
chapter 2: misteri kesialan ke-1 : kesialan penyakit
sebelumnya
"harinya mulai gelap, kau tak mungkin pulang ke rumahmu kan?"
"iya, aku juga tak akan kembali ke sana."
"kalau begitu, ikut aku. aku akan membawa ke tempatku."
"ke mana?"
"gubuk"
"he?heeeeh"
hujan mulai turun dan Hitako tak punya pilihan selain mengikutinya
"ya sudahlah, aku ikut"
di gubuk
Hitako hanya bisa duduk manis di karpet dan di sana tak ada tv
"apa gak ada tv di sini?"
"tv? kau pikir pemilik gubuk ini sepertimu yang bisa beli apa saja? "
"ya, aku di rumah biasanya kalo hujan suka nonton tv sih."
"sebenarnya dulunya ini adalah tempat yang dimiliki oleh nenek tua, usianya sih katanya udah 100 tahun tetapi ia sudah muak hidup sendirian dan mati kemudian aku jadi penggantinya menjaga gubuk ini."
"hmm, nenek itu bisa hidup sampai 100 tahun ya, mantap juga sih tapi kenapa dia muak?"
"nenek itu muak karena ia hidup sendirian. tak ada yang tahu soal dia, dia hidup sebatang kara. keluarganya sudah tidak ada."
"oh gitu"
"ada sesuatu yang seperti kesialan datang lagi."
"apa mereka datang?"
"sepertinya iya, tapi kita tak bisa pergi karena hujan. kita tunggu sampai hujan berhenti."
aku menuruti kata Seiji untuk menunggu hujan berhenti
hujan telah berhenti
"Hitako, hujan sudah berhenti. ayo kita pergi."
"baiklah"
setelah beberapa menit kemudian, kami berada di dekat kompleks perumahan. kompleks tersebut sepertinya tidak dihuni oleh siapapun.
"ke mana larinya dia, aku tidak melihatnya di sekitar sini."
"tempat ini sepertinya tidak ada orang."
"Hitako, bisakah kau mencarinya menggunakan api pikiranmu. kalau dengan itu, kita bisa mencarinya."
"tapi bagaimana kalau ternyata dia bukan 7 misteri kesialan itu."
"kalau seperti itu demikian, daritadi kita tidak akan berada di sini."
"apa kau yakin dengan itu?"
"iya, percayalah denganku."
aku mulai fokus dan pandangan ku ke depan dan mulai memanggil sang api pikiran.
"wahai api pikiran, cari seseorang untukku. dia adalah salah satu dari 7 misteri kesialan."
"baiklah"
terlihat dari api pikiran tersebut ada seseorang yang menggunakan jubah hitam dan sepertinya ia menunggu seseorang.
"itu dia! aku menemukannya."
"di mana? "
"ada di dekat pohon besar dan tinggi itu, dia berada di bawah pohon itu."
"baiklah, aku akan mengejarnya. kau tunggu saja disini ! "
"tapi kalau kau terluka gimana?"
"jangan khawatir, aku akan segera menemuimu lagi."
Seiji menepuk bahuku dan tersenyum lalu pergi mencari seseorang yang ada di dalam hutan dekat kompleks perumahan itu.
(kuharap aku bisa sempat menemuinya sebelum ia menyerang seseorang)
dan satu menit kemudian, Seiji bertemu dengan seseorang yang dimaksudkan oleh Hitako itu.
"wah wah, aku terkejut siapa yang mendatangiku. ternyata kau ya? urutan 3."
"apa yang ingin kau lakukan disini."
"aku hanya ingin mencari mangsaku saja sepertinya ia datang tanpa aku datangi terlebih dahulu. hahahaha"
satu menit sebelumnya setelah Seiji pergi
"aku takut kalau sampai Seiji tidak balik ke sini bagaimana dengan nasibku."
Hitako mondar-mandir tak jelas karena saking khawatirnya ia dengan Seiji
lalu sang api pikiran itu menghampirinya
"nona Hitako, sepertinya Seiji telah bertemu dengan orang yang kau cari tapi kelihatannya lawannya sangat berbahaya. apa kau ingin menemuinya? "
"iya, kita harus menemuinya tapi ia adalah orang yang berbahaya."
"orang yang melawan Seiji itu siapa?"
