
chapter 3
di gubuk
pagi jam 08.00
"ah..... perutku keroncongan, apa nggak ada makanan disini?"
"huaam..... pagi-pagi gini cari makanan? "
"aku mau cari makan dulu."
"ya udah, silahkan."
beberapa menit kemudian setelah Hitako pergi dari gubuk untuk cari makan, ia sampai di suatu kebun.
"ni kebun, kira-kira ada orang nggak ya?"
"sip, udah ku cek. nggak ada orang ambil ah...."
Hitako mengambil beberapa sayuran seperti tomat, kangkung, dan lainnya lalu pada saat ia ingin pulang ke gubuk tiba-tiba ada orang yang melihatnya mengambil sayuran di kebun itu.
"hei, pencuri ! apa yang kau lakukan dengan sayuranku?"
Hitako yang terdesak akibat ketahuan mencuri kemudian lari ke belakang tetapi ia dikejar oleh pemilik kebun itu.
(gawat, aku harus lari dulu. aku terpaksa karena nggak ada makanan di gubuk.....lari !)
"woi, jangan lari dari sini!"
Hitako yang terus berhenti tanpa henti sekarang ia berada di jalan buntu dan ia tak punya banyak waktu sebelum pemilik kebun itu menemukannya.
(ah...gawat! jalan buntu.....aku harus gimana ini.....seseorang bantu aku)
ada suara yang berasal dari semak-semak yang membuatnya seolah-olah menyuruhnya untuk ke sana.
"ada suara? dari semak-semak, tapi semak-semak bisa bantu aku sembunyi."
pemilik kebun itu sudah ada di jalan buntu itu setelah Hitako masuk ke semak-semak. untungnya pemilik kebun tersebut tidak melihat Hitako dan pergi dari situ.
"mana pencuri sialan itu? kabur lagi dia. liat aja kalo udah ketemu nanti."
Hitako keluar dari semak-semak setelah pemilik kebun itu pergi dari jalan buntu itu dan ia pergi ke arah semak-semak itu kemudian ia sampai di gubuk dengan sayuran yang ia bawa dari kebun.
"fiuhh...... untung bapak itu tidak melihatku, aku harus cepat pulang ke gubuk."
di gubuk
"aku pulang !"
"oh, kau sudah balik. cepatlah masak."
"kamu nggak mau makan?"
"ngapain aku makan? aku kan hantu. mana bisa aku makan makanan manusia."
"biasanya hantu dikasih sesajen buat mereka makan."
"kau kira aku hantu yang dipanggil oleh dukun untuk makan sesajen? "
"ahahaha, iya-iya. ampun pak. lagian juga kamu hantu sih."
"aku bukan hantu yang suka makan sesajen, aku gak bisa makan makanan manusia."
"lalu kalau kau makan apa?"
"tidur saja cukup buat isi perut."
"haah? emang bisa?"
"bisa lah lagian hobiku tidur."
"serahmu lah aku mau masak dulu."
"masak yang enak ya!"
"aku masak bukan untukmu jadi jangan ambil jatahku."
Hitako pergi ke dapur dan masak makanan dari sayuran yang ia bawa dari kebun itu begitu juga dengan Seiji yang ingin tidur.
"aku mau tidur ah....."
di dapur
Hitako sedang memotong sayuran yang ia bawa dan memasaknya di panci
(andai aja ada bibi Risa, maksudku pembantuku. dia pasti lebih handal dibandingkan aku dalam hal masak.)
di sisi lain, di dalam kamar terdapat Seiji yang sedang tertidur kemudian ia merasa tidak enak karena ada yang membuatnya terbangun dari tidurnya.
"hm.....hmm..... aku nggak bisa tidur.... aku rasa nggak enak, aku akan cek keluar sebentar."
suara ribut yang samar-samar mau mendekati gubuk mereka didengar sekilas oleh Seiji ketika ia di luar.
"ada apa ini.....suara ini.....rasanya ada yang ingin kemari, aku pastikan dulu."
suara ribut tersebut berasal dari para orang-orang dari tempat rumah Hitako yang ingin mencari Hitako karena mereka disuruh mencari Hitako oleh ayahnya.
"hei, cari Hitako sampai dapat. gara-gara dia hilang, ayahnya jadi gila dan entah kenapa anakku tiba-tiba kena wabah penyakit."
"aku juga sama."
"kenapa bisa semua anak kita sakit kena wabah padahal sebelumnya wabah penyakit tidak ada di tempat kita."
