The Demon Queen

The Demon Queen
Part 1 - Pesan Dari Bulan



Purnama yang terjadi malam ini sangatlah aneh. Di mana bulan tampak berwarna merah pekat dan langit sedikit berkabut dengan tiupan angin dingin menusuk kulit. Suasana mencengkram juga terasa hingga membuat siapa saja yang keluar rumah akan merasa merindung hingga bulu kuduk berdiri.


Meskipun demikian, tampak sama sekali tidak terpengaruh pada keluarga Ramatha yang masih tetap melakukan perayaan untuk ulang tahun serta kelulusan putri bungsu mereka.


Oleh karena itu, sekarang rumah yang paling mewah di kawasan perumahan elit di London itu di penuhi deretan mobil mewah yang merupakan pemilik dari masing-masing tamu yang hadir. Serta di halaman belakang rumah itu, para manusia tampak bercengkrama ria antara satu dengan yang lainnya sambil mendengarkan lantunan musik yang sengaja diputar dari atas panggung yang disediakan.


Claudia Arvelyn Ramatha, sang pemilik acara serta putri satu malam itu juga tampak asik berjalan ke sana ke mari hanya untuk menyapa para tamu yang dia kenal, seperti para sahabatnya, teman masa sekolah, dan juga teman masa kuliah. Lalu setelahnya, gadis dengan rambut berwarna silver itu berhenti di antara para sahabat sohibnya dan bercengkrama bersama.


“Eh, cantik banget putri satu malam kita ini. Rambut silvernya itu berkilau banget karena terpaan bulan yang berwarna merah.” Candaan salah seorang temannya membuat keempat gadis itu tertawa.


“Iya dong. Akukan memang udah cantik dari lahir.” Ucap Claudia sambil mengibaskan rambutnya ke belakang dengan raut wajah bangga semakin membuat yang lainnya tertawa.


“Ck, sombongnya itu loh. Enggak nahan.” Celetuk yang lainnya.


Claudia tertawa. “Hanya bercanda.”


“Santai aja kali, Clau. Kau memang cantik banget hari ini.”


Alis Claudia terangkat satu dan tawanya juga sudah berhenti. “Oh iya, aku kira kalian hanya sekedar membuat lelucon.”


Serentak mereka menggeleng.


“Kau enggak sadar atau memang enggak nyadar?” tanya wanita berambut panjang yang merupakan orang pertama yang tadi melontarkan candaan.


Kedua bahu Claudia terangkat. “Menurut aku sih biasa aja.”


“Ye! Emang kalau orang cantik ini lupa sama kecantikan mereka.”


“Ada-ada aja kau Letta.” ucap Claudia pada gadis berbadan kurus tersebut.


“Tapi bener sih apa yang dibilang Letta. Aku setuju.” Sahut wanita bergaun merah yang sedari tadi lebih memilih diam, menyimak.


“Terserah kalian saja.” Ujar Claudia akhirnya mengalah, lalu matanya menatap sang kakak, Kezia melambai padanya. Memberi isyarat agar ia mendekat. Lantas Claudia beralih kembali menatap para sahabatnya tersebut untuk pamit.


Tidak memperdulikan itu, Claudia segera beranjak pergi sembari sedikit mengangkat rok yang akan menyusahkan jalannya, lantaran gaun yang dia gunakan panjangnya sampai menutupi kedua kakinya walaupun sudah memakai heels 7 cm.


“Ada apa kak?” tanya Claudia begitu ia tiba di hadapan kakaknya yang ternyata juga ada kedua orang tua nya, Brenda dan Adrian.


“Ni, ponselmu. Dari tadi bunyi terus.” Kezia mengulurkan tangannya ke depan.


Pandangan Claudia perlahan menunduk dan memandang ponselnya yanng tampak bergetar dengan layar mati. Aneh, batin Claudia. Karena biasanya jika terdapat pesan masuk atau telepon pasti layar ponselnya tersebut akan menyala dan terlihatlah siapa yang sedang menelpon atau mengirim pesan.


Dengan alis ditekuk, Claudia perlahan mengambil ponsel tersebut kemudian menatap kakaknya. “Seharusnya kau jawab saja jika ada yang menelpon.”


“Ponselmu tidak bisa di hidupkan.” Ujar Kezia dengan acuh seakan itu adalah hal yang biasa.


“Ponselmu rusak, Claudia?” Claudia dan Kezia menoleh pada wanita yang merupakan mama mereka.


“Tidak, mom.” Jawan Claudia.


“Oh, ya sudah. Kau ke dalam saja jika ingin menjawab telepon. Di sini terlalu berisik.” Saran Brenda yang langsung diangguki oleh Claudia.


Setelah berpamitan, Claudia langsung pergi menuju ke dalam rumah, lebih tepatnya menuju dapur bersih yang tempatnya tidak jauh dari pintu masuk taman belakang. Menarik salah satu kursi di meja makan, lantas Claudia langsung duduk dan mulai membuka ponselnya. dalam sekali tekan tombol power, layar ponselnya langsung menyala dan terlihat satu pesan dengan nomor asing masuk ke ponselnya.


Hal itu tentu semakin menambah kebingungan Claudia karena hanya karena satu pesan saja, ponselnya terus bergetar dan bahkan tidak bisa di buka oleh kakaknya. Aneh, benar-benar aneh, pikir Claudia.


Perlahan Claudia mulai membuka pesan tersebut setelah memasukkan kata sandi ponselnya dan setelahnya Claudia berdecak kesal karena isi pesan tersebut adalah sebuah gambar bulan purnama warna merah malam ini. Pasti orang iseng yang mengiriman pesan tersebut.


Setelahnya Claudia lebih memilih memblokir nomor tersebut, lalu meletakkan begitu saja ponsel dalam keadaan layar mati itu di atas meja makan, sedangkan ia berlalu pergi untuk kembali menikmati pesta yang dibuat untuknya tersebut. Namun, tanpa Claudia tahu ponselnya kembali begetar. Kali ini, layar ponselnya menyala dan menampilkan sebuah pesan masuk masih dengan nomor yang sama yang tadi mengirim gambar rembulan kepadanya.


+44….


Selamat ulang tahun, My Queen