
Aku memandang wanita yang berada di samping Jinra, siapa?.
Sepertinya aku belum pernah melihat sebelumnya.
Apa jangan-jangan... ahh tidak – tidak, jangan berpikiran seperti itu Jini.
Tidak mungkin wanita itu pacarnya kan. Aku tidak boleh berpikiran yang aneh – aneh.
“Ah Jini, kenalin ini pacar aku Meysa.” Kata Jinra
Deg... Hati Jini terasa seperti di tusuk benda tajam. Sakit itu sudah pasti.
Meysa mengulurkan tangan dan mengenalkan dirinya dirinya pada Jini.
“Perkenalkan namaku Meysa.” Kata Meysa sembari menjabat tangan Jini.
“A...Ah ii..ya, nama aku Jini.”
Ucap Jini sambil tersenyum.
Setelah selesai berkenalan dan sedikit berbasa-basi dengan Meysa dan Jinra.
Jini pamit undur diri dengan beralasan harus segera pulang. Padahal dia hanya tidak sanggup
melihat Jinra bersama wanita lain.
Jini menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang,
tatapan matanya tersirat luka yang dalam.
Terlihat dari kejauhan Jinra yang menggandeng Meysa. Kenapa bisa sesakit ini?.
Air matanya yang sudah dia tahan dari tadi akhirnya tak dapat dia tahan lagi, Jini
menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Hikkss...Hikss... Kenapa bisa sesakit ini. Dulu kamu nggak pernah seperti itu waktu sama aku,
kenapa sekarang aku harus lihat kamu seperti itu dengan wanita lain? Apa kurangnya aku.”
.......................................................................................
Di tempat lain, setelah mengantarkan Meysa pulang Jinra berpamitan untuk pulang juga.
Jinra mencium kening Meysa dan memeluknya.
Mereka memang pasangan yang sangat romantis.
“Aku pulang dulu ya,
nanti aku balik kesini lagi.” Ucap Jinra pada kekasihnya.
“Iya, hati – hati ya. Kabarin kalo sudah sampai rumah.
Jangan sampai telat datangnya nanti aku ngambek.”
Kata Meysa sambil memanyunkan bibirnya.
“Siap sayangku.... tenang
aja aku bakal datang tepat waktu.”
Sambil menarik bibir manyun Meysa.
“Bye...” Sambil melambaikan tangannya pada Meysa.
.....................................................................................
Ibu Jinra terlihat sedang berbincang – bincang dengan seorang gadis yang tak lain itu adalah Jini.
mendapatkan Jinra kembali. Jini sudah bertekad, cara apapun akan ia lakukan agar dia dan Jinra
bisa kembali bersama. Dia tau orang tua Jinra sangat mendukung hubungan mereka, oleh sebab
itu dia ingin menggunakan cara itu.
Jini melihat Jinra masuk
kedalam rumah dan diapun langsung menyapanya.
“Haii.. Ra.” Kata Jini sambil
tersenyum.
Jinra menoleh ke arah Jini dan balas menyapa, namun
setelah itu Jinra berlalu pergi masuk ke kamarnya tanpa memperdulikannya lagi.
Tak lupa Jinra mengabari
Meysa kalau dia sudah sampai di rumah. Setelah itu dia segera bersiap – siap. Terlihat
Jinra yang baru habis mandi sibuk memilih pakaian mana yang akan dipakainya
untuk menemui Meysa.
“Okee.. Ini bagus.”
Jinra pun keluar dari kamarnya
dan bersiap untuk pergi. Ketika Jinra melewati ruang tamu dia di tanya oleh Ibunya.
“Kamu mau keman nak?” Ibu
Jinra bertanya.
“Aku mau pergi bu, ada acara sama teman.” Jinra terpaksa tidak mengatakan kebenaranya
karena dia yakin pasti Ibunya akan marah kalau dia pergi menemui Meysa.
Nampak raut wajah Jini begitu sedih tapi dia berusaha menutupinya dengan senyuman,
dia yakin pasti Jinra akan bertemu dengan wanita itu kembali. Harapannya seakan pupus ketika
melihat kenyataan bahwa Jinra mencintai wanita itu, yaitu Meysa.
“Lahh.. kok mau pergi
aja, ini Jini dari tadi nungguin kamu. Masa kamunya pergi nak.” Kata Ibu Jinra
“Ahh.. Nggak papa Bu,
lagian Jini mau pulang juga kok.” Sembari tersenyum Jini berpamitan ingin
pulang.
“Yaudah kalo gitu biar Jinra
yang antar, kamu antar Jini pulang ya nak kasihan dia pulang sendiri.” Ucap Ibu
Jinra.
Jinra pun mengantar Jini untuk pulang.
Maaf ya kalo ada kesalahan dalam pengetikan atau apapun itu, silahkan kasih kritik dan saran kalian dikolom komentar dengan bahasa yang halus dan sopan.
Jangan lupa Vote, Like, klik tombol favorite dan coment kalau kalian suka. Dan buat yang nggak suka silahkan skip aja nggak usah dibaca. Thank U All. LOve U