"aku juga tidak tahu"
"HEI, APA YANG KALIAN BICARAKAN. CARI ANAK ITU SAMPAI DAPAT BIAR AYAHNYA TENANG."
"benar, kita harus cari dia."
"kalau kita tak dapat kita, kita bakal terganggu karena ayahnya."
sehari setelah Hitako pergi dari pengadilan, ayahnya tiba-tiba jadi ngigau sendiri alias gila dan bukan hanya itu, seluruh teman-teman Hitako kena wabah penyakit sehingga itu membuat mereka semua meninggal dunia. itu disebabkan karena kesialan yang dibawa oleh Seiji kepada Hitako karena mendatangi jurang terkutuk itu. jurang tersebut dinamakan jurang terkutuk karena konon katanya kalau orang yang datang untuk bunuh diri maka ia akan mendapatkan kesialan namun hanya ada satu orang yang diselamatkan dan setengah dari kesialan yang ia terima hilang sedangkan setengahnya lagi masih ada yaitu Hitako.
dan di saat para orang-orang ingin mencari Hitako, Seiji langsung ke gubuk dan mendatangi Hitako untuk melarikan diri dari gubuk karena tak lama lagi orang-orang tersebut akan mencarinya.
di gubuk
"Hitako ! apa kau ada?"
"iya, ada. kenapa?"
"cepatlah pergi dari sini, orang-orang dari tempatmu akan mencarimu. kalau kau tertangkap disini, kau akan ditangkap dan dibawa ke ayahmu!"
"benarkah? apa mereka mau ke sini?"
"iya, cepatlah. ikut aku!"
Seiji memegang tangan Hitako dan membawanya pergi dari gubuk itu dan beberapa di antara orang yang mencari Hitako tiba di gubuk dan melihat mereka berdua kemudian mereka mengejar Hitako tetapi digagalkan oleh Seiji dengan melempar mereka ke tebing.
"hei, jangan lari kamu!"
"kejar dia!"
"kalian bisa gak, gak usah kejar kami."
"kenapa ini, kita dilempar!"
"tolong aku"
"rasain, ini akibatnya kalau kalian menyentuh tempatku tanpa izin."
mereka berdua terus berlari sambil berpegangan tangan hingga sampai di hutan yang jauh dari gubuk tersebut.
"haaah.....haaahh.....aku capek."
"aku juga sama, untuk sekarang kita istirahat disini karena tempat ini jauh dari gubuk. jadi kita gak bisa balik lagi ke gubuk."
"kita nggak bisa balik lagi?"
"iya, tapi kita harus cari tempat yang bagus untuk istirahat."
mereka berdua mencari tempat yang tepat untuk tidur dan mereka mulai tersesat karena mereka beberapa kali melewati tempat yang sama.
"loh? perasaan kita sudah lewat sini daritadi?"
"yang benar? apa kita coba dari arah yang berlawanan."
mereka berdua berjalan di arah yang berlawanan tetapi hasilnya tetap saja. tidak peduli mereka berulang kali melewati jalan yang berlawanan tetap saja mereka di bawa ke jalan yang semula.
"ini labirin atau apa sih hutan ini?"
"aku tidak tahu tapi aku pernah dengar hutan dengan model seperti ini. hutan yang biasanya membawa kita ke jalan yang kita lalui beberapa kali konon katanya tidak akan bisa balik lagi hidup-hidup, hutan itu disebut hutan ilusi."
"hutan ilusi? hutan yang tak bisa membuat kita balik lagi."
"iya, kalau begitu kita akan istirahat lagi daripada kita jalan lagi dan hari sudah mulai mau malam. kita akan cari kayu bakar di sekitar sini dan buat api."
"baiklah"
Hitako dan Seiji pergi mencari kayu bakar di tempat mereka berdiri dan mulai membuat api hingga malam tiba, mereka tertidur dengan api unggun kecil di depan mereka dan Seiji tetap menjaga Hitako kemudian ada orang yang berjalan di belakang Seiji.
"ini hutan ilusi ya? pasti si ulah urutan keempat kesialan isengan itu..... dia datang tanpa diundang...."
"wah...wah.... disitu kau rupanya urutan ketiga."
"kau lagi ya? sudah berapa kali kau isengi aku?"
"berapa kali ya? aku tak ingat.... lama tak berjumpa urutan ketiga, kakak Seiji."
"seperti biasa, kau selalu membuatku kerepotan, adikku Sira."
"hari ini maukah kau main sama aku lagi, kakak."
"kalau itu maumu, aku juga main sama kamu."
"baiklah, ayo kita main kak......"
bersambung