
..."Jika benar takdir manusia ditulis sendiri oleh tuhan. maka epilog-ku, dimulai beberapa saat yang lalu."...
Sebuah pemikiran yang terlintas dalam benakku, sebelum suara gemeretak dari tulang-tulang yang hancur. Ketika tubuh lemah ini, menghantam permukaan tanah begitu kerasnya.
—
"DIMANA ****** itu?!" Suara teriakan yang menggebu itu, mengusik masuk dalam pendengaranku.
Aku bangkit dari posisi tidur. Berusaha membangun kesadaran, di tengah perdebatan sosok insan yang aku tak tahu siapa gerangan.
Dari tinggi nada suaranya, dapat kuduga berasal dari perempuan. Suara dengan intonasi yang sangat marah itu, tampaknya tengah menginterogasi seseorang.
Mengedipkan mata beberapa kali, guna meredakan penglihatan yang masih kabur saat ini. Kepalaku begitu sakit, rasanya seakan bisa meledak kapan saja.
"Apa aku tidur dalam keadaan mabuk kemarin malam?" Aku bermonolog singkat, sembari memijat batang hidungku.
Sedikit demi sedikit aku mulai dapat melihat dengan jelas. Aku berada di atas sebuah kasur mewah berukuran King size, dengan seprai putih sebagai alas tidurku.
Seprai yang terbuat dari katun ini, begitu berantakan dengan kerutan yang menyembul di sana-sini. Beberapa bercak kering dengan warna kecoklatan, juga menghiasi di berbagai sisi.
"Dimana pula ini?!" Seruku panik.
Aku melirik ke sekeliling dengan cepat. Kamar dengan cat abu-abu sebagai warna pokok. Peralatan elektronik canggih, tersusun di atas rak bertingkat dengan rapi. Serta barang-barang yang tidak mungkin ada di kamarku.
Mataku membulat sempurna ketika menyadari aku tidak mengenakan pakaian apapun. Sesegera mungkin aku membungkus diri, dalam gumpalan selimut tebal.
Pikiranku terasa penuh saat mencoba mengingat kejadian sebelumnya. "Apa yang terjadi kemarin?!"
Belum sempat aku mendapatkan jawaban akan permasalahan ini. Aku dipaksa bergerak, ketika sebuah dorongan dari dalam perutku memaksa keluar.
Berjalan tertatih menahan mual di dada, aku mencoba mencari toilet yang dapat digunakan.
Membuka 1 per satu pintu yang berada di ruangan ini, aku tetap tidak mendapati keberadaan ruangan itu.
Ini juga bukan! Keluhku dalam hati, selagi membuka pintu kesekian kalinya, yang ternyata bukan toilet.
Sialan, mengapa begitu banyak pintu di ruangan ini?!
Aku sudah hampir tidak dapat bertahan, sebelum pintu berwarna kecoklatan kubuka. Sebuah ruangan dengan ciri khas toilet menyambut.
Secara langsung aku masuk kedalam dengan cepat, dan melakukan keperluan yang tertunda....
"Kemungkinan aku mabuk kemarin malam, besar." Setelah selesai dengan urusanku didalam toilet, aku keluar dengan penampilan baru.
Aku tidak lagi dalam keadaan yang hanya berbalut selimut. Didalam toilet aku menemukan Kemeja lengan panjang berukuran besar, dan sweater berwarna abu-abu.
Karena asumsi bahwa kedua pakaian ini milik seorang wanita, aku mengenakannya tanpa ragu—Masalah minta maaf, dapat kulakukan belakangan.
Kemeja besar itu dapat menutupi keseluruhan tubuh bagian bawahku yang tidak memakai apapun.
Mengabaikan permasalahan itu, aku mempunyai pertanyaan yang harus dijawab.
"Dimana ini?"
Aku mencoba mengingat kembali kejadian kemarin. Rasanya memang begitu sulit, sebelum sebuah kepingan ingatan tergambar dalam khayalanku.
Aku ... Dapat mengingatnya. Walau samar aku dapat mengingat kembali apa penyebab segala kejadian aneh ini terjadi.
