
Sehabis makan siang hingga malam harinya. Claudia tidak lagi mendatangi perpustakaan. Dan berdiam diri di kamarnya, serta tidak mengizinkan siapapun masak. Ia keluar juga saat makan malam tiba.
Namun hal itu justru tidak menimbulkan kebingungan di hati para pelayan yang ada di sana, terutama Aileen yang selalu menemani Claudia. Tentu saja hal ini disebabkan oleh buku yang berjudul Setangkai Mawar Hitam dan sejak Aileen memberikan buku itu, ia sudah menebak akan beginilah akhirnya.
Meninggalkan Claudia yang sekarang sudah damai dalam tidurnya sehabis makan malam. Kita beralih pada Albert yang sudah menghilang sejak pertemuan Claudia dan Albert terakhir kali. Terhitung sudah mau hampur dua bulan ia tidak memperlihatkan diri di depan Claudia.
Alasannya tentu karena tidak ingin Claudia tersakiti saat berada di dekatnya. Hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Meskipun hal itu wajar, karena hati mereka terhubung. Tapi, untuk perasaan sesak mungkin sedikit banyak menganggu pikirannya.
Jujur, Albert juga harus merasa sesak setiap kali dia mengamati Claudia tumbuh dari tahun ke tahun layaknya seorang manusia pada umumnya. Ya, setidaknya dulu Claudia adalah manusia.
Meskipun saat itu dia sedang sibuk berperang, saat senggang ia masih sempat melihat Claudia dari jauh. Tersenyum saat bayi Claudia terlihat sangat menggemaskan, tertawa saat Claudia melakukan hal yang lucu, dan marah saat ada yang mendekati Claudia dan berbuat jahat padanya.
Dan semakin lama dia mengamati, perasaan sesak karena berpisah membuat Albert tanpa sadar meneteskan air matanya, meskipun hanya setetes yang berhasil keluar. Lalu setelah bertahun-tahun tidak bertemu, rasa rindu itu semakin menumpuk. Ah, mungkin itu juga yang di rasakan oleh Claudia.
Merindukannya juga kecewa karena Albert lebih memilih membuatnya pergi dari pada berada di sisinya saat itu. Setidaknya itu adalah pilihan terbaik karena kekuatan Claudia yang belum stabil malah akan membuat wanita itu terluka.
"Hormat hamba, Your Majesty"
"Ada apa?" Tanya Albert yang langsung tersadar dari lamunannya.
"Terdapat penyusup yang ingin membebaskan para penghianat. Meskipun usaha mereka sia-sia. Tapi akan ada kemungkinan hal ini terhadi lagi, Your Majesty."
"Dari klan mana penghianat itu?"
"Penyihir, Your Majesty."
Albert berdecak, kemudian berdiri dari duduknya. "Bawa aku menemuinya."
Pria yang merupakan kaki tangan kanan Albert itu mengangguk lantar mereka berdua langsung menghilang saat tiba-tiba asap muncul menyelimuti tubuh mereka berdua.
***
Dalam tidurnya yang panjang. Claudia merasa mencium aroma yang cukup berbeda pagi ini. Aroma yang terasa begitu manis dan memabukkan. Aroma yang bisa menjadi candu karena saat sekali merasakannya tidak akan bisa berhenti untuk tidak merasakannya lagi.
Masih dengan memejamkan mata, Claudia menebak aroma apa itu? Dan berasal dari mana? Karena baru kali kini Claudia mencium aroma tersebut.
Karena tidak menemukan jawaban dengan mata tertutup. Perlahan Claudia membuka matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamar. Setelah mengerjap beberapa kali, Claudia mengubah posisinya menjadi duduk dengan kepala tertunduk.
Narikan napas dalam dan hembusan napas kasar Claudia lakukan guna mengumpulkan seluruh nyawanya. Dan saat yakin kesadarannya sudah pulih, kepala Claudia terangkat untuk melihat benda apa yang bisa mengelurakan aroma khas seperti itu.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" teriak Claudia secara tiba-tiba. Membuat para pelayan yang sedang menyiapkan rangkaian bunga untuk disusun dalam vas tersentak kaget dan reflek berdiri.
"Nona?" Seru Aileen dengan nada bingung.
Claudia segera turun dari kasurnya. Keringat dingin perlahan muncul dan membasahi seluruh tubuhnya. Getaran kecil juga sangat terlihat pada tubuh Claudia yang saat ini sibuk memandang para pelayan satu persatu dengan tatapan takut.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Claudia dengan bibir bergetar.
