The Girl Who Lost Happiness

The Girl Who Lost Happiness
08. battle (3/3)



chapter 8


sebelumnya


"hentikan pertandingan ini, ini sudah bukan lagi tes!" kata Seiji yang berusaha ingin melindungi Hitako.


"ini memang bukan tes dari awal kok. ini adalah jebakan untuk kalian." kata Sira.


"apa? ini bukan tes?" kata Hitako dengan nada terkejut.


"kau tak percaya, lihat di sekelilingmu." kata Sira.


ada banyak orang dengan macam-macam kekuatan unik datang dan memenuhi satu stadion dengan banyaknya musuh tentu saja membuat Hitako dan Seiji terdesak


lalu seketika lawan yang ada di belakang mereka langsung menyerang tanpa disuruh oleh Sira sementara Sira mencari waktu yang pas untuk menyerang Hitako dan Seiji.


lawan yang mau menyerang mereka jumlahnya sekitar lima jadi ibaratkan satu banding lima. kalau dari jumlah, jelas lawannya yang menang tetapi mereka belum tahu akan kekuatan dua orang ini.


Hitako dan Seiji langsung menyerang mereka berlima secara bersamaan. lawan tersebut rata-rata menggunakan jubah hitam sehingga mereka tidak mengetahui wajah asli lawannya.


"a-apa?!" Hitako menggunakan tali sihirnya untuk menyerang tiga lawan yang ada di depannya.


"kenapa tiba-tiba ada tiga di depanku?" alhasil Hitako kerepotan melawan mereka bertiga.


sementara Seiji yang sedang melawan dua lawan lainnya pun juga mengalami hal yang sama seperti Hitako karena lawan yang dihadapinya juga kuat.


lawannya melancarkan serangan es dadakan ke Hitako sehingga itu yang membuat dia mendorong Hitako ke lantai dan serangan dari lawan tersebut meleset.


"awas!" kata Seiji yang tiba-tiba mendorong Hitako ke lantai dan Hitako menjadi kaget dengan apa yang dilakukan oleh Seiji.


"a-ada apa ini?" kata Hitako yang jatuh ke lantai.


lawan mereka yang mengetahui bahwa serangannya meleset langsung menyerang kembali dengan sihir api.


"hanguslah orang yang tak tahu tempat kau berdiri, wahai api agung!" kata salah satu dari lawan yang merupakan penyihir.


Hitako yang melihat itu langsung cepat ambil tindakan untuk melindungi dirinya dan Seiji. "tak akan ku biarkan kau melakukannya, keluarlah wahai api pikiran!"


api pikiran tersebut menjawab perintah tuannya dengan melindungi mereka berdua dari serangan musuh. kedua kekuatan yang sama-sama menggunakan api tersebut bertabrakan dan menghasilkan ledakan yang cukup kuat untuk menghancurkan mereka berdua.


namun, sebelum itu Seiji berhasil kabur bersama Hitako di daerah selatan kursi stadion. "fiuuuh, untung saja. ada-ada saja kau sampai mau bikin kita mau mati!" kata Seiji kepada Hitako yang seolah-olah menyalahkan Hitako karena serangannya yang bisa menyebabkan ledakan." kata Seiji.


"kenapa kau bisa tahu kalau itu akan meledak?' tanya Hitako. Seiji pun menjawab "aku tadi merasakan ada sesuatu yang besar akan terjadi kalau aku tidak pergi dari situ dan benar saja itu meledak."


"oh, begitu....." kata Hitako dan suasana hening dari antara mereka berdua yang sedang bertatap empat mata tanpa merasa terganggu oleh yang lain bagaikan dunia ini adalah milik mereka berdua tetapi ada saja yang ingin mengganggu mereka berdua.


ada serangan pedang yang sedang mau melesat maju ke Hitako dan Seiji tetapi gagal karena Seiji lagi-lagi menggunakan sihir pelindung.


"jangan ganggu waktuku!" seketika Seiji langsung membalas serangan tadi dengan tali sihirnya. lawan yang dihadapi oleh Seiji terus-menerus menyerang tanpa henti hingga pada saat Seiji masih sibuk menyerang dia,


ia tidak sadar bahwa ia sedang ditargetkan oleh beberapa orang yang menggunakan sihir. "musnahkan orang-orang yang tak tahu akan dunia dana ini. hancurkan, Gea Galasya." sihir yang dihasilkan dari mantra tersebut dilancarkan kepada Seiji. Seiji berusaha menahan serangan tersebut.