"A-apa yang terjadi setelah itu?" Suaraku bergetar takut saat memikirkan kejadian setelah Ardnof menyuntikkan cairan dari alat itu. Aku dapat menerka-nerka kejadian selanjutnya, namun batinku tidak ingin membayangkannya.
Kembali, kepingan ingatan muncul. Sebuah gambaran ingatan yang buram.
Dapat kulihat diriku yang tengah berdiri di depan cermin tanpa sedikitpun busana yang melekat—dalam artian lain telanjang bulat, dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Sedang di sampingku Ardnof yang juga tanpa pakaian apapun, menarik paksa rambutku. Ia membuat kepalaku mendongak, memaksaku melihat kedalam bayangan di cermin, dengan senyuman puasnya.
"Bohong, bohong, itu semua tidak benar!" teriakku frustasi.
Aku memeriksa apakah benar lebam-lebam itu ada, dan benar ada. Menoleh ke sana-kemari mencari keberadaan cermin dalam ingatanku, ada.
"Enggak, tidak mungkin benar!"
Sakit pada bagian sensitif yang sebelumnya tidak dapat kurasakan. Setelah menyadari keberadaan sakit itu, mulai menerjangku dengan rasa perih.
Air mata ini mengalir tanpa kupinta. Kututup kedua kelopak mata dengan telapak tangan, mencoba menghentikan air mata yang tetap berjatuhan.
Jatuh terduduk. lantai keramik dingin begitu sesuai untukku. Aku merasa begitu kotor saat ini. Berbagai perasaan yang mayoritasnya merupakan kekecewaan, ku limpahkan pada siapapun.
Ah ... begitu indahnya hidup kalian dapat tersenyum riang, sedang dunia ini tengah memusuhiku...
... Mati
Sebuah dobrakan pada salah satu pintu menarik perhatianku, tanpa kusadari air mata telah berhenti. Menengadahkan kepalaku ke atas, aku mendapati seorang wanita sedang menaruh pandangan—tampak begitu hina menatapku.
"Kau ******, apa begitu menyenangkannya bagimu?!" Makian itu dilontarkan oleh wanita itu sembari menarik rambutku, memaksa kakiku untuk berdiri. Dengan memegangi rambutku yang terasa begitu sakit saat ini, aku berdiri dengan perlahan.
Setelah dapat berdiri tegak, aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi aku bahkan terlalu tidak bersemangat untuk memikirkan betapa cantiknya, wanita di depanku saat ini.
Perawakannya tampak begitu imut. Wajahnya yang kecil terlihat sangat cocok, dengan tubuh yang lebih pendek dariku.
Ya, Sayangnya dia bodoh.
"Jawab aku!" Dia membentak begitu keras, tepat mengarah ke wajahku.
"Apakah bagimu aku tampak menginginkannya?" Suaraku begitu pelan, terlalu malas untuk menjelaskan pada tipe orang bodoh seperti dia.
"Kau pelacur sialan!" Serunya dan menampar pipi kananku.
Dikarenakan mulut yang sedikit terbuka, tanpa sengaja aku menggigit ujung bibirku. Darah mengalir keluar, terasa begitu segar untuk minuman pertama pagi ini.
Aku hanya mendengus dingin, dan mengalihkan pandangan ke arah yang berlawanan dengannya. Dia kembali menamparku—berulang kali, tanpa merubah sedikitpun kekuatannya.
Ah ... begitu menyejukkan hati melihat kalian bercanda bersama, sedang seseorang yang baru kukenal begitu membenciku...
... Mati.
Mungkin karena lelah, wanita itu menghentikan aksi tamparannya. Ia menatap marah tepat ke mataku, nafasnya yang menderu mengisyaratkan emosinya saat ini.
Dengan masih menarik rambutku ia bergerak cepat keluar kamar, menyeretku layaknya seekor peliharaan.
Di luar kamar terdapat ruangan yang tidak asing lagi bagiku, tempat pertama ketika aku membuka mata dalam keadaan terikat. Di ruangan ini juga, aku dapat melihat Ardnof yang tengah duduk di kursi santai.
