TEARS

TEARS
Maryam & Mimpinya




Maryam merasa badanya sangat letih, setelah seharian kakinya tertumpu pada high heels yang tinggi. Waktu praktek kerjanya masih tinggal satu bulan lagi, tapi ia sudah merasa tak sanggup lagi mengenakan sepatu menyebalkan yang ia tenteng sekarang.


"Aku nanti kalau kerja beneran, aku gak mau jadi SPG kosmetik. Gak enak. Cape banget, pakai ini sepatu, mending pake sandal," gerutunya sepanjang jalan menuju tempat kos.


Maryam menyadari, hari sudah mulai sepi, jalanan yang biasanya ramai juga sudah mulai lengang. Dia melongok jam di handphone miliknya. Sudah pukul 21.30.


"Mamak?" ucap Maryam saat melihat ada pesan dari mamaknya.


[Maryam, kamu minggu ini pulang, nak? Mamak mau bicara penting.]


Tiba-tiba perasaan Maryam menjadi tak enak. Dia mulai berpikir yang macam-macam.


Hari libur yang Maryam tunggu akhirnya tiba, dia bergegas pulang ke kampungnya. Selain dia sudah rindu ingin pulang, dia juga penasaran dengan apa yang akan Mamaknya katakan.


#*#*#*


Satu jam perjalanan Maryam tempuh dari tempat praktek kerjanya, ia akhirnya sampai di kampung halamannya.


Rumah dari kayu sederhana bercat putih yang selalu Maryam rindukan, kini sudah ada di hadapannya. Namun, ada yang berbeda di sana. Ada beberapa lelaki tak ia kenal berada di kebun milik orang tua Maryam.


"Itu siapa, Mak?" tanya Maryam pada mamaknya yang muncul dari dalam rumah.


"Orang mau ngukur tanah," jawab Mak Ranti, ibu Maryam.


"Tanah siapa?" tanya Maryam, perasaanya semakin tak enak.


"Tanah kita, Mar." Benar saja perasaan Maryam kini terjadi.


"Buat apa, Mak? Sampai tanah itu dijual. Kata mamak itu tanah buat Maryam sama Abu. Kok di jual?" tanya Maryam penasaran.


Mak Ranti menatap sedih anak perempuan kesayangannya itu.


"Ini semua demi mimpi kamu jadi koki, Mar. Kamu harus selesai sekolah."


Bagai tersambar petir, Maryam kini merasa sangat bersalah dengan keputusannya melanjutkan sekolah ke SMA. Dia merengek ingin melanjutkan sekolahnya tanpa melihat keadaan ekonomi keluarga.


"Mamak sama bapak gak tahu lagi mau nyari biaya buat kamu kemana lagi, Mar. Adikmu juga sebentar lagi masuk SMP. Biayanya juga besar. Maka dari itu, jatah warisan tanah buat kalian berdua mamak jual dulu yah. Nanti kalau mamak punya uang lagi, mamak beli tanah buat kalian berdua."


Mendengar hal itu, tangis Maryam langsung pecah. Dia bersujud di kaki Mak Ranti.


"Mar, ngapain kamu! Bangun!" seru Mak Ranti sambil mencoba mengangkat Maryam.


"Maafin Maryam, mak. Maryam gak pernah mikirin keadaan keluarga kita. Maryam cuma tahunya gengsi sama teman-teman." Maryam masih menangis di kaki Mamaknya.


Mak Ranti menghela nafas dan berjongkok di hadapan putri kesayangannya itu.


"Nak, dengar mamak." Maryam mendongak menatap wajah mamaknya. Menatap setiap keriput yang mulai muncul di setiap sisi wajah Mak Ranti.


