The Hidden Secret

The Hidden Secret
Gagal




Gedung yang tinggi, hawa yang menusuk kalbu dengan terpaan angin yang semakin kencang. Rambut terurai panjang di terpa menjadi tak beraturan, tatapanku tetap lurus ke bawah menatap orang-orang berlalu lalang. Beberapa kali jemari mengusap lengan yang kian terasa dingin, aku termenung sejenak terselip keraguan dalam diri.


Sebuah kesalahan yang mungkin akan ku sesali di sepanjang hidup. Bunuh diri!! Aku berjalan pelan ke depan, kaki berada tepat di ujung bibir gedung, satu langkah lagi aku akan terjatuh. Aku tersenyum getir, menatap langit yang mulai turun rintik hujan “Selamat tinggal dunia!!” pekikku sebagai salam perpisahan dengan dunia yang memuakkan ini.


Bersiap aku terjun, kedua mata aku pejamkan dan-


“Apa yang sedang anda lakukan nona?” ucap seseorang pria suaranya terdengar berat. Tangannya melingkar tepat di perutku, padahal sedikit lagi aku akan terjatuh.


Aku terdiam, perlahan membuka mataku “Tolong jangan ganggu saya” aku tak menoleh, sama sekali tak penasaran siapa orang yang menggagalkan rencana ku ini. Ku lirik tangannya yang melingkar memegangi ku dengan kuat, tangan yang begitu besar. Memberontak pun akan percuma, dia tampak sangat kuat terlihat dari urat punggung tangannya yang jelas.


“Aku hanya ingin bebas dari belenggu dunia!” lirihku. Ku harap dengan begitu dia akan melepaskan ku.


Pria itu menarik ku, menjauh dari bibir gedung “Mati dengan cara menyusahkan orang?! Jangan mengotori gedung ku dengan skandal kematian wanita yang bunuh diri!! Anda akan mematikan usaha saya!!” tekannya yang terdengar serius, dia melepaskan pegangannya.


Aku tak mampu berkata-kata, dahi ku mengkerut “dia bukan orang sembarangan, dia pemilik tempat ini. Apa aku akan di tuntut karena mencoba bunuh diri di sini?” pikiran ku kian kacau. Bukannya berhasil bunuh diri, malah bertemu dengan masalah baru. Sungguh sial.


Aku berbalik, senyum merekah indah di bibirku. Tanganku menyelipkan rambut di belakang daun telinga “Ah, anda salah kira. Tadi saya tak sengaja terpeleset dan hampir terjatuh. Terimakasih karena telah membantu ku” Suaraku terdengar sedikit lembut, berpura-pura ini kejadian tak sengaja, dan berharap dia akan melepas ku.


Aku mendongak menatap pria itu, dia sangat tinggi. Lebih-lebih terkejut melihat parasnya, tatapannya begitu tajam ke arahku, rambutnya terikat di belakang, dia sangat seram. Bukankah dalam cerita-cerita novel pria yang muncul tiba-tiba biasanya berwajah tampan, kulit sebening kristal bak porselin membuat hati akan terpana. Tapi pria di hadapanku berkulit eksotis, wajahnya terdapat luka sayatan di bagian kanan. Sebenarnya dia tampan ku rasa? Hanya saja perangainya agak menakutkan, badannya sangat kekar dia seperti gangster kejam memuat ku bergidik. Ku pukul pelan dahiku, bagaimana mungkin aku malah sibuk dengan pikiran aneh, di saat seperti ini.


“Anda tak pandai berbohong nona. Pergilah dari sini, jika ingin mati jangan disini. Buat lubang dan langsung kebumikan dirimu” ketusnya, dia berbalik berjalan pelan meninggalkanku.


Ku tatap punggungnya yang lebar, ingin rasanya aku memukulnya kuat. Bahkan karenanya, aku tak selera lagi tuk bunuh diri. Aku kembali ke apartemen ku, bergegas mengemasi barang-barang ku. Rasanya kesal tinggal lama di apartemen milik orang yang menggagalkan rencana ku.


“Dia pikir siapa menghancurkan rencana yang susah-susah aku niatkan?!”


“Sedikit lagi berhasil, tapi malah dia gagalkan!!”


“Dia pikir mudah mengumpulkan keberanian ini!!”


Viloid Arsi Taran nama yang ku dengar di berikan oleh mendiang Ibuku. Saat ini usiaku baru menginjak 23 tahun. Sesuai dengan nama belakangku, aku putri bungsu keluarga Taran. Keluarga yang memiliki kekayaan melimpah ruah. Ayahku Ezanando Taran seorang CEO perusahaan. Kakak pertamaku Azka Likail Taran (28 tahun), dia seorang pengacara sekaligus calon penerus perusahaan keluarga dan Naka Kay Taran (26 tahun) kakak kedua, dia sibuk di entertainment sebagai aktor sekaligus musisi. Latar belakang keluargaku sangat membebani. Sebenarnya apapun yang ku lakukan tak ada yang peduli, siapa aku bagi keluargaku? Ku rasa bukan siapa-siapa, keberadaan ku tak pernah ada bagi mereka.


