The Hidden Secret

The Hidden Secret
Pria itu




Sore dengan cepat berganti malam. Bising yang menyakitkan telinga, siapa lagi jika bukan kakak keduaku yang berulah di malam hari, asyik bermain-main dengan air kolam. Suara dia melompat masuk ke dalam air terdengar begitu jelas. Argh!! Ini malam pertamaku di rumah ini, aku hanya ingin tidur tenang malam ini. Tak bisakah dia diam sejenak dan membiarkanku istirahat?. Aku keluar dari kamarku, kali ini aku tak akan membiarkannya. Sepertinya Ayah juga tak di rumah, jika Ayah di rumah Kakak tak akan seberisik ini.


Aku menghirup udara dengan kedua tangan menopang pinggang “Bisakah jangan berisik ini sudah malam wahai kakakku!!” ucapku lantang menatap kakak yang tengah asyik berenang dengan bermacam gaya. Lihatlah sekarang aku seberani ini, dulu aku begitu takut padanya. Sekarang aku menyesali diriku dulu.


“Pwah” Kakak keluar dari dalam air, tangannya menyibak rambutnya yang basah.


Sialan, dia tampak tampan malam ini di tambah sinar rembulan tepat mengenainya, memang wajahnya sangat menjual pantas saja dia terkenal.


“Apa itu menganggu?” Kakak mengucek telinganya.


Mataku melotot tajam “Kau menanyakan hal yang sudah jelas. Itu mengganggu!!” ketus ku kian kesal. Hawa dingin menusuk kalbuku, tubuhku menggigil dingin. Percikan air kolam terus mengenai ku, membuat piyama tidurku sedikit basah karenanya, membuat frustasi.


Kakak menatapku acuh  “Emosimu tampak kacau, setelah lama tak bertemu adik!”


Aku terdiam sejenak. Benar, sejak kapan aku tak bisa mengatur emosiku? Ya sejak aku keluar dari rumah ini. Dia bagai pura-pura tak tahu kenapa aku menjadi seperti ini. Huh, sebenarnya aku tak ingin berdebat dengannya terus-terusan. Tapi dia tampak sengaja menggangguku.


“Ah, mungkin kau harus bersabar sedikit lagi adik!!. Kami tengah berpesta di sini lihat kawanku telah datang” Pandangan Kakak tertuju di belakangku. Aku menoleh ke belakang, sedikit terkejut. Pria yang tengah berjalan mendekat, pemilik apartemen sekaligus pria yang aku lihat di rumah sebelah, kenapa sekarang dia ada di sini?.


Pria itu menatapku lekat. Tatapannya menekan ku, membuatku tertunduk takut.  Apa dia teman dari kakakku?  Bagaimana jika dia bercerita mengenai rahasia bunuh diriku, itu sangat memalukan, nama baik keluarga Taran juga di pertaruhkan. Rencana hidup tenang ku akan hancur berantakan.


Aku bingung melakukan apa di kondisi seperti ini. Aku memilih bergegas kembali ke kamarku,melewatinya yang masih terkejut melihat keberadaan ku. Tampaknya dia mengingat-ingat dimana dia pernah melihatku.


"Ah, di atap apartemen" ucapnya.


Aku menghentikan langkahku seketika, ingin berbalik dan memintanya merahasiakannya. Hanya saja jika aku melakukannya akan menimbulkan kecurigaan. Sekarang kakak tengah mengamati ku yang melarikan diri setelah  melihat kedatangan temannya itu. Aku memutuskan kembali ke kamar, ku harap pria itu tak mengatakan apapun.


“Dia adikmu?”


“Benar”


“Aku hampir tak pernah melihatnya!”


“Ya, Dia anak aneh yang memilih bebas”


Samar-samar aku mendengar percakapan mereka dari kamarku. Lebih tepatnya aku menguping pembicaraan mereka dan kebetulan kamarku dengan kolam renang sangat dekat, jadi pembicaraan mereka terdengar agak jelas. Aku khawatir, bagaimana jika berita bunuh diriku bocor Ayah akan kian membenciku, juga kedua kakakku, nama baik yang telah dibangun keluarga Taran akan hancur seketika karena ulahku. Aku tak masalah jika mereka kian membenciku, masalahnya aku tak tahu akan tinggal di mana selain di sini untuk sekarang ini.


