The Girl Who Lost Happiness

The Girl Who Lost Happiness
04. bersama



sebelumnya


"ini hutan ilusi ya? pasti ulah si urutan keempat tukang iseng itu.... dia datang tanpa diundang..."


"wah...wah...di situ rupanya urutan ketiga."


"kau lagi? sudah berapa kali kau main iseng denganku?"


"berapa ya? gak ingat !"


"seperti biasa, kau selalu membuatku kerepotan, Sira."


"maukah kau bermain bersamaku malam ini, kakak."


"kalau itu maumu, aku juga main sama kamu."


"ayo main kak......."


Seiji dan Sira rupanya saling kenal dan mereka saling bertarung di tempat lain dalam hutan ilusi. pertarungan antara kakak dan adik berlangsung cukup lama dan di tengah-tengah pertarungan, Sira mendapat luka yang cukup parah yang disebabkan karena serangan mendadak dari Seiji.


"rasakan ini! tebasan tak terlihat."


"ah, gawat. akhhh."


Sira terkena luka di perutnya dan ia terjatuh sambil menahan luka di perutnya.


"ah.....gak asik kalau kakak bunuh aku terlalu cepat. jangan ragu serang aku, biar aku bisa rasakan sakitnya sama seperti kita dulu."


tiba-tiba Seiji mengalami sakit kepala karena perkataan dari adiknya yang membuatnya teringat akan kenangan buruknya dulu sebelum ia mati.


kenangan 5 tahun yang lalu


di sebuah rumah, tempat tinggalnya Seiji dan Sira. ayah dan ibunya sering KDRT, ayah mereka meninggal dunia sejak mereka masih bayi karena TBC yang dideritanya dan itulah yang membuat ibunya mulai stress. ibu Seiji dan Sira terlilit hutang sana sini sejak ayah mereka meninggal dan karena sudah tidak tahan di tagih hutang sama orang-orang akhirnya ibunya bunuh diri dengan menggantung diri di kamarnya dan kejadian bunuh diri itu dilihat oleh Seiji dan Sira.


namun setelah kejadian itu, ada tetangga yang melaporkan kejadian itu ke polisi dan mereka dibawa ke panti asuhan. mereka tinggal di panti asuhan selama 5 tahun lalu mereka diadopsi oleh keluarga yang kaya raya namun mereka diperlakukan secara kasar dan mereka terus diperlakukan seperti itu selama 10 tahun hingga akhirnya mereka memutuskan melarikan dari rumah keluarga tirinya dan bunuh diri.


Seiji yang mengingat tentang kenangan yang buruk karena tidak ada kasih sayang yang diberikan oleh keluarga kandungnya maupun keluarga tirinya terutama ia sebagai putra sulung dan ia menanggung deritanya bersama adiknya dan itu membuat perilaku menjadi aneh karena ia trauma akan kenangannya sehingga menyerang Sira yang terjatuh dan hampir sekarat dengan menendangnya ke pohon.


"AKHHHHH!"


"ka.....kak!"


ia menginjak muka Sira secara brutal dan melampiaskan amarahnya....


"KAU TIDAK TAHU SAKITNYA AKU PADA SAAT AKU DIPERLAKUKAN KASAR SEPERTI ITU..."


Sira berusaha menghentikan Seiji dengan menahan kakinya sebisa mungkin walaupun ia sekarat.


"ak...u ta...hu ka...lo ka...kak ..sa...kit."


"HAH? KENAPA KAU MENAHAN KAKIKU. TAKUT?"


"ka...kak...henti...kan...ini....aku mohon."


Sira menutup matanya dan tangan yang menahan kaki Seiji pun jatuh ke tanah dan Seiji pun kembali menjadi biasa dan tak menyangka adiknya terkapar ke tanah kemudian ia langsung menyembuhkan adiknya karena ia punya kekuatan penyembuhan.


"SIRA! BERTAHANLAH AKU AKAN MENOLONGMU!"


di dalam alam bawah sadar Sira


Sira yang sedang berbaring di alam yang tak terlihat apapun alias alam putih. ia mendengar teriakan Seiji yang memanggilnya dan ia juga teringat akan kenangan mereka yang menyiksakan.


"SIRA! BERTAHANLAH AKU AKAN MENOLONGMU!"


"SIRA.....SIRA....SIRA.... BANGUNLAH."


flashback kenangan Sira


"Sira, bangunlah."


"kakak?"


"Sira, nanti kita terlambat datang ke sekolah. ayo cepat ganti bajumu."


