TEARS

TEARS
Bunga Kala Hujan



by Noah "kala cinta menggoda"



Sejak jumpa kita pertama


Kulangsung jatuh cinta


Walau kutahu kau ada pemiliknya


Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani


Ku tak dapat menghindari


Gejolak cinta ini


Maka izinkanlah aku mencintaimu


Atau bolehkanlah ku sekedar sayang padamu


Izinkanlah aku mencintaimu atau bolehkanlah ku sekedar sayang padamu


Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta


Apalagi ku juga ada pemiliknya


Tapi ku tak mampu membohongi hati nurani


Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini


Hati nan lara


Yang dirundung asmara


Hilanglah selera


Hilanglah segala rasa


(Kala cinta menggoda, Noah, Chrisye)


#*#*#*#*


Dafi melajukan mobilnya pelan. Mulutnya terus mengalunkan nada, menirukan suara Ariel Noah seperti dalam radio di mobilnya.


Hujan turun deras sore itu, bahkan jarak pandang hanya beberapa meter saja. Dafi akhirnya memutuskan untuk berhenti sebentar di sebuah minimarket, sambil menunggu hujan sedikit reda.


Kebetulan minimarket tempat ia singgah, menyediakan tempat menyeduh minuman dan makanan. Ia memutuskan untuk membeli segelas kopi hitam panas dan rokok.


Dafi duduk sendiri di teras minimarket. Menikmati segelas kopi dan sebatang rokok rasa berry di tangannya.


"Nikmatnya hidup," ucapnya sambil memandang rintik hujan yang semakin deras.


"Aduh, kenapa hujannya deras banget sih."


Telinga Dafi menangkap suara merdu, dia menengok kesana kemari. Hingga ia mendapati seorang gadis bermantel hijau buru-buru turun dari motor matic-nya.


"Bidadari," ucap Dafi seketika saat melihat gadis itu melepas helmnya.


Hijab bermotif bunga yang ia kenakan nampak basah, beserta bagian bawah gamis hitamnya.


"Masya Alloh, apa aku di Surga?" tanya Dafi pada dirinya sendiri. Dafi baru pernah melihat gadis secantik dan sebening itu. Dafi merasa, kini ia sedang jatuh cinta.


Untuk beberapa saat, tatapan Dafi tak lepas dari gadis yang masih sibuk melepas mantelnya. Keindahan di hadapannya tak bisa ia sia-siakan begitu saja. Dafi berniat berkenalan dengannya.


"Aduh!" seru gadis itu.


Dafi tersadar, bahwa motor gadis itu sekarang roboh. Mungkin karena motornya tak pas ketika disandarkan.


Dafi langsung berlari menolongnya, menerobos derasnya hujan dan meninggalkan kopi juga rokok yang belum ia habiskan.


"Duh, Mas. Maaf ngrepotin," ucapnya.


"Gapapa, Mba. Santai aja," jawab Dafi usai ia membenarkan posisi motor gadis itu.


"Jadi basah semua bajunya, Mas."


"Gapapa, Mba." Dafi menyapu tetesan air hujan di kaos panjangnya.


"Makasih loh ini, Mas. Padahal saya sendiri juga gak apa-apa," ungkapnya.


"Ah ... Saya cuma niat nolongin aja, Mba," ucap Dafi.


"Ini, Mas." Gadis itu menyerahkan satu pack kecil tisu dari dalam tas kecilnya. "Lumayan, Mas. Ini bisa keringin sedikit bajunya."


"Makasih," ucap Dafi menerima pemberian gadis itu.


"Saya Bunga, nama Mas siapa?" tanya Bunga memperkenalkan diri.


"Dafi," jawab Dafi.


Akhirnya mereka mengobrol untuk beberapa saat, membuat waktu menunggu mereka berdua tak terlalu membosankan. Apalagi bagi Dafi sendiri. Ia sekarang benar-benar tengah merasa berbunga-bunga.


"Maaf yah, nunggu lama," ucap seorang pria dengan seragam minimarket itu.


"Iya, gak apa-apa. Kamu udah selesai, kita pulang sekarang," jawab Bunga. "Oh iya, Mas Indra. Kenalin, ini Mas Dafi. Dia tadi nolongin motorku pas rubuh. Baik dia."


Lelaki yang ia panggil Indra itu langsung menyalami Dafi yang tengah bingung.


