
Jinra memejamkan mata nya.
Akupun tersenyum nakal melihat Jinra yang mulai memejamkan mata nya.
Jinra nampak kaku dan kesusahan untuk menelan salivanya, terlihat dari jakun nya
yang bergerak. Walaupun kuakui aku juga sedikit gugup tapi aku memberanikan diri. Bibir ku mulai menyentuh bibirnya kemudian aku mencium lembut bibir merah mungil miliknya.
Jinra hanya diam kaku bagai patung tak merespon ciumanku.
Akupun berpikir apa dia
belum pernah ciuman sebelumnya?, atau dia saat ini sangat gugup atau malu makannya tak merespon.
Serasa tidak mungkin kalo belum pernah sekalipun
berciuman.
Aahh terserahlah, aku sudah terlanjur memulainya. Awalnya aku hanya melakukan ciuman yang lembut,
tapi kemudian ciuman itu berubah menjadi kecupan yang agresif. Aku ******* bibir nya dengan sedikit liar.
Jinra kelihatan sulit untuk mengambil napas, dugaan Meysa sama sekali tidak salah, yah bisa dikatakan
ini adalah ciuman pertama Jinra didalam hidupnya.
Jadi memang sangat wajar kalau dia tidak memiliki pengalaman apapun dalam berciuman dan hanya bisa terdiam ketika Meysa menciumnya.
Jinra pun yang merasa kesulitan mengambil napas, dan mendorong tubuh Meysa.
Aku merasa terkejut ketika Jinra mendorong tubuhku
dan mundur selangkah. Aku benar-benar merasa malu. Apa dia nggak nyaman sama aku.
“M..Maa.aff, aku dorong kamu.
Sambil menarik napas.”
“Mmm. . . (jangan bilang
dugaan aku benar), kamu baru pernah ciuman?”
Jinra ragu-ragu mengatakannya.
Tapi dia mengiyakan bahwa dia memang belum pernah berciuman sebelumnya dan mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melakukan ciuman.
Meysa pun terlihat malu mendengar pengakuan Jinra. dalam hatinya ada kesenangan sendiri karena dia
adalah first kiss Jinra pria yang sudah mencuri
hatinya hanya dalam sekejap.
“Mey. . aku nggak mau melewatkan momen ini,
aku rasa aku bakal menyesal kalo melewatkan momen ini. Aku mau bilang sesuatu ke kamu.”
Suara Jinra memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Ini saat yang tepat, kamu ingat pertama kita ketemu di Kuba, Aku pikir setelah pulang dari sana kita nggak bakal ketemu lagi.
Tapi takdir berkata lain kita ketemu lagi. Dan aku
merasa yakin kalo memang kita sudah ditakdirkan buat sama-sama.” Memegang tangan Meysa.
“Untuk pertama kalinya aku bilang ini dalam hidup aku. Aku suka kamu Meysa, kamu mau jadi pacar aku?”
Meysa membulatkan matanya seakan tak percaya apa yang barusan dia dengar, ini pengakuan cinta dari Jinra.
Bukan salah dengar pikir Meysa. Kemudian dia menarik napas secara perlahan-lahan dan menjawab ungkapan cinta dari Jinra.
“Kamu yakin suka sama aku Ra?” Kata Meysa bertanya.
“Aku nggak mau nantinya kamu kecewa dan terluka.
Aku punya masa lalu yang buruk dan nggak sesempurna yang kamu pikir. Ada baiknya kamu pikir-pikir lagi keputusan kamu buat jadi pacar aku.”
“Aku nggak peduli kamu dulu gimana, masa lalu kamu nggak penting dan aku nggak mau tau. Itu udah
berlalu Mey. Yang penting itu masa yang sekarang.” Ucap Jinra dengan tegas.
“Aku memang nggak punya pengalaman apa-apa dalam percintaan Mey, tapi perasaan aku sama kamu aku tau
itu nyata dan bukan dibuat-buat.
Aku suka sama kamu dan itu tulus.”
“Kamu benar-benar yakin Ra?” Jujur sebenarnya pun aku suka sama kamu. Tapi aku takut kamu bakal kecewa sama aku. Tapi setelah dengar apa yang kamu bilang aku mulai yakin sekarang.
“Jadi?” Tanya Jinra.
“Ya, aku mau jadi pacar
kamu.” ucap Meysa sambil tersenyum
...................
Author ucapkan maaf kalo disetiap pengetikan banyak yang berantakan font nya nggak rapi, padahal udah di edit serapi mungkin tapi tetap aja balik berantakan. Bingung kalo udah gini.
Maaf ya semua untuk sementara aku nggak bisa update dulu, dikarenakan masih dalam proses pembuatan episode lainnya, nanti kalo misalkan udah banyak selesai pembuatannya aku bakalan upload sekalian. Mohon pengertiannya. Terima Kasih.