The Demon Queen

The Demon Queen
Part 3 - Kita Bertemu Kembali



Keesokan paginya Claudia terbangun tanpa merasakan takut sama sekali, mengingat kejadian mengerikan yang sedang dia alami tadi malam pasti akan meninggalkan trauma mendalam, terlebih lagi itu pertama kalinya untuk Claudia.


Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Claudia, lantaran wanita bersurai silver itu justru tersenyum sepanjang dia menjalani aktivitas seperti mandi, memakai pakaian, dan merias diri. Saat akan turun dari tangga pun Claudia berjalan sambil melompat dan bibirnya bersiul membentuk nada riang.


Namun seulas senyum bahagia itu harus hilang saat ia memasuki ruang makan. Tergantikan dengan alis terangkat saat Claudia merasakan sesuatu yang menegangkan di antara keluarganya. Ada apa ini?


“Dad, Mom.” Ucap Claudia saat tidak ada satu orangpun yang melihat kehadirannya.


Serentak mereka semua menoleh menatap Claudia dengan wajah terkejut, tapi segera menghilang dan digantikan oleh senyum yang dipaksakan. Tentu saja hal itu membuat Claudia semakin bingung.


“Apa ada masalah?” tanya Claudia sembari melangkah maju mendekati Adrian yang berada di kepala meja makan.


“Tidak ada sayang. Duduklah.” Jawab Adrian masih dengan nada lembut seperti biasanya.


Claudia menggeleng. “Sungguh?”


“Duduk dan makanlah dulu, Claudia. Kita akan membahasnya setelah selesai sarapan.”


Claudia beralih menatap Kezia yang barusan saja berkata dengan tegas. Mau tidak mau, Claudia mengurungkan niatnya lagi memaksa untuk bertanya dan mengambil duduk di sebelah Breta, lalu mulai memakan sarapannya dalam hening.


Beberapa saat kemudian, mereka semua kecuali Brandon dan Alex beralih berkumpul di ruang tamu. Namun untuk beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka, seakan mereka sangat enggan hanya untuk berbicara akan apa yang terjadi padanya.


Tentu saja hal itu membuat Claudia khawatir jika ada masalah yang besar. Tapi apa? Tidak mungkin usaha keluarganya bangkrut hanya karena mengadakan acara ulang tahun dan kelulusannya tadi malam. Karena seingat Claudia usaha keluarganya tahun ini sedang ada di posisi teratas. Lalu apa?


“Claudia.”


Claudia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Adrian yang juga sedang menatapnya dengan serius. “Yes, Dad?”


“Perusahaan Daddy yang berada di Las Vegas mengalami masalah yang serius. Hal itu mengharuskan Daddy pergi ke sana pastinya juga bersama dengan Mommy-mu.” Jelas Adrian.


“Lalu?” tanya Claudia yang masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini.


“Daddy dan Mommy sudah sepakat akan menitipkan mu pada teman Daddy selama kami pergi ke La Vegas. Kami tahu kamu sudah besar. Sudah lulus juga, tapi kami melakukan ini hanya karena kami khawatir padamu jika harus hidup sendiri.” Lanjut Adrian yang menjelaskan langsung ke intinya.


Claudia terdiam dengan pandangan menatap seluruh anggota keluarganya. Jujur ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Terlebih apa yang dikatakan Adrian juga ada benarnya. Selama ini, dia tidak pernah di tinggalkan sendiri. Kalaupun orang tuanya pergi dinas, ia pasti akan ikut dan untungnya ia memiliki otak yang jenius sehingga banyaknya absen tidak akan membuatnya tinggal kelas ataupun tertinggal pelajaran.


“Kenapa aku tidak ikut kalian saja? Bukannya biasa juga begitu?” ucap Claudia akhirnya, setelah dipikir-pikir terdapat jalan keluar dari masalah ini.


Breta menggeleng. “Tidak, sayang. Untuk yang kali ini kami tidak bisa membawamu.”


“Kenapa?”


“Kau lupa jika kau sudah menerima tawaran kerja menjadi dokter?” tanya balik Kezia membuat Claudia tersadar bahwa akhir minggu ini dia sudah harus bekerja menjadi dokter sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.


