TEARS

TEARS
MAAF




Hari pertunangan kami sudah kian dekat. Aku sendiri tidak menyangka, pertemuan kami yang sangat singkat itu akan menyatukan kami. Lima hari lagi pertunangan akan di gelar tepat di hari ulang tahunku.


Sore itu, aku dan Rama, baru saja pulang bekerja. Tempat kerja yang sama memudahkan kami untuk bertemu kapanpun. Lelaki bertubuh mungil itu selalu mengantarku sampai di tempat kos setiap hari. Padahal rumahnya sendiri lumayan jauh dari tempat kosku. Sore itu, Rama langsung bergegas pulang. Dia harus menjemput kakaknya di stasiun.


Aku merasakan handphoneku bergetar di saku celana. Saat aku lihat, sebuah pesan terpampang dari nomor yang tidak di kenal.


[Nay, masih inget aku 'kan. Ini aku Eki. Aku pengen ketemu kamu. Aku ada di Semarang sekarang. Aku akan ke tempatmu yah. Aku sudah tanya mamamu soal alamatmu. Gapapa 'kan?]


Aku menghela nafas. Tiba-tiba nafasku terasa berat. Entah kenapa mataku mulai berkaca-kaca. Kutahan terus agar tak terlanjur tumpah. Lelaki yang aku pacari selama 9 tahun itu, tiba-tiba menghubungi lagi setelah sekian lama.


"Kanaya? Apa pesanku baru sampai?"


Aku mengenal suaranya dengan jelas. Aku menoleh kesana kemari. Aku mendapati Eki berdiri di samping warung nasi depan kosku, dengan satu koper besar di tangannya.


Setelah cukup lama tak bertemu, aku merasa asing dengannya. Tubuhnya terasa semakin tinggi saja, namun dia jauh lebih rapi dibanding dulu saat bersamaku. Mungkin itu karena faktor pekerjaannya sebagai seorang customer service.


"E-ki." Aku tergagap saat melihatnya tersenyum padaku. Jantungku berdebar sangat cepat. Tanganku juga mulai gemetar dan berkeringat.


"Apa kabar? Kamu masih sama yah, kaya dulu, rambutnya masih warna-warni," kata Eki.


"Ah ... Iya baik. Kamu sendiri, apa kabar? Dari tadi kamu di situ?" tanyaku balik. Aku terus mencoba menyembunyikan rasa canggungku.


"Aku baik, aku baru saja sampai, pas banget kamu ada disini," jawabnya. Eki nampak sedang mencari-cari sesuatu. Dia terus melihat ke sekelilingku.


"Cari apa?" tanyaku.


"Kamu gak sama, Rama?"


"Udah pulang. Kamu ngapain ke Semarang?" tanyaku langsung ke intinya.


"Rasa penasaran kamu emang gak pernah berubah yah, Nay? Aku mau kasih ini buat kamu sama Rama." Eki menyerahkan sebuah kertas hijau berlatar foto dirinya dengan seorang gadis. Mereka nampak serasi dengan kemeja putih yang sama. "Padahal, aku sangat berharap bisa bertemu dengan Rama, aku belum pernah bertemu dengannya" ungkapnya lirih.


"Rama ada urusan lain soalnya, kamu belum beruntung kayaknya, Ek," jawabku. "Kamu akhirnya nikah sama Tiara, Selamat, Ek," kataku memberi selamat, lalu mengambil kertas undangan dari tangannya.


"Iya, alhamdullilah, Nay." Eki tersipu, wajahnya memerah.


"Kamu sengaja ke Semarang? Atau ada keperluan lain?" tanyaku lagi.


"Aku baru pulang dari Jakarta, mau pulang ke Jogja, aku sengaja mampir dulu ke sini. Aku pengen bicara dulu sama kamu, bentar aja, boleh ya? Kamu bilang dulu sama Rama, aku gak mau dia salah paham nantinya. Aku pengen jelasin sesuatu sama kamu," pintanya.


Perkataanya ada benarnya juga. Meskipun Rama sudah tau tentang Eki, tapi Eki tetaplah mantanku dan Rama adalah kekasihku sekarang. Setidaknya aku harus izin padanya lebih dulu, atau harusnya aku tolak saja permintaannya, tetapi, ekspresi Eki sekarang yang sangat berharap membuatku tak tega untuk melakukannya.