"Makasih yah, Mas. Udah nolongin tunangan saya."


"Oh iya, sama-sama," jawab Dafi dengan tatapan kosong.


Rupanya perasaanya pada Bunga, langsung terjawab tanpa ia harus mengungkapkannya. Bunga sudah menjadi milik orang lain.


Dafi kini hanya bisa memandang kepergian mereka berdua, di bawah gerimis sore itu. Meninggalkan Dafi dengan hatinya yang hancur.


#*#*#"


"Loh, Daf. Bajumu kenapa basah begitu, mobilmu bocor?" tanya wanita berbadan gempal di hadapan Dafi.


Wanita yang dipanggil Budhe itu hanya mengangguk saja.


"Masuk sana, kamarnya udah Budhe siapin," ajak Budhe.


"Iya, makasih Budhe cantik," goda Dafi. "Tapi, Dafi sini aja dulu, mau ngerokok dulu."


"Ya udah, Budhe buatin kopi yah," tawar Budhe. Dafi mengangguk.


Tak lama kopi susu di dalam cangkir bunga datang, menemani Dafi bersama desiran angin malam.


Suara ombak terdengar jelas di telinga Dafi. Rumah itu memang terletak tak jauh dari bibir pantai. Dafi ke tempat itu berniat untuk melepas penat dari tumpukan tugas di kantornya.


Dafi menatap langit yang mulai cerah malam itu. Sesekali ia menyruput kopi dan menghisap rokoknya.


Bayangan Bunga tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Kecantikan Bunga di bawah tetesan hujan begitu indahnya, hingga Dafi langsung tersihir dengan pesona itu.


"Mas Dafi," ucap Bunga.


"Bahkan sekarang aku bisa mendengar suaranya," ucapnya.


"Halo, Mas Dafi?" ucapnya, Bunga melambaikan tangannya di hadapan Dafi.


"Eh ... B-Bunga," ucap Dafi tersadar dari lamunannya. Dia mencubit tangannya, berharap dia bangun dari mimpi. Namun, rasa sakit mendera setelah ia melepas cubitan itu.


Bunga terkekeh, melihat kelakuan lelaki berbadan tegap di hadapannya. Sementara Dafi, menunduk malu atas kelakuaannya barusan.


"Mas Dafi kok disini?" tanya Bunga kemudian.


"Iya, ini rumah Budhe aku. Kamu sendiri, ternyata orang sini yah."


Bunga mengangguk. "Iya, rumahku deket bibir pantai sana," tunjuknya ke arah pantai. "Budhe ada, Mas? Aku mau ambil pesanan kue buatan Budhe."


"Ada, masuk aja," jawab Dafi mempersilakan.


Bunga melenggang masuk ke dalam setelah mengucap salam. Sementara Dafi, masih menatap keindahan pemandangan itu, sesaat sebelum ia merasakan Handphonenya bergetar.


[Sayang, kamu di mana? Aku ke apartemen kamu kok gak ada? Uang aku abis buat belanja, aku mau jalan sama teman-temanku. Transfer yah. I love you.]


"Fani," ucap Dafi dengan muka masam. "Punya pacar gini amat yah. Pengin putus aja, terus sama Bunga. Lagipula Fani cuma hasil perjodohan bisnis aja. Tapi, Bunga," gerutunya, lalu terlintas bayangan lelaki yang di panggil Indra saat di minimarket.


"Aku emang kaya, tapi kayaknya aku kalah banyak dari dia. Ah ... Kesel," gerutunya.


"Mas Dafi, kenapa?" tanya Bunga saat keluar melihat Dafi tengah heboh sendiri.


"Ah ... Bunga," ucap Dafi terkejut. Bunga hanya tertawa, kemudian berpamitan pergi.


"Bodohnya aku," sesalnya.


#*#*#*#*


Dafi menikmati hari liburnya di pantai Jogja. Melepas semua beban di pundaknya. Melepas juga dari kekangan kekasih hasil perjodohan orang tuanya.


Beberapa hari di sana, Dafi mencoba mencari letak rumah Bunga diam-diam. Tapi ia tak berhasil menemukannya. Hingga saat hari terakhirnya di sana, ia melihat sebuah papan nama di ujung jalan sebelum pantai. Tertulis nama Indra dan Bunga disana, berhiaskan janur kuning.


