The Hidden Secret

The Hidden Secret
Wibawa kaka tetua




"Kau pasti kakak Viloid" tebak Edword, mendongak menatap kakak yang tengah menatapnya tajam.


Aura kakak begitu mencekam, rasanya dia kesal. Dahinya mengkerut,matanya menatap lurus Edword. Kakak berdiri tegap dengan dada bidangnya, menunjukan wibawanya sebagai kakak tertua yang berkuasa setelah Ayah di sini.


“Jadi kau pasti mengetahui mengenai surat  pengajuan ku. Adikmu berkata dia menolaknya dan aku yakin itu tidak benar, ya kalian tak bisa menolak calon sepertiku ” Ucap Edword, dia menyombongkan diri di depan kakak ku.


Dih, terlalu percaya diri memang tidak baik. Aku memutar bola mata, kesal melihat dirinya yang menyombongkan diri, model sepertinya banyak berserakan dimana-mana. Siapa juga yang menginginkannya. Ku lirik Kakak, ku pikir dia pasti mengetahui persoalan ini, Ayah pasti sudah memberi tahu kakak. Kakak calon penerus Ayah, semua urusan Internal dan Eksternal keluarga dia pasti mengetahuinya dengan baik, tidak mungkin Ayah tetap melanjutkan pernikahan aku sudah menolaknya kemarin.


"Kau siapa?!"


Suara kakak terdengar dingin. Aku tersentak menahan tawa, percuma Edword menyombongkan diri di hadapan kakak, itu tak akan berguna.


Ah, benar setelah aku pergi dari rumah ini. Edword pun sama tak pernah mengunjungi kediaman Taran lagi, wajar kakak tak mengenali Edword lagi, terlebih wajahnya sekarang terbanting. ku pikir dulu dia lebih berkarisma.


"Aku Edword tunangan adikmu " tukasnya sembari melirik ke arahku.


Kakak menuruni tangga, mendekat. Di telengkan kepalanya, menatap tajam Edword "Ku maksud, kau siapa berani bertingkah di rumah ini!!"


Edword terdiam,  rasanya dia sadar telah membangunkan singa yang tertidur "Owh, ayolah kak di sini aku hanya berkunjung. Aku sebagai calon adik iparmu. Tak baik jika kakak memberikan tatapan tajam bak mengancam padaku"  dia dengan berani merangkul pundak kakak.


Seketika dia bertingkah ramah, sopan di hadapan kakak, dan bertingkah sok baik, rasanya aku ingin muntah melihat tingkahnya. Edword mirip seperti bunglon, pandai berganti warna. Dia mirip dengan penjilat, kadang berbicara sok bijak memperlihatkan dia cerdas. Nyatanya hanya cangkang kosong.


"Kau, lebih menyenangkan ketika menutup mulutmu yang berisik itu!!"


Ini buruk aku tak bisa menahan tawa. Ucapan sindiran pedas kakakku tak terkalahkan, dia memang terbaik sikap dingin berpadu dengan kata-kata pedas. Lihat Edword, dia tak bisa berkata lagi, dia dengan cepat melepas rangkulannya pada kakak, dia jadi salah tingkah, sikap sok manisnya sama sekali tak mempan. Pandanganku tertuju ke dapur, rupanya bibi tengah mengintip, Bibi memberi jempol padaku. Rasanya Bibi tengah menikmati tontonan seru.


"Baiklah, mungkin kalian merasa tersinggung dengan tindakanku tadi. Aku minta maaf, Jadi  Kapan pernikahan kami akan berlangsung!!" ujarnya.


Ucapan yang tak serius, meminta maaf tanpa rasa bersalah. Dia mengatakannya karena ingin mencapai hal yang dia inginkan, dia pria yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ingin ku depak cepat dari rumah ini.


Aku menatapnya tajam, menunjuk ke arahnya kesal "Gila, apa kau tak mengerti bahasa manusia. Pernikahan antara kau dan aku tak akan pernah terjadi!!"


Kak Azka melirikku pelan, tangan kananya menjulur ke arahku bagai memintaku untuk diam.


“Mengenai itu, Ayah kami sudah mengirim balasan ke keluarga mu, ku beritahu mengenai isinya” Kak Azka menarik kerah Edword kencang.


Sudut bibir kananya terangkat, dia berbisik “di tolak!!”


Rasanya suasana menjadi menegangkan, aku memilih diam, rasanya ini lebih aman untukku.


Edword menunjuk kearah kak Azka “Mm, bukankah anda tahu bahwa kerjasama ini penting. Yeah, Ayahku tak akan membiarkan ini” suaranya terdengar mengancam.


