
MEMASUKKAN belati pada sarung belati yang terikat pada kedua pahaku, hasil dari pemerasan pada Iry. Sebagai permohonan maaf, Iry membuatkanku benda ini dan pakaian ganti.
Ia sama sekali tidak punya selera berpakaian. Hardikku dalam hati, melihat pakaian ganti yang sekarang kukenakan.
Pakaian yang diberikan olehnya hampir sama, dengan yang sebelumnya. Namun, kali ini aku memaksanya untuk memberikan sepasang Sneaker berwarna coklat.
Maksudku, ini hutan. Setidaknya aku membutuhkan alas kaki yang dapat sedikit melindungi, daripada sebuah Flip-flops Shoes berwarna putih pemberian System saat aku dihidupkan kembali.
Aku duduk di sampingnya sedikit memberikan jarak, yang ia tengah mencoba untuk meningkatkan daya pada api unggun. Langit sudah hampir sepenuhnya gelap, beberapa suara hewan nokturnal yang telah bangun dari tidurnya, saling bersahutan di kedalaman hutan.
Sama seperti malam sebelumnya, api unggun di depanku adalah penerangan di sekitar selain bintang (Stella) di langit. Dua malam ini aku belum melihat keberadaan bulan (Mensis). Angin malam berhembus meniupkan helaian rambutku. Belum terlalu malam, namun hawa dingin telah menyergap tubuhku.
Tubuhku bergetar menggigil dingin, dengan tanganku yang memeluk kedua lutut. Mengusap pelan permukaan kaki jenjang yang tidak tertutup benang sedikitpun.
Iry bangkit dari duduknya, dan mulai berjalan mengarah pada tempatku tidur malam kemarin. Ia mengambil selimut yang memberiku kehangatan tadi malam, dan mengenakannya padaku sekali lagi.
"Woah, terima kasih!" seruku seakan bangga akan kelakuan nya.
"Aku tidak tahu, kau bisa bertindak seperti pria." Sambung ujarku sedikit memiringkan kepala.
Iry bergerak agak menjauh, dan menjulurkan tangannya ke udara.
"Create item: Blanket"
Setelah partikel cahaya menghilang, sebuah selimut yang hampir serupa dengan yang ku kenakan saat ini, mulai menampakan bentuknya.
"Jangan pura-pura memuji!" Ucap Iry dengan nada kesal, sambil melemparkan selimut yang baru diciptakannya ke wajahku.
Aku terkekeh jahil, lalu membalut seluruh tubuhku dengan kedua lapisan selimut itu.
"Dari awal, kenapa kau tidak menciptakan pakaian yang lebih hangat untukku, coba?" Keluhan ini ku tuturkan pada logikanya yang tidak dapat ku pahami.
"Ada tiga (3) alasan..." Jawabnya sambil mengangkat dua (2) jarinya.
"Yang pertama, pakaian itu tidak akan menghambat pergerakan mu. Jadi dalam keadaan genting, kau dapat dengan lebih cepat bergerak." Ia lalu menutup jari tengahnya.
"Yang kedua, kenapa aku harus melewatkan kesempatan untuk melihat lebih jelas tubuh perempuan?" Sambungnya tanpa rasa bersalah, sambil menutup jari terakhir nya.
"Hah?!" Protesku padanya, bersiap bangkit, seiring dengan tangan yang memegang belati pada pahaku.
"Tenang dulu, tenang!..." Teriak Iry panik.
Aku berhenti, dan mencoba mendengarkan penjelasannya. Ia juga seharusnya masih punya alasan lain.
"Yang ketiga, semakin besar kuantitas benda yang ku ciptakan, poin nya akan semakin banyak dibutuhkan." Ujarnya menjelaskan alasan terakhir, sambil menutup kedua matanya.
"Kau mesum, tidak bermodal!"
Iry mungkin telah bersiap menerima segala jenis serangan, sambil tetap menutup kedua matanya. Meski aku kembali duduk tenang, membatalkan niatku untuk memukul nya.
