TEARS

TEARS
RASA



#inspired_by_true_story



Bunga mawar dan melati memenuhi seluruh gedung, tapi yang bisa aku cium hanya aroma rendang di hadapanku. Mataku menelisik ke seluruh tamu undangan, semuanya terasa asing. Bagiku hanya satu orang yang bisa aku lihat, dia yang sekarang berada di atas altar pernikahan, bersama seorang bidadari.


"Andai aku yang di sana."


Semua ini berawal dari 15 tahun lalu. Saat seragam biru putih masih melekat di badan kami.


"Sya, jadian yuk?" ungkapnya di tengah pelajaran.


"Gak." Aku langsung menolaknya mentah-mentah. Tetapi setelah hari itu, penyesalan datang menggangguku.


Aku sadar bahwa ketampanannya sudah ada sejak ia kecil. Tapi, seiring berputarnya sang waktu rupanya ketampanan itu semakin menjadi-jadi. Membuat perasaanku terombang-ambing tak karuan, sungguh kejam.


Aku terlambat jatuh cinta padanya. Ah, tidak. Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya sejak dulu, tapi aku belum mengerti tentang semua itu.


Kekejaman itu berlanjut terus hingga aku remaja, ditambah rumah kami yang berdekatan. Sangat mengganggu kesehatan mentalku.


Gaya urakan khas dirinya, benar-benar membuatku semakin tersihir oleh pesonanya. Untuk saat ini, aku hanya bisa memandangnya setiap pagi sebelum sekolah.


"Nino!" seru seorang gadis berbadan seperti botol cola.


"Angel, jadi berangkat bareng?" tawarnya.


Lagi-lagi aku hanya bisa memandangnya dari jauh, melihatnya berpelukan dengan gadis lain. Apalagi, semakin aku dewasa aku bukanlah tipe wanita idealnya. Badanku yang pendek, kecil, bahkan depan dan belakang rata. Tak akan pernah bisa membuatnya melirik satu detik saja. Aku sama sekali bukan tipe idealnya.


"Nino, i love you," ucapku lirih setiap melihatnya, tapi hanya bisa aku lakukan dari jauh.


"Sampai kapan liatin Nino kaya gitu, Sya?" tanya Razel, teman sebangkuku. "Itu cowok-cowok kakak kelas pada ngantri buat dapetin kamu, Sya? Di pacarin kek satu. Gak bosen jomblo terus. Aku aja bosen jomblo terus kaya gini," lanjutnya.


"Yah, kamu aja yang pacarin sana. Nino forever pokoknya," cetusku.


Razel memang sudah berkali-kali menyuruhku untuk berpacaran, tapi hatiku tak bisa berbohong. Cuma Nino yang ada di hati ini. Meski pernah aku mencoba menerima ungkapan cinta cowok lain, tapi aku tak bisa menyingkirkan perasaan itu pada Nino.


Meski aku tahu sifat Nino yang urakan, bad boy, sangat suka kehidupan malam, tapi aku tak bisa membuang rasa itu. Malah semakin hari aku semakin mencintainya.


#**#**#**#**


Aku berbaring di atas lantai teras, menikmati semilir angin musim kemarau. Mendengarkan alunan lagu ballad di balik headsetku.


"Marsya!" panggil ibuku dari dalam rumah. Bergegas aku menghampirinya.


"Anter buat Tante Ira, gulainya panas loh, hati-hati kamu." Ibu menyerahkan satu rantang gulai ikan padaku.


Aku berdiri diam sejenak didepan rumah besar serba putih di hadapanku. Kaki dan tangan tiba-tiba gemetar saat akan melanjutkan langkahnya.


"Marsya, ngapain diem aja di situ?" tanya Nino yang kini berdiri di hadapanku.


"Oh ... Em ... Tante Ira di rumah?" tanyaku tersadar dari lamunan.


"Mamah, ada itu di dalam. Masuk aja." Aku bergegas masuk melewati Nino. Aku menyadari bahwa mukaku memerah sekarang. Terasa sangat panas, dan jantungku berdetak sangat cepat, takut apabila Nino sampai mendengarnya.