Kak Azka kian menariknya dekat, jelas dia marah “Aku tak peduli itu!!” Jemari kakak menjalar di leher Edword, dia mulai mencengkeramnya kuat.


“Ekh!!” Dia tercekik, dengan cepat berusaha menepis tangan kak Azka. Usaha yang tak berguna, dia bahkan tak mampu bergerak dia sudah terkunci.


Kakak menyeringai, dia melepas cengkeramannya dengan kasar "Aku tak suka mengulangi ucapanku!!"


Edword jadi panik, keringatnya bercucuran saking takutnya “Aku mengingat penghinaan ini” ucapnya bergegas pergi “Ingat itu” pekiknya kian menjauh.


Sekejap aku bergidik, kakak menakutkan. Aku baru tahu, bahwa kakak ku bisa bertingkah bak psikopat. Kakak yang pembawaan tenang, cerdas, dan tak banyak bicara itu. Baiklah, jangan pikirkan itu. Ku pikir lebih baik aku bersikap baik di depan kakak mulai sekarang.


Ku tatap keluar, Edword yang tergesa-gesa keluar dari rumah. Itu menyenangkan, akhirnya dia mendapatkan pelajaran atas perilakunya padaku. Dia pria pengecut yang hanya berani melawan perempuan, di hadapkan dengan kakak dia menciut takut. Jelas dia tak bisa melawan Kakak. Kakak jauh lebih tinggi, badannya juga lebih besar dari Edword, di hadapan kakak dia bagai kurcaci kecil yang tengah memberontak.


"Itu tak buruk kak" Aku terkekeh, memecah keheningan.


Kakak menoleh, tak berkata. Suasana menjadi canggung. Aku membuang muka, rasanya agak malu ucapanku tak di respon. Aku mengigit bibir. Bagaimana bisa aku bersikap sok akrab setelah lama tak bertemu dengannya. Itu respon yang wajar bagi kakak, dia membantuku mungkin karena merasa terusik dengan bising yang di ciptakan Edword. Jangan berpikir dia membantu ku, bodoh. Aku memukul pelan kepalaku, rasa malu kian memenuhi diriku.


Kak Azka menyentuh lehernya, sesekali mencuri pandang. Dia mendekat, rasanya agak ragu. Kakak berdiri tepat didepan ku. Matanya mengamati ku dengan seksama, rasanya memastikan sesuatu. Prilakunya tak jauh berbeda dengan Ayah juga kak Naka saat pertama kali bertemu setalah kepulanganku ke rumah ini.


Tangannya terangkat, dengan cepat aku menutup mata. Mungkinkah kakak marah padaku?. Eh,  rasanya lembut. Ku buka mata yang terpejam pelan, rupanya kakak mengusap pucuk kepalaku. Aku pikir dia akan menamparku, marah karena tak mau menikah dengan Edword yang jelas pertunangan kami telah terjadi sejak aku kecil. Tapi perlakuan ini, Aku menatap mata kakak penuh tanya.


Setelahnya Kakak berbalik menaiki anak tangga. Heh, aku terkejut. Apa ini? jemariku mengusap-usap pucuk kepala tempat kakak mengelusnya tadi. Senyum ku tertarik, merekah dengan indah. Kenapa aku merasa senang?.


Kak Azka menghentikan langkahnya, dia menoleh pelan ke arahku lalu kembali melangkah. Ku tepuk wajahku pelan, benar-benar hal yang tak pernah ku pikirkan akan terjadi. Kakak ku yang paling dingin mengelus kepalaku, dulu dia bahkan tak mau menatapku apalagi bersikap baik seperti ini.


Argh!! aku jadi salah tingkah. Oh, ayolah jangan kekanakan Viloid. Aku berlarian menghampiri bibi, ku peluk bibi erat.


"Suasana hatimu tampak senang nona" ledek bibi.


"Mm, selain pria bajingan itu didepak oleh tuan muda anda senang karena perlakuan tuan muda, bukankah seperti itu!" bibi mencolek pipiku, bibi terus meledekku. Ya, bibi melihat semuanya dari awal. Aku kian malu.


"Sudahlah, bibi terus meledekku!!" Aku berlarian menaiki anak tangga.


Apakah ini dampak karena tak pernah merasakan di perhatikan dari kecil. Perhatian kecil yang di berikan kakak membuatku begitu senang, kapan terakhir aku mendapatkan perlakuan seperti ini.Ku rebahkan tubuh ke kasur, masih terbayang tingkah kakak. Dengan cepat senyum itu menghilang, aku terlalu antusias sampai melupakan fakta itu hanya bentuk kebaikannya padaku. Ku pikir harusnya tak mudah cepat dalam menilai.