TEARS

TEARS
Singgah




Aku melirik lagi layar smartphone, berharap notifikasi pesan darinya muncul. Ini sudah terlalu lama, tapi ia tak pernah sedikitpun memberi kabar untukku.


Ini sudah tahun ke-2 dia tak pernah menghubungiku dan tahun ke-5 hubungan kami. Namun, yang aku rasakan sekarang masa depanku dengannya suram.


"Lis, udah sih. Kamu terima aja perasaanku daripada nungguin Akhmalmu itu. Aku juga udah nungguin kamu terima perasaanku satu setengah tahun ini loh. Kamu gak kasihan apa?" ungkap Rio. Lelaki ini memang sudah lama menyukaiku, tapi karena aku yang ingin menjaga perasaan Akhmal, tak pernah aku menggubris perasaannya.


Aku kembali membuka pesan terakhir darinya bertuliskan dua tahun yang lalu.


[ Alisa, Mas harus mulai masa training selama sebulan di tempat mas kerja. Di sini Mas tidak bisa pakai handphone. Jadi untuk sementara kita lost contact dulu, maafin Mas yah.]


Aku hanya menghela nafas, menahan rindu yang sudah mengakar di dalam jiwa. Apakah Mas Akhmal lupa padaku? Entahlah.


Seringkali aku menangis sendirian, hanya bisa menatap seutas foto terakhir kami memakai seragam SMA di hari kelulusanku.


Berkali-kali aku mencoba mencarinya di seluruh Jakarta. Pekerjaanku sebagai SPG aku manfaatkan sebagai sarana mencari Mas Akhmal. Berharap aku bisa bertemu dengannya saat melakukan promosi.


"Apa kamu gak lelah kaya gini, Lis? Mas Akhmalmu itu pasti sudah punya gandengan baru," ungkap Anin salah satu rekan SPG-ku.


"Gak mungkin lah, Nin. Mas Akhmal orang baik, sholeh juga," jawabku. Walau sebenarnya dalam hati, aku juga ragu.


"Gak jamin kaya gitu jaman sekarang, Lis. Apalagi ini udah 2 tahun loh."


Aku tak menanggapi ucapan Anin. Aku hanya menatap cincin silver berinisial "A" di atasnya. Mengingat saat ia sematkan cincin itu di hadapan teman satu angkatan di acara kelulusan.


Mas Akhmal mengatakan, "Alisa, saat kita sudah lulus nanti, ayo kita kerja sama-sama terus nikah. Mas sayang sama Alisa, karena Alisa adalah gadis terbaik yang pernah Mas temui."


Aku masih ingat betul senyumannya kala itu dan betapa berbunga-bunganya aku. Namun, itu semua hanya dulu. Sekarang, Mas Akhmal bahkan menghilang begitu saja.


"Aku sebenarnya sudah mulai bosan seperti ini, Nin. Apa sudah aku berhenti saja mencari Mas Akhmal yah, Nin? Apa aku terima saja perasaan Rio. Toh, dia orangnya tak kalah baik dari Mas Akhmal," tanyaku pada Anin.


Anin terlihat berpikir sambil menyruput kopi di tangannya. "Saranku sih mending gitu aja, Lis. Aku 'kan udah sering bilang ke kamu buat berhenti aja. Aku kasihan sama kamu. Tetapi soal perasaanmu pada Rio juga jangan di paksakan kalau emang gak suka."


Aku kembali berpikir keras. Apakah memang harus aku ikhlaskan saja perasaan ini. Melepas semua yang sudah aku perjuangkan selama dua tahun.


"Tapi, Nin. Sepertinya sebelum itu aku ngirim pesan terakhir buat Mas Akhmal," ungkapku.


Anin mengangguk menyetujui usulku. Meski berat, tanganku akhirnya mengetik pesan terakhir untuk Mas Akhmal.


["Mas, gimana kabar? Mas, maafin aku yah. Aku udah gak sanggup lagi nunggu kamu. Aku udah nyari kamu kemana-mana. Kayaknya sekarang hubungan kita sampai sini aja. Kita temenan kaya dulu aja yah, Mas?]


Tanpa sadar airmata sudah basah di wajah, ketika aku mengirim pesan itu. Tangisku tumpah di pundak Anin. Perjuanganku harus aku putus sampai di sini.


"Lis?" ucap Anin lirih, menunjuk handphone yang aku lepaskan di meja Cafe tempat kami duduk.


Aku mengusap air mata dan mengambil handphone itu. Ada satu notifikasi SMS di sana. Jantungku serasa berhenti sesaat, ketika menyadari nama Akhmal di sana.


[Yah gak apa-apa, Lis. Kita sampai sini aja.]


"Lis, kamu kenapa? Itu siapa? Kok nangis lagi?"


Anin langsung memelukku yang terus sesenggukan menangis.


"Selama ini aku selalu mengirim pesan padanya tak ada henti, Nin. Ku tanya kabarnya, menceritakan semuanya. Dia tak pernah satu kalipun membalasnya. Tetapi sekarang saat aku ingin mundur, dia membalas pesanku setelah dua tahum, Nin. Aku ini apa di matanya!"