Ketika wanita ini tetap menyeretku, aku menahan suaraku yang hendak meringis kesakitan. Dia lalu membuka sebuah satu pintu, yang ternyata merupakan pintu keluar.
"Jangan pernah kembali, keparat!" Menghempaskan tubuhku keluar ruangan, layaknya sampah tak berharga.
Bangun dari keadaan jatuh terjerembab, aku mendapati lirikan bingung dari orang-orang di sekitar—“Seorang wanita baru saja di usir oleh wanita lainnya.”. Ya, situasi yang dapat menjelaskan kejadian tertentu, walau kejadian sebenarnya tidak dapat terkuak.
Berjalan tertatih, pelan tanpa suara. Mencoba sekuat mungkin, mengabaikan segala cemooh orang disekitar. Tidak ada niat untuk menjelaskan peristiwa dibaliknya, bahkan sekedar untuk membalas cacian mereka.
Sepasang tangan kekar tiba-tiba saja menangkap bahuku. Aku yang sedari tadi berjalan tertunduk, tidak memerhatikan ketika seseorang berdiri tepat di depanku.
"Rikka, apa yang kau lakukan?!"
Suara yang kukenal dengan nada bingung bercampur geram, mengusik pendengaran. Sedikit mendongak, dapat kulihat Len dengan pandangan kesalnya.
"Haha ... Len." Aku tidak dapat mengatakan apapun, pikiranku terasa kosong, putih begitu aku melihatnya.
Alasan apa yang dapat aku gunakan?
"Dik Rikka~ kau melupakan sesuatu." Seruan dari seseorang yang berlari pelan, dari arah aku berjalan sebelumnya.
Aku terus berusaha memikirkan bagaimana cara menjelaskan hal ini, atau lebih tepatnya cara agar aku dapat menyembunyikannya. Mataku terpaku pada wajah heran Len, yang ia sedang memperhatikan orang yang memanggil akrab namaku.
Setelah selesai mengatur nafasnya, orang yang sedari tadi mencoba mengejar diriku mulai mengutarakan maksudnya.
"Kau melupakan ini, Dik Rikka." Perkataannya dilontarkan dengan nada mengejek yang dibuat-buat.
Urmes, orang yang berbicara barusan. Menunjukkan baju pelindung Len, yang ia pinjamkan padaku sebelumnya.
"Maaf ya, baju yang lainnya tidak terselamatkan." Sambungnya menjelaskan, tetap dalam nada mengejek yang menyebalkan.
Sudah tidak ada yang dapat ku sembunyikan, mata Len menatap lekat tangan Urmes yang tengah memegang baju pelindung miliknya.
"Ah, tentu saja!" Len secara tiba-tiba berkata, seiring tangannya yang hendak memegang baju pelindung itu.
"Padahal kau tidak perlu, sampai membawanya ke tempat sterilisasi." Sambung Len, dengan alasan tidak masuk akalnya.
Aku menggigit kuat bibir bawahku. Tubuhku bergetar tidak dapat mempercayai kenyataan ia tetap melindungiku saat ini. Rasanya ingin aku menganggukkan kepala menyetujui alasannya.
"Hah? Hahaha, siapa dia Rikka, kau lucu sekali." Urmes tertawa keras mendengar penjelasan itu. Sesekali ia menepuk akrab pundak Len. Sedang Len tetap diam tersenyum, melihatku yang tengah diam membeku. Untuk melirik wajahnya saja, aku begitu takut saat ini.
"Hei nak, di zaman kehancuran seperti sekarang ini, dimana kau dapat menemukan peralatan canggih yang dapat membersihkan baju APD—tanpa merusaknya?"
Urmes kembali tertawa setelah menjelaskan hal itu. Sedang aku rasanya ingin kabur dari tempat ini secepat mungkin.
"Diam! aku tidak butuh alasan logis apapun, aku benarkan Rikka?"
Len, melihatku dengan raut yang menginginkan pembenaran. Wajahnya mengisyaratkan bahwa: ia hanya ingin kenyataan berada di pihaknya.
