
Masih termasuk salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Zen, dengan pegunungan dan hutan di seluruh wilayah.
Dari arah barat daya di daerah kaki bukit pegunungan amber terdapat sebuah desa kecil yang bernama Desa Amber.
Sebuah desa yang damai, suasana yang sejuk dan keadaan di alam sekitar gunung amber yang sangat subur ditumbuhi tanaman obat-obatan dan juga pepohonan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Populasi desa amber hanya mencapai 18 kepala keluarga yang terdiri dari 35 pria dewasa termasuk pria lansia, 45 wanita dan 5 anak. Salah satu dari anak itu bernama Ian Ainsley.
Dia tidak memiliki orang tua sejak dia kecil, lebih tepatnya dia tidak mengetahui siapakah orang tuanya. Yang dia tahu hanya kakek nya yang selalu menjaga dan melindunginya yang bernama Tekiro.
" Hiyat, hiyat, hiyaaat "
Ian sedang berlatih pedang, sekarang dia telah berumur 14 tahun dan bulan depan akan genap menjadi 15 tahun.
Setiap pagi Ian berlatih menggunakan pedang kayu, hampir setiap ada waktu luang dia gunakan untuk berlatih teknik pedang. Tetapi suatu hari disaat sedang berlatih.
" Hiyatt,wushh, hiyaaaa..."
"(ctrekk)"
Ian mematahkan pedangnya.
" Ada apa Ian? " bertanya Tekiro
" Pedang kayunya sudah patah kek " berkata Ian
" Begitu yaa, besok akan kakek buatkan yang baru " berkata Tekiro
" Yee terima kasih kek! " berkata Ian
Pekerjaan Tekiro adalah seorang penempa senjata, karna dia berasal dari ras dwarf. Hasil pekerjaan penempaan nya selalu dibawa menuju kota terdekat untuk dijual, selain itu juga dia memiliki sebidang tanah di dekat pegunungan amber yang ditanami pohon jeruk.
" Yasudah, siang ini mari kita ke kebun dahulu untuk memanen beberapa buah untuk dijual besok " berkata Tekiro
" Siap komandan! " berkata Ian
Ian dan kakeknya lalu pergi ke kebun jeruk yang ada di dekat hutan untuk merawat dan memanen jika buah itu sudah ada yang matang untuk dijual.
Di ujung dekat pepohonan jeruk itu terdapat sebuah gubuk yang sudah sangat lama, lalu Ian melihat kearah gubuk tua.
" Kakek, kenapa aku tidak boleh mendekati gubuk tua itu? " bertanya Ian.
" Gubuk itu angker! Konon katanya ada seseorang yang turun dari atas langit dan berpakaian serba hitam, dengan darah diseluruh tubuhnya lalu dia memasuki gubuk itu! " berkata Tekiro.
Tekiro lalu menceritakan sebuah kejadian baru baru ini. Tentang dimana seorang warga yang melintas kemudian mendengar suara aneh dari dalam gubuk itu.
" Terdengar suara jeritan yang sangat menakutkan dan membuat kuping kita menjadi tidak bisa mendengar apapun sebentar kecuali suara jeritan itu yang selalu terngiang-ngiang ditelinga! " berkata Tekiro.
" Woaaaa kelihatan nya seru " berkata Ian.
" Seru dari mana nya, dasar bocah " berkata Tekiro dan memukul kepala Ian.
Tekiro terus menceritakan kisah itu serta kejadian yang menimpa warga sekitar akibat tidak mendengarkan larangan yang ada sejak jaman dulu.
" Pernah seorang warga mendengar suara yang memanggilnya tetapi setelah didekati malah suaranya menghilang " berkata Tekiro
Langit mulai gelap, saatnya untuk kembali ke rumah.
" Baiklah ini sudah sore marilah kita kembali kerumah, ian " berkata Tekiro
" Baiklah kek! " berkata Ian
Sambil berberes perkakas, kemudian Tekiro berkata sesuatu.
" Oh astaga kakek lupa, kamu pulang duluan saja yaa. Kakek ada pertemuan penting bersama kepala desa untuk membahas perayaan hasil panen tahun ini "
" Oke kakek " berkata Ian
Tekiro pergi duluan meninggalkan Ian sendirian di kebun karena Ian masih berberes perkakas kebun.