"Assalamu'alaikum, tante," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Tante Ira dari dalam. "Eh, anakk gadis tante. Sini masuk sayang, ada apa?" ucap tante Ira ketika melihatku.


"Gulai ikan dari ibu buat tante."Aku menyerahkan rantang di tanganku.


"Udah, taruh aja di meja. Tapi, kamu jangan pulang dulu ya, temanin tante sini. Main aja sini, jangan pulang yah." Tante Ira menarikku agar duduk bersamanya. Akhirnya kami larut dalam obrolan sembari menonton drama korea. Tante Ira memang sangat menginginkan anak perempuan, tapi rejekinya sejauh ini hanya Nino seorang sebagai putranya. Sehingga ia senang sekali menganggapku sebagai putrinya.


"Yah, anaknya mamah 'kan Marsya bukan aku. Aku cuma anak tiri. Yah gak, Sya?" kata Nino, tiba-tiba saja muncul langsung duduk di sampingku dan merangkulkan tangannya di pundakku. "Aku aja gak pernah di ajak nonton sambil ngemil gini sama mamah, Sya. Mamah jahat banget," lanjutnya.


"Yah, anak mamah kan Marsya doang, bukan kamu." Kedua orang itu terus berdebat. Tanpa tahu aku yang berada di antara mereka tengah gemetar habis-habisan.


"Tante, Nino. Aku pamit dulu, dicari Ibu. Permisi." Aku bangkit dan langsung berpamitan pada mereka.


"Tuh kan, Marsya jadi pulang, kamu sih, No!" seru Tante Ira.


"Ih, apa sih? Kok Nino? Mamah tuh yang bikin Marsya pulang," sanggah Nino.


"Udah yah, Marsya pulang. Assalamu'alaikum." Akupun bergegas pulang. Berlari sekencang mungkin ke rumahku yang hanya berjarak 50 meter dari rumah mereka.


"****** aku, ******," gerutuku sepanjang jalan.


Rupanya sang waktu begitu cepat berlalu, rasa cinta itu bertahan sudah hampir 12 tahun lamanya. Sampai saat ini aku masih terus sendiri. Rasa cinta padanya benar-benar tak bisa aku buang begitu saja. Seakan sudah mendarah daging di dalam hati.


Rumah besar itu kosong dan sepi sekarang. Terlintas bayangan ketika Tante Ira berlari menghampiriku dan memelukku seolah anaknya sendiri. Begitu oula bayangan Nino yang tersenyum padaku di teras, sambil memainkan gitar kesayangannya.


Terakhir kali aku melihat mereka saat kelulusan SMA 6 tahun lalu. Namun, sekarang Tante Ira pindah ke bekasi. Sementara Nino, berada di Dubai. Bekerja di kapal pesiar mewah di sana.


"Sya, ayo berangkat, lagi ngapain sih?" Razel memanggilku.


"Iya," jawabku menghampiri gadis itu. Kami bekerja di tempat yang sama, dan malam tadi dia menginap di rumahku.


"Gimana, Sya? Udah di jawab itu si Alex?" tanya Razel saat perjalanan kami ke halte bis.


"Ga tau deh. Bingung."


"Lah, gimana sih? Itu si Alex, suka sama kamu dari jaman sekolah loh. Masa ditolak lagi. Gak kasihan?" ocehnya.


"Kasihan hatiku. Gak bisa lupain Nino." Aku tertunduk lesu.


"Nyerah aku, Sya. Nyerah!" serunya, lantas berjalan cepat meninggalkanku.


Alex jauh lebih muda tahun dariku, lelaki berwajah oriental itu memang menyukaiku sejak masih sekolah. Namun aku menolaknya, aku tak ingin menyakitinya, hatiku masih untuk Nino.


Pernah suatu hari datang seorang laki-laki yang mampu menggetarkan hatiku, dan hampir menggeser posisi Nino. Tetapi rupanya, itu hanya angan-anganku saja. Lelaki itu tak pernah mencintaiku. Kami hanya memiliki kesenangan yang sama, tapi tak pernah ada rasa cinta di sana.


#**#**#**


"Mba, aku mau niat serius sama mba. Aku gak mau pacar-pacaran lagi. Kayaknya umur kita sekarang bukan untuk itu deh." Tak ada tatapan kebohongan di mata Alex. Untuk umurnya yang masih muda nampak keseriusan di dalam dirinya.


