
Sesuai janjinya Jinra menemani Jini untuk pergi. Senyum merekah terlihat dibibirnya, tidak disadari oleh Jinra
bahwa mantan kekasihnya memandangnya dengan tatapan yang sangat dalam. Mata memang tidak bisa berbohong, sulit untuknya mengalihkan pandangan dari wajah tampan Jinra. Siapapun yang memandangnya pasti akan sulit untuk mengalihkan pandangan.
“Ahh . . kalau aku tau sesulit ini untuk mendapatkannya lagi aku tidak akan memutuskannya. Gumam Jini dalam hati.”
“Kamu mau cari apa Ni?” Ucapan Jinra memecah kebisuan.
“A. . . Ahh iya, ada apa?” Sambar Jini malah bertanya balik karena tidak fokus mendengar perkataan Jinra.
“Kamu mikirin apa jadi nggak fokus?” Ucapnya dengan penuh keheranan.
“Nggak mikirin apa-apa kok.” Ucapnya dengan wajah sendu.
Jinra diam sejenak kemudian pergi meninggalkan Jini sendiri, Jini nampak murung melihatnya pergi tanpa sepatah
kata pun. Namun tak lama kemudian dia melihat Jinra kembali dengan membawa sebuah boneka beruang kecil yang lucu dan menghampirinya.
“Ini ambil buat kamu.” Kata Jinra dengan wajah yang tenang.
Lain hal nya dengan Jini yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, jantungnya berdegup dengan kencang. Dia ingin berteriak kegirangan dan ingin memeluk erat pria yang ada dihadapannya. Kalau saja itu bukan di keramaian dan hanya ada mereka berdua, Jini mungkin sudah melakukannya.
“B. . B. . Beneran bu. . at akuu?, ucapnya tak bisa menyembunyikan kegugupan hatinya. Bagaiamana mungkin dia tak gugup ini pertama kalinya Jinra memberikan sesuatu padannya.
“Iya buat kamu.”
“Makasih Ra.”
Sepulangnya habis menemani Jini. Jinra terdiam diatas kasurnya, ternyata ada kejadian yang megejutkannya. Dia
bertemu dengan Meysa gadis yang dia temui di Kuba waktu itu. Mereka hanya sempat berbincang-bincang sebentar karena Meysa harus pergi lagi, dia memang gadis yang sibuk. Tapi beruntungnya Meysa memberikan nomor handphonenya sehingga dia bisa menghubunginya.
Meysa melambaikan tangannya pada Jinra sambil tersenyum manis. Dia juga tak menyangka akan bertemu Jinra lagi. Terasa seperti mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi.
“Apa kami berjodoh?”. Gumam Meysa dalam hati sambil tersenyum sumringah.
“Ahh . . apa yang sudah aku katakan. Sambil memukul-mukul pelan kepalanya, sadarlah Mey.”
Ditempat lain terlihat seorang pria sedang berdiri dan berulang-ulanng mengulang dialog yang berbeda-beda di depan cermin, ya pria yang dimaksud adalah Jinra. Dia terlihat lucu berlatih terlebih dahulu di depan cermin sebelum menelpon Meysa. Jinra mulai menarik napas panjang, lalu kemudian menelpon Meysa.
Panggilan terhubung. . . . . . . .
“Ya hallo.”
“H . . .Hallo.”
“Maaf, dengan siapa ini?”
“Ini Jinra Mey.”
“Heii. . . aku udah nungguin
panggilan telpon kamu dari tadi.” Ucap Meysa sambil tertawa.
“Maaf Mey, aku baru sampai rumah
makannya baru sekarang nelponnya.”
menganggapnya dengan serius, padahal dia hanya sedang bercanda dan ingin
menggoda Jinra saja.
“Nggak papa Jinra, santai aja aku cuma
bercanda kok.”
“Jinra aku minta maaf ya, waktu itu
aku nggak bisa hubungin kamu karena handphone aku hilang nggak ketemu.” Ucap
Meysa dengan nada menyesal.
“Iya Mey nggak papa, aku kira kamu
udah lupa sama aku. Makannya sama sekali nggak kasih kabar.”
“Ingatlah, mana mungkin aku lupa
sama kamu.”
Hening . . . .
“Mey?”
“Iyaa Jin.”
“Kamu besok ada waktu luang nggak?”
“Emangnya ada apa Jin?” Tanya Meysa
dengan penasaran.
“Mau ketemuan besok?” Jinra langsung
to the point.
“Boleh, kamu kabarin aja aku besok
mau ketemunya dimana.” Meysa telihat senang dengan ajakan Jinra.
“Ok Mey, besok aku hubungin kamu ya.
Kalo gitu sampai ketemu besok. Bye Mey.
“Bye Jinra.”
Meysa meloncat-loncat kegirangan dan berteriak
setelah mengakihiri panggilan telepon. seakan tak percaya dengan ajakan Jinra.
Apa ini sebuah ajakan kencan?
Maaf ya kalo ketikannya berantakan dan mungkin ada kesalahan pengetikan juga. Aku udah usahain ngetik rapi tapi pas di copy ketikannya langsung berantakan. kalo ada kesalahan ketikan tolong kasih tau lewat kolom komentar. Terima kasih.