" Huhhh, akhirnya selesai juga " berkata Ian
Sore beranjak malam, suasana malam itu sangat tenang dengan sebuah bulan purnama yang muncul dan menyinari kebun. Tetapi tiba-tiba kabut menutupi cahaya bulan dan penerangan di kebun pun terganggu.
" Sangat gelap, aku harus mencari obor. Kakek menaruh obor dimana ya? " berkata Ian
Ian mencari diseluruh gudang penyimpanan yang ada dikebun tidak ketemu
" Haahh tidak ketemu dimana pun " berkata Ian
Tetapi ada sebuah batang obor di halaman gubuk tua angker itu. Ian yang melihatnya lagi berfikir untuk mengambil nya atau tidak.
" Di gubuk tua itu ada sebuah obor, aku ambil aja kali ya? "
" Eh tetapi kakek melarangku untuk mendekatinya "
" Tetapi kalau tidak aku ambil, aku akan tersesat jalan pulang menuju rumah karna gelapnya jalan dihutan dan binatang buas ataupun monster bisa saja menyergapku "
" Arrrgghh aku sangat bingung! "
Ian kebingungan sambil berjalan kanan kekiri lalu sebaliknya
" Ah sudahlah aku ambil saja dari pada hari semakin malam " berkata Ian
Ian lalu berjalan menuju gubuk tersebut untuk mengambil obor
Obor sudah didapatkan, ian pun membakar obor itu. Tetapi Ian mendengar suara aneh dari dalam gubuk tersebut, dia dengan penasaran mendekati pintu dari gubuk itu
" Tolong bawa aku, bawa aku keluar dari sini "
Terdengar suara dari dalam gubuk
" Kenapa ada suara orang minta tolong? Aku harus membantunya! Kan kata kakek sesama makhluk hidup kita harus saling tolong menolong " bekata Ian.
Lalu perlahan pun Ian mendekati nya dan semakin mendekat, kemudian dia melihat ada sebuah lubang kecil di pintu gubuk tua tersebut.
" Aku akan lihat melalui lubang dipintu ini " berkata Ian.
Kemudian, secara perlahan mata Ian menuju lubang di pintu tersebut dan melihat isi dalam gubuk tua itu.
" Hm? Tidak ada apapun disitu, Sepertinya semua cerita itu tidak benar. Kembali aja deh " berkata Ian.
Ketika Ian hendak berbalik, ada sebuah tangan yang menggapai pundaknya dan menyentuhnya
" Woaaaaa " Ian terkejut.
" Eh kakek? " berkata Ian.
" Hey, kakek kan sudah bilang jangan mendekati gubuk tua ini, ayo kita kembali kerumah " berkata Kakek.
Mereka berdua lalu kembali kerumah. Di perjalan menuju rumah, Ian menceritakan kejadian yang dengar dari gubuk tua itu
" Lain kali kamu jangan seenaknya mendekati gubuk tua itu ya Ian " berkata kakek
" Iya, aku mengerti. Tetapi kek ada yang ingin aku ceritakan " berkata Ian.
Lalu kemudian ian menceritakannya
" Aku mendengar suara membutuhkan pertolongan di dalam gubuk tua itu kek. Itu sebabnya aku mendekati gubuk tua itu " berkata Ian.
" Begitu ya " berkata Tekiro.
Terkiro terdiam sebentar, lalu dia berteriak
" Apaa? Ada seseorang yang meminta pertolongan dari dalam gubuk? "
" Sepertinya iya " berkata Ian.
" Kenapa kau tidak bilang dari tadi, mari kita tolong orang itu " berkata Tekiro.
" Ehh, bukanya kakek bilang gubuk tua itu gaboleh dimasuki sembarangan? " berkata Ian.
" Ini pengecualian karena ada yang meminta pertolongan, ayo bergegas " berkata Ian
Mereka berdua pun kembali lagi ke gubuk tua itu dan sampai di depan gubuk tersebut.
" Baiklah, mari kita masuk " berkata Tekiro
Lalu seketika Tekiro menendang pintu gubuk.
" Hm ternyata tidak ada satupun, sepertinya kau hanya salah dengar saja " berkata Tekiro.
" Haah, yasudah kita kembali kerumah " berkata Tekiro.
Ian melihat sebuah pedang kayu lalu mengambil nya.
" Ayo pulang! Ehh? Kakek apa aku boleh memiliki ini? " berkata Ian.
" Hoo pedang kayu ya, sepertinya bagus untuk latihan. Lagi pula pedang kayu mu yang lama juga sudah patah. Hmm, Baiklah kakek izinkan kamu membawa nya " berkata Tekiro.