"Tapi, lex. Umur mba ini lebih tua dari kamu. Emang gak malu?" tanyaku.


"Ngapain malu, mba. Aku udah suka mba dari jaman masih sekolah. Apa aku masih kelihatan main-main, mba?" ungkapnya.


Aku tak tega melihat Alex seperti itu. Sejujurnya bukan karena umur kami yang jadi masalah, tetapi karena aku benar-benar tak bisa melupakan Nino begitu saja.


"Baiklah, mba akan coba. Tapi, pelan-pelan dulu yah. Kamu juga masih muda. Nikmatin aja dulu masa muda kamu, Lex."


Saat memulai hubungan kami, Alex tak pernah sedikitpun terlihat risih dengan perbedaan umur kami. Dia benar-benar serius dengan ucapannya, dan perlahan hatiku mulai terbuka untuknya.


Sampai suatu hari, aku melihat rumah Nino kembali bersih seperti dulu. Tanpa sadar aku berjalan ke rumah itu.


"Siapa yah?" tanya seorang gadis cantik muncul dari pintu rumah itu.


"Marsya." Jantungku seakan berhenti saat mendengar suara yang sangat aku rindukan itu.


"Nino?" ucapku lirih, saat melihatnya muncul di balik gadis itu.


Aku ingin menangis, berlari memeluknya dan membisikan bahwa aku merindukannya juga sangat mencintainya.


Nino menghampiriku, mengusap rambutku seperti dulu. Senyuman itu masih sama . Selama ini aku hanya bisa melihatnya di sosial media, sekarang dia benar-benar ada di hadapanku.


"Siapa, sayang?" tanya gadis itu tersenyum manis ke arahku.


"Marsya, dia temanku dari kecil. Udah kaya anak keduanya mamah. Aku lupa gak cerita sama kamu," ungkapnya. Gadis itu tersenyum begitu ramah padaku. Dia benar-benar sangat cantik dan tinggi. Sungguh serasi dengan Nino yang semakin tampan.


Aku hanya tersenyum melihat kedekatan mereka. Kulihat cincin putih melingkar di jari manis keduanya. Tanpa bertanya, aku langsung tau siapa gadis itu.


Rupanya perasaan yang aku pendam lama memang tak akan pernah terbalaskan, yang terlintas dalam pikiranku sekarang adalah Alex. Aku merasa sangat bersalah padanya.


Dia tidak pernah tahu hatiku sebenarnya. Aku mencintainya seperti cangkang kosong. Tidak pernah bisa membuka hatiku sepenuhnya untuk dirinya. Apabila Alex tahu semua ini, pasti dia akan sangat kecewa padaku.


Bahkan sampai saat ini, tepat 15 tahun aku mencintai lelaki urakan itu. Tante Ira mendandaniku begitu cantiknya. Begitu pula ia, wajahnya masih sangat muda di umurnya yang ke 50. Tangannya tak pernah terlepas dariku sepanjang acara. Bahkan saat ijab qobul di ucapakan oleh Nino.


Sekarang dia ada di sana. Di altar pernikahan dengan bidadari cantiknya. Berpesta riang gembira seharian penuh. Sementara aku, berada di balik meja prasmanan menikmati aroma rendang dengan sendok yang sedari tadi kumainkan di tangan.


"Nglempar pengantin pake sendok dosa gak sih, Zel?" tanyaku pada Razel yang aku paksa menemaniku.


"terserah kamu saja, Sya." Razel menyerahkan sekaligus satu kotak sendok padaku.


Ini memang sudah 15 tahun, tapi rasa itu masih melekat di hati terdalamku. Penyesalan tak kuterima permintaanmu dahulu, sekarang menjadi siksaan seumur hidup.


Aku tak bisa mencintai tulus orang lain, aku hanya bisa mencintaimu. Biarlah aku ikuti jalan tuhan, bagaimana nanti. Aku harap, bisa melupakanmu sepenuhnya. Agar aku bisa mencintainya dengan tulus, seperti aku mencintaimu selama ini.


~kisah gadis pada cinta tak terbalasnya~