
Mata Alexa mulai terkantuk-kantuk. Sudah hampir 4 jam dia duduk di kursi warnet, bermain game sekedar menghilangkan penatnya bekerja seharian. Setelah ia melirik jam, rupanya sudah pukul 09.00 malam.
"Bang, berapa?" tanya Alexa dengan wajah lesunya.
"Dua belas ribu," jawab Bang Indra, penjaga warnet langganan Alexa.
"Diskon napa? Bang In, ganteng deh," tawar Alexa dengan senyum genit.
"Gak mempan buat gue tatapan itu." Bang indra tetap memasang wajah datarnya sembari tangannya konsen di mouse komputer.
"Bang Indra pelit!" Alexa memanyunkan bibir dan menyilangkan tangan.
Bang Indra memutar bola matanya melihat kelakuan gadis di hadapannya itu.
"Bang In, please!" Alexa memohon dengan senyum termanisnya.
"Seribu aja," ucap Bang Indra menyerah dengan kelakuan gadis berambut Maroon itu.
"Bayarnya seribu!" seru Alexa dengan senyuman mengembang dan mata berbinar.
"Enak aja! Diskonnya seribu aja!" sanggah Bang Indra.
"Ih … kesel!" sungut Alexa menyerahkan selembar uang kertas Rp 10.000 dan koin perak Rp 1000.
Saat Alexa akan bergegas pulang, ia berbalik lagi, penasaran dengan apa yang tengah Bang Indra kerjakan.
"Apa sih, Bang?" tanya Alexa ingin tahu.
"Kepo," jawab Bang Indra singkat.
"Serius, Bang. Kayaknya ribet banget dari tadi. Itu juga banyak banget hasil fotocopy," kata Alexa menunjuk mesin fotocopy yang masih berjalan di samping Bang Indra.
"Selebaran," jawabnya singkat, masih konsen dengan gambar di komputer miliknya.
"Buat apa?" tanya Alexa lagi, ia mulai mendekat ke tumpukan kertas itu dan mengambil salah satu kertasnya.
"Buat ditempel di sekitar gang sini, sama tempat kos atau kontrakan."
"Kenapa memang?" tanya Alexa lagi.
"Akhir-akhir ini banyak warga baru, tapi mereka pada suka nongkrong tengah malam, minum-minuman keras, bahkan pada main ena-ena. Bahkan juga ada yang tinggal satu kontrakan tapi belum menikah. Itu cukup mengganggu bagi sebagian warga sini," jelas Bang Indra.
"Oh gitu." Alexa meletakan kembali selebaran-selebaran itu di tempatnya.
"Udah sana, kerjaan banyak ini. Pulang sana, cewek jam segini masih keluyuran."
"Ih, apa sih Bang In! Pelit banget," sungutnya.
Alexa merasakan handphonenya bergetar di saku celananya.
"Dista?" ucapnya saat mendapati pesan dari sahabatnya itu.
[Al, lu bantuin gue beres-beres kontrakan baru gue yah, kesini sekarang, ntar gue traktir mekdi]
[Otewe, tapi kontrakan lu yang sebelah mana? Lu kan belum pernah nunjukin tempatnya?]
[Kontrakan Mpok Nina yang tembok coklat, cepetan!]
"Ih, bawel!" gerutu Alexa sembari memasukan handphonenya kembali ke celana.
"Bang In?"
"Apa?"
"Kontrakan Mpok Nina sebelah mana?"
"Masuk aja gang sebelah, lurus ada warung belok kiri, ada masjid lurus aja 100 meter ada rumahnya pak RW, terus belok kiri lagi lurus terus, di situ," jelasnya sembari tetap konsentrasi pada komputernya.
"Jauh amat, Bang?"
"Kalau mau deket, lurus aja lewat trotoar jalan besar di depan, tempatnya di pinggir jalan kok," ucap Bang Indra dengan senyuman jahil pada Alexa.
"Lahhhh! Susah amat dari tadi." Alexa merasa kesal sendiri sudah di kerjai oleh Bang Indra.
"Ya udah, Bang. Gue balik," pamit Alexa dan di tanggapi sebuah anggukan dan lambaian tangan dari penjaga warnet langganannya itu.
#*#*#*
Alexa keluar, rupanya malam benar-benar sudah larut. Meski begitu jalanan masih terlihat ramai oleh kendaraan. Hanya beberapa toko saja yang sudah tutup.
Gadis itu membenarkan jaketnya dan memasang headset di telinga. Alunan musik di telinganya cukup membenamkan rasa takutnya melewati beberapa gerombolan orang-orang yang bergerumbul di pinggir jalan dengan minuman keras mereka. Tercium dari aroma alkohol yang menyengat.
"Bener juga yang dikatakan, Bang In. Tempat ini jadi tongkrongan orang-orang gitu. Padahal jelas-jelas mereka bukan warga sini," gumamnya mempercepat langkah.
Benar apa yang dikatakan Bang Indra, kontrakan Mpok Nina sudah terlihat dari tempatnya berdiri. Rupanya benar di samping jalan besar, terlihat dari papan nama di sana.
Akan tetapi ada satu hal yang membuat Alexa bingung dan berdiri mematung di sana.
"Tadi, Dista bilang kontrakannya warna coklat kan? Lah ini ada dua yang warnanya coklat. Ini yang mana?" gumamnya bingung sendiri.
Alexa mengambil handphonenya dan menelpon Dista berkali-kali tapi tak juga di angkat.