Aku yang tidak sanggup akan tatapan yang diberikan Len—bahkan jika ingin, aku tetap tidak bisa membohonginya. Menunduk dan membiarkan air mata jatuh membasahi lorong dingin, adalah satu-satunya caraku untuk menjelaskan kejadian yang terjadi.
"Hei, jawab aku Rikka," nada suara Len berubah parau.
"Jawab aku Rikka!" Bentakan yang tiba-tiba dia berikan, mengejutkanku. Aku bergerak mundur takut secara perlahan.
"Hei hei ... kenapa kau tiba-tiba membentaknya? Rikka jadi ketakutan nih~." Urmes secara tiba-tiba merangkul pundakku.
Sedang Urmes menilik ke arah Len dengan mata yang merendahkan.
"Lantas kenapa? Kau mau marah?" Dengan frontal tangan Urmes yang sedang merangkul pundakku, secara tiba-tiba meremas dadaku tanpa rasa bersalah.
Aku yang tanpa persiapan terkesiap, dan tidak sengaja mengeluarkan suara mengerang kecil.
"Uwah, imutnya."
"Kau bajingan!" Len dengan cepat menerjang ke arah Urmes, membuatku dapat lepas dari rangkulannya.
Len berusaha mengunci pergerakan Urmes dengan menahan bagian pinggangnya, dan bermaksud menjatuhkannya. Namun, karena perbedaan ukuran dan berat tubuh, Urmes sama sekali tidak bergeming.
Ukuran tubuh Len, yang rata-rata sama dengan pemuda umur 20-an. Tampak tidak sebanding dengan ukuran tubuh raksasa Urmes.
"Kau, lemah." Sambil mengucapkan kata itu, Urmes memukul kepala bagian belakang Len dengan kepalan kedua tangannya.
Len ambruk, dan kesulitan bergerak. Dia tampak berusaha untuk berdiri, namun kembali terjatuh. Aku yang shock, bungkam tanpa dapat bergerak sedikitpun. Menutup mulutku dengan telapak tangan, tubuhku tetap tidak dapat berhenti bergetar.
"Rikka, kau tidak perlu takut." Urmes menghampiriku, dan mencengkeram kuat kedua bahuku.
"Oh iya, ada alasan lain mengapa aku mengejarmu." Setelah selesai dengan keterkejutan, aku diharuskan untuk mendengarkan kata-kata dari seorang psikopat di depanku.
"Sebenarnya, aku tidak dapat melupakan rasamu tadi malam. Setelah berulang kali berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk mengajakmu."
Aku diam membisu, bersiap mengontrol emosi yang mungkin memuncak. Namun, tidak ada yang kurasakan ketika ia mengatakan itu. Rasanya begitu hampa saat ini. Aku bahkan tidak merasa marah apalagi senang. Kesal dan benci terasa samar di benakku.
"Hei bagaimana? Apakah kau ikut?" Dia mengguncang pelan tubuhku.
"Lagian tadi malam kau terlihat begitu menikmatinya, belum lagi kau pasti akan membutuhkan obat yang diberikan Michael padamu setengah mati."
"Kau tau, tidak ada orang yang bisa lari dari pengaruh obat itu. Tapi kalau kau bersedia ikut dan menjadi mainanku, aku dapat menyediakannya." Jelasnya panjang lebar.
Ah ... begitu termotivasi melihat kalian berusaha mengejar mimpi yang kalian pilih, sedang seseorang baru saja menawariku menjadi budak ****-nya...
... Ingin mati.
Dengan kekuatan yang tersisa, aku melepaskan cengkraman pada pundakku. Menatap Len dengan mata sayu, aku berbalik dan berjalan goyah menjauhi tempat itu.
"Oi~ kau tidak akan bertahan loh." Dari kejauhan Urmes berteriak ke arahku.
...Ingin mati, aku ingin mati
Terus berjalan tertatih, aku bahkan tidak tahu kemana langkah ini mengarah. Dengan perasaan gundah, aku menaiki anak tangga yang tidak terhitung jumlahnya.
