
Keesokan paginya barulah Claudia terbangun dari tidurnya karena terusik dengan sinar mentari yang masuk melalui jendela yang tirainya. Claudia mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi jendela dan kembali terlelap. Namun, beberapa saat kemudian matanya spontan terbuka sempurna, tubuhnya juga langsung berubah menjadi duduk.
Kepala Claudia memutar memandangi sekitar dan berhenti pada seorang wanita yang umurnya sekitar beberapa tahun diatasnya. Wanita itu sedang berdiri tidak jauh dari ranjangnya dengan kepala yang menunduk dan tangan yang saling meremas.
“Kau siapa?” tanya Claudia dengan suara parau khas bangun tidur.
“Saya pelayan yang akan menyiapkan Anda bersiap, Nona.” Jawab wanita itu dengan nada lirih.
Claudia menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian ia menyingkirkan selimut yang masih membalut setengah tubuhnya dan turun dari ranjang. Berniat untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena tidak mandi dari semalam sore ia tiba di rumah ini. Mengingat semalam sehabis berbincang singkat dengan pemilik rumah, ia langsung diminta untuk ke kamar beristirahat karena perjalanan yang jauh pasti membuat lelah.
Eh? Tapi sepertinya adalah yang salah di sini. Bukannya…? Ah, yasudahlah. Tidak perlu lagi membahasnya.
“Biar saya siapkan air mandi, Nona.” Seru wanita yang masih tidak Claudia ketahui namanya itu. Membuat Claudia yang hendak berdiri jadi terhenti. Kepalanya terangkat memandang wanita itu, lalu mengangguk setuju.
Wanita itu langsung pergi begitu mendapatkan persetujuan Claudia dan tidak lama kemudian kembali untuk melaporka bahwa tugasnya sudah selesai. Claudia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum terlebih dahulu, lalu berlalu pergi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Claudia keluar kamar mandi hanya dengan membalut tubuh sempurnanya dengan kimono dan rambut panjangnya yang basah dibiarkan saja hingga air menetes mengenai lantai.
“Sekarang saya akan membantu Anda untuk bersiap, Nona.”
Kepala Claudia yang semulai menunduk, terangkat. Memandang wanita yang ternyata masih berada di kamarnya. “Ah, tidak perlu. Aku bisa melakukanya sendiri.”
Wanita itu diam, namun tidak dengan tubuhnya yang bergerak mengambil sebuah gaun yang ternyata sudah berada di atas kasur beserta korset dan pakaian dalam.
Langkah Claudia terhenti di ujung ranjang, keningnya berkerut dan matanya menatap dalam gaun yang diambil oleh wanita pelayan itu. Sebenarnya tidak ada yang aneh pada gaun itu, justru gaun itu terkesan mewah. Tapi, kenapa ia diberikan gaun yang cocok digunakan untuk pesta?
“Haruskah aku memakai gaun itu?” mata Claudia menatap pelayan itu dalam.
Pelayan itu langsung menunduk dan mengangguk. “Benar, Nona. Tuan yang memintanya.”
Mendengar kata tuan, mau tidak mau akhirnya Claudia mengangguk dan mulai mengenakan pakaiannya dengan dibantu oleh pelayan itu karena ternyata akan sulit memakai gaun tersebut. selesai memakai gaun, Claudia diminta untuk duduk di meja ria. Pelayan tadi mulai mengeringkan rambutnya terlebih dahulu, lalu menghiasnya sedemikian rupa dengan sentuhan mahkota di akhirnya. Kemudian wanita itu menghias wajahnya dengan natural dan sentuhan terakhir memasangkan perhiasan ditubuh.
Seperti seorang Ratu yang disegani dan dihormati seluruh orang. itulah yang Claudia pikirkan saat pelayan tersebut selesai dengan tugasnya. Tidak ada lagi seorang Claudia yang manis dan polos. Yang ada hanya seorang Claudia yang penuh ketegasan. Dan entah kenapa, Claudia justru merasa senang akan hal itu. Seakan ada sesuatu yang membuat dirinya lengkap.
“Mari, Nona. Tuan sudah menunggu.”
