
sebelumnya.....
"apa kau bisa keluarkan aku dari sini."
"itu mah gampang. nanti aku tunjukkin jalan keluarnya setelah kau nginap di rumahku satu hari."
"ah, gak mau. keluarkan aku dari sini."
"sayangnya aku gak bisa, ini bagian dari permintaan maafku. kalau kau menolaknya, kau tidak akan bisa keluar dari sini."
"huaaa, ya udah aku turutin deh."
"hore, ikut aku ya. kakak ikut dari belakang."
(sejak kapan Sira jadi cuek denganku.)
"ayo aku tunjukkin rumahku~~"
setelah beberapa menit kemudian, Sira menuntun Hitako dan Seiji ke rumahnya. rumah Sira terlihat seperti rumah mewah dan Hitako pun menjadi seperti orang tak pernah melihat rumah mewah.
"wahh.... ini rumahnya. besar banget."
"ayo cepatlah masuk....."
"nanti dulu, aku mau lihat-lihat dulu ni rumah."
(ada-ada aja kau....)
Hitako berkeliling rumah Sira hingga puas dan pada saat Hitako melihat ke belakang rumah Sira, ia menuju ke sebuah taman yang ada di belakang rumah Sira disusul oleh Seiji.
"lihatlah, ada taman. indah banget."
"apa kau tak pernah liat taman seperti ini sebelumnya? "
"di rumahku mana ada yang seperti ini."
"oh iya? kalau sudah puas dengan tamannya, cepat masuk ke dalam. mengerti?"
"iya, aku mengerti."
"oke, kalau begitu aku duluan masuk ke dalam--"
"hei"
"apa lagi? " katanya sambil menoleh
"apa tidak apa-apa kalau kita sementara tinggal dengan adikmu? aku tak terlalu percaya dengannya."
Seiji yang mendengar perkataan Hitako itu kemudian ia tertawa kecil.
"pfft, apa yang kau katakan. percayalah dengannya kalau dia melakukan sesuatu padamu, bilang ke aku."
"benarkah?"
"emang aku pernah berbohong sama kamu? "
"tidak pernah"
"kalau begitu, turutin saja aku."
"ya udah deh...."
Seiji langsung masuk ke rumah Sira lewat pintu belakang rumah dan meninggalkanku di taman.
di dalam ruang tamu
"Sira, kau dimana? "
"disini, kak!"
Sira melambaikan tangannya pada Seiji di atas tangga dan Seiji langsung naik tangga untuk menemui Sira.
"mana Hitako, kak?"
"dia ada di taman."
"oh, aku ada ingin aku bicarakan pada kakak."
"katakan"
"kenapa kalian bisa sampai disini?"
"itu panjang ceritanya, ayo kita bahas di tempat tertutup."
mereka menuju ke sebuah kamar dan Seiji menceritakan perjalanan mereka sebelum ke tempat Sira.
"jadi, sebelum kalian ke sini ada yang mengejar kalian. gitu?"
"iya"
"dan kakak ingin menghilangkan kutukan si Hitako?"
"iya"
"kenapa kakak terlalu baik sama seseorang yang tak dikenal. bagaimana kalau ternyata dia hanya memanfaatkan kakak saja?"
"Sira, jangan sembarangan ngomong. dia adalah pewaris urutan ketujuh."
Sira yang terkejut mendengar hal itu langsung memukul meja dengan telapak tangannya.
"YANG BENAR KAK? DIA ADALAH PEWARIS URUTAN KETUJUH."
"pelankan suaramu, nanti dia bisa dengar dari taman sana."
"maaf kak tapi apa itu memang benar?"
"benar, aku juga terkejut karena dia punya kekuatan yang mirip dengan urutan ketujuh itu."
"aku dengar urutan ketujuh sudah lama mati tapi apa ada yang baru menggantikannya?"
"urutan ketujuh sebelumnya tidak punya kekuatan api pikiran sehingga pada saat ia diserang oleh para 7 kesialan sebelumnya, ia sudah gugur duluan dan perang antar 7 misteri kesialan pun terjadi sampai hanya menyisakan satu dari tujuh misteri kesialan kemudian ia buat baru lagi dan menggantikan posisinya dengan putranya kemudian melarikan diri."
