The Demon Queen

The Demon Queen
Prolog



Kekacauan kembali terjadi di dunia yang harusnya damai. Kali ini pemberontakan yang dilakukan oleh mahluk immortal di dunia Wonderland benar-benar sudah diluar batas.


Mereka dengan berani melakukan penyerangan secara terang-terangan pada sang Lord yang pada saat ini kekuatannya sedang melemah lantaran kejadian beberapa hari silang, di mana ia sedang menyelamatkan istrinya, yaitu sang Queen dunia itu.


Pada hal sebelumnya kabar akan kelemahannya kekuatan sang penguasa itu sudah di tutup rapat-rapat agar tidak keluar istana, tapi tetap saja bau akan tercium serapat apapun kita menyembunyikannya.


Oleh karena itu, seluruh penghuni istana merasa panik dan dengan kekuatan mereka mencoba untuk menghalau para mahluk immortal itu untuk memasuki istana, meskipun memang tidak akan mudah lantaran kerajaan Northern memiliki sebuah pelindung yang dari turun temurun selalu ada dan akan bertambah kuat setiap pergantian pemimpin.


Tapi tetap saja suara yang ditimbulkan karena serangan para mahluk kurang ajar itu sangatlah keras, walaupun tidak ada seinci pun yang mengalami kerusakan.


“My Lord!”


Seruan yang tercekat itu berhasil membuat sepasang mata yang semula tertutup rapat terbuka. Tubuh sang pemilik mata yang berwarna coklat itu perlahan bangkit dari tidurnya karena takut akan membangunkan wanita tercintanya yang sedang tertidur pulas sambil memeluk dirinya.


“Ada apa?” tanya pria itu dengan suara berat, datar, serta dinginnya. Ia juga tidak melihat lawan bicaranya sama sekali dan sibuk memandang wajah sang istri sembari mengusap lembut surainya.


“Para clan—.”


“BEDEBAH!” teriak pria itu tiba-tiba saat suara keras akibat serangan kembali terdengar. Tubuh pria itu lantas berputar kasar, memandang tajam seorang pria yang sedang berlutut tidak jauh dari ranjang yang saat ini dia duduki.


Akibat teriakan serta gerakan yang terlalu mendadak, berhasil membangunkan sang istri dan pandangan matanya langsung melihat suaminya yang sudah terbakar oleh amarah, lalu pandangannya beralih pada pria yang masih setia berlutut di lantai tersebut. Ada apa ini?


“Sayang.” Ujar sang wanita begitu melihat suaminya yang akan turun dari ranjang. Dia butuh sebuah penjelasan sekarang karena rasa bingung membuat kepalanya penuh akan pertanyaan.


Pria yang sekarang bola matanya berubah menjadi merah pekat itu perlahan memutar tubuhnya menjadi menghadap sang istri. Salah satu tangan terangkat untuk mengusap pipi milik wanita itu dan bibirnya sedikit mengulas senyum lembut.


“Tidurlah lagi. Aku memiliki urusan yang mendesak.”


Wanita itu menggeleng dan memegang tangan suaminya yang masih berada di pipinya. “Katakan ada apa. Kenapa terus-terusan terdengar suara yang sangat keras.”


“Tidak ada apa-apa. Hanya masalah kecil.” jelasnya dengan suara halus.


Wanita itu kembali menggeleng lalu beralih menatap pria yang masih berlutut di bawah sana. “Mike, katakan padaku. Ada apa?”


“Sayang.” Seru suaminya dan langsung menangkup wajah wanita itu agar tatapan istrinya kembali lagi padanya. “Kamu tidur ya. Aku akan segera kembali.”


Bagai terkena hipnotis oleh tatapan dari bola mata merah pekat itu. Wanita yang tadinya kekeh untuk bertanya dengan mudah mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Perlahan, pria itu menidurkan sang istri kembali di atas kasur, bersamaan dengan bola mata wanita itu tertutup perlahan.


Sampai pada saat sang wanita benar-benar sudah berbaring, suaminya mencium cukup lama kepala sang istri dan hal itu juga bersamaan dengan kesadaran wanita itu yang perlahan memudar dan seakan tertarik ke dalam sebuah lubang hitam, terakhir hanya gumaman lirih dari pria yang paling dicintainya itu saja yang ia dengar sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


“I Love You.”