Akhirnya aku menelpon Rama dengan perasaan takut dia akan marah. Tak kusangka, Rama menyetujuinya, namun dengan syarat masih berada di sekitar tempat kosku. Rama memang lelaki yang baik. Bahkan selama ini dia selalu menghormati privasiku.


Akhirnya aku memutuskan pergi ke Taman Srigunting. Salah satu taman besar yang tak terlalu jauh dari tempat kosku. Ada bangku tersedia di sekitar taman, cukup membuat kami leluasa berbicara.


"Kapan terakhir kita ngobrol gini yah, Nay?" tanya Eki, namun aku hanya menggeleng.


"Kamu masih marah yah?" tanya Eki lagi, namun aku masih belum membuka mulutku. Aku tak tau mau berbicara apa padanya.


Eki nampak menghela nafas. Dia terus menggoyang-goyangkan kakinya. Terlihat jelas dia sama geroginya denganku.


"Kanaya, maafin aku sama Tiara yah."


"Kalian gak salah kok, itu hak kalian untuk saling mencintai kan," jawabku. "Lagipula, mungkin aku yang harus berterima kasih sama kamu selama 2 tahun terakhir ini. Kamu sudah nglindungin aku dari cowok-cowok gak jelas," imbuhku.


Eki nampak tersenyum, namun dia tak berkata apapun.


"Kalau boleh tau, kenapa kamu gak melakukan hal yang sama pada Rama. Kamu juga gak pernah komentar apapun tentangnya?"


"Itu karena aku yakin, kalau dia adalah laki-laki yang baik buat kamu, Nay," ungkapnya.


"Selama 9 tahun, aku selalu nyakitin kamu, Nay. Aku tahu persis bagaimana sakitnya kamu sebenarnya. Kamu selalu pura-pura kuat di hadapan semua orang." Eki terdiam. Dia memejamkan matanya sesaat, entah apa yang tengah dipikirkannya. "Saat itu juga aku putusin buat nglindungin kamu dari laki-laki yang ga baik buat kamu, sebagai penebusan rasa bersalahku sama kamu. Hingga kamu menemukan laki-laki terbaik yang gak akan pernah nyakitin kamu."


Aku tak bisa berkomentar apapun dengan pernyataannya.


"Kamu udah tunangan sama Rama?" tanya Eki kemudian.


"Sebenarnya aku tunangan akhir minggu ini ...."


"Hah! Aku menikah 'kan sabtu ini!" potong Eki, terkejut dengan jawabanku.


Aku yang tak percaya langsung melihat undangan yang sedari tadi aku pegang. Rupanya Eki tak berbohong soal tanggal pernikahannya.Kami langsung tertawa bersama. Merasa lucu dengan kebetulan yang terjadi.


"Sudah lama yah, Nay, kita gak ketawa kaya gini," kata Eki.


"Yah mau gimana lagi, memang keadaanya begitu. Lagipula kamu selama 2 tahun menghilang ga tau kemana. Sosial media juga yang pegang Tiara, dan giliran muncul, ngrecokin hubunganku sama cowok-cowokku dulu supaya putus, aku sampe sebel banget tau gak sama kamu," ungkapku kesal.


Eki tertawa lepas, dia terlihat sangat senang mendengarnya.


"Habis, kamu itu bodoh, Nay!" ejeknya.


"Ih, mana ada?" kilahku.


"Kita pacaran dari jaman sekolah, Nay. Kita juga temenan dari bocah. Aku udah paham banget kamu kaya apa." Eki kembali terdiam setelahnya.


"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Nay. Selama 9 tahun, aku cuma bisa selingkuh di belakang kamu. Aku gak pernah perhatian sama kamu sedikitpun. Bahkan selama sembilan tahun itu, aku hanya pernah mengajakmu kencan 4 kali saja. Aku gak ada romantisnya sama sekali yah?" ujarnya. "Setelah kita putus dua tahun lalu, aku baru sadar semua itu. Rasanya aku sangat jahat sama kamu. Padahal kamu gak pernah sedikitpun protes atas perlakuanku, bahkan aku selingkuh dengan Tiara juga selama 1 tahun sebelum kita putus, tapi setelah itu, aku ngrasa sangat tersiksa dengan kelakuanku dulu sama kamu," ungkapnya.