Orang-orang berpikir menjadi putri bungsu Taran sangat beruntung, itu tak berlaku untukku. Ibuku meninggal pasca melahirkan ku, membuat seluruh keluarga membenciku. Tak pernah sekalipun aku mendapat perhatian, cinta, dan kasih sayang mereka. Bahkan sebagai putri satu-satunya aku sangat iri melihat kedekatan Ayah dan kakak-kakakku. Aku begitu berjarak dengan mereka, menatap mereka saja aku tak berani. Tatapan kebencian yang di tunjukan padaku benar-benar menakutkan. Sampai aku memilih tinggal di apartemen dari SMA sampai sekarang, memang biayanya di tunjang diriku sendiri untuk sehari-hari, Ayah hanya membiayai study ku itu pun karena aku sedikit memaksanya mengeluarkan uang untukku. Bahkan di hari kelulusanku tak ada satupun yang datang sekedar berucap selamat pun tidak, aku satu-satunya yang tak memiliki foto bersama setelah wisuda.


Kisah menjalin kasih, tak ada bedanya. Sama-sama tak beruntung bahkan kisah pertemanan tak luput. Tunanganku Edword pria yang ku harapkan bisa menjadi tempat berkeluh kesah nyatanya sibuk menjalin kasih dengan beberapa teman dekat wanitaku, pria bajingan dan teman-teman yang mengesalkan. Aku sangat membenci mereka.


Dahiku mengkerut, jemari menyeka wajah. Aku kesal hanya karena hal itu aku sempat memilih bunuh diri, owh itu sangat menjengkelkan. Mereka akan senang jika aku mati, tidak akan ada yang menangisi diriku. Harusnya aku banyak-banyak berterimakasih dengan pria itu, karenya aku tak jadi mati konyol.


Mataku membelalak, mulut menganga menyadari aku benar-benar melakukan kebodohan besar. Sebelumnya, Aku bekerja sebagai asisten Manager di sebuah perusahaan yang cukup ternama. Masalahnya beberapa hari lalu aku resign. Tentunya ku pikir semua rencana bunuh diri berjalan dengan baik, semuanya menjadi kacau sekarang. Aku masih hidup, perjalanan masih panjang dan aku tak memiliki pekerjaan lagi. Masalah terbesarnya semua tabunganku sudah habis. Sebagian sudah ku sumbangkan dan sebagian ku habiskan untuk berfoya-foya. Argh!! Rasanya aku ingin berteriak kencang dan menangis sejadi-jadinya.


Beberapa kali wajah ku benturkan di bantal, menyesali perbuatan yang tak pikir panjang. Sekarang bagaimana? Aku bingung, sepeserpun aku tak memegang uang.


Setelah pikir panjang, aku berakhir memutuskan kembali ke rumah. Entahlah, bisakah itu di sebut dengan rumah, semuanya berisi kenangan buruk yang menyesakan. Aku berdiri tepat di depan rumah bak istana, saat melihat ku satpam di luar begitu terkejut. Tentu saja dia kaget sudah bertahun-tahun aku tak pernah kembali ke rumah menyesakan ini dan lagi wajahku mungkin sedikit berbeda saat aku meninggalkan rumah dulu, sekarang wajahku tampak lebih dewasa dan tentu saja cantik.


Aku menatap pintu besar di depanku, sebelum sampai di sini aku cukup berani. Namun setelahnya keberanian itu menciut entah hilang kemana? aku cemas. Bagaimana tanggapan mereka nanti apa mungkin akan langsung diusir?.


Ckit!!


Suara mobil terhenti tepat di belakangku, aku menelan ludah. Berpikir keras siapa yang datang? Aku terdiam mematung.


Suara decitan sepatu mulai menaiki lantai tanga kaki lima, jantungku kian berdetak hebat. Jemari saling bermain menandakan kekhawatiran yang kian tak terbendung. Bertahun-tahun tak pernah menginjakan kaki ke rumah ini dan sekarang aku kembali setelah sekian lama, rasanya aku orang asing yang tak harusnya berada di sini.


“Siapa?”


Suara yang tegas menggelegar memecah kesunyian, namun berhasil membuatku tak tergerak tuk berucap sepatah kata. Jemariku mengepal keras, aku tertunduk dengan air mata memenuhi pelupuk mata. Sudah lama aku tak mendengar suara ini, mungkin aku sedikit merindukannya.


“Kau tak mendengarnya?!” nadanya mulai meninggi terdengar membentak.