" Hore, terima kasih kek " berkata Ian
" Baiklah mari kita pulang " berkata Tekiro
Mereka berdua tidak menemukan apapun dan kembali kerumah dengan pencahayaan obor.
Keesokan hari nya Ian yang senang mendapatkan pedang kayu itupun langsung berlatih mengayunkan pedang dengan menggunakan pedang kayu barunya, Tetapi ada sensasi yang berbeda
" Hiyaaatttt "
Pohon yang digunakan untuk berlatih akhirnya terbelah
" Wahhh, kakek aku berhasil membelah pohon ini " berkata Tekiro
Tekiro mendekat.
" Hmm, wahahaha ternyata kamu sudah semakin hebat " berkata Tekiro.
" Kakek tidak akan melupakan janji kita kan? " berkata Ian
" Ha, janji apa? " bertanya Tekiro.
" Kakek berjanji padaku kalau aku bisa membuat pohon ini terbelah, maka aku akan belajar di akademi " berkata Ian.
" Hoo, benar. Tetapi aku janji bukan untuk 1 pohon, tetapi untuk menebas semua pohon yang ada di depanmu " berkata Tekiro
" Ehh?? "
" Lagi pula batas untuk masuk akademi tinggal 2 minggu lagi, kamu ga akan sempat kesana. Dan juga jarak dari sini ke akademi itu sekitar seminggu " berkata Terkiro
Ian pun yang mendengar cerita kakeknya tersebut sontak langsung lesu, karna usaha yang dia buat selama bertahun-tahun gugur begitu saja
" Baiklah, kalau kamu bisa menebang semua pohon yang ada didepan kamu sekarang dalam waktu 7 hari, maka aku akan mendaftarkanmu ke akademi " berkata Tekiro.
Ian langsung bersemangat
" Benarkah kakek? Yoshh, aku akan meratakan kalian semua pohon! " berkata Ian
" Wahahah tetapi itu tidak mungkin " berkata Tekiro.
" Ehh? Kenapa? "
" Karna kamu belum mempelajari sebuah Swort Art. Ini pelajarilah "
Tekiro memberikan Ian sebuah buku
" Teknik Swort Art : Four Basic Law of Intersection? " bertanya Ian.
" Yaa, itu adalah teknik pedang dari tanah kelahiranku dan ini adalah 4 teknik dasar nya. Kamu pelajarilah dalam seminggu ini " berkta Tekiro
" Aku akan berlatih dengan keras! terima kasih kek "
Ian membaca buku tersebut lalu mempraktekkan nya
" Teknik pertama Jump Slash yaitu melompat dengan tinggi mengarah ke depan dengan tebasan berat? " bertanya Ian.
Artinya Seseorang harus melompat ke depan dengan cara memusatkan seluruh soul di telapak kaki lalu tolakan ke atas, dengan cara itu, juga sekalian mengarahkan tebasan dari atas ke bawah, itulah tebasan yang berat.
Untuk melatih teknik itu, perlulah mengendalikan soul dahulu, dengan memusatkan hati dan pikiran pada satu titik, lalu menyebarkan ke seluruh syaraf.
" Begitu ya, terima kasih kakek atas saran darimu " berkata Ian
Ian mengikuti instruksi sari tekiro, dia pun memulai nya dengan sebuah latihan mengendalikan soul. Soul adalah tenaga dalam yang menghasilkan suatu energi.
Soul dibagi atas 3 kategori yaitu soul fisik untuk menguatkan kemampuan fisik, mana soul untuk menghasilkan sebuah atribut sihir dan soul aura yaitu menekan sebuah area dengan menggunakan gravitasi yang muncul akibat dari aura seseorang.
Tekiro melihat ke arah Ian
" Hm, sepertinya kau cukup berbakat. Aku tau usaha dan kerja kerasmu selama ini akan membuahkan hasil " berkata Tekiro.
Ian juga selain berlatih pedangnya dia juga melatih kekuatan fisik setiap hari dengan mengelilingi bukit dengan membawa beban yang semakin lama semakin berat, hingga ia mempunyai bentuk tubuh yang sangat atletis.
Tekiro melihat kearah Ian lebih detail, Tekiro sangat terkejut.
" Ini tidak mungkin! " berkata Tekiro
" Ini adalah soul fisik tubuh mhytologi! Konon katanya dewa perang zaman dulu yang berperang melawan ras iblis tidak akan pernah terkikis soul demonic! Hah itu sebabnya dia tidak terpengaruh masuk ke gubuk tua itu ya " berkata Tekiro.
