
Taman mawar hitam itu masih ada. Sekiranya seperti itu yang ada di pikiran Claudia setiap kali matanya melihat taman yang selalu ada dalam gelepan itu.
Ya, kegelapan. Lantaran taman yang memiliki ukuran cukup luas itu tidak pernah tersentuh oleh matahari, barang sedikit pun. Atau bisa saja setiap kali Claudia melihat taman itu, bertepatan saat matahari tidak menyinarinya.
Tapi, untuk opsi terakhir. Claudia sungguh tidak yakin akan hal itu. Karena setiap Claudia melihat tanaman itu, waktunya pas saat sinar matahari akan menyinari taman itu. Ya, Claudia sangat yakin akan hal itu.
"Nona?"
Claudia tersentak dan langsung memutar kepalanya untuk menghadap Aileen yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ada apa, Nona?" Tanya Aileen.
Claudia menggeleng. "Tidak. Kita lanjut saja ke perpustakaannya."
Aileen mengangguk dan segera melangkah guna menunjukkan arah pada Claudia yang tidak kunjung mengingat jalannya. Meskipun jalur itu sudah dia lewati selama sebulan penuh.
Sesampainya di perpustakaan, Claudia terdiam sejenak di tengah-tengah ruangan. Matanya menatap tajam setiap rak yang terisi buku-buku berbagai jenis. Hingga terbesit dalam pikirannya, bahwa diantara beribu buku itu, ada satu buku yang menjelaskan mengenai taman mawar hitam.
Seketika mata Claudia berbinar saat apa yang barusan saja ia pikirkan kemungkinan terjadi. Segera dia berbalik di mana Aileen berapa.
"Aileen."
Kening Aileen mengkerut. "Iya, Nona?"
"Adakah buku yang menjelaskan tentang bunga mawar hitam?" Tanya Claudia antusias.
Lain halnya dengan Aileen yang justru membeku akan pertanyaan Claudia. Tangannya langsung bertautan erat guna menyamarkan kegugupan yang menyerangnya secara tiba-tiba.
"Untuk apa, Nona?"
"Katakan aja, ada tidak buku seperti yang aku katakan tadi." Claudia sama sekali tidak tahu akan kegugupan Aileen dan terus mendesak wanita itu.
"Saya tidak tahu, Nona. Saya tidak pernah membersihkan perpustakaan."
Jawaban Aileen membuat binar di mata Claudia hilang seketika. Kembali matanya menyurusi setiap rak yang ada di sana sembari berpikir mungkin dia perlu mencarinya sendiri. Jadi, harus mulai dari mana dia?
Sementara itu Aileen yang sedang merasa gugup menjadi bertambah gugup saat suara sang penguasa terngiang di telinga dengan nada yang dingin. Tentu saja, apa yang sang penguasa itu katakan tidak dapat di dengar oleh Claudia dan sosoknya juga tidak ada di ruangan tersebut.
"Berikan buku itu."
Tanpa sadar Aileen mengangguk cepat dan tubuhnya langsung bergerak cepat guna melaksanakan perintah tersebut. Meninggalkan Claudia yang sedang asik berpikir bahkan tanpa wanita itu sadari.
"Nona?"
Kedua mata Claudia mengerjap dan perlahan membalikkan tubuh. Matanya langsung terkunci pada buku yang disodorkan oleh Aileen.
Setangkai Mawar hitam
Seperti itulah judul buku tersebut, dengan bersampulkan warna hitam dan judul yang ditulis dengan tinta emas. Dengan perlahan Claudia mengambil buku tersebut.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" Tanya Claudia, pasalnya tadi Aileen mengatakan bahwa dia tidak tahu kan?
"Saya bertanya kepada pengurus perpustakaan saat kebetulan tadi dia lewat, Nona." Jawab Aileen yang pastinya berbohong.
Claudia mengangguk saja. Toh, iya sama sekali tidak peduli. Karena yang terpenting sekarang rasa penasaran yang sudah menggunung beberapa hari ini hilang dan bisa membuatnya tidur nyenyak kembali.
Tanpa membuang waktu Claudia bergegas mengambil tempat duduk yang biasa dia gunakan saat sedang mmebaca buku.
Diusapnya terlebih dahulu tulisan yang tertera di sampul dengan gerakan lambat, lalu membuka buku tersebut yang langsung memasuki inti dari buku tersebut. Tidak ada deskripsi buku, kata pengantar, bahkan daftar isi.
*Terdapat sebuah dunia yang diisi oleh makhluk-makhluk yang dianggap manusia sebagai khayalan saja. Dunia Immortal yang diisi makhluk-makhluk mitos yang hidup abadi dan akan mati jika mereka meminta untuk mati.
Dunia itu juga memiliki seseorang yang menjadi tugu teratas. Orang terkuat dari siapapun yang ada di dunia itu, yaitu Demon.
Suatu hari keturunan ke-7 klan Demon turun ke bumi hanya untuk melihat seperti apa bumi yang menjadi tempat tinggal para manusia yang lemah.
