku kian menjadi, langkahnya mengikuti gerakku. Aku berbalik menatapnya kesal.


“Jangan menganggu ku!!” ucapku lantang, aku benar-benar lelah dan ingin beristirahat sejenak. Cukup dengan permasalahan yang ku alami, jangan di tambah dengan kakak kedua yang terus menggangguku.


Kakak tampak terkejut, dia tak bergeming, matanya menjalar dari atas sampai bawah mengamati ku. Kedua matanya menyipit.


Kenapa, dia pikir aku adiknya yang sama akan menangis histeris saat di ganggu, ayolah aku bukan anak kecil penakut seperti dulu. Banyak hal yang telah aku lewati sendiri, hal seperti ini tak akan membuatku takut lagi.


“Kau tumbuh sedikit!!” dia mempraktekan dengan jemarinya.


Bola mataku memutar, berusaha bersabar dan tak terpancing.


Ku condongkan tubuh sedikit lebih dekat dengannya “Ya benar. Bukan masalah untukmu!!” Aku berbalik kembali ke kamarku, sesekali melirik ke belakang kakak yang terdiam menatap lurus ke arahku, dia berhenti mengikuti ku. Ku pikir ucapanku akan membuatnya marah dan semakin menggangguku, rupanya tidak.


Aku terkejut ketika membuka pintu kamar. Semuanya tampak utuh tak ada yang berubah masih sama dari terakhir kali aku meninggalkannya. Kasur yang cukup empuk dengan seprei biru laut,lemari kecil di sudut kamar dan meja belajar posisinya masih sama tak berubah. Ku pikir kamar ini akan menjadi gudang setelah aku pergi, rupanya tidak juga.


Bahuku terangkat tak ingin memikirkannya. Bergegas aku masuk, barang ku letakan sembarang. Tubuh mencuat ke kasur memeluk guling, wajah ku usapkan ke kasur seprei, wangi yang tak asing ini aku merindukannya. Tempat yang menjadi saksi bisu kesedihanku, tempak yang menjadi satu-satunya sandaran di kala aku kesepian. Tak ku pungkiri aku senang kamar ku tak berubah, tak bisa berbohong dengan sudut bibir terangkat, senyum yang merekah indah.


Aku beranjak dari kasur menyibak gorden berwarna gold, menatap ke luar jendela dengan perasaan lebih baik. Niat bunuh diri seketika menghilang jatuh jauh ke sudut hati paling dalam, harusnya aku seperti ini dari dulu menikmati hidup tanpa peduli dengan tanggapan dan reaksi orang lain. Jendela ku buka lebar, menghirup udara dengan antusias.


Pandanganku tertuju pada rumah besar di sebelah. Walaupun rumah Ayah berpagar tembok tinggi. Namun kamarku yang berada di lantai paling atas bisa melihat orang yang di bawah ku.


“Akh?-” Aku terbata melihat seseorang tak asing baru saja keluar dari mobil di halaman rumah sebelah. Wajah ku miringkan pelan memastikan bahwa pikiranku salah. Mata kami tak sengaja bertemu, aku bersembunyi cepat di bawah jendela, sebisa mungkin tak terlihat.


Aku kembali mengintip pelan dan dia masih berdiri tegap dengan tatapan mengarah ke kamarku, buru-buru aku menarik gorden menutup jendela dengan panik. Kenapa dia berada di rumah sebelah? Setahuku dulu rumah itu tak berpenghuni, apa mungkin dia pemiliknya sekarang? Rumah yang dulunya tak terawat sekarang menjadi indah, bisa di pastikan tebakanku benar. Pria itu yang menggagalkan rencana bunuh diriku semalam. Aku menggeleng cepat tak mungkin dia sampai mencari ku untuk ganti rugi, toh aku tak jadi mati di apartemennya.


Brak!!


Pintu di buka paksa rasanya dia tak sabaran sampai meninggalkan bunyi yang menyakitkan telinga. Ku hela napas panjang, ku tatap Kakak yang masuk sembarang ke kamarku tanpa permisi benar-benar membuatku greget.


“Di panggil Ayah” tunjuknya ke arahku, setelahnya dia pergi meninggalkanku tanpa alasan jelas dan tanpa menutup kembali pintu kamarku.


Gigi mengerat kuat, kesabaranku benar-benar di uji. Tapi yang lebih menghawatirkan Ayah meminta bertemu? Apa yang akan dia katakan nanti?. Aku bersiap dengan pikiran kacau sembari menuruni anak tanga langkah demi langkah. Kakak masih standby di sofa tamu kali ini dia sibuk menikmati cemilan. Dia melirikku, menyeringai kecil terdengar keke hanya yang menakuti ku. Rasanya dia tak sabar menunggu aku terkena musibah.


“Ekspresi yang jelek!” Ketus ku sembari berjalan ke arah ruangan Ayah.


Tawa Kakak kian keras, dia sampai tersedak makanannya “Ekhm!” Dia mengatur diri agar kembali biasa “Kau pikir ruangan Ayah masih di sana, dia ada di lantai atas tepat di sebelah kamarmu” tuturnya.


Alisku terangkat, menatap kakak dengan tak percaya “Bohong, jangan mencoba membohongiku aku bukan anak kecil lagi!!”


Kedua tangan kakak terangkat, bahunya juga ikut serta. Seakan berkata serah kau percaya atau tidak dengan ucapannya itu. Kakak melanjutkan menikmati cemilan sembari merebahkan tubuhnya ke sofa dengan nyaman.