Para pelayan langsung saling menoleh. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Claudia katakan. Begitu juga dengan Aileen yang menampilkan wajah bingung.
"Maaf, Nona?" Ujar Aileen memberanikan diri bertanya.
Claudia menatap horor bunga yang sedang dirangkai. Dengan tangan yang bergetar hebat, Claudia menunjuk bunga-bunga itu.
"Bunga itu—," Claudia menelan salivanya dengan susah payah. "Singkirkan! Singkirkan bunga itu."
Seketika semua pelayan terdiam. Termasuk Aileen yang menyadari apa penyebab yang tadi.
"AKU BILANG SINGKIRKAN BUNGA ITU!" teriak Claudia memotong perkataan Aileen dan membuat wanita itu terkejut begitu juga dengan yang lain.
"Apa yang terjadi?"
Semua orang kecuali Claudia yang saat ini sedang duduk di ujung lemari sambil menutup kedua telinganya, serentak menolehkan kepalanya pada asal suara. Seketika para pelayan berlutut dan mengucapkan penghormatan.
"Hormat kami, Your Majesty."
Albert tidak menghiraukan perkataan para pelayan itu. Fokusnya saat ini hanyalah pada Claudia yang sedang mengalami ketakutan hebat. Tanpa sadar, ia menyeringai dan perlahan melangkah mendekati Claudia dengan langkahnya yang panjang.
"Claudia, kau baik-baik saja?" tanya Albert dengan lembut dan senyum lembut pula. Menghilangkan jejak menyeringai yang terlihat sangat menyeramkan.
Claudia tidak menjawab dan tubuhnya malah semakin rapat ke dinding hanya untuk mengindari Albert yang berada tepat di depannya.
"Claudia, ini aku. Albert." Albert mengusap lembut kepala Claudia. Membuat wanita itu perlahan mengangkat kepalanya.
"Ada apa, huh?" tanya Albert kembali dengan suara yang begitu lembut.
"Albert!" pekik Claudia dan langsung memeluk pria itu dengan erat.
Albert membalas pelukan itu dan menepuk-nepuk pelan punggung Claudia agar wanita itu tenang. "Ada apa?"
Claudia mununjuk ke arah bunga yang sedang di rangkai tanpa melihat. "Singkirkan bunga itu, Albert. Aku mohon singkirkan."
"Hei, ada apa? Itu hanya bunga. Kau tidak perlu setakut itu."
Claudia menggeleng. "Tidak! Bunga itu akan membunuh kita semua!"
"Apa maksudmu?" Tanya Albert dengan bingung. Kedua tangannya bekerja keras untuk menarik Claudia agar tidak menyembunyikan wajahnya.
"Aku baca buku—."
"Jadi, semua ini karena buku?" Tanya Albert memastikan dan perlahan Claudia mengangguk.
Seketika Albert tertawa terbahak-bahak. "Itu hanya buku, Claudia."
Claudia menggeleng keras. Kedua tangannya mencengkram erat kerah baju yang digunakan Albert. "Tidak, buku itu—."
"Setangkai Mawar Hitamkan, judulnya?" Tanya Albert kembali motong perkataan Claudia dan dibalas anggukan oleh wanita itu.
"Buku itu ditulis oleh kakak perempuanku saat dia berusia 20 tahun dan sekarang dia sudah berusia hampir 40 tahun, juga sudah memiliki keluarga. Di mana istimewanya buku itu?" jelas Albert membuat Claudia terdiam dan perlahan melepaskan cengkramannya.
Kepala Claudia menunduk dan kedua tangan saling mencengkram. Sungguh saat ini dirinya merasa sangat malu karena sudah bertingkah aneh hanya karena setelah hanya membaca buku yang mungkin sekedar karangan saja.
"Jadi, sudah lebih tenang?"
Claudia nengangguk. "Maaf."
Albert tersenyum lebih lebar. Diusapnya lagi kepala Claudia dengan lembut. "Tidak apa. Sekarang mandilah dan sarapan."
Claudia mengangguk lagi dan bergegas pergi ke kamar mandi guna melakukan perintah Albert.
Sementara Albert perlahan berdiri dari jongkoknya dengan mata terus menatap Claudia yang sekarang sudah menghilang dari balik pintu. Kedua tangannya masuk ke saku celana dan perlahan membalikkan tubuh. Matanya menatap satu persatu pelayan yang setia menundukkan wajahnya dan tatapan Albert berhenti pada bunga mawar hitam yang sedang di rangkai.
"Lanjutkan tugas kalian." titah Albert sebelum pergi meninggalkan kamar Claudia.