“Aku lupa,” ucap Claudia menyengir. “Eh, tapi kenapa saat di meja makan tadi wajah kalian jadi begitu tegang?”


“Kami hanya takut jika kamu menolaknya, sayang. Bagaimanapun juga ini kali pertamamu kami meninggalkanmu dan juga kau harus tinggal dengan orang asing.” Jelas Brenda.


Claudia menggeleng. “Tentu saja tidak. Jika itu demi kebaikan bersama kenapa harus ditolak.”


Serentak mereka semua mengangguk.


“Jadi, kau menerimanya?” tanya Adrian.


Claudia mengangguk. “Ya.”


“Baiklah, kalau begitu kemasi barang-barangmu. Bawa yang penting saja karena soal pakaian dan hal lainnya bisa dibeli nanti. Setelahnya Daddy dan Mommy akan mengantarkan mu.” Kata Adrian.


“Sekarang?” tanya Claudia dengan alis terangkat.


"Semakin cepat akan semakin baik.”


Claudia mengangguk dan segera ia pergi untuk mengemasi barang-barang yan menurutnya penting saja. Soal pakaian dia juga hanya membawa beberapa pasang, lalu satu sepatu di setiap jenis dan juga satu tas selempang kesayangannya.


Satu jam kemudian Claudia baru selesai berkemas, lalu segera turun dengan menyeret kedua koper berukuran besar keluar kamar menuju lift yang berada di massion mewah itu. Di ruang tamu keluarganya sudah menunggu sambil tertawa karena tingkah lucu Alex anak Kezia.


“Dad, aku sudah siap.” Seru Claudia begitu tiba di ruang tamu.


Serentak semua mata memandang ke arahnya dan langsung berdiri.


“Kalau begitu ayo.” Ujar Adrian.


Claudia lantas mengangguk dan memberikan kedua kopernya terlebih dahulu kepada para maid untuk dimasukkan ke dalam mobil, setelah dia mengusul keluarganya dan berhenti di teras rumah.


“Aku pergi, ya.” Pamit Claudia kepada Kezia karena kakaknya itu hanya akan mengantarnya sampai depan pintu saja.


Kezia tersenyum kemudian menarik Claudia untuk dia peluk dengan erat. Claudia juga tidak kalah, dia ikut memeluk kakak tersayangnya itu dengan erat seakan mereka akan terpisah sangat lama atau ini menjadi pertemuan terakhir mereka.


“Aku pasti akan merindukanmu.” Bisik Kezia sebelum melepas pelukannya.


Claudia lantas tertawa. “Kau masih bisa menemui ku nanti.”


Kezia tidak menjawab, dia hanya tersenyum sedih. Untungnya Claudia tidak menyadari akan senyuman itu karena sekarang dia sedang asik berpamitan dengan Alex dan berakhir dengan Brandon.


“Sudah waktunya kita berangkat, sayang.” Seru Brenda.


Claudia mengangguk dan segera masuk ke mobil yang sudah dibukakan oleh main. Mesin mobil lantas menyala dan mulai melangkah pergi sambil diiringi oleh lambaian tangan Claudia yang pastinya dibalas oleh Kezia dan keluarganya.


Perjalanan yang semula Claudia pikir hanya akan memakan waktu setengah atau paling sama satu jam, malah harus menghabiskan waktu lima jam lebih di tambah dengan seringnya mereka berhenti untuk istirahat dan makan.


Tentu saja hal itu membuat kepala Claudia dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat enggan dia keluarkan dan pertanyaan itu semakin bertambah tak kala mobil mereka memasuki kawasan hutan lebat dengan barisan pohon yang menjulang tinggi.


“Dad, apakah kita tidak salah jalan?” tanya Claudia akhirnya.


Adrian menatap Claudia sekilas dari kaca spion. “Tidak sayang.”


“Kita memasuki hutan, Dad. Mana ada rumah di tengah hutan.”


Breta tertawa. “Tentu saja ada sayang. Jika tidak ada untuk apa jalan yang besar ini di buat?”


“Tapi ini jauh, mom. Bagaimana jika aku kerja nanti jika jaraknya jauh gini?” protes Claudia. Sungguh kalau tahu begini lebih baik dia memilih untuk ikut orang tuanya saja dan membatalkan kerjanya. Dari pada harus pergi kerja saat semua orang masih ada di alam mimpi.


