System: Disintegration Project

System: Disintegration Project
Before the accident (Part 1)



PADA akhir tahun 2019, sebuah Virus ditemukan. Virus yang menginfeksi lebih dari 5% penduduk di dunia, dan akan terus bertambah seiring dengan waktu, menjadi masalah utama yang harus diselesaikan secepat mungkin.


Setiap negara berlomba, mencari dan menciptakan solusi terbaik untuk permasalahan ini.


Dimulai dengan melakukan isolasi total di setiap bagian negara, juga mengembangkan vaksin yang dapat menghentikan laju penyebaran Virus tersebut.


Bahkan dengan keadaan dunia yang sedang dalam kekacauan, beberapa pihak masih memprioritaskan egoisme-nya. Laju ekonomi tetap berlangsung, perilaku busuk manusia dalam kehidupan sosial tetap sama seperti biasanya.


Teror, penipuan, perang, dan perampasan hak dari yang lemah tetap terjadi di sana-sini. Hingga akhirnya, peraturan yang telah di bangun kokoh sedemikian rupa, runtuh.


Para peneliti menyerah untuk mencari dan menciptakan solusi guna mengakhiri pandemic, membiarkan manusia jatuh dalam kepunahannya sendiri. Setiap sudut bagian dunia menjadi arena perkelahian, dan perebutan kekuasaan.


Manusia dan alam kembali ke dasar—"Yang kuat berkuasa dan, yang lemah akan dimangsa.". Kehancuran akan tetap terjadi, di manapun manusia berpijak. Tidak peduli akan jaman dan perkembangan teknologi.


Beberapa tahun berlalu, populasi manusia turun drastis hingga ±300 juta jiwa. Jumlah ini akan terus berkurang, seiring dengan waktu. Persediaan makanan yang semakin menipis, dan mutasi virus yang semakin berbahaya.


Manusia yang tersisa, membangun sendiri Selter mereka. Layaknya binatang, manusia hidup dalam koloni, dan menciptakan daerah-daerah kekuasaannya–.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatianku, dari kegiatan rutinitas belakangan ini. Dengan menulis dan membaca diary yang kubuat berdasarkan kejadian yang kualami, dapat mengurangi kebosanan yang kian menumpuk.


"Iya, ada apa?"


"Giliranmu" sebuah suara berat, menjawab dari balik pintu ruangan.


Aku bangkit dari meja belajarku, dan berjalan sembari memilih tempat kaki berpijak. Sedikit sulit berjalan di ruangan ini, buku yang berserakan di segala penjuru, menjadi penyebab utamanya.


Bukan malas, aku hanya terlalu giat belajar. Hingga tidak punya kesempatan untuk membereskan kamarku. Ya, seperti itu alasannya.


Kuangkat lalu ku buang asal tumpukan-tumpukan buku, guna mencari sebuah benda yang merupakan syarat khusus saat bekerja.


Mataku secara liar melirik ke sekeliling, dengan tanganku yang tidak hentinya mengobrak-abrik setiap benda di sekitar. "Di sini juga bukan."


"Tunggu sebentar!" Seruku panik ketika ketukan kedua dilakukan oleh orang dari balik pintu.


"Tidak ada." Tuturku pelan, dan mengembuskan nafas panjang.


Dengan berat hati aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Mendapati sesosok pria berdiri tegap di depan ruangan menungguku.


"Hei, bisa pinjamkan aku baju pelindungmu?" Ucapku dengan nada memohon, dan telapak tangan yang menyatu di depan dada.


Raut wajah pria yang tidak kukenal itu berubah heran. "Huh??"


Aku menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, setelah akhirnya memasrahkan keadaanku. Berjalan sempoyongan melewati pria itu yang masih terdiam bingung.


"Hei setidaknya aku bisa berikan ini." Ujar pria itu sembari menyodorkan masker yang masih tersegel plastik.


