The Demon Queen

The Demon Queen
Part 5 - Taman Mawar Hitam



Claudia menampilkan wajah cemberut sepanjang ia menyantap sarapannya pagi ini. Bahkan sarapan yang disajikan hanya dimakan sedikit dan setelahnya ia pergi menuju ke perpustakaan yang menjadi tempat favoritnya sejak sebulan belakangan ini.


Bukan tanpa sebab Claudia menampilkan wajah cemberut dan berulang kali menghembuskan napas kasar. Melainkan semua ini karena Albert.


Ya, sang pemilik rumah yang mendadak hilang sejak pertemuan mereka terakhir. Pada hal Claudia hanya bertanya mengenai apa yang dia rasakan saja. Tidak bermaksud lain, jikapun tidak ingin menjawab. Ya sudah. Tidak perlu menghilang seperti ini.


Huft, Claudia jadi kesal saat memikirkan kejadian itu lagi.


Dengan kasar ia menutup buku yang sedang dia baca dan meletakkannya di atas meja. Tubuhnya bersandar pada sofa, serta kedua tangan yang terlipat di dada.


Aileen, sang pelayan yang selama ini beeada di sisinya sejak pertama kali ia tinggi di rumah bak istana ini. Hanya bisa terseyum simpul akan tingkah Claudia yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


Sekuat tenaga ia menahan bibirnya agar tidak terbuka atau membuat lengkungan yang mungkin akan menambah kekesalan Claudia. Dia juga tidak berniat bertanya, karena ia sudah tahu penyebab kekesalan Claudia saat ini.


"Aileen. Haruskah aku bangun lebih pagi lagi besok?" Tiba-tiba Claudia bertanya dengan mata yang terkunci dengan Aileen.


Aileen berdehem. "Terserah Anda, Nona."


Kepala Claudia kembali bergerak, matanha tidak lagi memandang Aileen, dan bibirnya mencebik. Merasa tidak puas akan jawaban Aileen.


"Aku penasaran. Apakah dia benar-benar sibuk atau justru menghindariku?" Tanya Claudia yang ditujukan kepada dirinya.


"Apakah Anda merasa bosan, Nona?" Tanya Aileen akhirnya. Sedikit basa-basi untuk mengurangi kekesalan Claudia.


Claudia mengangguk tanpa melihat Aileen. "Tentu saja. Andaikan dia tidak memerintahkanku untuk tidak bekerja. Mungkin aku tidak akan merasa sebosan ini. Hingga rasanya aku mau mati karena bosan."


Pelan Aileen tertawa akan jawaban Claudia yang terdengar sangat berlebihan. Mana ada orang akan mati karena bosan.


"Kalau gitu, sebaiknya Anda mengisi perut Anda dulu sekarang," ucap Aileen begitu tawanya mereda. "Sudah waktunya makan siang."


Claudia melepaskan kedua tangannya yang terlipat, lalu menghela napas kasar sebelum berdiri untuk pergi menuju ruang makan.


Jika dipikir-pikir, lama lama berat badannya akan bertambah dan dia mungkin akan berubah menjadi sapi gemuk yang siap di sembelih. Bagaimana tidak? Selama tinggai di sini, kegiatan yang dia lakukan hanya makan, tidur, mandi, dan membaca buku.


Eh, tunggu! Jangan bilang jika hal itu bisa saja terjadi?


Seketika Claudia menghentikan langkahnya dan tubuhnya merinding akan pemikirannya sendiri yang sudah kelewatan.


"Ada apa, Nona?"


Claudia tersentak. "Ah, tidak."


Aileen mengangguk saja dan kembali mereka melanjutkan perjalanan menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan. Claudia duduk di tempat yang biasa dia duduki selama tinggal di rumah ini. Para pelayan langsung meletakkan beberapa makanan yang menjadi menu makan siangnya kali ini.


Mengucapkan terima kasih lebih dulu, Claudia perlahan mulai memakan makanannya dalam diam karena hanya ada dia sendiri di meja makan yang luas dan panjang ini.


Para pelayan termasuk Aileen senantiasa berdiri di belakang tubuhnya dengan kepala menunduk dan mulut terkunci rapat.


Dan begitu Claudia selesai makan, mereka semua bergerak mengangkat piring yang menjadi bekas Claudia makan untuk dibawa ke dapur. Sementara Claudia mungkin harus kembali ke perpustakaan, dari pada melamun di kamarnya. Bisa-bisa mati dia melamun terus, seperti ayamnya Letta.