Lagi-lagi aku tak bisa berkomentar sedikitpun atas pernyataannya, karena nampaknya Eki benar-benar merasa bersalah. Terlihat dari air matanya yang terus mengalir dan tangannya yang gemetar, namun ia berusaha sembunyikan dariku dengan terus menundukan kepalanya.


"Saat dulu aku selingkuh dengan Tiara dan gadis-gadis lain, kamu gak pernah sedikitpun marah pada kami. Padahal aku tahu, kamu sangat sakit waktu itu, sampai aku bingung hatimu terbuat dari apa" lanjutnya.


"Udahlah, Ek, yang sudah lalu yah sudah. Meski kita memang punya hubungan itu dulu, tapi sekarang kita masing-masing sudah punya orang yang menyayangi kita dengan tulus. Aku selalu berdo'a agar kalian berdua bahagia," harapku.


"Aku memang sakit ,Ek. Bahkan aku cukup lama bisa membuka hati. Tapi satu yang aku yakini saat itu. Pasti ada kebahagiaan lain yang menunggu kita di masa depan. Dendam gak akan pernah menyelesaikan apapun. Aku juga gak pernah nganggap kalian berdua musuhku. Meski kamu mantan, tapi kamu sahabatku sejak kecil. Sama halnya dengan Tiara, diapun sahabatku," imbuhku.


"A-ku ... Benar-benar ...."


Eki terus tertunduk, isak tangisnya terdengar jelas. Dia menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Aku bisa merasakan dengan jelas rasa penyesalannya. Kutepuk punggungnya pelan, mencoba menenangkannya.


Sekarang aku melihatnya lagi, Eki yang dulu menangis meraung karena penyesalan. Kata maaf terus menerus terucap di sela tangisnya. Dia sudah tidak mempedulikan lagi tatapan orang lain yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi.


"Sudah, Ek, cukup. Aku udah maafin kamu kok. Kamu gak perlu kaya gini lagi," kataku mencoba menenangkannya. Eki sudah menangis hampir satu jam lamanya. Satu hal yang aku tahu, saat seorang lelaki dewasa menangis, itu artinya tangisnya tulus dari hati.


"Eki ...," panggilku.


"Kamu tetep bakal jadi sahabatku kok, saudara malah. Kamu gak perlu gini lagi. 4 hari lagi kamu kan menikah, kamu gak boleh gini. Kasihan istrimu."


"Tiara, juga ingin bertemu denganmu dan meminta maaf sebenarnya. Tapi dia sudah dipingit, dia tak bisa kemanapun, dan dia tak tahu alamatmu," jawab eki yang tengah mencoba menghentikan tangisnya.


"Sampaikan saja padanya, aku sudah memaafkannya," kataku.


"Gak!" serunya. "Kamu harus bilang sendiri pada Tiara, kamu harus dateng, pokoknya harus, kamu harus janji. Ajak Rama juga, ga boleh gak. Lagipula rumahmu cuma 15 menit pake motor dari rumah Tiara," paksanya.


Aku mengangguk mengiyakan. Senyuman langsung terukir di sudut bibir Eki. Ia menyeka air matanya tadi, dan terus berterima kasih tanpa henti.


Akhirnya kami mengobrol tentang masa lalu, tentang kelakuan kami masing-masing. Kadang tertawa tak jelas, tapi kemudian menangis lagi, lalu saling ejek satu sama lain.


Seperti ucapan Eki tadi, dia hanya singgah sebentar di Semarang untuk bertemu denganku. Eki harus pergi lagi ke terminal untuk melanjutkan perjalanannya kembali ke Jogja.


Percakapan singkat kami malam itu sudah membukakan mata dan hatiku. Ungkapan maafnya membuatku sadar, agar bisa membuka hati dan memaafkan. Itu jauh lebih indah. Kini rasa sakit selama 9 tahun itu sudah hilang dari hatiku, dan membuatku merasa lega dan yakin dengan pilihanku sekarang.


#**#**#**#**


Hari pernikahan Eki akhirnya tiba. Aku pulang ke Jogja, selain untuk melangsungkan pertunanganku, aku juga akan hadir di pernikahan Eki dan Tiara.


"Ayo mas, masuk ...." Paksaku pada Rama agar ikut masuk ke tempat pernikahan.


"Gak! Kamu aja yang masuk sendiri, Nay," tolaknya sinis, Rama masih berdiam di tempat parkir.