Aku mengambil masker itu, dan memberikan senyuman tulus. "Terima kasih, ya"


Setelah obrolan singkat itu, aku berjalan santai menuju ruang kerjaku. Setiap langkah di bangunan tua penuh karat ini, bergema nyaring memenuhi lorong.


Melewati ruangan-ruangan yang tampak sama dengan milikku. Beberapa orang sedang menikmati waktu luangnya, menciptakan kesibukan masing-masing. Bersenandung riang ditemani oleh iringan musik atau permainan kecil—guna menghibur diri.


Tidak sedikit dari mereka yang sekedar menyapa, atau mengajakku bergabung. Dengan sedikit penolakan, aku berhasil lepas dari tawaran mereka.


Langkahku semakin kupercepat, menuju tempat bertugas.


"Oi, Rikka!" Lenganku mendapat tarikan pelan dari seseorang. Aku berbalik dan mendapati seorang pria, tampak sedikit kesal sambil memegangi lenganku.


"Len, Ada apa?"


"Aku sudah memanggilmu dari tadi, apa kau tidak mendengarnya?" Tuturnya gemas, karena jawabanku? Atau pada diriku?


Mungkin karena terlalu fokus pada tujuan, atau salah mengira suaranya adalah salah satu ajakan dari orang-orang sebelumnya, secara tidak sadar aku mengabaikannya.


"Maaf, aku tidak dengar." Jawabku sambil memukul pelan puncak kepalaku, dan menunjukkan senyum bercanda padanya.


"Lupakan itu, kau ingin pergi kemana?" Wajah kesalnya berubah, berganti dengan raut penasaran.


"Jadwalku berjaga." Dengan sejelas dan sesingkat mungkin, aku menjawab pertanyaannya.


"Dengan pakaian itu?" Kulihat kembali pakaian kasual yang kukenakan, dan menghela nafas jemu.


"Ada alasannya, tapi ... ya." Aku mengelak untuk menjelaskan, dan hanya menjawabnya malas.


Terdiam beberapa saat, Len tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Kau selalu saja begitu, ikuti aku!" Pintanya sambil menarik lenganku, yang sedari tadi belum dilepasnya.


Aku mengikutinya dalam diam—bingung. Menyusuri kembali lorong yang terdapat ruangan-ruangan berderet rapi.


"Len, kita mau kemana?"


"Ikuti saja." Len tetap menarikku, sembari menjawab dengan suara pelan.


Dia berhenti melangkah, ketika kami sampai di sebuah ruangan yang terbuat dari pintu besi. Merogoh kunci dari balik saku celananya, Len masuk ke dalam ruangan. Meninggalkanku yang dilanda keheranan.


Selang beberapa menit, ia keluar dengan sebuah set lengkap baju pelindung (APD).


"Pakai di dalam!" Dia menyerahkan baju itu padaku, kemudian membukakan pintu.


"Kau tidak perlu Len, aku hanya bertugas menjaga pos hari ini."


Dia hanya diam merespon tolakanku, namun pandangannya tidak beralih dari wajahku, seakan tidak menerima segala jenis bantahan.


"Baiklah." Pada akhirnya, aku tidak dapat menolak niat baiknya.


Aku masuk ke dalam ruangan, yang tak lain ialah kamar Len. Mendapati sebuah kamar yang cukup rapi, dengan barang yang tersusun dalam rak-rak bertingkat. Jika di bandingkan, betapa malasnya aku menyusun buku yang berantakan dalam kamarku, aku hanya dapat tersenyum miris.


Tidak ingin berlama-lama, aku menggunakan baju yang dipinjamkan Len, dan keluar secepat mungkin.


"Aku selesai, terima kasih untuk bajunya."


Dia mengangguk, setelah mengamati baju yang kugunakan. "Terlihat cukup bodoh sebenarnya, badanmu terlalu kecil."


"Huh?!" Aku menyorot wajahnya dengan raut sebal, sambil menyuarakan komplain.


Bukannya kau sialan yang menyuruhku menggunakannya? Maaf saja jika tubuhku tidak sebagus yang kau kira, apa kulepas saja? pikirku hendak melepas baju pelindung yang ku gunakan.