Energi dari bebagai arah terus mengalir ke arah Ian dan berkumpul pada satu titik, yaitu di jantungnya. Seketika energi itu meledak.
Ian lalu membuka matanya dan seakan akan dia merasakan suatu energi yang dahsyat dan menyeluruh di dalam tubuhnya.
" Selamat Ian, kamu akhirnya naik tingkat menjadi Intermidate tingkat 2 . Tetapi dengan kekuatan fisikmu kamu bisa mengimbangi kekuatan seseorang yang berada pada tingkat 5 intermidate! " berkata Tekiro
Tekiro sangat senang dengan perkembangan Ian dan berharap Ian menjadi sosok yang mempunyai pengaruh melebihi dirinya pada zaman dahulu.
" Baiklah coba lakukan teknik Jump Slash " berkata Tekiro.
" Oke baiklah, pusatkan energi ke kaki dan telapak kaki lalu melompat jauh kedepan dan taruh energi di pedang sebagai pemberat " berkata Tekiro.
Berkata Ian sambil mempraktekkan nya
" Sword Art : Jump Slash "
Ian berhasil melakukan teknik Jump Slash
" Lihat kakek, aku berhasil menggunakan Jump Slash " berkata Ian
Ian terlihat sangat senang
" Ya kau berhasil menggunakan teknik itu dan juga berhasil meratakan seluruh pohon yang ada di sana " berkata Tekiro
Tekiro tidak percaya apa yang dia lihat, Ian meratakan semua pohon dalam satu lompatan.
" Hahh, seperti nya kau lolos ujian nya. Baiklah kau akan kudaftarkan masuk ke akademi " berkata Tekiro.
" Horee terima kasih kakek " berkata Ian.
" Hahaha baiklah, tetapi masih ada waktu 3 hari sebelum keberangkatanmu. Aku mau kau mempelajari ketiganya dalam 3 hari " berkata Tekiro.
" Eh?? Memangnya berapa lama aku bermeditasi kek? " bertanya Ian
" Hahh apa kau lupa? Kau sudah bermeditasi selama 4 hari " berkata Tekiro
Ian sangat terkejut. Selama sisa hari menuju keberangkatan, Ian pun berlatih tiga teknik yang tersisa dari Sword Art : Four basic Law of Intersection yaitu teknik kedua Right and Left Slash, teknik ketiga Stab Forward dan teknik ke empat Cut the Wind.
" Tiga hari telah berlalu, hari ini adalah hari kepergianmu menuju akademi. Dalam waktu seminggu kau akan sampai disana, tetapi itu hanya berlaku bagi orang biasa. Untuk seorang sepertimu hanya memakan waktu 5 hari perjalanan "
" 5 Hari ya, tetap saja akan lama kek "
" Wahahaha aku tau kau akan berkata begitu, makanya aku telah menyiapkan ini untukmu "
Lalu Tekiro memberi sebuah peta kepada Ian
" Peta ini akan memberi jalan tercepat menuju akademi, tetapi jalan ini penuh dengan monster apakah kau akan tetap melaluinya? " bertanya Tekiro.
" Tidak masalah kek, sekalian aku akan berlatih memburu monster tersebut! " berkata Ian.
" Hah aku takut kalau monster itu yang akan lari melihatmu. Baiklah ini ada sebuah surat, sesampai nya kau di akademi tolong berikan surat ini kepada yang bernama Kawagiri. Kau dapat mencarinya di sebuah toko yang bergambar pedang dan mawar merah " berkata tekiro.
" Baiklah kek " berkata Ian.
" Dan ingat ini selalu, kekuatanmu itu tidak untuk dipamerkan. Kekuatan itu hanya untuk melindungi sesuatu yang ingin kita lindungi, untuk menolong seseorang dan juga berlatih lah terus agar kau bisa menjadi salah satu penjaga kerajaan zetsiuri " berkata Tekiro.
" Terima kasih, Ian akan selalu mengingat apapun nasehat yang kau beri, aku berangkat kek! Sampai jumpa lagi " berkata Ian.
Demikian juga pada hari itu, Ian pun berangkat menuju akademi Zetsiuri.
Fajar telah muncul, sinar mentari menyelimuti seluruh daratan. Kicauan burung senantiasa ikut menyenandungkan pada hari yang cerah.