Aku terus menumpahkan semuanya malam itu di pundak Anin. Untunglah cafe tak terlalu ramai saat itu.


Hatiku sudah hancur selama ini. Namun sekarang ini lebih dari hancur, hatiku sudah remuk redam. Sakit hati, marah, sedih, semuanya bersatu jadi satu.


Satu tekadku saat itu. Aku tak boleh terlalu berharap pada perasaan laki-laki.


#*#*#*#*


Aku sudah cukup menguatkan hati dari kejadian beberapa waktu lalu. Aku coba ikhlaskan, mungkin memang bukan jalanku dengannya. Aku juga harus menjalani kehidupan normal biasa.


"Lisa," panggil Rio, ia mendekat padaku dengan tergopoh-gopoh membawa beberapa kardus make up.


"Banyak banget, anter kemana?" tanyaku sambil membantunya membawa beberapa kardus.


"Bekasi! Jauh amat. Kita di Tanah Abang ini. Ya udah deh, aku lagi kosong juga jadwal."


Akhirnya kami berangkat pagi itu. Aku sudah menjelaskan perasaanku pada Rio. Untunglah dia mau mengerti, meski dia sempat marah saat aku jelaskan soal Akhmal kemarin.


Perjalanan panjang kami tempuh, hingga kami tiba di sebuah minimarket di tengah komplek perkantoran.


"Mbak dari Sales Look beauty yah?" tanya seorang gadis cantik dengan gigi gingsul. "Saya Hanum, penanggung jawab di sini. Kita langsung ke dalam aja bisa? Nanti anak-anak yang bongkar barangnya," lanjutnya.


Kami berdua serius mengurus faktur penjualan di teras minimarket. Sementara Rio bersama beberapa pramuniaga membongkar barang.


"Hanum, semuanya udah selesai. Aku ke gudang lagi yah," ucap salah satu pramuniaga laki-laki. Aku merasa tak asing dengan suara itu dan langsung menoleh.


"Mas Akhmal?"


Aku langsung berdiri. Menatap laki-laki dengan kulit sawo matang dan tahi lalat di atas bibirnya itu.


"Alisa?" wajahnya terlihat begitu terkejut, seperti melihat hantu yang tiba-tiba muncul


"Kalian saling kenal?" tanya mbak Hanum.


"Ah ... Iya. M-mm ini ... Temen SMA-ku," ucap Akhmal terbata-bata. Sementara hatiku seperti tengah diaduk-aduk.


"Oh gitu, ya udah ngobrol aja. Aku mau ke dalam naruh laporan," ungkap hanum mempersilahkan. Wanita itu berjalan masuk meninggalkan kami.


"Kamu ... Apa kabar?" tanya Mas Akhmal dengan wajah tegang.


"Ngapain kamu nanya kabar aku. Selama ini kamu kemana, Mas! Aku nyariin kamu kemana-mana! Setelah dua tahun ngilang, kamu bales pesan aku juga setelah aku minta putus. Tega kamu." Aku langsung mengeluarkan semua unek-unek selama ini dan Mas Akhmal hanya menunduk tanpa berkata apapun.


"Mas," panggil Hanum. Dia mendekat ke arah kami, sebelum Akhmal sempat berbicara.


"Mba Alisa tadi bilang teman sekolahnya Mas Akhmal 'kan?"


"Iya, Mbak," jawabku, mencoba menerka pikiran di balik senyum merekah dan wajah panik Akhmal.


"Mbak Alisa bisa datang minggu depan ke acara syukuran pernikahan kami? Tempatnya di Grogol rumahku. Kami bakal seneng banget kalau ada teman sekolahnya Mas Akhmal," ungkap Hanum sambil menyerahkan secarik undangan berwarna merah.


"Insya Alloh," jawabku dengan senyum yang aku paksakan.


"Selamat yah, Mas." Aku menyalami lelaki itu. "Aku ikhlas," ungkapku dengan mata sudah hampir penuh air mata. Hanum tampak bingung dengan ucapanku.


Aku langsung berpamitan pergi. Meninggalkan mereka berdua. Rio tampak binngung dengan aku yang tiba-tiba menangis ketika memasuki mobil.


Telah lama kau tinggalkanku


Sempat sia-siakan aku


Pergi jauh tak sedikitpun peduli


Seandainya kamu merasakan


Jadi aku sebentar saja


Takkan sanggup hatimu terima


Sakit ini begitu parah


"Rio! Matiin musiknya!" seruku pada Rio yang baru saja melajukan mobilnya.


"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba gitu, marah-marah sama lagu?" tanya Rio yang kebingungan.


Aku menyerahkan undangan di tanganku. Sambil menjelaskan kejadian tadi.


"Wah ... Laki-laki kurang ajar dia!"


Rio tampak sangat jengkel, dia mengumpat sepanjang jalan. Dia saja yang tak mengenal Akhmal begitu marah, apalagi denganku. Rasa hancur ini biarlah, aku jadikan pelajaran. Aku ikhlaskan dia menjadi milik jodohnya. Semoga bahagia. Terima kasih luka ini.


Selesai