
Aku memutuskan jalan-jalan santai di halaman rumah, kepalaku rasanya berdenyut banyak hal tak terduga terjadi. Ku pikir dengan bersantai sejenak membuatku lebih baik, rupanya tidak sama sekali. Tampak kak Naka baru saja pulang, dia datang bersama temannya Teon. Aku sampai melupakan hal yang penting menemui kak Naka untuk memastikan bahwa Teon tak mengatakan apapun mengenaiku, hal-hal tak terduga yang terjadi membuatku mengesampingkan masalahku. Cepat-cepat aku menyembunyikan diri di balik pohon yang cukup besar, Ku tundukan kepalaku sedikit agar tak nampak, keberadaanku cukup dekat dengan mereka. Oh, kenapa aku malah bersembunyi.
"Katakan padaku di mana kau mengenal adikku?"
"Oh, ayolah akan ku izinkan kau menemui adikku, tapi katakan padaku apa yang dia bisikan semalam padamu?"
"Hubungan kalian tak spesial bukan? dengar Aku bisa mematahkan kakimu jika kau berani mendekati adikku!!"
Aku tertarik dengan pembicaraan mereka yang jelas tengah membicarakan ku, tampaknya Teon belum menceritakan apapun pada kakak terbukti dari banyaknya pertanyaan yang di lontarkan Kakak tak membuat Teon membuka mulutnya, dia tetap menutup mulut tanpa menggubris semua ocehan itu. Ku pikir agak aneh, bagaimana bisa mereka berteman tanpa adanya komunikasi yang baik antar keduanya?.
Kenapa aku harus peduli mengenai bagaimana persahabatan mereka dengan komunikasi yang tak jelas itu yang terpenting aku bisa bernapas lega, Teon pria yang memegang janjinya. Mereka berdua berjalan kian dekat, ku benahi posisiku, wajah ku sembunyikan di dedaunan pohon, jika begini aku yakin mereka tak akan menyadari keberadaan ku.
"Kau sedang apa?"
"Aa!!" pekikku tersentak kaget. Ku tutup mulut cepat, duh bagaimana ini pekikan ku terdengar cukup keras. Ku tatap ke arah kak Naka dan Teon tampaknya mereka tak mendengar pekikan ku, huh!! aku menghela lega.
Aku menoleh kebelakang, Kak Azka tengah menatapku heran. Bagaimana kakak bisa ada di sini? dia bisa mengacaukan persembunyianku nantinya. Ku tarik lengan kakak ikut menyembunyikan dirinya, tatapannya tersirat pertanyaan-pertanyaan yang rasanya ingin dia lontarkan.
"Stt" pintaku pada Kakak agar tak bersuara, ku harap dia mau bekerja sama denganku.
Dahinya mengernyit, namun dia tetap menuruti ikut bersembunyi. Pandangan kakak lurus menatap Teon dan Kak Naka yang mendekat ke arah kami. Setelahnya dia memberikanku tatapan menusuk. Aku menelan ludah, Ah benar aku lupa melepaskan pegangan lengan kakak. Buru-buru aku melepas peganganku, aku juga mengusap lengan kakak agar tak ada kotoran menempel, tak lupa aku tersenyum walau agak canggung, jantungku berdetak tak karuan. Apakah akhirku hanya sampai disini?. Sudah kuduga perlakuan baiknya tadi bukan karena mempedulikan ku, lihat sekarang ekspresi wajahnya yang dingin ini.
Kakak menggertakkan giginya, tampaknya dia kian kesal "kau sembunyi untuk melihat pria itu?" tunjuknya ke arah Teon.
Heh? apa maksudnya. Aku mencerna ucapan kakak, seketika aku membelalak "bukan" Aku menggeleng cepat, berusaha menjelaskan bahwa yang kakak pikirkan itu salah. Jangan bilang kakak mengira aku bersembunyi di sini karena tertarik dengan Teon dan berniat mengintipnya. Ya, posisiku ini pasti di salah artikan bagi siapapun yang melihat, tapi itu tak benar. Aku hanya tertarik dengan percakapan mereka, lagian aku tak tertarik dengan pria bernama Teon. Aku hanya khawatir mengenai rahasiaku, itu saja.