"lawanmu adalah aku!" kata Hitako dan ia menyerang lawan yang dihadapinya. sementara di sisi lain, Seiji masih bisa menahan serangan yang berasal dari mereka.


(Gea Galasya, sihir berkekuatan tinggi yang hanya orang dengan mana yang banyak bisa melakukannya bahkan aku saja tidak bisa melakukannya. sekarang, apa aku harus mengeluarkan "itu") kata Seiji dalam hati.


(aku tidak tahu kapan aku harus mengeluarkan "itu" karena kalau tidak, aku tak bisa menahan ini lebih dari ini.) kata Seiji dalam hati.


dan benar saja yang dibilang oleh Seiji, ia tak bisa menahan serangan Gea Galasya lebih dari ini sehingga ia hampir mau tumbang.


(ck, apa aku hanya bisa sampai sini saja. andaikan saja sedikit saja ada harapan selain mengeluarkan itu. aku tidak mau dia keluar lagi.) kata Seiji dalam hati sembari ia berusaha menahan serangan dari lawan.


Seiji sudah sampai ambang batasnya dan tangannya sudah tidak bisa menahan serangan dari lawan lagi tetapi sebelum ia tumbang, Hitako berlari ke arahnya dan menopang badannya agar bisa kembali berdiri lagi.


"jangan menyerah! kita masih bisa menang. ke mana dirimu yang biasanya bisa mengatasi semua hal? ayo jawab aku! urghhh berattt" kata Hitako sambil menopang badan Seiji walaupun ia kesusahan menopangnya.


Seiji yang mau hampir pingsan tiba-tiba kesadarannya menjadi pulih tetapi Hitako harus membantu Seiji menahan serangan Gea Galasya tersebut. Hitako membantu Seiji dengan menggunakan api pikirannya untuk menahan serangannya.


tetapi itu hanya untuk sebagian kecil dari mana Seiji yang terisi dengan mana milik Hitako berupa api pikiran sehingga Seiji terpaksa mengambil pilihan yang beresiko baginya yaitu menjadi dirinya yang lain.


"Hitako" Seiji memanggil Hitako yang sedang mengisi mana untuknya.


"iya, ada apa?" jawab Hitako


"biarkan aku menjadi diriku yang lain...." kata Seiji.


"a-apa? apa maksudmu? aku tak mengerti." kata Hitako kepada Seiji.


"hanya itu saja yang bisa ku lakukan untukmu. mungkin aku akan menjadi orang yang berbeda bagimu." kata Seiji.


"tidak,tidak,tidak...... jangan lakukan itu. ku mohon jan-- hiks ...ngan." seketika Hitako menangis karena orang yang biasanya selalu bersamanya harus mengambil keputusan seperti itu dan air mata Hitako membasahi wajah Seiji.


Seiji menyentuh pipi Hitako dan menghapus air matanya dengan tangannya. "jangan menangis seperti itu, kau adalah wanita yang kuat. aku tahu mungkin kau akan kebingungan nantinya tapi anggaplah ini sebagai latihan pertamamu untuk mengalahkanku." kata Seiji sambil menghapus air mata Hitako.


Hitako memegang tangan Seiji yang sedang menghapus air matanya. "beritahu aku, bagaimana aku harus mengalahkan dirimu yang lain?" kata Hitako dan serangan Gea Galasya terus maju ke mereka.


Seiji yang melihat itu langsung menggunakan skill menghilangnya. ia membawa Hitako ke lapangan lalu ia berdiri dan mengucapkan sebuah mantra sihir.


"aku adalah raja. raja yang tak tertandingi dari siapapun. aku adalah hukum yang harus kau taati. aku tak akan segan-segan menghukummu atas kesalahanmu. orang yang ada di hadapanku ini adalah orang yang tak tahu akan aku. muncullah, the black castle!" mantra sihir tersebut mengalir di tubuhnya dan seketika stadion berubah menjadi kastil yang menyeramkan.


kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya.......


bersambung


hai, ini aku rei. makasih sudah baca chapter kali ini yang mungkin agak panjang ini. bagi yang suka, tunjukkin apresiasi kalian lewat like dan votenya. kalau mau komen silahkan saja. rencananya sih aku mau buat grup buat kalian mau promosi novel kalian di novel ini tapi aku belum bisa :(


karena aku sangat sibuk banget.... jadi novel ini up nya tidak beraturan. novelku yang lain juga sama dan chat storyku juga ngalamin hal yang sama.


makasih sudah baca......


tunggu di chapter selanjutnya. bye bye