Mungkin karena beberapa saat telah berlalu, namun tidak terjadi apa-apa. Ia membuka kembali matanya, dan melihat ke arahku, yang sedang fokus menatap api unggun. Ia menghela nafas pelan, dapat terlihat jelas perasaan syukur yang tersirat di matanya.
"Iry..." Panggilku dengan sangat pelan, bingung harus bagaimana menjelaskan masalah yang sedari tadi ku pikirkan.
Mungkin sedikit terkejut karena aku yang tiba-tiba bersuara, ia sedikit mundur dan menatapku serius.
"Setelah ini kau akan kemana?"
Iry dan aku memang tidak terlalu lama bersama, dan ia tampaknya tidak terganggu dengan keberadaan ku, namun aku tidak bisa terus-terusan merepotkannya.
Mungkin ada begitu banyak hal yang ia lewatkan, selagi ia membantuku agar terbiasa dalam dunia baru ini. Mungkin ada seseorang yang sedang menunggu kepulangannya, entah jauh dimana.
"Aku ... Aku akan melanjutkan perjalanan ke arah timur." Jawabnya sedikit tersendat.
Tampaknya tebakan ku benar, ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang ia tidak ingin orang luar sepertiku, terlibat didalamnya.
"Aku mengerti ..." Ucapku sedikit kecewa, namun dengan segenap usaha menyembunyikannya.
"Apakah di sekitar sini, ada hunian manusia lainnya? Kota mungkin." Sambungku setelah berhasil menenangkan diri.
Iry menatap lama ke arahku, pandangannya terlihat begitu menyesal. Ada kemungkinan ia bermaksud mengajakku, namun karena aku telah menanyakan tempat yang berbeda, ia mengurungkan niatnya.
Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya kasar.
"Ada ... Ada sebuah kota di arah barat dari sini. Kau bisa menemukannya, setelah melewati hutan ini." Jawab Iry dengan satu tarikan nafas, seakan ia tidak ingin mengulangi paragraf itu.
Aku tersenyum lebar kearahnya, "Dua arah yang berlawanan ya ... Jangan terlalu dipikirkan." Tutur ku mencoba menghibur nya.
Aku hanya tidak ingin ia terus menyesali keputusannya, tidak ada yang salah pada kejadian ini. Masing-masing dari kami hanya memprioritaskan tujuannya.
"Ma--"
"Berhentilah mengatakan maaf, kau hanya akan semakin membuat jarak." Sergahku menghentikan permintaan maafnya.
"Bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi, ma-maksudku itu ..." Ucapanku terhenti, bingung harus memberikan alasan apa.
"Ya aku mengerti, terima kasih." Jawab Iry membantuku yang tengah kebingungan merangkai kata.
Iry bangkit mendekati api unggun, dan merentangkan tangannya ke udara.
"Inventory."
Iry lalu mengeluarkan dua (2) buah gelas dari kemampuan System. Ia juga menyiapkan beberapa bahan lainnya, seperti teko yang terbuat dari bahan sejenis besi, kotak kaca yang berisi daun kering, dan saringan berbahan stainless.
Memanaskan air pada teko. Dengan telaten ia juga mempersiapkan kedua gelas yang akan digunakan sebagai wadah. Kurang lebih lima (±5) menit, waktu yang dibutuhkan agar air dalam teko mendidih.
Secara anggun ia menuangkan air yang mendidih. Menyeduh daun kering yang berada pada saringan, air seduhan yang di tampung pada wadah berubah merah.
Ia memberikan salah satu gelas dengan air berwarna merah itu padaku. Aku menerimanya dan menuntut penjelasan mengenai cairan itu.
"Rooibos tea, salah satu minuman favoritku." Jelasnya singkat sambil menyeruput sedikit teh, yang di seduh nya.
Aku memejamkan mata, lalu menghirup aroma yang di keluarkan dari teh ini. Aroma ini, menenangkan.
