
"Nak, jangan mendekat. Pergilah!" titah Ayahku.
Wajahku sudah basah oleh air mata, kutahan suaraku agar tak terdengar siapapun.
"Ayah, Ibu, Kakak, teman-teman. Maafkan aku."
Aku berlari sekencang mungkin, menjauh dari mereka yang sudah tak sadarkan diri. Kaki kecilku berlari tak tentu arah dan tak memiliki tujuan sama sekali.
"Aku pasti akan lebih kuat dan akan membalas perjuangan kalian!" sumpahku setelah berhasil keluar dari tempat gelap mengerikan itu.
#*#*#*#*
Tragedi mengerikan itu masih membekas di ingatan. Rasa sakit yang amat sangat menjadi pemacu semangat dalam diri. Semua hal itu menjadi tujuan hidupku sekarang.
"Ban, gimana latihannya?" tanya Uri sahabatku.
"Yah, begini," jawabku masih serius dengan makananku.
"Ini sudah lama, Banu. Memendam dendam terlalu lama itu gak baik. Itu hanya akan menyusahkanmu di masa depan. Lebih baik, kamu jalani saja kehidupanmu dengan normal ...."
"Normal? Hidup di tempat kumuh dan gelap ini, normal? Kamu bercanda, Ri," potongku.
"Sudahlah, Ban. Aku lelah menasehatimu. Jangan salahkan aku, jika nanti terjadi hal buruk padamu karena dendam di hatimu itu," ucapnya sambil berlalu meninggalkanku sendirian.
Aku memandang kepergiannya, Uri adalah sahabat yang baik. Dialah yang sudah menolongku setelah tragedi itu, dan kini kami harus selalu hidup bersembunyi.
Meski aku juga menyadari akan hal itu, tentang dendam yang tak juga usai di dalam diri.
"Aku sudah kehilangan seluruh keluargaku, Ri. Aku juga tak mau kehilanganmu. Kau sahabat jiwaku."
#*#*#*#*
Diam-diam aku kembali ke tempat itu, mencoba mencari tahu tentang Manusia yang sudah menghancurkan kehidupanku.
Setelah aku amati, rumah itu begitu besar. Banyak barang berserakan di mana-mana. Bahkan sampah menggunung di sekitar rumah megah itu.
"Mia!" teriak salah satu Manusia itu.
"Apa sih, Mah? Mia sibuk!" ucap si Manusia satunya.
"Kamu tuh, Mamah udah bilang berkali-kali, beresin ini kamarmu, buang sampahnya. Mau ini kamar jadi rumah tikus sama kecoa!" teriak manusia berbadan besar itu.
Mereka terus berdebat tanpa henti, aku berpikir bahwa itu mungkin akan jadi kesempatanku untuk menyerang mereka. Aku bersiap-siap di tempatku mengumpulkan tiap nyali yang aku pupuk selama berlatih beberapa waktu ini.
"Banu!" cegat Uri, ia menarikku menjauh dari tempat itu.
"Apa sih, Ri? Ini kesempatanku untuk menyerang mereka. Ngapain kamu disini?" tanyaku yang masih bingung.
"Mencegahmu melakukan hal bodoh!" seru Uri.
Aku menampik tangannya yang sedari tadi memegang tanganku.
"Minggir aja kamu, Ri! Kalau gak mau ikut, gak usah nahan-nahan aku!" bentakku.
Uri nampak terkejut dengan bentakanku. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya, tapi aku merasa gengsi juga.
"Udah, kamu pergi aja dari sini. Gak usah ganggu-ganggu misi pentingku," perintahku. Aku memalingkan wajahku darinya.
"Kamu bakal nyesel nanti, Ban. Jangan nyari aku!" tegasnya sebelum berlalu pergi.
Aku mengepalkan tangan, dan memandang manusia itu.
"Aku akan buktiin sama kamu, Ri. Bahwa ucapanmu salah. Dengan usahaku selama ini, aku pasti bisa membalaskan dendamku pada mereka," tekadku.
#*#*#*#*
Setelah hari itu aku tak pernah melihat Uri lagi. Saat aku bertanya pada yang lain, mereka mengaku tidak tahu keberadaan Uri.
"Sudahlah, ngapain aku mikirin dia."
Aku tidak sendirian, aku sudah melatih beberapa temanku yang memiliki dendam serupa. Mereka bersedia mengikutiku untuk membalaskan dendam pada manusia-manusia itu.
Kami sepakat untuk menyerang mereka ketika pagi tiba, semuanya sudah di persiapkan. Aku harap semuanya akan lancar dan tak terjadi hal yang buruk.
"Banu! Tunggu!" cegat Uri, menghadang di jalan kami.