Dafi mengikuti arah panah yang di tunjukan tulisan itu, hingga ia menemukan sebuah rumah khas jawa dengan tenda besar di depannya. Lengkap janur kuning di pintu gerbang.


"Masa sih?" ucap Dafi tak percaya.


Dafi berjalan menuju halaman rumah itu, memastikan apakah benar yang tengah ia pikirkan.


"Mas Dafi?" ucap Bunga, ia tersenyum lebar pada Dafi. Bunga berjalan menghampiri lelaki yang tengah terpaku dengan kecantikan Bunga di balik kebayanya.


"Bunga, kamu nikah?" tanya Dafi.


"Iya, aku nikah besok, Mas," jawab Bunga. "Masuk yuk, Mas." Bunga menarik tangan Dafi masuk ke tempat jamuan. Kemudian ia mengambil makanan dan minuman khusus untuk lelaki itu.


"Silakan, Mas," ucap Bunga mempersilakan.


Dafi melihat kue milik Budhenya berada di atas meja di hadapannya.


"Oh, kue kemarin untuk ini yah?" tanya Dafi.


"Iya, Mas. Kue buatan Budhe paling enak di sini ...."


"Aku cinta sama kamu. Ah ... gak. Izinin aku sayang sama kamu," potong Dafi.


Bunga tak tahu harus berekspresi apa mendengar ucapan Dafi barusan. Dia sangat terkejut mendengarnya.


"Maaf, aku udah gak tahan lagi. Aku tahu kamu mau menikah sekarang, aku kaya gak tau diri banget sebenarnya. Tapi aku gak bisa bohong sama diri sendiri," ungkap Dafi. Sementara Bunga masih terpaku.


Jantung Dafi sekarang terus berdetak keras, bahkan mungkin Bunga bisa mendengarnya juga. Tanpa diduga, seutas senyum terukir di bibir Bunga.


"Terima kasih, Mas Dafi udah sayang sama Bunga. Tapi, Mas Dafi pasti tahu apa jawaban Bunga."


Dafi sudah menebak hal itu akan terjadi, dia sudah mempersiapkan hatinya.


"Yah, mungkin aku cuma bisa sayang sama kamu sampai sini saja yah. Lihat kamu bahagia sama Indra sepertinya lebih baik. Dia kelihatan lelaki yang baik. Jadi, semoga kalian bahagia," ungap Dafi. "Kalau gitu, aku pamit dulu. Sebenarnya tadinya aku mau pamitan sama kamu. Aku mau balik ke Jakarta," lanjutnya.


"Mas Dafi tunggu sebentar yah." Bunga berlalu masuk ke dalam rumahnya. Lalu beberapa saat kembali lagi membawa sebuah kotak es krim.


"Hadiah buat Mas Dafi. Tapi buka di rumah Jakarta yah. Jangan dibuka di sini."


Dafi menerimanya, kemudian dia berpamitan pulang. Membawa hatinya yang hancur, tapi ia lega. Setidaknya dia sudah mengungkapkan perasaannya di detik-detik terakhir.


#*#*#*


[Hai, Mas Dafi. Terima kasih, sudah suka sama Bunga. Setidaknya perasaan Bunga juga terjawab. Bunga lega sebelum menikah, beban Bunga sudah hilang. Mas Dafi mungkin gak ingat sama Bunga, tapi Bunga ingat jelas sama Mas Dafi. Bunga sadar itu Mas Dafi ketika Mas Dafi menolong Bunga saat hujan. Mas Dafi selalu baik sama Bunga. Terima kasih Mas. Bunga senang perasaan Bunga dulu sudah terjawab.]


Tangan Dafi bergetar, saat menemukan secarik kertas, foto dirinya saat kecil bersama seorang gadis, dan sebuah gelang dari kerang di dalam kotak es krim yang Bunga berikan.


Dafi baru ingat, ia pernah bertemu dengan Bunga saat kecil. Bunga selalu mengejar-ngejar Dafi kemanapun, bahkan ia mengungkapkan cinta pada Dafi. Hanya saja Dafi harus kembali ke Jakarta saat itu. Sehingha ia belum sempat membalasnya.


Mungkin ini memang bukan takdir Dafi untuk memiliki Bunga, tetapi setidaknya Tuhan mengizinkannya bertemu Bunga sekali lagi. Bertemu seperti dulu, bertemu Bunga di Kala hujan.


~Selesai~