Seduhan teh di tanganku memiliki aroma alam yang menguar, di setiap tarikan nafas. Udara yang terasa kering juga menghangatkan, ciri khas iklim di daerah Mediterania.
Malam dingin terasa hangat dengan teh panas, dan api unggun sebagai pengisi suasana. Hingga malam semakin larut, tidak ada diantara kami yang memulai percakapan. Terdiam saling berimajinasi dalam perenungan masing-masing.
"Via Lactea (γαλαξίας)." Tutur Iry singkat dan pelan, dengan nada kagum dalam suaranya.
Aku melirik ke arahnya, mata yang memantulkan cahaya Stella, berbinar cerah pada malam gelap.
Jika menurut ilmu di dunia lamaku, dua ratus (200) hingga empat ratus (400) miliar Stella yang membentuk pemandangan di depanku saat ini.
Milyaran Stella yang melintang membentuk garis di langit, merupakan bukti keberadaan kami sebagai bagian dunia. Juga salah satu karya seni terbesar, yang belum ku ketahui ada sesuatu yang dapat menyaingi nya.
Berdua ditemani suara-suara binatang, kami melewati malam berbintang yang begitu tenang. Menyambut perpisahan di hari esok.
—
AKU terbangun ketika mendengar suara batang dari pohon yang roboh. Suara dentuman yang keras bisa menjadi alarm bangun, yang cukup efisien.
Tidak mendapati keberadaan Iry, aku sempat berpikir ia telah pergi meninggalkanku dalam diam. Sebelum aku mengedarkan pandangan dan melihatnya di kejauhan, yang tanpa busana bagian atas, sedang meninju batang pohon yang hampir tercabut hingga akar.
Itu manusia? tanyaku pada diri sendiri, tidak begitu yakin dengan penglihatanku.
"Yo Rikka, sudah bangun?" Iry yang menyadari ku, melambai dari kejauhan. Aku membalas sapaan nya dengan senyuman canggung.
Berjalan cepat namun senyap, ia mendekat menghampiri. Aku sedikit merapikan rambut yang berantakan setelah bangun tidur.
"Aku membangunkan mu ya? Ma-" Ucapnya terhenti.
"Kau lama sekali bangun nya~." Ya memang benar, aku memintanya untuk berhenti mengucap maaf. Namun jika berakhir ia menjadi menyebalkan seperti ini, mungkin lebih baik ia terus-menerus meminta maaf.
Aku bangkit dengan sebal, berjalan menjauh dari perkemahan tempat ia berada.
"Cuci muka."
—
KEMBALI dari sungai kecil sebagai sumber air, aku mendapati Iry yang tengah memotong beberapa sayuran.
Sayuran di dunia ini, hampir serupa dengan sayuran di dunia lamaku. Hanya terkadang berbeda warna dan ukuran.
Iry tengah mengiris tipis bawang berwarna kecoklatan (Allium Scelerisque). Sedang suara memercik dari minyak (oleum), yang di panaskan dalam wajan penggorengan.
"Apa yang ingin kau masak?" Tanyaku membuyarkan konsentrasi Iry.
Ia mendongak menatap ke arahku. Lalu kembali menundukkan kepalanya, fokus pada pekerjaannya.
"Salah satu masakan dari Asia tenggara..." Jawabnya di sela-sela memotong sayuran.
Aku sedikit menerka-nerka, masakan apa yang ingin dibuatnya. Berhubung ia yang berhenti menjelaskan.
Tom Yam? Tapi Tom Yam itu soup. Banh xeo? Selain itu apalagi, aku kurang pengetahuan mengenai masakan.
Aroma harum menghibur penciuman ku. Ketika beberapa bahan seperti daging rebusan yang di potong kotak dan bumbu, dimasukkan dalam penggorengan. Dalam keadaan duduk memangku dagu, aku tetap menerka makanan yang akan dihidangkan.