"Kamu gak bisa nyerang sekarang, bahaya," lanjutnya.
Hatiku mulai goyah karena ucapannya. Namun melihat keseriusan tim, aku kembali membulatkan tekad. Walau sebenarnya aku yakin, Uri berkata jujur. Selama ini dia tak pernah berbohong, apalagi tentang peringatan bahaya.
"Gak usah halangin jalan kami, Ri. Kamu penghianat kelompok ini. Padahal keluargamu juga habis di habisi Manusia itu, gak usah sok suci," timbrung Rai, salah satu timku.
"Rai, gak usah ikut campur, ini urusanku dan Banu," ucap Uri. Dia kembali menarikku menjauh. Sementara aku pasrah saja di tarik olehnya.
"Banu, aku mohon. Mereka pasti akan menghabisi kalian semua. Kalian gak bakal sanggup melawan mereka," bujuknya.
Aku masih tertunduk dan tak membuka mulut. Saat ini hati dan pikiranku tengah berdebat keras. Apa yang Uri katakan sesungguhnya adalah benar. Aku sudah tahu Manusia itu memiliki racun untuk membunuh kami. Sesaat hatiku ingin mundur dan menyetujui apa kata Uri. Namun, dendamku lebih besar dari itu. Aku tak sanggup jika harus melihat sahabat dan keluarga kami dibantai lagi.
"Maafkan aku," ucapku.
Aku pergi meninggalkan Uri. Tanpa sekalipun menengok ke belakang, karena saat ini aku harus yakin dengan keputusan yang aku ambil.
*#*#*#*
"Bersiap di pos masing-masing!" seruku pada seluruh tim.
Kami sudah cukup mengawasinya, detik-detik penentuan sudah ada di depan mata. Aku harap, semua usaha ini akan membawa keberuntungan di masa depan.
"Mia! Udah Mamah bilang, kamar beresin."
Kami semua bersiap, saat salah satu manusia itu mulai membongkar tumpukan sampah dan barang-barang di sana.
"Serang!" perintahku. Sontak semuaa tim langsung keluar dari pos mereka.
"Mamaaaahhhhh! Kecoaaaa terbangggggg!"
Aku terbang ke arahnya, menempel di badannya hingga Manusia itu berteriak ketakutan. Darah serasa bergejolak, ada perasaan bahagia di sana. Ternyata ucapan Uri tak terbukti sama sekali.
Aku kembali terbang, berpindah tempat lagi, begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Manusia itu ketakutan dan pergi dari ruangan besar itu. Kami langsung bersorak senang. Merasa menang atas perang ini. Ternyata risetku selama ini benar, bahwa Manusia akan sangat takut apabila bangsa kami sudah terbang.
Rupanya Dewi keberuntungan tak lama berada di pihak kami. Manusia itu kembali lagi sebelum kami bergegas pergi. Kami langsung berhamburan kesana kemari saat mereka menyemprot kami dengan sesuatu. Rasanya pahit dan panas di badan kami.
Beberapa dari kami berhasil lari, tapi beberapa terkena semprotan itu termasuk aku. Tubuhku langsung lemas dan jatuh berbaring menghadap langit-langit. Tubuhku mulai lemas, tapi aku masih bisa mendengar dan melihat sekitarku.
"Apa Mamah bilang. Kamu di suruh beresin kamar dari dulu gak pernah mau. Lihat kan sekarang, kecoa banyak banget kaya gitu. Anak gadis dibilangin ngeyel banget. Untung Mamah punya pembasmi serangga, kalau gak habis kamu sama kecoa!" seru Manusia besar itu, suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Sekarang sapu itu semua," lanjutnya.
Sesegera mungkin manusia itu membereskan semua barang-barangnya, menyapu seluruh temanku yang sudah tak sadarkan diri. Sementara aku masih tergeletak di sudut ruangan. Menanti waktuku tiba. Nafas sudah mulai sesak, dan pandanganku mulai kabur.
Kurasakan badanku di tarik, samar aku melihat Uri tertatih menarikku menjauh.
"Uri," gumamku.
"Kau masih sadar," ucapnya tanpa menoleh.
"Untuk apa kau menolongku?" tanyaku.
"Aku gak mau sahabatku mati sia-sia."
Aku langsung merasa bersalah dengan setiap nasehatnya selsma ini. Rasa penyesalan memang selaku datang di akhir.
"Cukup, Ri. Aku gak bakal bertahan. Racun ini sudah menyebar," ungkapku.
Uri tak menjawabnya, kudengar lirih tangisnya. Nafasku semakin sesak dan pandanganku gelap.
"Setidaknya, aku bersamamu, Ri. Selamat tinggal. Maafkan aku."
~selesai~