"Mas, ayolah. Eki pengen ketemu kamu loh."


"Udah, kamu aja yang masuk sana. Aku tunggu sini aja. Ngantuk, aku cape bawa motor dari Semarang. Aku tiduran sini aja yah?" Rama masih saja tak mau, dia malah tiduran di masjid tempat kami memarkirkan motor.


"Ya udah, jangan nyesel loh! Kondangan ke mantanku ini loh!!! Gak cemburu kamu mas?" godaku, agar ia mau ikut masuk bersamaku, namun lelaki itu hanya menggeleng, kemudian menutup wajahnya dengan topi yang ia kenakan.


Aku gagal membujuknya, akhirnya aku masuk sendiri ke tempat pernikahan. Setiap langkah mendekati rumah Tiara, aku semakin ragu untuk melanjutkan langkah. Aku mulai gemetar, ragu untuk melanjutkannya.


"Apa aku kembali saja ke Mas Rama?" gumamku, namun saat aku berbalik, seseorang berlari ke arahku dan memelukku.


"Dek Naya, ya Alloh," seorang wanita becadar memelukku. Aku tau persis dia siapa. Dia adalah kakak Eki. Dia tau persis hubungan kami dulu. Lagi-lagi kata maaf kudengar, Mbak Syifa meminta maaf atas kelakuan adiknya dulu. Tentu saja aku memaafkannya. Apalagi Mbak Syifa orang yang sangat baik.


Dengan di dampingi Mbak Syifa, aku di antar ke dalam bertemu kedua pengantin. Semua saudara Eki memandangku heran, dan inilah yang membuatku tak berani masuk.


"Kanayaa!!!" seru seseorang dari atas panggung dekorasi pengantin. Dengan gaun merahnya yang cantik dia berlari dan memelukku. Dia menangis dan meminta maaf padaku. Aku mendorong tubuhnya sedikit menjauh agar aku bisa menatap wajah cantik pengantin di hadapanku. Aku menyeka air matanya.


"Penganten, gak boleh nangis," ucapku menenangkannya. Padahal aku sendiri mulai berkaca-kaca. Tiara mengangguk dan kembali memelukku.


Di belakangnya nampak Eki tersenyum. Dia nampak gagah dengan jas pengantinnya.


"Makasih ya, Nay," ucapnya. Aku mengangguk dan membalas senyumannya. Akhirnya untuk beberapa saat aku mengobrol sebentar dengan keluarga Eki, sebelum aku berpamitan pulang. Sementara Eki tengah menjalani proses pengambilan gambar. Kami bertigapun akhirnya foto bersama sebagai kenangan terakhir. Sungguh lega semuanya sudah berakhir bahagia.


#*#*#*#*


"Mas?" panggilku pada Rama saat di atas motor, kami dalam perjalanan pulang ke rumahku.


"Hm."


"Kamu kok ga mau masuk sih tadi?"


"Cape aku."


"Bohong! Kamu cemburu 'kan?" desakku.


"Gak tuh."


"Bohong banget, ketahuan."


"Gak."


"Eki tadi pengen banget ketemu loh sama kamu," ungkapku.


"Udah tau, kita dah ketemu kok tadi," jawabnya mengejutkanku.


"Hah! Kapan? Kok aku gak tau sih?"


"Kamu lagi makan bakso lahap banget katanya tadi, kamu kan kalo udah makan ga bisa di ganggu," ungkapnya dengan nada mengejek.


"Eh, mana ada?" kilahku merasa malu.


"Kamu ngomongin apa memang sama Eki tadi mas?" tanyaku lagi masih penasaran.


"Ra-ha-si-a," jawabnya di akhiri tawa.


"Kesel!" ungkapku sambi memukul punggungnya pelan.


"Aku sayang kamu banget sama kamu mas," bisikku.


"Aku juga, tapi kondangan ke mantanya udah Eki aja, cukup, yang lain gak boleh."


"Eh, kok gitu?"


"Ya, pokoknya ga boleh titik."


Kami berduapun tertawa sepanjang jalan. Hatiku terasa sudah tak ada lagi beban, esoknya kami berdua akan bertunangan. Aku sudah benar-benar yakin melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan Rama. Sementara Eki sudah bahagia bersama Tiara.


~Selesai~