Dia memegang tanganku, yang hendak membuka resleting baju pelindung ini. "Tapi tetap cantik, seperti biasanya."


Mata biru itu menatapku begitu intens, seakan mencoba menguak setiap pikiran dalam kepalaku. Dari jarak yang begitu dekat ini, aku dapat mencium aroma maskulin yang dari tubuhnya.


Tak tau berapa lama kami saling memandang. Wajahku yang terasa terbakar, dengan tanganku yang gemetar dalam genggamannya.


"Haha, tomatnya matang." Dia melepaskan genggaman tangannya, terkekeh kecil dengan nada ejekan.


Jengkel? Tidak. Lebih tepatnya geram saat ini. Dengan pukulan terkuat, yang setidaknya saat ini bisa kulakukan. Menghantam tepat, menuju perutnya tanpa halangan.


Berjalan cepat, aku meninggalkannya yang sedang tersungkur, sambil meringis menahan sakit di perutnya.


"T-tapi bagian cantiknya bukan candaan." Teriaknya terbata-bata.


"Diamlah!" Dengan tetap berjalan menjauh, aku mengucapkan kata itu pelan.


Wajah yang memerah, dengan tangan terkepal. Kebiasaan yang buruk untuk berangkat kerja.



HANYA butuh 5 menit, untuk sampai di tempat biasa aku bekerja. Merapikan sedikit penampilanku, mengecek ulang kerutan baju pada lenganku dan mecoba menyamarkannya.


Dengan satu tarikan nafas panjang dan tersenyum kecil, kubuka pintu ruang kerjaku.


"Hei, kenapa lama sekali? Kemari perkenalkan dirimu!" Seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya, langsung menyambut, begitu mendapati sosokku.


Di sampingnya berdiri pria lain. Tubuhnya yang besar dengan rambut pirang sebahu, menguatkan perawakan ke barat-baratan.


Melangkah mendekat, aku menghampiri ketua dengan gugup.


Menundukkan kepalaku sedikit, sebagai penghormatan. "Salam kenal, aku Kaede Rikka."


"Ah, Michael. Michael Ardnof." Balasnya sembari menyodorkan tangan. Menyadari maksudnya, kusambut salaman tangannya dengan sigap.


Wajahnya yang sedang menutup matanya dan tersenyum ramah, malah memberikan kesan misterius. Karena tidak terbiasa dengan acara formal seperti ini, aku hanya merespon dengan senyuman kecil. Walaupun aku tak tahu dia dapat melihatnya atau tidak.


"Michael disini sebagai perwakilan, dari group Redemption." Ketua menyela dari perkenalan kami. Aku melepaskan tautan tanganku dengannya, dan mulai memperhatikan ketua.


"Aku ingin kau mengajaknya berkeliling, melihat-lihat fasilitas kita."


Aku sedikit mengerutkan dahi mendengar pernyataan ketua.


"Tapi ketua, ini jadwalku berjaga." Ujarku mencoba memberi alasan yang paling masuk akal, guna menolak perintah tersebut.


"Aku tahu itu, aku yang mengatur segala tugas kalian." ketua memutar matanya jenuh, sambil mengayun-ayunkan tangannya ke udara.


"Hari ini kau bebas, aku sudah memanggil penggantimu," sambungnya.


"Ketua, apa tidak bisa orang lain yang mengajaknya berkeliling?" Pintaku sekali lagi, mencoba sebisa mungkin untuk menolak tugas itu.


Dia mendorong bahu Ardnof pelan, memutar balikkan tubuhku, lalu mendorong bahuku juga menuju pintu keluar.


"Jangan banyak permintaan, kalau ada yang lain, aku sudah memintanya." Ketua tetap gigih akan keputusannya, mengisyaratkan bahwa ia tidak menerima ajuan apapun.


Aku menghela nafas pelan—sudah berapa kali aku hari ini menghela nafas, kebahagiaanku akan habis tak bersisa.