"Lah, kemana ini bocah?" gerutunya.
Alexa memandang lagi Kontrakan di hadapannya. Satu kamar kontrakan dengan lampu menyala, dan satunya mati. Sementara yang lain memiliki warna berbeda.
"Kayaknya yang nyala ini mah."
Dengan langkah yakin Alexa menuju kamar dengan lampu yang menyala. Dia melihat kamarnya tampak terbuka sedikit.
"Wah, ini berarti," ucapnya lalu membuka pintu itu.
Alexa menelan ludah, dia mengucek kedua matanya, berharap pemandangan yang ada di depannya hanya mimpi atau salah. Akan tetapi tak ada yang berubah di sana. Alexa berjalan mundur perlahan dan menutup kembali pintunya dengan sangat pelan.
Jantungnya mendadak berdetak begitu keras dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Hoi!"
"Waaa!" seru Alexa terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.
"Distaa!" seru Alexa saat mendapati sahabatnya itu sudah ada du belakangnya.
"Lagi ngapain sih lu di situ? Ngendap-ngendap kaya maling aja."
"Lu, darimana hah?"
Dista menunjukan kantong kresek bening dengan kotak lampu di dalamnya. "Dari warung, tadi tiba-tiba lampu kamar gue meledak," ungkapnya dengan wajah polos.
"Jadi, kamar kontrakan lu yang mana?"
Dista langsung menunjuk kamar kontrakan dengan lampu yang mati. Alexa menepuk jidatnya.
"Kenapa lu?" tanya Dista bingung.
Tanpa menjawabnya Alexa langsung mendorong Dista untuk masuk dan menutup pintunya rapat.
Setelah Dista mengganti lampunya, gadis berjilbab merah itu langsung menghampiri Alexa yang masih duduk terdiam di lantai. Tatapannya kosong seolah habis melihat suatu hal yang menakutkan.
"Al, Lu kenapa sih?" tanya Dista.
"Hah!"
Alexa hanya menatap Dista saja. Dia tampak bingung sendiri dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
"Ini anak, belum konek kayaknya. Ini minum." Dista menyerahkan segelas air putih pada Alexa dan langsung ditenggak habis olehnya.
"Ya Alloh, pelan-pelan kenapa!" seru Dista.
"Dis …." Alexa mulai mewek dan menggenggam tangan Dista Erat.
"Apa?" tanya Dista bingung.
"Mata gue udah gak perawan," ucapnya.
"Hah?" Dista tak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Alexa.
"Tadi, gue salah masuk kamar," ungkap Alexa.
"Terus."
"Gue … gue … gue lihat …." Alexa menghentikan kata-katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Sini, gue bisikkin."
Dista mendekatkan telinganya pada Alexa. Dia mulai membisikan apa yang baru saja terjadi.
"Bwahahahahahahahahahaha!" tawa Dista lepas setelah mendengar penjelasan Alexa. Sementara Alexa mukanya langsung memerah.
"Mereka gak sadar ada lu di sana gitu?" tanya Dista. Alexa menggeleng dengan wajah makin memerah.
"Ya ampun, bocah unyu ini kasihan amat," ucap Dista mencubit gemas pipi Chubby Alexa.
"Apaan sih! Gue serius itu, lagian kok gak di kunci sih, lampu juga di nyalain, gila tu orang."
"Ya … ya … paham gue,"
"Kok bisa gitu sih, Dis. Lu milih kontrakan gini amat,"
"Mau gimana lagi, di sini fasilitasnya lengkap, murah juga. Cocok buat pekerja buruh kaya gue yang hasil kerjanya gak seberapa. Lu sih enak ada Mess-nya lah gue?"
"Tapi, lu harus bisa jaga diri di sini yah, jangan kaya kamar sebelah,"
"Insya Alloh," ucap Dista.
"Emang mereka udah nikah yah?" tanya Alexa.
Dista menggeleng. "Belum kayaknya, gak tau juga gue. Soalnya kemarin pas gue baru dateng ke sini buat ambil kunci sama ngecek kamar yang gue tahu cowoknya bukan itu, beda dari yang lu jelasin tadi," ucap Dista dengan suara lirih.
"Terus!" Alexa mulai penasaran dengan cerita Dista.
"Udah, lu masih 18 tahun. Masih bocah, jangan denger lebih jauh. Yang jelas lu juga harus jaga diri baik-baik.
Alexa hanya mengangguk. "Pantes aja Bang In bikin selebaran sebanyak itu. Ternyata kayak gini yah."
"Selebaran apa, Al?" tanya Dista.
"Komplek sini bakal di perketat penjagaannya, dan pendatang yang berbuat macem-macem bakal langsung diusir dari sini. Kontrakan yang gak menyaring penghuninya dengan baik kontrakan mereka juga bakal di tutup, intinya peraturan baru buat komplek sini lebih baik gitu," jelas Alexa.
"Bagus juga tuh, sip lah kalau begitu," ucap Dista setuju dengan usulan itu.
"Terus, Dis. Mekdinya kapan nih? Laper gue," tagih Alexa.
"Makan doang lu inget."
"Laper, lah gimana? Mana bisa beresin ini kontrakan dengan barang bejibun dengan perut kosong,"
Dista memutar bola matanya, pasrah saja dengan permintaan Alexa. Lagipula memang ia sudah menjanjikannya.
"Siap bosku."
-kisah nyata, nama dan tempat sudah diubah.