Iry lalu memasukkan nasi yang telah matang sempurna kedalam panci penggorengan, dan mencampur semua bahan.
Apa sebelumnya ada nasi ya?
Dengan lihai, ia mengaduk segala bahan, agar dapat berpadu sempurna. Menambahkan bumbu lainnya, yang ku yakini merupakan garam (Sal), dan lada (Piper).
"Ah jadi begitu, kau memasak Yakimeshi, tapi bukankah Yakimeshi dari Jepang?" Ujarku setelah Iry telah selesai memasak, dan menghidangkan piring kaca berisi olahan nasi.
"Ini Nasi goreng, bukan Yakimeshi. Serupa namun tak sama." Jawab Iry sembari menaburkan Allium goreng di atas masakannya, sebagai toping dan memperindah penampakan.
"Letak perbedaannya terdapat pada rasa, jika Yakimeshi memiliki rasa gurih dan asin. Nasi goreng memiliki cita rasa manis, karena menggunakan kecap sebagai salah satu bahan utama."
Aku mengangguk mencoba mengerti akan penjelasan Iry, walaupun kenyataannya sedikit tidak peduli. Setelah selesai menghias masakannya, ia memberikan sepasang sendok kepadaku.
Menyuap sesendok nasi ke mulutku, cita rasa baru menyambut indera perasa ku. Sulit dibedakan, namun masing-masing masakan memang memiliki rasa khas nya.
Acara sarapan berlangsung damai, dengan tangan yang tidak lelah bergerak.
Duduk guna menenangkan diri, sedang Iry tetap sibuk dalam kegiatannya merapikan barang memasak. Aku mencoba untuk membantunya, namun Iry merupakan tipe orang yang alat kerjanya tidak ingin di ganggu.
"Tadi pagi, kenapa kau membuang-buang poinmu?" Tanyaku mengingat kejadian pohon tumbang sebelumnya.
Iry memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat. "Maksudmu?"
"Kau yang menumbangkan pohon itu, kan? kenapa kau menggunakan poin mu untuk hal itu?" Tanyaku sekali lagi dengan sangat jelas kali ini, aku juga menunjuk batang pohon yang tumbang.
"Ohh~ itu ..." Tutur nya tampak sudah mengerti.
"Aku tidak menggunakan poin sama sekali, itu hanya kemampuan [Status] yang ku tingkatkan."
Jadi itu kemampuan fisik, begitu?
Iry melirik kearah ku, melihat wajah yang tengah bingung berpikir, "Meski dapat meningkatkan fisik, bukan berarti tidak ada batasannya." Ucap Iry menerka apa yang kupikirkan.
"[Status] yang ditingkatkan, tetap akan mencapai batas (Max) dan tidak dapat di tingkatkan lagi..."
"Contohnya [Status Speed] ku." Perkataan terakhir Iry membuatku sedikit penasaran.
Berapa [Status Speed] Iry sekarang? pertanyaan ini sebenarnya ingin kutanyakan langsung. Namun akan terdengar tidak sopan, menanyakan privasi masing-masing.
Aku hanya menelan bulat-bulat pertanyaan itu dalam benakku, dan mengukir penjelasan Iry dalam ingatan ku.
Kini aku hanya diam memperhatikan Iry yang sudah hampir selesai membereskan alat masaknya. Menunggu untuk momen yang tepat.
Piring terakhir telah ia simpan kedalam [Inventory], menepuk tangannya beberapa kali untuk menghilangkan kotoran yang menempel dan sebagai tanda selesai.
Seiring dengan tepukan itu, aku bangkit berdiri. Sedikit meregangkan tubuhku yang kaku sedari tadi duduk tak berpindah posisi, sembari menghirup udara segar.
"Jadi..." Perkataan ku terasa tersangkut dalam tenggorokan, aku bingung harus memulai dari mana.
"Sudah mau pergi?" Tanya Iry dengan nada lirih, yang ku balas dengan anggukan kecil.