"orang itu adalah salah satu 7 misteri kesialan dan dia adalah....
urutan pertama, misteri kesialan penyakit."
"kenapa kau tak bilang dari tadi? dia bisa membuat Seiji dalam bahaya."
"mohon bersabar nona, saya paham dengan perasaan anda tetapi kita harus waspada dengannya karena dia bisa menyebarkan kesialan dengan penyakit."
"lalu bagaimana kita melawannya?"
"Seiji yang merupakan urutan ketiga mungkin akan kesulitan melawan yang pertama karena yang pertama sangat kuat tapi ada satu cara untuk menghentikannya."
"apa? katakan."
"kita akan melawannya dengan kekuatan kita!"
"apa kita punya kekuatan lain?"
"ada satu yaitu kekuatan pelindung dan kita akan menyerangnya dengan apiku."
"bagaimana bisa seperti itu, itu mustahil."
"itu tidak mustahil, hanya saja kau tidak mengetahuinya."
"hah?"
"kita akan langsung ke intinya, di saat Seiji melawannya, kita akan ikut melawannya."
"terserahmu lah. kali ini, aku ikut kemauanmu."
"saya senang kalau nona ingin melawannya juga."
sementara itu, pertarungan antara Seiji dan sang misteri urutan pertama bertarung dengan sengit dan hasilnya berat sebelah. Seiji terbaring ke tanah kemudian lawan mengangkat tubuhnya dan mencekik lehernya
"hei bangun, urutan ketiga ! apa segini kemampuanmu bahkan aku pun belum serius melawanmu."
"ah.... sial. leherku dicekik. siapa.....pun.....tolong aku......"
tiba-tiba Hitako datang
"bakarlah dia, wahai api pikiran !"
sang misteri kesialan urutan pertama tersebut dibakar seluruh tubuhnya oleh sang api pikiran milik Hitako dan ia mulai merasakan kesakitan yang luar biasa serta ada ingatan-ingatan buruk mengenainya
"aku dengar ada orang yang kena sakit-sakitan. katanya kena kutukan."
"hehh? kutukan apa?"
"itu loh kutukan dari teman ibunya karena iri."
"lagian yang kena si dia sih."
"ayahnya tidak mau bekerjasama sama ayahku dan ayahnya sombong lagi."
"benar, aku juga dengar itu dari ibuku."
"rasain....dia...... enak ya jadi orang kaya..... hahahahaha....."
"apa ini mimpi ? "
"arghhhhhh arghhhh sakit jangan muncul dihadapanku kalian semua terkutuk .....ahhhhh......ahhhh.......aaa........"
sang misteri urutan pertama telah menjadi abu dan pergi......
disamping itu, Seiji mendapat luka yang cukup parah karena melawannya.
"kau baik-baik saja? akan aku coba sembuhkan."
"tidak apa-apa, lukaku bisa sembuh sendiri. jangan khawatir."
"apa yang tidak baik-baik saja, kau terluka kan? lagian luka itu cukup parah."
"dengarkan aku, Hitako ! aku tidak apa-apa, aku bisa sembuhkan diriku sendiri. terima kasih sudah selamatkan aku. maafkan aku karena aku terlalu memaksakan diri melawannya."
"aku juga minta maaf karena membuatmu seperti ini. aku yang akan bertanggung jawab."
Seiji memelukku dan berkata
"ya ampun, kau merepotkan ya, pewaris urutan ketujuh."
"kenapa kau memanggilku seperti itu?"
"karena aku ingat dengan orang itu ketika melihatmu."
aku juga teringat dengan orangtuaku ketika mendengar perkataan Seiji dan aku mulai menangis di pelukannya.
"aku.... juga..... mengingat orang itu walaupun aku membencinya tapi aku juga menyukainya."
"akhiri tangisanmu untuk orangtuamu dan kita akan memulai perjalanan baru hingga sampai ke urutan ketujuh."
"kau? bagaimana dengan kau sendiri?"
"aku akan membantumu sebisanya dan membebaskanmu dari kutukan ini."
Seiji mulai melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya kepadaku
"kita pulang, menuju tempat kita."
dan aku menerima uluran tangannya dan dia menggenggam tanganku hingga kami pulang ke gubuk itu lagi
bersambung