“Kan ada helikopter, sayang.” Ujar Adrian dengan santainya.


Sementara Claudia langsung terdiam. Otaknya memproses kata-kata itu dengan sedikit lambat kali ini. Hingga tanpa ia sadari, mobil mereka sudah tiba di rumah mewah bak istana layaknya di negeri dongeng. Begitu besar dan luas dengan taman yang indah dan penjagaan ketat di penujuru sisi.


“Kok melamun?”


Claudia langsung tersentak dari lamunannya saat suara Breta mengalun disertai dengan elusan di kepalanya. “Enggak kok, Mom.”


“Yaudah, ayo turun. Kita sudah sampai.” Ucap Adrian yang di angguki oleh Claudia dan Breta.


Mereka bertiga serentak turun saat pintu mobil mereka yang tanpa diminta sudah dibukakan oleh para pria bereragam jam lengkap dengan postur tubuh yang cukup tinggi. Bahkan, Adrian saja hanya sebatas kuping setiap pria setia menampilkan wajah datar mendekati sangar.


Melihatnya membuat Claudia jadi merinding dan segera mengalihkan tatapannya kesepenjuru halaman rumah yang langsung membuat Claudia terpanah akan keindahan serta keasrian rumah bak istana ini. Selain itu juga terdengar suara hewan yang saling bersautan dan jika dihayati akan terdengar seperti alunan musik yang menenangkat. Ah, sungguh luar biasa rumah ini.


“Claudia. Ayo!”


Claudia lagi-lagi tersentak karena melamun. Tubuhnya lantas berbalik menghadap Adrian dan Breta yang ternyata sudah berdiri di depan pintu masuk. Tanpa menjawab, Claudia berjalan cepat menuju kedua orang tuanya tanpa membawa koper karena koper miliknya sudah dibawa lebih dulu oleh pria berbadan tinggi tadi.


“Kau ini melamun aja.” Tegur Breta halus begitu Claudia tiba di sampingnya.


Claudia menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi juga putih. Sedangkan Adrian hanya menggelengkan kepalanya akan sikap putri bungsunya yang terkadang bikin pusing.


Setelahnya mereka bertiga perlahan mulai memasuki rumah yang benar-benar menyerupai istana negeri dongeng. Mereka bertiga saja sampai terpanah akan interior eropa klasik yang digunakan serta lukisan-lukisan yang pasti harganya fantastis ditambah dengan barang-barang mahal lainnya yang terpajang disepanjang lorong yang mereka masuki. Lalu saat di ujung lorong terdapat sebuah ruangan layaknya aula dengan dua anak tangga menghadap mereka.


“Silahkan lewat sini.”


Dengan canggung mereka mengikuti seorang pelayan muda tersebut ke pintu bagian kiri mereka. Melewati pintu yang menjulang sangat tinggi itu, mereka harus kembali terkagum akan gaya eropa klaik yang sangat ketak di ruangan ini.


“Silahkan duduk. Tuan akan segera turun. Saya permisi.” Ucap pelayan itu kemudian membungkuk dan pergi meninggalkan keluarga yang tidak henti berdecak kagum itu.


Selagi asik mengagumi seseorang masuk ke dalam ruangan dan pintu besar itu lantas tertutup dengan suara yang di timbulkan cukup keras hingga berhasil menyentak mereka. Setelahnya ruangan menjadi hening hingga suara ketukan sepatu yang lambat sampai terdengar.


Sadar bahwa yang masuk adalah pemilik rumah bak istana ini. Adrian, Breta, dan Claudia perlahan berdiri dari duduknya dan perlahan memutar tubuh serta kepala saat langkah kaki itu berhenti tepat di sebelah kiri mereka.


Belum sempat mata Claudia menatap seseorang yang dia yakini pemilik rumah. Tubuhnya sudah di tarik untuk membungkuk oleh Bretaa. Tentu hal itu menimbulkan pertanyaan dalam benak Claudia akan sikap kedua orang tuanya. Dalam pikirannya untuk apa membungkuk layaknya hormat pada seseorang yang lebih berkuasa? Bukannya Adrian dengan pria itu adalah teman?