Kedua tangannya terlipat menatapku dingin, rasanya dia tak mempercayai ku. Bagaimana ini, aku sangat tertekan berduaan dengan kak Azka. Ku pikir lebih baik berduaan dengan Kak Naka yang suka mengoceh tak jelas di bandingkan dengan kakakku yang ini. Aku menjerit dalam benak.
Mereka berdua melewati kami, masuk ke dalam rumah. Aku mengelus dada, rasanya lega mereka tak menemukan kami yang bersembunyi.
Aku tertegun, sekarang bagaimana tinggal aku berdua dengan kak Azka. Haruskah aku kabur meninggalkannya atau tetap disini sampai kakak pergi lebih dulu?. Argh!! memikirkannya membuat kepalaku kian berdenyut.
Kakak melirikku, setelahnya meninggalkanku lebih dulu. Ya ini yang aku tunggu, akhirnya aku tak perlu merasa tertekan dengan perasaan canggung yang luar biasa.
Langkahku terhenti tat kala melihat Teon berdiri gagah di ujung tangga. Tatapannya lurus ke arahku, rasanya dia tengah menungguku lama di sana. Ku genggam erat pegangan tangga. Situasi apa ini?.
Teon menuruni anak tangga mendekatiku. Mulutku kalut seketika tak mampu berucap sepatah kata.
"Kapan pembicaraan perihal semalam?" tukasnya.
Teon mengatakannya tanpa basa-basi dan langsung ke inti hal yang ingin dia tanyakan. Itu bagus tak bertele, ku pikir membicarakannya lebih cepat juga lebih baik, setelah membicarakannya aku tak akan memiliki urusan dengan pria ini.
"Kita bicarakan besok, bagaimana?" usulku.
Teon tampak berpikir, setelahnya merogoh kantongnya "berikan kontakmu" dia mengulurkan ponselnya meminta nomor ponselku.
"nomor ponsel? ku pikir itu tak perlu" aku tak ingin Teon memiliki kontak ku, aku merasa lebih baik begitu.
Tatapan Teon menjadi tajam "Akan sulit menemui mu, kedua kakakmu tak memberi izin. Mereka mengomeli ku tanpa alasan tadi, mereka aneh"
Aku mengernyap, setelah aksi pengagalan bunuh diri baru kali ini aku mendengar dia berbicara panjang. Suaranya terdengar bagus "Ekhm" aku menyadarkan diri.
"Apa kamu kemari karena ingin membicarakan hal itu?" tanyaku penasaran.
Teon mengangguk.
Kenapa kedua kakak melarang Teon menemui ku, apa alasannya apa pria ini berbahaya?. Aku menggeleng cepat, itu tidak mungkin jika dia berbahaya tidak mungkin dia berkeliaran di kediaman Taran sekarang. Aku meraih ponsel Teon, memasukan nomorku cepat.
"Kan ku hubungi" Teon memasukan kembali ponselnya ke kantong celana, dia melewati ku menuruni anak tangga.
"Apa kamu pulang?" ku tutup mulutku cepat kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja.
"Ah, jangan pedulikan ucapanku tadi. Pergilah" ucapku agak panik.
Teon melanjutkan langkahnya, benar-benar tak menjawab pertanyaanku. Setidaknya berikan jawaban sekalipun aku memintanya tak menjawab, dasar mengesalkan. Dia pikir aku tak malu, aku benar-benar malu selalu ketika aku berada di kondisi aneh dia melihatnya. Kenapa aku selalu berurusan dengan pria-pria aneh. Baik Ayah, kedua kakak, dan juga Teon rasanya agak kesal.