Aku ingin mati, aku ingin mati, aku ingin mati, aku ingin mati, aku ingin mati, aku ingin mati.
Tanpa kusadari, aku telah sampai di puncak tertinggi, tangga ini membawaku. Sebuah pintu berwarna hijau kebiruan, menghentikan langkahku.
"Aku hanya ingin mati!" Dengan kalimat itu. Aku membuka pintu menuju ke atap bangunan besar, bekas penjara ini.
Pemandangan yang pertama kali menyambut: ialah langit kelabu dengan hujan gerimis, dan angin yang meniup kencang helai rambut hitam bergradasi biru milikku.
Aku berjalan menuju pinggir bangunan yang tertutup sebuah pagar kawat tinggi—sebagai pengaman agar orang tidak terjatuh karena 'ketidaksengajaan'.
Dengan menghembuskan nafas kuat, aku membulatkan tekad. Ku panjat pagar yang kurang lebih dua kali ukuran tubuhku. Tanganku berulang kali tergores karena tajamnya kawat pagar. Walau darah terus mengalir dari luka goresan, aku tidak merasakan sakitnya. Entahlah, aku kehilangan kemampuan untuk merasa.
Setelah berhasil melewati pagar ini, aku berdiri pada tepi bangunan dengan berpegangan pada lubang-lubang, yang merupakan motif kawat.
Aku Membalikkan tubuh, dan memandang jauh pemandangan luas tanpa pijakan di depanku. Penglihatan ku langsung berbayang ketika aku melihat ke bawah, kakiku lemas kehilangan kekuatan. Aku terduduk, sambil tetap berpegangan pada kawat tajam.
Tanganku tidak hentinya mengeluarkan darah, yang membuat pegangan pada kawat menjadi licin.
Aku dapat jatuh kapan saja.
Setelah menghembuskan nafas beberapa kali, aku telah selesai mengatasi ketakutan ku. Berdiri sekali lagi, aku kini dapat dengan tenang melepaskan genggamanku pada kawat. Merentangkan tangan, mencoba menikmati semilir angin yang menerpa tubuhku, untuk terakhir kalinya.
Ketika aku hendak melangkahkan kakiku, pada udara kosong. Seseorang membuka pintu atap dengan tergesa-gesa.
"Rikka, jangan bodoh!" Len berteriak berusaha menghentikan.
Aku yang sudah hampir jatuh terjun bebas dari ketinggian, dengan cekatan kembali menggenggam kawat-kawat tajam itu. Membalikkan tubuhku ke arah asal suara berada, dan mendapati Len yang terengah-engah di depan pintu atap.
"Jangan mengejutkanku, brengsek!" makiku jengkel.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan bodoh, kembali kesini!" Len berseru ke arahku gusar. Kini ia terlihat lebih marah dari sebelumnya.
"Padahal aku sudah mendapatkan feel-nya, kau mengacauka–."
"Diamlah!" Kata-kataku terhenti ketika ia berteriak berang.
"Maaf, aku tidak marah. Kembalilah kemari, Rikka." Len menurunkan nada bicaranya, berusaha sehalus mungkin membujukku.
Aku hanya diam menatapnya, sedikit harapan muncul dalam pikiranku. Namun secara mendadak, ingatan tentang kejadian tadi malam kembali terlukis pada kesadaranku. Sebuah ingatan ketika aku yang dengan mirisnya memohon, agar Ardnof melanjutkan menyetubuhiku.
Malu, hina, bersalah, rasa-rasa yang seharusnya kualami saat ini, tidak dapat kurasakan.
Dengan senyuman yang tersirat rasa bersalah, aku kembali menatap Len. "Maaf Len, aku tidak dapat kembali."
"Apa maksudnya itu?! Kau tinggal memanjat kembali pagar itu, atau aku yang ke sana?" Len dengan sigap melepaskan alas kakinya guna memudahkan memanjat.
Ia berjalan berjinjit karena berusaha melepaskan sepatunya. "Tunggu di sana, jangan bergerak, ok?"
"Jangan mendekat!" Len berhenti menghampiriku.