Aku hendak membuka pintu ruangan, ketika kenop pintu sudah mulai bergerak terbuka, saat aku hendak menyentuhnya.


Dari balik pintu yang terbuka, berdiri seorang pria dengan rambut hitamnya, tanpa baju pengaman.


Dia, Len. Menatap ke arahku dan Ardnof secara bergiliran, dengan wajah bingung. Kemudian berganti dengan memberikan senyuman hangat, yang tersungging di bibirnya.


"Len, kau sudah sampai?" Ketua yang sebelumnya sedang mendorong bahuku, mulai menaruh perhatian pada Len.


"Kemari cepat!" Len berlalu melewati kami, menghadap pada ketua.


"Dimana baju pelindungmu?! Tidak bisakah kau, setidaknya seminggu saja mematuhi perintah?!"


"Haruskah ku pindahkan kau ke divisi lapangan, agar kau mengerti bahayanya penyakit ini?!" Rentetan pertanyaan diberikan oleh ketua, sedang Len hanya merespon dengan senyuman canggung.


Merasa bersalah, aku membalikkan tubuhku hendak meluruskan kesalahpahaman ini.


"Ketua–." Omonganku terhenti, ketika Len melirik cepat ke arahku, seiring dengan gelengan kepala yang samar.


"Maaf ketua! Bajuku hilang, aku tidak dapat menemukannya, laporan selesai!" Suara yang lantang, dengan nada kemiliteran yang dibuat-buat, dibalas dengan helaan nafas panjang oleh ketua.


Ketua yang mungkin telah terbiasa, menatap Len dengan mata bosan. "Tambahan waktu kerja untukmu."


Aku memandang wajah Len, setidaknya mengisyaratkan bahwa aku menyesal. Sedang Dia hanya menyunggingkan senyum, dan menjulurkan lidahnya.


Balasan senyum dengan maksud ejekan yang kuterima darinya kali ini, tidak membuatku merasa kesal—namun lega.


"Kenapa kalian masih di sini, cepat pergilah!" Mungkin karena menyadari keberadaan kami yang masih di sini, ketua langsung menyuruh kami untuk enyah dari posisi.


"Oh, dan Michael, bersenang-senanglah~!" sambungnya dengan nada melambai.


Pintu ruangan tertutup, menyisakan kami berdua dalam suasana canggung yang menguasai. Kulihat sekilas Ardnof yang tetap diam tersenyum, dengan mata tertutup.


Sedikit menarik nafas panjang, aku membulatkan tekad untuk memulai percakapan.


"Ehem, Ardnof. Kau ada rencana ingin kemana?"


Ardnof menolehkan kepalanya ke arahku. "Aku tidak tau, kuserahkan padamu Rikka, benar?"


Aku bukanlah tipe orang yang terganggu, ketika seseorang memanggil dengan nama panggilanku. Hanya saja untuk orang yang baru kukenal, rasanya cukup aneh.


"Panggil Kaede, kalau bisa" Aku berjalan mendahuluinya yang sedang melamun, sembari menganggukkan kepalanya pelan.


Mungkin karena menyadari aku telah berjalan cukup jauh, ia mulai menyusul.


Tidak ada seorang pun yang memulai percakapan. Berjalan dalam diam, dan hanya ditemani suara tapak kaki yang bergema di lorong. Ardnof tetap teguh pada pendiriannya. Tersenyum, dan melangkah dengan tenang.


Mata, hanya matanya yang berbeda kali ini. Kelopak mata yang terbuka lebar itu, menampakkan pupil kuning keemasan mirip rambutnya. Tampak mencolok dalam lorong yang gelap ini.


"Jadi, apa yang kau lakukan di sini?" Ucapku memecah keheningan sekali lagi.


Ardnof yang tiba-tiba diajak berbicara, menolehkan kepalanya ke arahku.


"Aku sedang melakukan penelitian. Simple-nya seperti studi karya wisata, ketika dunia masih normal." Jawabnya sambil mengangkat jari telunjuk.