Ah, sahabatnya itu. Claudia jadi merindukannya. Juga Kezia, ibu dan ayahnya.


"Aileen." panggil Claudia begitu ia duduk di sofa yang tadi sempat ia tinggalkan sebentar.


"Iya, Nona?"


Aileen menggeleng. "Kami pelayan dilarang menggunakan ponsel, Nona."


Claudia menoleh dan alisnya terangkat. "Kenapa?"


"Saya tidak tahu, Nona."


Claudia terdiam sejenak. "Lalu, apakah kau tahu ponselku? Ponselku berada di tas yang aku bawa saat pertama kali datang ke sini."


Lagi, Aileen menggeleng. "Barang-Barang Anda berada di tangan Tuan, Nona."


Seketika wajah Claudia ditekuk. bibirnya bergerak memaki Albert tanpa suara, sementara tangannya meraih buku yabg dia letakkan di meja kayu dengan ukuran rumit di depannya dan membuka halaman terakhir dia baca.


Dan suasana mendadak menjadi sunyi karena tidak adanya yang berbicara, lantaran Claudia sudah fokus dalam membacanya.


Hingga beberapa waktu kemudian, Claudia berhasil menyelesaikan bacaannya. Membuat daftar buku yang sudah selesai dia baca menjadi bertambah.


Diletakkannya buku tersebut di atas meja. Lalu kedua tangannya terentang keatas guna melenturkan otot-ototnya yang kaku karena duduk terlalu lama.


"Jam berapa sekarang?" tanya Claudia tanpa menatap lawan bicaranya.


"Sudah jam lima, Nona."


Claudia mengangguk, kemudian berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya untuk mandi. Karena sekarang tubuhnya terasa sangat lelah akibat duduk terlalu lama. Mungkin jika berendam air hangat dengan campuran aroma Lavender bisa menghilangkan rasa lelahnya.


Memikirkannya saja, sudah membuat semangat Claudia kembali dan jalannya menjadi lebih cepat karena tidak sabar untuk mencobanya.


Namun, saat ia berbelok menuju tangga. Matanya menatap sebuah taman yang ditumbuhi oleh tanaman berwarna hitam.


Sontak Claudia menghentikan langkah kakinya dan matanya menyipit guna melihat lebih jelas bahwa apa yang dia lihat tidaklah salah.


"Ada apa, Nona?"


Claudia menoleh sekilas pada Aileen, lalu kembali lagi menatap taman bunga hitam tersebut dan tangannya menunjuk ke arah itu.


"Kenapa aku baru melihat ada taman seperti itu di sini?" Tanya Claudia.


Aileen terdiam sejenak. "Itu taman mawar hitam, Nona."


Tangan Claudia perlahan turun dan kepalanya menoleh menatap Aileen yang menunduk. "Mawar hitam? Apakah ada jenis mawar itu?"


"Ada Nona. Mawar hitam hanya akan tumbuh di waktu tertentu." Jawab Aileen.


"Kapan waktunya?" tanya Claudia lagi. Dia hanya masih penasaran. Kenapa ada taman seperti itu di sini. Terlebih lagi sejak sebulan ia melewati lorong ini, dia tidak pernah melihat adanya taman seperti itu.


"Sebaiknya kita segera kembali, Nona. Karena hari akan semakin malam."


Claudia diam. Ia sadar betul akan apa yang Aileen katakan. Ternyata wanita itu tidak ingin menjawab lebih lanjut persoalan bunga mawar hitam itu yang membuat rasa penasaran Claudia semakin bertambah saja.


Namun, Claudia tidak berniat untuk bertanya kembali. Karena ini bukanlah tempatnya. Mungkin, memang sedikit aneh. Tapi ini bukanlah wewenangnya.


"Baiklah." Jawab Claudia pasrah dan perlahan melangkahkan kakinya kembali. Meninggalkan persoalan taman mawar hitam yang sangat menarik perhatian Claudia. Mungkin karena ia tidak pernah melihat bunga tersebut. Ya, mungkin saja begitu.


"Mari, Nona." ucap Aileen dengan nada riangnya yang kembali. Semakin membuat Claudia berpikir jika pembahasan mereka soal taman mawar hitam itu adalah pembahasan yang sangat sensitif.