"Bukan itu maksudku ...."
"Jadi apa maksudnya?! Kau tidak bisa kembali? Jelaskan padaku Rikka!." Len yang mulai risau kembali menaikkan intonasi bicaranya.
"Maaf, aku ..." terhenti sesaat, berpikir apakah aku akan menjelaskannya atau tidak.
"Sudah kuduga, aku tidak bisa menjelaskannya, aku bukan aku." Sambungku dengan jawaban, yang aku sendiri tidak dapat memahaminya.
"Apa maksudnya itu rikka?!" Suara serak Len yang menahan air matanya, terdengar begitu memilukan.
"Kumohon Rikka, jangan lakukan!"
"Aku, maaf." Hanya dua kata itu yang dapat kukatakan saat ini, rasanya ingin menangis begitu keras, hingga semua orang memahami perasaanku.
"Dengar Rikka, aku tidak akan marah dengan keadaanmu. Kau cukup kembali padaku, sisanya akan kuatasi." Bujuk Len padaku sekali lagi, tangannya tidak berhenti mengusap wajahnya yang panik.
"Len, aku tau kau kuat. Hanya saja, aku tidak bisa melakukannya. Kelak rasa ini hanya akan menyi–."
"Aku yang akan menanggung semua resikonya, aku akan tetap bersamamu! Aku..." Len menghentikan segala alasan dari penjelasan ku.
"Aku hanya ingin kau tetap berada di sisiku, kumohon ... Rikka!"
Pada akhirnya, aku dapat melihat titik-titik air yang mengalir pada ujung kelopak mata Len.
Ah ... betapa romantisnya orang lain bercumbu dan merasakan nikmatnya cinta, sedang aku baru saja membuat seseorang yang kucintai menangis.
Apakah aku pantas untuk tetap hidup?
"Hentikan Len, jangan tunjukkan rasa sedihmu, untuk kebodohan yang kulakukan sendiri."
Len jatuh bertumpu pada tangan, mengotori celananya dengan air hujan yang tertampung di atap.
Sejujurnya, aku ingin tetap bersamamu
Aku menggenggam erat kawat-kawat tajam ini, semua buku-buku jariku mengalirkan darah dari goresan luka.
"Maaf, aku tidak bisa berada di sisimu."
Len mencoba menggenggam erat air, namun hanya menyebabkan telapak tangannya yang terluka, karena kuatnya genggaman.
Tertawa dan menangis akan kelakuan kita, di masa depan.
Air mataku jatuh begitu derasnya, aku tidak ingin menahannya sama sekali untuk saat ini.
"Aku begitu lemah dan cengeng, ya?" Len menggelengkan kepalanya, guna menjawab pertanyaan itu.
Aku tersenyum lega melihat tingkahnya. Len tetap sama, apapun yang terjadi dia akan tetap Len yang kukenal.
"Sialan, sampai akhir aku tidak bisa berhenti mencintaimu."
Len terkejut dalam diam mendengar perkataan yang tanpa sadar terucap dari lubuk hatiku. Menengadahkan kepala, wajahnya sarat akan kesedihan. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Dengan menggigit bibir bawahnya ia berjuang menahan tangisannya.
"Jangan lupakan aku. Bye-bye Len."
Kumohon Len, aku takut. Jangan lupakan aku.
Len dengan secepat mungkin bangkit dari posisinya dan berlari menuju ke arahku. Namun karena jarak yang cukup jauh, dia tidak akan sempat menggapai tubuh atau setidaknya tanganku.
Berbahagialah, maaf akan keegoisan-ku.
Mendorong tubuhku ke belakang, membiarkannya terjatuh dari ketinggian yang dapat membunuh siapapun.
Tubuhku melayang semakin mendekati daratan, dan bersiap hancur akan dampak dari tubrukan. Tangan yang menjulur ke atas, seakan menggapai tubuh Len yang tertutup pagar kawat.
"Rikka!!" Dapat kudengar teriakan putus asa terakhir Len, yang tidak dapat menghentikan ku.
Selamat tinggal.
—