
Aku tersadar mentari telah menyapaku, rupanya sudah pagi dan aku tertidur di lantai dekat dengan pintu kamar. Tubuhku terasa sakit tertidur di lantai tanpa beralas apapun.
"Owh tidak" Buru-buru aku keluar dari kamar melihat ke kolam renang sudah kosong dan bersih. Tak ada botol minuman dan makana yang bercecer, menandakan semuanya telah pergi. Aku mengigit jemariku, bagaimana jika saat aku tertidur Teon memberi tahu kakakku. Aku berlari menuruni anak tangga, mencari keberadaan kakak kedua di setiap sudut rumah dan aku tak menemukannya.
“Eh, nona?”
Aku menoleh cepat mendapati Bibi Ani, dia ART di sini sudah lama. Usianya sekarang mungkin 57 tahun ku rasa. Sekarang Bibi menatapku rasanya bibi sedikit tidak percaya.
“Sungguh ini nona?” Tangan Bibi menjulur, menyentuh pipiku lembut. Matanya penuh kerinduan, setelahnya dia menutup mulutnya, sungguh tak percaya dengan aku yang berada di hadapannya.
Senyum indah terukir dibibir bibi “Nona kembali?" Bibi memelukku erat, serasa menumpahkan segala kerinduannya selama ini.
Bibi Ani, bisa di katakan Ibu keduaku. Bibi merawatku sedari kecil, penuh kelembutan dan kasih sayang. Bagaimana bisa aku melupakan bahwa masih ada seseorang yang menantikan kepulanganku.
Aku membalas pelukan Bibi "Maaf, bibi pasti khawatir"
Bibi memelukku kian erat, membuat ku sulit bernapas. Rasanya bibi agak kesal, dia melepaskan pelukannya "Kenapa nona baru pulang sekarang huh? bagaimana selama berada di luar baik-baik saja? apa ada kesulitan atau pengganggu? Owh, wajah nona kian cantik, sudah ku duga nona ku akan tumbuh menawan"
Bibi terus mencecar ku, ya Bibi memang seperti ini. Bibi suka mengomel, memarahiku jika bersikap nakal. Bibi Tsunder yang lucu. Aku terkekeh, rasanya senang di perhatikan seperti ini.
"Siapa berani menggangguku Bibi, aku nona cantik dan tangguh ini!!" ucapku lantang.
Bibi tersenyum puas "Benar, itu baru nona ku baby kecil yang tangguh!!"
Setelah pertemuan mengharukan itu, Bibi mempersiapkan sarapan untukku. Bibi juga menceritakan banyak hal padaku, menceritakan hal-hal yang terjadi selama aku tak di rumah. Suasana rumah yang kian dingin dan sepi semenjak aku pergi, rumah ini bagai tak berpenghuni saking tak ada interaksi yang terjadi. Mungkin saja benar, Ayah dan Kakak-kakakku sibuk bekerja dan jarang kembali ke rumah. Ayah dan Kakak pertama pria yang kaku, hanya Kakak kedua satu-satunya yang aktif dan berisik.
Penasaran dengan pria bernama Teon aku menanyakannya pada Bibi. Bibi menjelaskan bahwa pria itu baru saja pindah di rumah sebelah. Teon Daylon namanya, berusia sama dengan kakak kedua. Seorang pengusaha di bidang Pariwisata, properti, restoran, dan kedai kopi. Bibi mengetahuinya karena Teon teman dari kakak keduaku. Bibi juga mengatakan bahwa pertama berjumpa dengan Teon dia agak terkejut melihat perangainya yang sangar tak seperti kebanyakan anak muda lainya.
Aku termenung, terdiam di kamar bergelut dengan pikiranku. Teon benar-benar bukan orang sembarang, sialnya aku berurusan dengannya “duh, jika dia meminta uang dalam jumlah besar untuk tutup mulut bagaimana?”
Ceklek!!
Pintu kamar terbuka, kali ini lebih pelan tak seberisik sebelumnya “Apa lagi sekarang!!” ketus ku menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Mataku membulat, awalnya ku pikir itu Kakak kedua yang ingin mengganggu lagi. Namun, pria yang berdiri di pintu dengan setelan jas lengkap. Kakak pertamaku Azka, kami saling menatap dan rasanya sangat canggung. Wajah Kakak datar, dia membenahi posisi dasinya yang sedikit miring. Setelahnya dia menutup pintu kembali tanpa melontarkan sepatah kata padaku. Ku dengar Kak Azka tengah sibuk di luar negeri mengurusi proyeknya, mungkin urusan itu telah usai, dan tampaknya dia terkejut mendapati diriku yang kembali pulang.
Ayah dan Kakak pertama memiliki kepribadian yang tak jauh berbeda. Tapi Ku pikir Ayah lebih baik, Kakak pertama terlalu dingin, tak banyak bicara.
Kenapa? kenapa dengan wajah kakak-kakak ku yang kian tampan bak pangeran dongeng. Aku memukul bantal kesal, mereka kakak yang tak mempedulikan ku. Bisakah wajahnya biasa saja, aku jadi tak bisa membenci mereka.
Ayolah, bertingkah waras. Aku kembali tenang, Jadi apa yang akan ku lakukan sekarang? aku mulai memikirkan rencana. Ku pikir tak perlu melakukan apapun. Aku akan menikmati kekayaan keluargaku sepenuhnya. Itu yang harus kulakukan sekarang, jadi aku harus menjumpai Ayah dan meminta bagianku.