Claudia meenatap wanita itu lewat kaca sekila kemudian mengangguk dan berdiri dari duduknya. Sebelum melangkah keluar, pelayan itu menyerahkan sepasang sepatu heels yang tanpa kata Claudia gunakan. Lalu pelayan itu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Claudia dengan langkah yang anggun tanpa dibuat-buat. Jujur sikapnya ini sedikit membuatnya bingung, karena tidak pernah dia berjalan seanggun ini. Tapi segera ia tepis karena mungkin ia lakukan itu lantaran ini bukanlah dirumahnya. Ya, mungkin saja begitu.
Melewati beberapa lorong serta menuruni anak tangga. Akhirnya Claudia tiba di ruang makan. Segera penjaga membukakan pintu kayu yang menjulang tinggi itu dan terlihatnya sebuah meja makan yang dapat menampung puluhan orang. Kembali Claudia melangkah masuk dengan pandangan yang fokus ke depan serta dagu yang terangkat. Dapat ia lihat di ujung meja terdapat seorang pria yang tidak lain adalah sang pemilik rumah, Albert yang juga sedang meatapnya hingga pandangan mereka terkunci.
Claudia menghentikan langkahnya saat jaraknya dengan Albert hanya tinggal beberapa centi saja. Seseorang lantas menarik kursi bagian kanan Albert dan berlalu pergi tanpa kata.
“Duduklah.” Ucap Albert sambil memutus kontak mata mereka.
Mendadak Claudia menjadi canggung setelahnya dan perlahan duduk di kursi yang sudah ditarikkan untuknya itu. Begitu dia duduk, para pelayan datang mengantarkan sarapan mereka yang diawali dengan hidangan pembuka serta minumannya.
Keduanya tampak fokus memakan-makanannya hingga hidangan terakhir disajikan baruslah Albert membuka mulutnya untuk berbicara.
“Claudia.”
Kepala Claudia yang semula menunduk memandang makanannya perlahan terangkat memandang Albert. “Ya?”
“Aku memiliki peraturan di rumah ini yang harus kau laksanakan,” kepala Albert menoleh menatap Claudia. “Kau hanya tidak boleh keluar dari pagar pembatas apapun alasannya tanpa seizin dariku.”
Alis Claudia terangkat satu. “Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?”
“Kau tidak akan bekerja.”
Seketika bunyi peraduan sendok dengan piring kaca terdengar memenuhi ruangan yang sunyi itu. Pastinya pelaku dari hal itu adalah Claudia yang tidak terima dengan apa yang Albert katakan. Dia tinggal di rumah ini karena tidak ingin keluar dari pekerjaannya yang bahkan belum dimulai itu. Tapi malah pria itu dengan tenang mengatakan ia tidak akan bekerja. Dia pikir, dia itu siapa?!
“Tidak---!”
“Aku tidak menerima bantahan!” tegas Albert dengan penuh penekanan dan mata yang menyorot tajam setelahnya langsung pergi begitu saja.
“Mari, Nona. Saya antar.”
Claudia mengangguk saja tanpa melihat siapa yang berbicara itu. Toh, itu juga tidak hapal jalan menuju kamarnya, jadi tidak membatah apa yang dikatakan pelayan itu adalah hal yang harus dia lakukan. Setidaknya sampai dia hapal akan jalan di rumah yang bak istana ini, barulah ia bisa berjalan tanpa dipandu gini.
“Kau bisa meninggalkanku.” Perintah Claudia begitu mereka tiba di kamarnya.
“Baik, Nona.” Ucapnya dan langsung pergi.
Sementara Claudia langsung masuk ke kamarnya, tidak lupa pula menguncinya agar tidak ada yang masuk. Setelahnya dia mencari ponselnya yang berada di dalam tas ke sepenjuru ruangan. Namun, beberapa menit kemudian tas yang dia bawa semalam dari rumah tak kunjung ketemu. Selain itu, koper yang dia bawa juga tidak ada di kamarnya.
“Ke mana dia meletakkan barang-barangku?” gumam Claudia yang bingung sendiri juga sedikit lelah karena harus berjalan ke sana dan ke mari dengan menggunakan heels dan juga gaun yang mengembang.
“Apa aku tanyakan saja padanya? Tapi bagaimana jika dia justru memarahiku.”