"terus urutan ketujuh baru punya pewaris dan begitu juga yang lainnya sehingga lahirlah 7 misteri kesialan yang baru. jadi, apa kira-kira ada muncul perang antara 7 misteri kesialan seperti 3 tahun yang lalu?"
"mungkin saja, kuharap tidak ada perang lagi di antara kita."
"kak, apa aku boleh minta sesuatu sama kakak?"
"apa? "
"aku takut kalau misalkan pewaris urutan ketujuh sama lemahnya dengan yang terdahulu jadi aku ingin mengetes kemampuannya sampai mana, boleh?"
Seiji berpikir sejenak kemudian ia menyetujui keinginan Sira namun dengan satu syarat.
"baiklah, tapi dengan satu syarat."
"apa syaratnya kak?"
"syaratnya adalah jangan sampai buat dia mati. kalau dia sampai mati, maka dia akan terkena kutukanku karena aku sudah berjanji padanya akan menghilangkan kutukannya."
"ok, akan aku jaga dia kalau seandainya ada hal-hal yang gak menyenangkan."
"tunggu dulu, apa yang akan kau tes pada Hitako?"
Sira yang mendengar hal itu, dia hanya senyum kecil....
"ra-ha-sia. tesnya dimulai besok. untuk sekarang, aku akan menyiapkan tempat tesnya. oh iya, apa kakak lapar? aku akan buatkan makanan. kakak tunggu di ruang makan ya. bye~"
Sira langsung menutup kamar dan pergi ke taman untuk menemui Hitako.
di taman
Hitako yang sedang duduk di kursi taman sambil memandangi tanaman yang ada di taman dan tiba-tiba pintu belakang rumah di buka oleh Sira dan ia menghampiri Hitako.
"Hitako!"
"oh, Sira. ke mana aja kalian sih."
"loh, kami ada di dalam. emang kamu nggak masuk ke dalam."
"oh, gitu. btw, apa aku boleh duduk di sebelahmu?"
"boleh"
Sira duduk di sebelah Hitako dan ia ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Hitako"
"iya"
"sebenarnya aku ingin mengetes dirimu sejauh mana kekuatanmu untuk bisa melawan 7 misteri kesialan terutama kami berdua. maafkan aku karena aku tak sengaja dengar dari kakak dan aku rasa kakak juga bisa kewalahan kalau melawan mereka karena walaupun mereka urutan terbawah sekalipun mungkin mereka bisa lebih kuat dari apa yang kakak kira."
"kau tak perlu minta maaf karena kau adiknya Seiji pasti dia akan memberitahumu soal itu."
"iya, kau benar. untuk melawan mereka diperlukan kekuatan yang lebih besar dan kuat untuk menghancurkan 7 misteri kesialan karena itulah aku ingin melihat seberapa besar kekuatanmu."
"terus? kalau seandainya kekuatanku ternyata lebih lemah dari yang kau kira apa aku akan tetap bisa lawan mereka, bagaimana?"
"rencananya sih aku ingin mengajarimu beberapa teknik dariku karena aku ingin kau lebih kuat lagi dan bisa menghancurkan 7 misteri kesialan."
"eh? kenapa gitu. kalau seperti itu, berarti lambat laun aku harus melawan kalian juga. apa kau tak keberatan soal itu?"
"aku tak keberatan, karena aku ingin mengakhirinya."
"apa?"
"tesnya dimulai besok jam 8 pagi kau sudah harus ada di taman ini dan persiapkan dirimu. apa kau bisa?"
aku berpikir sejenak dan aku bertekad untuk menghapus 7 misteri kesialan.
"aku bisa, aku akan menghapus 7 misteri kesialan itu agar tak mengganggu kehidupan manusia lagi ke depannya."
"aku suka dengan itu, sekarang kau ikut aku ke dapur dan kita akan memasak makanan kesukaan kami."
"makanan kesukaan kalian?"
"iya, makanan kesukaan kami adalah mie goreng!"
"ha? KOK MIE GORENGGG?"
"hatchu--" terdengar suara bersin di kamar
kembali lagi ke topik
"kenapa? terkejut dengan kesukaan kami?"
"a-a... itu kayak terdengar seperti anak kos yang suka makan mie tiap hari."