Gila! berpikir menemui Ayah dan langsung mengutarakan keinginan mendapat bagian, sama saja menghantarkan nyawa. Aku bisa membayangkan tamparan keras akan Ayah layangkan di pipiku ini, hii membayangkannya membuatku bergidik ngilu.
“Nona, ada yang meminta berjumpa ”
“Siapa bi?”
Bibi tampak sedikit bingung, dia tampak ragu-ragu antara mengatakannya padaku atau tidak “Mm, nona dia tak mengatakan siapa namanya dan hanya meminta bertemu dengan Nona. Tapi Bibi ingat dia mirip dengan tuan muda Edword” tutur Bibi.
"Bibi katakan aku sibuk. Owh iya aku dan dia sudah putus"
Bibi mendekatiku, rasanya dia tak percaya "Sungguh nona?"
Aku mengangguk cepat, raut wajahku menjadi buruk.
Bibi dengan cepat mengerti "Dia pasti melukai hati nona, dia kurang ajar!!" gerutu Bibi.Bibi bergegas keluar menemui Edword, rasanya Bibi siap memarahinya. Tapi tak mungkin Bibi melakukan itu pada Edword, mungkin Bibi akan memintanya pergi secara halus.
Bajingan itu kenapa dia berani kemari, membuat mood menjadi buruk mengesalkan.
"Viloid keluar, aku sampai membuang waktu berhargaku untuk kemari!!" pekiknya keras, sampai terdengar ke kamarku.
Ku pikir dia beradu argumen dengan Bibi dan menaiki anak tangga meneriaki namaku. Dia tak terima karena aku menolak menemuinya.
Jemariku mengepal keras, beranjak dari kasur dengan emosi. Aku menuruni anak tangga, dari kejauhan dia terlihat menikmati hidangan. Lihat kakinya itu terlipat dengan baik bak tamu spesial. Pria dengan rambut ikal, wajah mengesalkan yang tampak biasa, bagaimana mungkin dulu aku begitu tertarik dengannya.
“Owh, turun juga kau. Rupanya benar kau kembali pulang ke rumah Ayah mu, kemarin aku mengunjungi apartemen mu tapi di dalamnya terisi orang yang berbeda” ucapnya sembari melirikku. Tatapannya tampak muak serasa dia kemari karena terpaksa.
Aku menatapnya datar, sudut bibir kananku terangkat “Lalu?”
Edword menyibak rambutnya, dia tampak kesal “Yeah, sejujurnya aku tak peduli kau kemana. Hanya saja Ayahku memintaku untuk memperlakukanmu dengan Baik. Ah, apakah Ayahmu sudah mengatakan bahwa aku akan menikahi mu, ku yakin kau senang sekarang” ucapnya percaya diri, kakinya di luruskan naik di atas meja. Benar-benar pria yang tak sopan.
Rasanya aku ingin tertawa kencang mendengar ucapannya yang sangat menggelitik itu.
“Siapa yang mau menikahi pria bajingan sepertimu. Pengajuan mu aku tolak!!” tegas ku.
Edword bangun dari duduknya, dahinya mengkerut mendengar ucapanku “Kau yang menolak. Tapi Ayahmu tak mungkin menolaknya. Pernikahan antara kedua keluarga sudah di rencanakan dari dulu, tentunya akan menguntungkan. Lagian untuk apa Ayahmu mendengarkan mu. Anak yang bahkan tak pernah di beri kasih sayang sampai memilih tinggal sendirian!! Sangat kasihan!!”
Aku mengigit bibir kuat, ucapannya benar-benar menyakitiku “Kau yakin? Ayahku sendiri yang meminta pendapatku dan Ayahku menyetujuinya. Pergi dari sini sekarang!!” teriakku lantang, rasanya amarahku kian tersulit tat kala terus menatap wajahnya itu.
“Huh? siapa yang akan percaya! Dari dulu aku sangat tahu hubunganmu dengan keluargamu sangat buruk. Jangan mengarang cerita, nantinya ketika kau menjadi istriku hidupmu kian menderita” bisiknya di telingaku, dia menyeringai puas.
“Dih, mimpi. Jangan harap angan-angan hina mu akan terjadi padaku!!” Tanganku mengepal ingin rasanya menampar wajahnya itu, ku hela napas mari bersabar.
Dia pria yang menjijikan. Harusnya aku menyadarinya dari dulu sebelum melabuhkan hati pada pria sepertinya. Dia pria yang suka bermain dengan banyak wanita. Duh, bagaimana mungkin aku baru sadar setelah banyaknya penghianatan yang telah dia lakukan. Aku membuang sia-sia waktu berhargaku hanya untuk mencintai pria sepertinya. Pria macam Edword tak akan pernah berubah, dia akan terus bersikap semena-mena pada wanita, karena dia menganggap wanita hanya barang mainannya. Menikah dengan nya sama saja menyerahkan diri pada bedebah sialan.
“Ada apa ini?”
Aku menoleh cepat Kak Azka menatap tajam ke arah kami, kedua tangannya terlipat di dada. Jasnya sudah terganti dengan kaos oblong yang lebih nyaman.