Aku mengangguk pelan, memahami maksudnya. "Kalau begitu, kau tidak sendirian disini?"


"Ya, kami ada bertiga."


"Masing-masing dari kami terpencar di sini, guna mengefisienkan waktu, mungkin." Sambungnya.


Mungkin, apaan maksudnya dengan mungkin? Aku bermaksud mengutarakan pemikiranku, yang kemudian kubatalkan ketika seorang pria bertubuh sangat besar, mendatangi kami dari arah berlawanan.


"Yo, Michael."


Temannya?


Ardnof melangkah ke depan, menghampiri pria itu.


"Yo, jadi bagaimana? Selesai?" Ardnof berbicara dengan bahasa asing, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Tidak ingin menganggu, aku hanya diam berdiri di samping Ardnof.


"Hampir selesai, tinggal beberapa lagi yang belum terpasang." Teman Ardnof juga menggunakan bahasa yang tidak kumengerti.


Kini mereka berbincang dengan dunianya sendiri, dan aku yang hanya diam melirik sekitaran.


"Omong-omong, siapa dia?" Setelah pria besar mengucapkan itu, Ardnof menaruh pandangan ke arahku. Kemungkinan besar, mereka saat ini sedang membicarakan tentangku.


"Dia salah satu anggota group ini, pemimpin mereka menyuruhnya mengawalku." Ardnof berbicara panjang ketika melihatku.


"Rikk- ah, Kaede maksudku. Perkenalkan, dia temanku yang kuceritakan sebelumnya." Kini ia berbicara dengan bahasa yang kumengerti.


Aku dengan sigap, sedikit menundukkan kepalaku, guna memberi penghormatan. "Kaede Rikka."


Teman Ardnof membalas perkenalanku, dengan menjulurkan tangannya yang besar. "Brune Urmes."


Aku menyambut salam itu. Tanganku tampak tenggelam, dalam genggaman tangannya. Perbedaan ukuran yang begitu mencolok.


"Kau dapat teman perjalanan yang cantik seperti ini, sedangkan aku dengan pak tua berisik." Urmes menyuarakan kalimat itu dengan nada mengeluh pada Ardnof, namun hanya dibalas dengan senyuman kecil.


Senyuman Ardnof sedikit mengembang, seiring dengan tertutupnya kelopak matanya.


"Kenapa kau tampak iri begitu? nanti malam kita bisa menggunakan dia bersama." Ujarnya dengan senyuman yang sangat lebar.


"Eh, Benarkah? Bagaimana dengan Licia, bukan kah dia akan bersamamu?"


Ardnof memiringkan kepalanya sedikit. "Kepala regu tampaknya akan bersenang-senang dengannya, malam ini."


Aku yang tidak tau apapun tentang pembicaraan mereka, hanya membalas senyum yang diberikan Ardnof. Sedang Urmes, terkekeh kecil karena sebab yang tidak ku-ketahui.


"Baiklah kami pergi dulu, lanjutkan pemasangannya."


Urmes mengangguk menanggapi kalimat Ardnof.


"Ayo pergi Rikka, aku ingin melihat generator listrik kalian." Ardnof berjalan duluan melewati Urmes. Aku sedikit membungkukkan badan, dan pergi mengikuti Ardnof.


"Sampai jumpa Rikka."


Aku berbalik, melihat Urmes yang tengah melambai ke arah kami. Mungkin dia tidak terlalu fasih dalam bahasa Jepang



KEMBALI berdua dengan Ardnof, berjalan menyusuri segala jenis fasilitas yang berada di bangunan tua bekas penjara ini.


Group kami didirikan dengan perhitungan matang, penghuninya tidak akan kesulitan untuk hidup di dunia yang telah hancur. Fasilitas seperti Perkebunan dalam ruangan, pembangkit listrik, tambak ikan, bahkan hingga penyedia air bersih. Menjadi penyokong kehidupan masing-masing individu di tempat ini.


Langit yang mulai semakin gelap, menjadi pertanda akan berakhirnya tugasku sebagai pemandu.