"Mamak, gak pernah merasa terbebani dengan mimpi kamu bisa lanjut sekolah, nak. Mamak tahu, kamu ingin sekali menjadi seorang koki hebat. Ini sudah tugas mamak sama bapak biar kamu dan Abu bisa sekolah tinggi. Kami gak pernah merasa sedikitpun terbebani," ungkapnya. "Tanah kan bisa beli lagi nanti kalau mamak sama bapak udah punya uang. Tugas Maryam sama Abu sekolah yang bener yah."


Tangis Maryam semakin menjadi, meski mamaknya sudah bilang seperti itu, tapi bagi Maryam dia hanyalah beban sekarang.


"Mak, jangan jual tanahnya yah. Kalau dijual, kita mau tinggal dimana?" tanya Maryam


"Kamu sama Abu gak usah pikirin, yang penting kalian sekolah yang benar."


"Maryam berhenti sekolah aja yah, Mak?" pinta Maryam.


"Huss, ngawur kamu! Gak boleh, kamu harus selesai sekolahnya," kata Mak Ranti.


"Gak, mak. Maryam bakal tetap berhenti. Maryam gak mau lagi lihat mamak begini. Selesai PKL, Maryam berangkat jakarta. Mamak jangan jual tanah yah, Mak," pinta Maryam sungguh-sungguh.


Mak Ranti sudah tak bisa lagi berkata-kata. Dia merasa tak tega dengan nasib putrinya. Padahal ia tahu, putrinya selalu dapat nilai terbaik di sekolahnya.


"Yah, Mak? Maryam gak usah lanjut lagi. Maryam berhenti sekolah."


Mak Ranti masih juga tak menjawabnya. Dia bimbang sekarang. Dia menoleh lagi ke arah tukang ukur tanah yang tengah sibuk mengobrol dengan suaminya. Di lain sisi ia melihat putrinya yang berusaha tegar di hadapan mamaknya.


"Apa kamu yakin, Mar?" tanya Mak Ranti.


#*#*#*#*


Maryam hanya melamun sejak memulai pekerjaannya. Pikiranya tak bisa fokus sedikitpun.


"Mar, ada pelanggan," bisik Mbak Eca SPG yang bertugas bersama Maryam.


Maryam tersadar dari lamunannya dan menghampiri pelanggan yang datang mencari kebutuhan make up di counter miliknya.


"Kenapa sih, Mar?" tanya Mbak Eca setelah Maryam selesai melayani pelanggannya.


Maryam berjongkok di samping etalase, dia menangis di sana. Hal itu membuat Mba Eca dan karyawan lain bingung.


Maryam akhirnya mengikuti langkah Mba Eca ke dalam gudang. Ia membiarkan Maryam menangis di sana dan menemaninya.


"Kenapa sih, Mar? Ada pelanggan yang ngisengin kamu?" tanya Eca khawatir.


"Gak ada kok, mba."


"Terus kenapa?"


"Maryam cuma lagi bingung aja, mba. Maryam gak tahu harus bagaimana," ungkap Maryam di tengah tangisnya.


Mba Eca merasa bersimpati pada gadis remaja di hadapannya itu. Ia sendiri mempunyai adik seusia Maryam, sehingga ia sangat paham menghadapi remaja yang tengah murung seperti itu.


"Kamu harus memutuskan masalah apa?" tanya Eca.


"Kok Mbak Eca tau kalau aku ada masalah?" tanya Maryam, Eca hanya tersenyum.


"Aku mau berhenti sekolah, mbak."


"Kenapa? Sayang 'kan. Sebentar lagi kamu kelas 3 loh." Eca nampak terkejut dengan yang Maryam lontarkan.


"Biasa, mbak. Masalah keuangan. Salah Maryam juga sekolah milih di tempat swasta. Maryam udah gak tega sama keadaan keluarga Maryam," ungkap Maryam.


Eca mulai mengerti dengan permasalahan yang tengah Maryam hadapi sekarang ini. Untuk gadis seusianya yang masih ingin bersenang-senang di masa sekolahnya, pasti itu menjadi beban teramat berat baginya.


"Mar, cita-cita kamu apa?" tanya Eca.