"Bukannya terlalu terburu-buru?, Kota nya tidak terlalu jauh."
"Aku sekalian akan berkeliling, menguji kemampuanku. Juga semakin gelap, akan menyulitkan ku." Jawabku pada pertanyaannya dengan senyuman lebar.
"Jadi begitu ... baiklah." Respon Iry dengan nada yang terdengar tegar.
"Ah, ada beberapa hal yang mungkin dapat membantumu." Seru Iry ketika aku hendak berbalik.
"Mungkin kau sudah tahu, tapi sebisa mungkin berhati-hati lah ketika berinteraksi dengan System." Ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk.
"Kau bisa memberikan, atau melakukan pertukaran dengan orang yang kau ketahui [ID Program] nya, pada menu [Send]. Jadi kau bisa melakukan transaksi, untuk memenuhi kebutuhanmu." Sambung Iry mengangkat jari jempolnya.
"Yang terakhir, mungkin aku tidak berhak berkata seperti ini, tapi sekedar saran dariku. Jangan terlibat dengan manusia yang mungkin kau kenal di dunia lama, dan hidup kembali di dunia ini." Setelah mengangkat jari tengahnya, itu merupakan saran terakhir yang diberikan oleh Iry.
Aku mengangguk mengerti, meski cukup bingung dengan alasan dari saran terakhir Iry.
"Sampai jumpa." Aku membalikkan badan, dan berjalan pelan menjauh.
Hanya sebentar, bahkan belum genap empat (4) hari. Tetapi perasaanku mengatakan, aku telah mengenal Iry jauh lebih lama. Bahkan lebih mengenalnya daripada diriku sendiri.
Setiap langkah kakiku terasa lunglai, seakan saat ini aku tengah mengambil keputusan yang salah. Sekilas melirik kebelakang, aku mendapati Iry yang melambai dari kejauhan.
Menarik nafas panjang, dan dengan getir menghembuskannya. Aku telah yakin sepenuhnya untuk melangkah ke depan.
"Hm, sampai jumpa." Bisikan yang tiba-tiba itu mengejutkanku. Terkesiap aku secara spontan menoleh ke kanan asal suara bisikan itu berasal.
Tidak ada satu makhluk hidup pun yang tertangkap dalam penglihatanku. Hanya semak belukar pada kaki pohon, yang bergerak tertiup angin.
Aku membalikkan tubuh, melihat kembali pada posisi Iry sebelumnya. Namun tidak ada hawa keberadaan seorangpun di sana, seakan segala eksistensi-nya hanya sekedar ilusi belaka.
Meneliti setiap sudut dari tempat kami berkemah dan sekelilingnya, aku tetap tidak mendapati parasnya.
"Dia sudah pergi?" Tanyaku pada diri sendiri.
Sekali lagi menghirup nafas panjang, aku membalikkan tubuhku dan kali ini ku pastikan, tidak akan ada yang dapat menggoyahkan keputusanku.
Baru selangkah dari kaki kananku memasuki kedalaman hutan, sebuah pemberitahuan dari System menarik perhatianku.
[Pesan dari Code Program: 010JF0IE. Open?]
... / ...
Aku memusatkan pikiran untuk setuju membuka pesan itu, aku dapat menduga siapa dibalik pengirim pesan misterius ini.
[ (°0°)/ ]
Hanya pesan berupa emote yang terdapat didalamnya.
"Apa-apaan coba." Ucapku sembari menggelengkan kepalaku tidak percaya, lantas menutup Panel kontrol.
[Anda mendapatkan 1.001 poin.]
Mungkin saat ini, aku tersenyum paling lebar semasa hidupku.
"Bahkan sampai akhir, aku adalah satu-satunya yang ditolong." Aku menghela nafas memasrahkan keadaanku, dan berjalan semakin masuk kedalam hutan.
"Dia mengetahui [ID Program] ku darimana?"
—