"Kaede, mau mampir ke ruanganku?" Sebuah tawaran dari Ardnof, ketika kami sedang berjalan menuju tempat pertama kali bertemu.


"Maksudnya?" Dengan penuh rasa penasaran, aku menanyakan kata itu.


Apakah orang yang baru kukenal, baru saja mengajakku ke kamarnya? Atau aku hanya salah sangka?


Ardnof langsung menggeleng-gelengkan cepat kepalanya. "Bukan itu maksudku, sebagai penyambutan kedatangan kami. Ketua group ini mengadakan pesta di ruanganku."


Aku menjawabnya dengan berdeham mengerti. "Maaf, aku ingin beristirahat hari ini."


Hampir saja pikiranku mulai melayang membayangkan segala hal kotor yang terlintas.


Tampak kekecewaan yang terlukis di raut wajah Ardnof. "Ah, tidak masalah, beristirahatlah yang tenang,"


"Kalau begitu, sampai jumpa Rikka." Sambungnya setelah berhenti beberapa saat.


Aku bermaksud mengantarnya kemanapun tujuannya. Namun, tampaknya kalimat itu sebagai pertanda untuk kami berpisah, dan pergi menuju tempat masing-masing.


Dia ternyata orang baik. Aku berbalik, dan pergi meninggalkan Ardnof yang masih melambai.


Diperjalanan pulang, aku hanya bersenandung pelan, sembari menikmati pemandangan kelabu dari suasana kota yang terus menerus mendung. Suasana lorong hari ini lebih sunyi dari biasanya, tidak ada seorang pun yang tertangkap oleh pandanganku.


   Aku tetap berjalan pelan, sebelum tiba-tiba menabrak sesuatu. Sesuatu yang muncul dari persimpangan lorong itu, merupakan tubuh besar dari seseorang. Menengadah untuk melihat wajahnya. Tubuhku yang hanya setinggi dadanya, terlihat begitu kecil.


"U-Urmes?" Setelah memastikan orang yang ku tabrak, aku mendapati Urmes yang tengah tersenyum ke arahku.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Urmes tidak menjawab pertanyaan itu, dia tampak melihat sekeliling dengan lirikan matanya. Teringat jika mungkin saja Urmes tidak mengerti perkataan ku. Dengan gelagapan aku berusaha berbicara dalam bahasa Inggris.


Sedikit info, nilai bahasa Inggris-ku adalah 8, dari se–.


"Kau tidak boleh begitu." Ucapnya mengejutkanku karena ia menggunakan bahasa Jepang yang fasih.


Aku menghela nafas lega karena ia dapat berbicara dengan bahasa yang sama, namun bingung dengan maksud perkataannya.


Tanpa peringatan, sebuah tamparan keras tiba-tiba saja mendarat di wajahku. Aku terhuyung ke belakang beberapa langkah. Kepalaku langsung pusing tak dapat merespon apapun, semuanya buram. Butuh beberapa detik, sebelum dapat kembali sadar dari tamparan keras itu.


"Apa maksudnya ini?!" Aku terlalu lemah saat ini, dan tamparan yang kedua kembali mendarat di pipi kiri ku.


"Urmes? 'Tuan' Urmes maksudnya bukan? Dan ..."


"Tunjukkan rasa hormat mu!" Sambungnya dengan sekali lagi tamparan, kini mengenai pipi kananku.


Semuanya berbayang pada penglihatanku, aku tidak dapat memfokuskan pandangan. Tubuhku rasanya dapat ambruk kapanpun.


Terhuyung-huyung, dan hampir terjatuh terjerembab di lantai kotor. Detik terakhir, tangan Urmes meraih tubuhku. Menghentikan jatuh ku, dan mengangkatnya dengan mudah.


Aku tidak tau kemana aku dibawa. Ingin ku berteriak dan meminta pertolongan, tetapi suara ini tak hendak keluar. Hanya sebuah suara serak, pelan dan tak bertenaga.


Menyerah, aku memejamkan mataku, dan tenggelam dalam kegelapan.