"Jadi koki, mbak." jawab Maryam.


"Kok gak nyambung?"


"Apanya?" tanya Maryam bingung.


"Kamu sekarang kan sekolah di jurusan pemasaran, ngapain kamu?" tanya Eca.


Maryam merasa ada benarnya juga dengan ucapan Eca. Dia baru menyadari bahwa dia salah jurusan.


"Kamu pasti sekarang sedang berpikir, bahwa kamu salah jurusan?" tanya Eca.


Maryam mengangguk.


"Gak ada yang namanya salah jurusan, Mar. Cuma kamu di beri jalan lain buat gapai mimpi kamu."


"Maksud Mbak Eca apa?"


"Kamu udah besar, pasti kamu tahu, keputusan apa yang akan kamu ambil. Pesanku, semua keputusan itu baik. Bagaimana nantinya, tergantung diri kamu ngejalaninnya. Pasti tuhan sudah menyiapkan hal indah di setiap langkah yang kamu ambil. Gak usah takut."


Setelah mendengar penjelasan Eca, Maryam mulai bisa memilah keputusan yang akan dia ambil. Mamaknya berharap ia tetap bersekolah, tapi ia tak tega jika harus melihat seluruh tanah orang tuanya yang hanya sepetak harus dijual demi sekolahnya.


#*#*#*


Waktu praktek kerja sekolahnya sebentar lagi usai, setelah berpikir panjang, Maryam akhirnya mengambil keputusan, bahwa ia akan tetap berhenti sekolah.


Mak Ranti tetap menolak keputusan Maryam, tapi gadis itu tetap bersikukuh ingin berhenti. Meski dalam hatinya dia sangat ingin kembali bersama teman-temannya.


Maryam tahu, bukan hanya sekolah tinggi yang akan menentukan masa depannya. Benar seperti kata Eca, bagaimana masa depan nanti, semua itu tergantung kita yang akan menjalaninya.


Tuhan sudah menyiapkan skenario untuk semua makhluknya, manusia tinggal menjalaninnya dengan hati ikhlas dan terus berdo'a di setiap langkahnya.


#*#*#*#*


"Kamu yakin, Mar?" tanya Mak Ranti kembali meyakinkan keputusan putrinya.


"Iya, mak. Maryam yakin," ucapnya.


Tatapan Mak Ranti sendu, dia merasa berat melepas putrinya sendirian merantau ke tempat jauh. Seharusnya hari ini dia kembali ke sekolahnya, belajar kembali bersama teman-temannya.


Namun sekarang, yang harus ia lihat adalah putrinya yang membawa koper besar dan menaiki bis bertuliskan Jakarta.


Mak Ranti teringat kembali kata-kata Maryam sebelum pergi.


"Mak, ini jalan Maryam, ini keputusan Maryam. Maafin Maryam karena Maryam selama ini sudah menjadi beban berat buat mamak sama bapak. Mulai sekarang biar beban itu Maryam yang pikul, Mamak sama Bapak istirahat dulu. Cinta Maryam buat Mamak, Bapak, sama Abu jauh lebih besar di banding mimpi Maryam. Meski Maryam sekarang putus sekolah, suatu hari nanti Maryam pasti jadi koki yang hebat, yang bisa banggain Mamak sama Bapak. Biar Abu bisa sekolah tinggi, dia kan cowok. Dia gak boleh putus sekolah."


Mak Ranti menangis tersedu-sedu setiap malam jika teringat putrinya. Apa putrinya baik-baik saja di rantau, kuatkah dia bersaing di dunia kerja, di dunia penuh kepalsuan yang sesungguhnya. Apa dia mampu?


Mak Ranti sekarang hanya bisa mendo'akannya saja.


"Nak, pasti suatu hari nanti kamu bisa jadi koki, sekarang akan terasa berat untukmu. Tapi mamak yakin, ada masa depan yang indah menanti kamu."


~selesai~Maryam dan Mimpinya