"baiklah"


di sekolah


"oh, ya ampun kalian, apa kalian tiap hari olahraga keras sampai lukanya banyak banget!"


"ini guru? ah..gapapa kok. kami memang latihan olahraga tiap hari kok jadi gini."


"ah...iya. kami kuat kok guru."


"ikut ibu ke uks. ibu gak tega liat kalian ada luka di tubuh kalian."


(ibu guru terlalu berlebihan)


setiap hari di jam pagi sebelum masuk kelas. mereka selalu dibawa ke uks dan terkadang mereka curhat secara diam-diam dengan guru di uks.


"jadi, kalian tiap hari dipukuli sama ayah tiri kalian?"


"shhh, jangan keras-keras disini takut ada yang dengar kita."


"baiklah, kalau kalian tidak keberatan. ibu akan membawa kalian ke rumah ibu dan kalian tidak akan kembali ke rumah ayah tiri kalian lagi."


"jangan bu, nanti ibu juga kena akibatnya karena kami juga sudah di perlakukan seperti itu sejak kami diadopsi oleh mereka."


"ibu sudah muak dengan keluarga kalian makanya aku ingin bawa kalian ke rumah ibu. ku mohon terimalah tawaranku."


"iya, kakak benar. kami kuat."


ibu guru sekaligus wali kelas Seiji memeluk mereka berdua dan ia memberikan dukungan kepada mereka berdua.


"ibu doakan semoga kalian selalu dilindungi oleh Tuhan."


mereka berdua dipeluk oleh ibu guru yang selalu mendukung mereka ketika di sekolah.


kembali di alam bawah sadar Sira


"kakak ingat waktu kita di sekolah. kita selalu dibawa ke uks."


"kita selalu didukung oleh wali kelas kakak. selama ini belum ada yang peduli terhadap kita."


"Sira, aku ingat soal itu. ayo kembali."


"kembali? kemana?"


"kali ini aku bertemu dengan seseorang. dia orang yang baik. aku yakin kita pasti akan baik-baik saja dengan dia."


"aku mengikuti apa yang selalu kakak katakan kepadaku."


Sira sudah sadarkan diri dan ia sekarang berada di tempat Hitako. Hitako bangun dan melihat di sampingnya ada seorang gadis yang tidur bersamanya.


"selamat pagi dunia......"


"zzzzzz......"


"heh? ada orang yang tidur di sampingku?"


"zzzzz"


"hei, bangun."


Sira merentangkan tangan dan ditaruh ke badan Hitako dan ia berusaha bangun dan mulutnya penuh ludah jatuh ke Hitako.


"zzzz"


"ah? ada ludah jatuh dari mulutnya..... jijik. menjauhlah dariku! dasar jorok."


Hitako mendorong Sira dengan keras hingga ia tak menyentuh Hitako dan kepala Sira bersentuhan dengan tanah. tentunya itu membuat Sira merasa kesakitan di kepalanya.


"aduhh, sakit."


Sira bangun dan terkejut melihat Hitako dan ia memukul bahu Hitako karena Hitako yang membuat kepalanya menjadi sakit.


"hei, kalau dorong orang juga jangan keras kali. kepalaku jadi sakit dibuatnya."


"kamu sendiri yang meludah sembarang tempat."


"hah? kau pikir aku sejorok itu."


"iya"


"sini kau...."


mereka berdua terus bertengkar hingga Seiji datang untuk menenangkan mereka.


"ya ampun kalian, perempuan. selalu saja bertengkar yang tidak jelas."


"berisik"


"kak, dia siapa?"


"dia? dia temanku."


"teman? ohh jadi kamu yang dibilang kakak ya."


"eh? aku gak tau maksudmu."


"perkenalkan namaku Sira, aku adik dari kakakku Seiji. salam kenal. namamu?"


"aku Hitako, salam kenal juga."


"aku akan tunjukin rumahku. rumahku dekat sini."


"apa kau yang membuat hutan ilusi?"


"iya, memang kenapa."


"apa kau bisa keluarkan aku dari sini."


"itu mah gampang. nanti aku tunjukkin jalan keluarnya setelah kau nginap di rumahku satu hari."


"ah, gak mau. keluarkan aku dari sini."


"sayangnya aku gak bisa, ini bagian dari permintaan maafku. kalau kau menolaknya, kau tidak akan bisa keluar dari sini."


"huaaa, ya udah aku turutin deh."


"hore, ikut aku ya. kakak ikut dari belakang."


"sejak kapan Sira jadi cuek denganku."


"ayo aku tunjukkin rumahku~~"


bersambung