“Ck, tidak usah bercanda Adrian.” Ucap pria itu dengan mata tajam menusuk pada Adrian yang langsung menelan salivanya.


Seketika tawa canggung Adrian lakukan dan perlahan menegakkan kembali tubuhnya diikuti oleh Breta dan Claudia yang sekarang sedang beroh-ria lantaran pertanyaan yang tadi muncul dikepalanya terjawab sudah. Ternyata ayahnya sedang bercanda saja. Kira-kira seperti itulah yang ditangkap oleh Claudia.


“Sudah-sudah. Silahkan duduk. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh.” Ucap pria itu kembali yang dituruti oleh satu keluarga itu.


“Jadi, ini putrimu?” ucap pria itu lagi begitu mereka semua duduk.


Adrian mengangguk. “Benar. Dia putri bungsuku.”


“Claudia namanya, bukan?” tanya pria itu sambil terus menatap intens Claudia yang sedari duduk tadi menundukkan kepala. Tidak berani mengangkat kepala untuk sekedar menatap teman ayahnya itu.


“Benar,” jawab Breta lalu menoleh pada Claudia. “Kok nunduk? Sapa dulu teman ayah. Namanya Albert Raymond Federic.”


“Albert?” gumam Claudia dengan suara yang nyaris tidak terdengar sembari mengangkat kepalanya perlahan.


Pertama-tama yang Claudia lihat adalah sepasang sepatu pentofel, lalu naik terus hingga matanya bertemu dengan sepasang mata coklat yang menatapnya intens, tersirat akan sesuatu di dalamnya. Secara tiba-tiba Claudia berdiri dari duduknya dan berlari ke arah Albert yang duduk di sebrangnya.


Kemudian hal yang lebih mengejutka lagi, Claudia langsung memeluk Albert dengan tangis histeris yang terdengar sangat pilu.


Melihat hal itu tentu saja membuat Breta dan Adrian panik dan langsung berdiri dari duduknya. Sepasang suami istri itu baru akan melangkah mendekati anak mereka ketika salah satu tangan Albert terangkat menyuruh mereka berhenti. Mau tidak mau, sepasang suami istri itu kembali keposisi awal dan hanya bisa menyaksikan Claudia yang terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Albert.


Albert sendiri yang dipeluk membalas pelukan itu dengan senyuman lembut serta mata yang berkaca-kaca. Bibirnya bergerak mencium puncak kepala Claudia dengan begitu dalam, seakan menyalurkan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cukup lama cium kening itu terjadi dan saat Albert melepaskan ciuman itu, Claudia seketika jatuh tertidur yang dengan sigap digendong oleh Albert sebelum terjatuh ke lantai.


“Tuan.”


Kepala Albert berputar menjadi memandang sepasang suami istri tersebut. “Minumlah teh yang akan di antar. Setelahnya kalian boleh pergi.” Ujar Albert dengan nada yang teramat dingin dan wajah datar, namu mata yang menyorot mereka tajam. Memperingati untuk tidak membantah apa yang dia katakan dan juga untuk tidak bertanya apapun.


Melihat sepasang suami istri itu yang mengangguk mengerti. Albert langsung melesat pergi dari ruangan tersebut menuju kama yang akan Claudia tempati. Yang pastinya kamar itu terletak tepat di sebelah kamarnya. Ingin rasanya Albert membawa Claudia ke kamarnya dan mereka tidur saling berpelukan seperti dulu. Namun, belum waktunya. Ia masih harus bersabar lantaran ingatan Claudia belum pulih. Jadi, perlahan saja, tidak perlu terburu-buru.


Sesampainya di kamar Claudia, Albert meletakkan dengan hati-hati wanita itu ke atas ranjang dan tidak lupa menyelimuti tubuh yang terasa mungil saat ia gendong tadi. Setelahnya ia duduk di sisi ranjang dan tangannya menggenggam salah satu tangan Claudia dengan lembut. Kedua sudut bibirnya perlahan terangkat dan memandang penuh binar pada Claudia.


Puas memandangi, Alber akhirnya memutuskan untuk keluar karena masih ada yang perlu dia bahas dengan orang kepercayaannya. Sebelum pergi ia mencium kening Claudia dalam beberapa detik dan langsung keluar setelahnya.


“Akhirnya kamu kembali, Queen.”