Wajah Claudia berubah menjadi murung saat memikirkan kemungkinan yang terjadi. Helaan napas kasar ia lakukan dan merebahkan tubuhnya begitu saja di atas kasur tanpa memperdulikan keadaan rambutnya yang tertata rapi akan menjadi berantakan.
“Kalau begini terus aku akan mati kebosanan.” Getutunya yang diakhiri dengan helaan napas kembali.
“Apa yang kau lakukan?”
“ASTAGA!” pekik Claudia dan spontan mengubah posisinya menjadi duduk saat suara Albert terdengar.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Albert kembali sembari berjalan untuk lebih masuk ke dalam kamar Claudia.
Claudia menggeleng cepat dan matanya curi-curi pandang pada pintu yang sudah tertutup rapat kembali.
“Aku menggunakan kunci cadangan.” Ucap Albert seakan mengerti apa yang sedang Claudia pikirkan saat ini.
“Oh.” Lirih Claudia dengan kepala yang perlahan menunduk saat Albert berhenti tepat di hadapannya.
Spontan otaknya memutar kembali kejadian di meja makan tadi, membuat tubuhnya refleks merinding dan meringkuk dalam sebagai bentuk pertahan diri karena takut akan kemarahan Albert.
Tentu saja hal itu dalam dilihat oleh Albert yang matanya tidak pernah lepas dari Claudia sejak tadi ia masuk ke dalam kamar itu meski tanpa kunci cadangan. Ya, Albert berbohong akan kunci cadangan itu karena saat ini mereka sudah tidak lagi berada di bumi, tapi di dunianya, dunia Wonderland.
“Kau takut padaku?” tanya Albert dengan nada dan sorot mata yang lembut. Bahkan sekarang kedua bibirnya sudah tersenyum. Senyum yang hanya akan ditampilkan untuk Queen-nya, Claudia.
“Tidak.” Bantas Claudia cepat dan kembali menegakkan tubuhnya, tapi tidak dengan sorot mata yang lebih memilih memandangi ubin lantai.
“Kalau gitu, tatap mataku.” Perintah Albert dengan penuh penekanan seakan tidak ingin dibantah.
Kembali tubuh Claudia mengkeret ketakutan dan keringat dingin mulai keluar memasahi tubuhnya. Claudia juga duduk dengan gelisah dan sesekali mencuri pandang pada Albert yang senantiasa memandangnya dengan senyuman lembut menenangkan, tapi tetap saja masih membuat Claudia takut.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang begitu lepas, membuat Claudia terdiam sejenak dan perlahan memandang Albert-sang pelaku yang tertawa keras itu.
“A-apa? Kenapa k-kau tertawa?” tanya Claudia terbata.
Albert hanya menggeleng. Pria yang memiliki surai yang sama dengan Claudia itu bergerak dan duduk tepat di sebelah Claudi. Masih dengan sisa tawanya, tangan Albert terangkat guna mengusap butiran keringan di wajah Claudia dengan tangan kosong tanpa rasa jijik sedikitpun.
Mendapat perlakuan demikian tentu membuat Claudia terkejun hingga tubuhnya membatu dengan mata yang fokus pada Albert yang sekarang sudah berhenti tertawa, menyisahkan senyum lembut kembali.
“Aku tidak akan pernah menyakitimu, bahkan jika aku dalam keadaan marah sekalipun.” Ucap Albert masih dengan kegiatannya mengusap wajah Claudia.
Claudia tidak menyahut. Dia terus memandang Albert yang entah kenapa membuat perasaan aneh kembali muncul dalam dirinya. Perasaan yang sulit dia katakan seperti apa itu, tapi menimbulkan sesak di dadanya sekarang dan membuat matanya memanas, ingin menangis.
“Ada apa, huh?” tanya pria bermata coklat itu dengan lembut saat sadar raut wajah Claudia berubah menjadi sendu dan mata yang berkaca-kaca.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa kita memiliki sesuatu yang kuat. Membuat dadaku sesak hanya karena memandang langsung matamu. Apa kau tahu apa yang aku rasakan?”
Albert terdiam akan perkataan Claudia yang tidak pernah dia pikirkan akan terucap begitu bahkan disaat pertemuan mereka yang baru dua hari. Senyumnya juga perlahan pudar dengan sorot mata yang terkunci pada Claudia. Sampai sini, Albert bertanya. Apakah sekuat itu perasaan mereka?