Dia turun di sebuah hutan saat bulan sedang berwarna merah pekat layaknya darah. Perlahan ia melangkah guna menyusuri hutan tanpa rasa takut yang justru para binatang yang melihatlah yang takut sehingga tidak berani menampakkan dirinya.
Namun, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Dan matanya langsung tertuju pada padang bunga yang cukup luas sedang disinari oleh sinar merah dari bulan.
"Cantik sekali." gumamnya dan kembali melangkah perlahan untuk semakin dekat dengan bunga tersebut.
"Seperti diriku." gumamnya lagi dan perlahan bibirnya terangkat membuat senyuman yang justru terlihat sangat mengerikan karena terpaan sinar bulan merah juga.
"Aku akan membawamu dan untuk kedepannya, kau akan menjadi tanpa bagi klan Demon dan setiap manusia yang berniat menyimpanmu, maka dia akan pergi ke duniaku untuk menjadi tumbal*."
Claudia menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar kata tumbal. Rasa takut perlahan muncul, tapi meskipun demikian tidak membuat Claudia berhenti membaca buku tersebut.
Namun, sebelum lanjut membaca dia perlu membasuh tenggorakannya yang kering dengan teh yang sudah di sajikan bersama dengan makanan ringan sebagai cemilan.
*Tahun berikutnya wilayah yang semula hutan mulai di huni oleh manusia-manusia lemah, hingga membentuk sebuah perkampungan yang tidak terlalu padat.
Suatu hari, salah seorang penduduk wanita yang sedang mencari sebuah kayu bakar di hutan menemukan ladang bunga mawar hitam dan waktu itu saat penghujung tahun. Karena tertarik ia membawa satu bunga mawar hitam yang dia cabut dengan hati-hati.
Sesampainya di desa, ia memamerkan apa yang ditemukannya pada warga desa yang juga merasa kagum akan bunga tersebut dan berniat mengambilnya juga esok hari.
Namun, dengan sombong wanita itu tidak mau memberitahukan tempat ia menemukan bunga tersebut dan berlalu begitu saja.
Seminggu kemudian tepat di tahun baru. sinar rembulan mendadak berubah menjadi merah darah. Para warga yang baru menyaksikan itu menjadi takut dan enggan untuk keluar rumah, termasuk juga wanita yang membawa bunga mawar hitam itu pulang.
Saat itu ia sedang menyiram tanamannya sambil bersiul riang di depan jendela yang sengaja di buka. Membuat bunga mawar itu diterpa sinar bulan hingga membuatnya tampak mengerikan namun juga indah.
Tidak lama kemudian angin berhembus dengan kencang masuk ke rumah sih wanita. Membuat jendela tersebut tertutup dengan kencang dan minumbulkan suara yang keras. Tentu wanita itu terkejut hingga melangkah mundur.
Sedikit perasaan cemas muncul di dirinya, tapi segera ia tepis dan beranggapan mungkin itu hanya angin karena cuaca yang sedang buruk. Dengan jantung yang tidak kunjung berpacu normal, wanita itu meletakkan wadah yang dia gunakan untuk menyiram bunga di salah satu meja yang terdekat. Lalu kembali mendekat untuk mengunci jendela yang tadi tertutup.
Setelahnya wanita itu berniat untuk tertidur. Namun, saat dia berbalik. Matanya menangkap sosok orang yang memiliki tubuh tinggi yang dibalut jubah hitam.
Ketakutan mulai hadir dan membuat tubuhnya bergetar hebat. Berulang kali juga ia menelan salivanya dengan susah payah, tetapi hal itu tidak membuat mulutnya berhenti untuk bertanya.
"Siapa kau?" tanyanya dengan bibir bergetar.
Perlahan pria yang setia menunduk itu mengangkat kepala, membuat wajah yang begitu mengerikan terlihat ditambah dengan terpaan sinar bulan merah. Seringai perlahan muncul di wajahnya dan tanpa bisa di lihat pergerakannya. Pria itu melangkah maju, larat berlari sembari menjulurkan tangannya. Membuat wanita itu menjerit lalu hilang bersamaan dengan bunga mawar hitam yang hilang*.
Buk!
Claudia menutup kasar buku tersebut dengan napas tidak beraturan layaknya sehabis olahraga. Di letakkannya buku tersebut di atas meja dengan kasar juga, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
lalu Claudia mengambil secangkir teh dan meminumnya hingga tanda.
"Aku bersumpah tidak akan mau menyentuh bunga mawar hitam itu." ucap Claudia dengan tegas. Terlihat jelas di wajahnya bahwa dia sedang ketakutan saat ini.
"Jam berapa sekarang?" gumam Claudia lalu melihat ke sekitar untuk mencari jam.
"Sudah hampir siang. Sebaiknya aku menunggu di kamar saja. Ya, sebaiknya begitu." ucap Claudia lalu berteriak memanggil Aileen untuk mengantarnya kembali ke kamar. Meninggalkan buku yang tadi Claudia baca dan tanpa ia sadar buku itu terbuka dengan sendirinya. Lalu memperlihatkan sebuah halaman yang bertuliskan.
'Kamu adalah mate untuk sang penguasa ke-7'