Selang beberapa menit, terdengar beberapa orang datang. Mereka Teman-teman pria kakak, rasanya lebih dari 5 orang. Rupanya kakak baru pulang dari London, dia baru saja selesai bermain peran di sana dan pesta ini dia adakan untuk merayakannya.  Mereka bercakap-cakap wajar, sesekali membicarakan wanita. Tentu saja, pria tak luput membicarakan wanita yang mereka sukai atau membicarakan wanita-wanita yang di jadikan pelampiasan. Suara pria pemilik apartemen itu sangat khas, sampai aku mengingat suaranya yang berat. Namun, tak sekalipun aku mendengar dia berbicara. Itu bagus jika dia tak mengatakan pada kakakku jika dia mengenalku. Aku sampai menempel pada pintu kamar agar jelas mendengar percakapan mereka, menunggu pria itu berucap. Satu menit, dua menit, dan waktu terus berlalu tak terdengar suaranya. Mungkinkah dia orang yang pendiam, lalu kenapa dia datang jika hanya diam.


Suara musik mulai terdengar kencang, ini buruk aku menjadi tak mendengar percakapan mereka. Sekarang sudah tengah malam dan mereka masih asyik di kolam renang dengan nyanyian keras yang merusak gendang telinga. Owh, ayolah apakah mereka tak lelah.


Jantungku berdegup kencang di kala mendengar suara berat pria itu. Dia memanggil kakakku, itu tak bisa ku biarkan. Aku membuka pintu, berlarian keluar tak bisa menunggu lagi.  Aku harus berbicara dengan pria itu dan meminta tolong untuk merahasiakan bahwa aku pernah ingin melompat dari gedung apartemennya.


Aku menyesali tindakanku, sekarang aku berdiri di tengah teman-teman pria kakak yang bertelanjang dada, mereka tampak terkejut melihatku. Rasa malu memenuhi diriku, tapi sudah sejauh ini. Aku mencari keberadaan pria itu yang duduk santai di kursi dengan pandangan mengarah padaku.


Aku membulatkan tekat, memberanikan diri  mendekatinya “Bisakah kita berbicara sebentar saja?!” ajak ku.


Kami saling menatap, jujur aku sedikit takut padanya namun matanya sangat indah membuatku terpana mengalihkan perasaan takutku padanya.


Satu alisnya terangkat “Ya, katakan” tukasnya.


Hey, tak mungkin aku mengatakannya di sini kakak akan mendengarnya. Bagaimana juga aku tak mungkin membawanya menjauh dan berbicara berdua padanya, itu akan menimbulkan kecurigaan lebih pada kakakku.


Aku mendekatkan diri padanya, agak berbisik “Tolong rahasiakan kejadian di lantai atas apartemen mu. Ku mohon"


Dahinya mengernyit, dia mencerna ucapanku. Setelahnya dia menyeringai kecil “Apa yang akan aku dapatkan?”


Rasanya aku melakukan kesalahan. Aku merasa terjebak, apa yang akan dia minta padaku?.


“Apa-apaan ini, kau keluar dari kamarmu terburu-buru dan langsung menemui dia?” Kakak keluar dari kolam renang, telunjuknya menunjuk ke arah kami berdua. Wajahnya tampak kesal. Teman-teman lainnya hanya terdiam menyaksikan situasi yang sedikit membingungkan.


"di lain waktu kita bicarakan" bisiknya padaku.


“Kau Teon mengenal adikku dimana, sejak kapan?” Kakak menarik ku menjauh dari pria itu dan aku baru tahu namanya Teon.


Teon melirikku setelahnya menatap datar kakak “Hanya tak sengaja, tak ada yang perlu kau khawatirkan”


Mata kakak menyipit bagai tak percaya dengan ucapan yang baru dia dengar. Kakak menyeret ku masuk ke dalam kamar “Jangan keluar sampai acara selesai. Aku tak suka kau muncul seperti itu, jangan kau pikir aku bersikap sedikit baik padaku membuatmu besar kepala!!” ancamnya padaku.


Awalnya aku kesal karena bising yang kakak buat. Bagaimanapun aku tak berniat menganggu acaranya, aku hanya memastikan bahwa pria yang bernama Teon  tak mengatakan apapun tentangku.  Aku mengangguk-angguk, mengiyakan ucapan kakak, tak ingin membuat masalah kian merembet panjang.


“bersenang-senanglah aku tak akan menganggu” Aku tersenyum, setelahnya menutup pintu aku berusaha bersikap baik kali ini, agar dia tak menanyakan apapun mengenai aku dan temannya itu.


“Adikmu? Kau punya adik?”


“Kenapa kami tak pernah tahu?”


“Bisakah kau mengenalkan kami pada adikmu, dia tampak cantik”


“Berisik!! diam kalian!” terdengar pekikan lantang Kakakku.