
Waktu tengah malam, tiba-tiba saja Claudia tersentak bangun dari tidurnya yang baru tiga puluh menit berlangsung. Awalnya, Claudia berniat untuk melanjutkan tidurnya kembali, namun entah kenapa rasa kantuk dan lelah yang tadi menderainya seketika hilang tidak tersisa dan hal aneh lainnya tubuh Claudia seakan memiliki kontrol sendiri seperti saat ini.
Claudia mengubah posisinya menjadi duduk dan perlahan turun dari ranjang. Kedua kakinya berjalan dengan perlahan menuju balkon kamarnya yang seingat Claudia gordennya tadi sudah di tutup, tapi sekarang malah terbuka.
Masih dengan rasa penasaran yang melandanya, Claudia membuka pintu balkon kamarnya dan berhenti di pagar pembatas. Kepala Claudia terangkat dan matanya langsung tertuju pada bulan yang masih berwarna merah pekat.
“Seperti darah.” Gumam Claudia tanpa sadar.
Lalu tiba-tiba saja angin kencang nan dingin Claudia rasakan dan perasaan seperti ada yang memeluknya membuat Claudia tersentak, reflek memutar tubuh ke belakang. Namun tidak ada siapapun di belakangnya, kosong. Berusaha mengabaikan hal itu, Claudia kembali memandang bulan itu dalam diam.
“Sudah waktunya kamu kembali, Queen.”
Sontak Claudia kembali membalikkan tubuh dan napasnya memburu saat dengan jelas telinganya mendengar suara bisikan yang lirih tapi suara itu terdengar berat, seakan seorang pria yang baru saja berbisik tepat di telinganya.
Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Claudia mengedarkan pandangannya ke sekeliling memastikan jikalau memang ada orang di dekatnya yang menjadi pelaku bisik-bisikan tersebut.
“Kembali pada suamimu.”
Seketika Claudia berlari menuju pintu saat lagi-lagi bisikan itu terdengar, kemudian menaiki ranjang dengan kasar dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Kedua bola matanya terpejam kuat dengan tubuh yang masih bergetar, bahkan saat ini Claudia benar-benar sudah lupa untuk menutup pintu balkon kamarnya.
Tapi sepertinya itu sama sekali tidak di perlukan, karena perlahan pintu kaca tersebut tertutup hingga menimbulkan bunyi samar yang berhasil membuat tubuh Claudia tersentak. Lalu, terdengar juga suara pintu yang terkunci.
Dan sekarang, seakan menjadi puncak dari segalanya. Di mana, saat ini seperti ada seseorang yang sedang menaiki kasur Claudia. Tentu saja hal itu menambah rasa takut Claudia yang semakin mempererat remasan ny pada selimut serta menutup matanya rapat-rapat.
Bibir mungil merah merona nya tampak pucat sekarang dan bergetar sambil mengucapkan deretan kata tanpa suara. Hingga tiba-tiba saja tubuh Claudia dipeluk oleh sesuatu dan saat wanita itu ingin berteriak, mulutnya dibekap oleh sesuatu yang tidak terlihat, sehingga suara Claudia tertahan sempurna.
“Tidurlah dengan damai, karena besok kita akan bertemu.”
Bisik suara itu lagi dan ditambah dengan ciuman yang jujur Claudia tidak tahu siapa yang berbuat karena kedua bola matanya tidak berani terbuka. Tapi aneh, kalimat yang terakhir itu, perlahan membuat tubuh Claudia menjadi rileks dan berakhir dengan tertidur dengan tenang seakan tidak pernah mengalami hal yang mengerikan.
“*Aku mencintaimu, My Queen.”
********
Ekhem, aku kembali di lapak yang berbeda nih 😂. Gimana? Gimana? untuk cerita yang baru ini seru tidak kalau dibandingkan cerita sebelumnya di wattppad?
Jika seru. jangan lupa like dan komen yahhh... komen yang banyak, biar aku semangat menulis jadi bakal up terus sampai Ending. Oke guys? 😂
Aku cabut dulu kalau begitu. Bye bye guys 🤗 happy reading di part selanjutnya.