
Mataku masih begitu berat untukku buka. Badanku masih ingin sedikit lagi bermanja-manja dengan kasur keras ini. Ku lihat jam menunjukan pukul 3 pagi. Ini sudah waktunya bangun memulai aktifitasku.
"Ma, bangun. Udah pagi," ucapku membangunkan Ima yang masih terlelap di ranjang atas.
"Jam berapa?" tanya Ima.
"Jam 3. Bangun sono, aku mau sahur dulu." Aku membereskan selimutku sebelum keluar menuju dapur. Tak lama Ima turun dari ranjangnya dengan rambut acak-acakan.
"Aku sekalian yah, Mi goreng. Pake telur setengah mateng. Aku mau ke WC dulu, perutku mules," pintanya sembari berlari kecil ke kamar mandi yang bersebelahan dengan kamar kami.
"Siap," jawabku pelan, takut ibu bos terbangung di lantai dua.
Aku berjalan ke arah dapur dengan sesekali berdendang. Ku nyalakan lampu dan terlihatlah dapur besar dengan segala isinya.
Aku membuka kabinet di atas kompor, memperlihatkan koleksi Mi instant jatah kami berdua dari Ibu Bos. Ku ambil satu buah mi goreng dan mi kuah. Di lanjutkan mengambil dua butir telur di dalam kulkas.
Sambil menunggu air mendidih aku menyiapkan bumbu di atas mangkok. Ku tengok jam sudah hampir setengah 4 pagi.
Aku kembali berdendang, menghilangkan perasaan sepi dan senyapnya dini hari. Tak lama aku berhenti, saat ku dengar suara langkah kaki dari ruang utama. Ku dengar lagi suara pintu geser yang menghubungkan ruang utama dan dapur berdecit pelan.
Aku yang penasaran meninggalkan mi yang tengah aku masak menuju arah pintu. Meski dengan perasaan merinding dan takut, tapi tetap aku paksakan.
Aku melongok perlahan ke arah pintu besar itu. Ku lihat seseorang tengah membawa sapu berjalan keluar dari ruang utama.
"Ima?" ucapku saat menyadari siapa dia. Aku menarik nafas lega saat aku tahu itu Ima. Hampir saja jantungku berhenti karena takut.
"Ima, katanya mau ikut sahur. Kok udah nyapu aja. Masih kepagian juga ini mau nyapu," ucapku padanya. Namun, anehnya Ima tak menoleh atau menanggapi sedikitpun ucapanku.
Aku yang kesal pun menghampirinya. "Ma, di tanya juga!" seruku kemudian dan menarik pundaknya agar menatap ke arahku.
"Astaghfirulloh!" seruku terkejut.
Ima memelototiku dengan senyum yang tak biasa ia perlihatkan. Senyuman yang begitu mengerikan membuat bulu kudukku langsung berdiri.
"Ima? Kamu kenapa?" tanyaku menggoncangkan tubuhnya, berharap Ima akan sadar. Namun meski seluruh tenaga aku keluarkan, Ima tak juga bergerak. Dia hanya menatapku sembari tersenyum.
Aku beringsut mundur, meskipun hanya selangkah saja. Mencoba mencerna baik-baik dengan apa yang tengah terjadi sekarang.
Aku melirik ke arah bawah kaki Ima. Namun, kaki itu menempel di tanah. Sejenak aku berpikir apakah ia tengah kesurupan atau bagaimana.
"Ima ...." panggilku lirih.
Ku lafadzkan dzikir dan do'a meminta perlindungan dari yang maha kuasa. Firasatku mengatakan sesuatu terjadi pada teman satu kerjaanku ini.
"Ima?" panggilku lagi. Kali ini aku mencoba menggenggam tangannya. Namun, yang aku rasakan telapak tangannya begitu dingin. Meski ini pagi hari, tapi tangan Ima tak pernah sedingin itu kecuali saat membersihkan es batu di dalam kulkas.
Aku mencoba memastikannya lagi. Membuang pikiran negatif dari dalam kepalaku. Sontak aku memeluknya erat. Memastikan nafas dan denyut jantungnya dari dekat. Namun yang terjadi, nihil.
Aku tak bisa merasakan apapun. Aku melepasnya dan terus tertunduk merasa takut.
"Ati-ati neng kene. Mulih bae nduk, panggonanmu dudu neng kene," ucap Ima lembut bak seorang sinden. Saat itu aku tersadar, Ima belajar bahasa jawa darimana? Dia asli Sunda dan tak mengerti sedikitpun dengan bahasa Jawa.
Setelahnya Ima terkikih aneh, bulu kudukku semakin merinding. Dia menatapku kembali dengan tajam.
"K-kamu siapa?" tanyaku dengan perasaan takut.
Ima tak menjawabnya. Dia terus menatapku dan terkikih. Aku terpaku, kakiku gemetar namun tak bisa aku gerakan. Bahkan mataku tak bisa beralih dari matanya. Padahal dalam hatiku aku ingin segera berlari menuju kamar.
Ima masih terus terkikih. Dia berbalik, berjalan menuju garasi mobil yang masih gelap gulita. Lambat laun suaranya hilang. Meninggalkan ke senyapan seperti sebelumnya.
Aku masih terus ternganga dengan kejadian barusan, tak mengerti apa yang tengah terjadi. Aku masih terus menatap lorong garasi yang begitu gelap. Sampai suara pintu kamar mandi terbuka dan mengejutkanku. Aku menoleh, betapa terkejutnya aku saat mendapati Ima yang baru saja keluar dari sana memakai handuk di kepala.
"Ima kok di kamar mandi?" tanyaku dengan wajah bingung.
Ima mengernyitkan dahinya. "Lah emang dari tadi aku di sini. Ra, kamu kenapa, tu muka pucet bener?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Gak, gapapa."
"Mana mi gorengku?" tanya Ima. "Lu ngapain di situ. Ini bau apa kok kaya gosong?" lanjutnya.
Mi-nya astaga! Aku lupa dengan mi.
Aku bergegas berlari ke dapur dan mendapati mi dan telurku sudah gosong. Aku mendengus kesal.
"Rara! Kok gosong. Ini bentar lagi imsak loh. Ah ... Rara mah," gerutunya.
Kakiku mendadak lemas. Aku tersungkur duduk di lantai bersandarkan kabinet lemari di bawah kompor.
"Eh, Ra. Aku gak marah kok, kamu kenapa? Jangan gini dong?" ucap Ima panik.
"Ima, kamu tau gak?"
"Apa?" jawab Ima.
"Barusan ...." Aku menghentikan ucapanku. Kulihat Ima begitu penasaran. Namun aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Khawatir dia akan takut.
"Gak jadi."
"Eh ... Kok gitu sih. Aku penasaran ini!" tegasnya.
"Udah sahur aja yuk, bentar lagi imsak. Ntar gak keburu," ajakku mengalihkan pembicaraan.
"Ih, Rara mah gitu," dengusnya.
Kami melanjutkan waktu sahur kami. Sementara aku masih bertanya-tanya tentang sosok Ima yang tadi. Aku baru menyadarinya, sosok itu hanya menyerupai Ima. Tapi untuk apa dia berkata seperti tadi? Sebuah peringatan atau apa? Entahlah.
~Selesai