"pfft, hahahaha. mungkin terdengar seperti itu tapi kami biasa memakan mie goreng satu kali seminggu. itu pun dengan sayur."
"oh, ya udah deh karena itu kebiasaan kalian jadi apa boleh buat."
"ayo ikut aku ke dapur..."
tangan Hitako ditarik oleh Sira hingga mengantarnya pada dapur. terlihat di dapur ada mie instan dan sayuran yang ada di kulkas tentu peralatan dapurnya tak kalah mewahnya layaknya di rumah orang kaya.
(wahh....bahkan dapurnya aja kayak gini coba di rumah ada kayak gini....)
"kenapa bengong, bantu aku masak"
Sira melepaskan tangannya yang memegang tangan Hitako dan mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat makanan mereka dan dibantu oleh Hitako.
"oh iya, selain mie goreng apa yang mau kau masak?"
"kalau aku mau apa ya? karena ini makanan utamanya mie jadi aku mau buat mie rambutan."
"kayaknya enak tuh. kamu buat itu aja, sementara aku buat mie goreng campur sayur."
"ok"
mereka membuat masakan mereka masing-masing hingga waktu menunjukkan pukul 6 malam dan mereka sudah selesai memasak kemudian mereka membawanya ke ruang makan. disitu sudah ada Seiji yang menunggu ketika mereka sudah mulai masak.
"maaf menunggu kak, ini makanan kita hari ini~~"
"kalian sudah membuat makanan kesukaanku, terima kasih."
"tak perlu berterimakasih, lagian juga aku memang mau buatkan untuk kakak."
"selamat makan."
Sira dan Hitako duduk di kursi ruang makan dan ikut makan juga. mereka bertiga pun berbincang-bincang sambil makan....
"setelah makan ini, kalian bisa pilih kamar sesuka kalian tapi kakak jangan satu kamar dengan Hitako."
"iya" kata mereka berdua secara bersamaan
"Hitako, jangan lupa kata aku tadi."
"baiklah"
"kalau begitu aku duluan, nanti aku yang bersihkan piring kalian kalau kalian sudah selesai dengan makannya."
Sira membawa piring dan gelas bekas makannya ke dapur dan ia mencuci piring dan gelasnya. ia menunggu mereka di dapur.
di ruang makan
"Hitako, apa dia ada berkata yang aneh-aneh denganmu? "
"hah? mana ada. kalau itu ada, itu mungkin kau."
"omong kosong, sejauh ini aku tak pernah seperti itu denganmu."
"aduh serius banget kamu, aku cuma bercanda."
"untunglah kalau itu gak benar."
Hitako tersenyum dan ia menyudahi makannya kemudian membawa piring dan gelas bekas makanannya ke dapur.
"aku ke dapur dulu."
"eiits- bawa punyaku dulu."
"enak aja, bawa sendiri."
"aku malas ke dapur, bawain punyaku."
"memangnya aku pembantumu, bawa punyamu sendiri ke dapur."
"kalau kau seperti itu, aku tak punya pilihan lain."
Seiji menaruh piring dan gelasnya ke Hitako dengan kecepatan yang tinggi dan kabur ke kamarnya. Hitako yang tak tahu Seiji pergi ke mana tapi piring dan gelasnya ada di Hitako.
"HEI, TUNGGU KENAPA KAU TARUH PUNYAMU DI PIRINGKU. eh? hilang orangnya."
(ah.... tu anak liat aja nanti)
Hitako membawa dua piring dan gelas ke dapur dan menaruhnya di tempat cucian piring dan di situ ada Sira.
"gimana enak makanannya?"
"enak, ini punyaku dan kakakmu yang aneh."
"ada apa dengan kakakku, apa dia berbuat aneh denganmu?"
"tanyakan dengan kakakmu itu. bye."
"hei, tunggu."
Hitako pergi dari dapur menuju ke tempat kamar yang dia pilih lalu menutup kamar itu dan ia langsung berbaring di kasurnya.
"hah.... aku sudah kenyang dan aku harus siap-siap untuk besok kira-kira apa yang mau dites sama Sira.... udah tidur gih...."
dan ia tertidur hingga keesokan harinya......
bersambung