
..."Mungkin aku telah terlalu lama hidup dalam kebohongan manis, hingga begitu takut akan kematian."...
–
SUDAH amat sering aku mempertanyakan, sebuah pertanyaan simpel namun tidak pernah ditemukan jawaban pastinya. Selalu ingin kutanyakan, namun tidak ada yang dapat memberikan jawaban pastinya.
Semua manusia menjawab pertanyaan ini, hanya berdasarkan teori Religius, atau sebuah riset Ilmiah tanpa pengalaman. Selain dari dua (2) jawaban di atas, sisanya hanya berdasarkan gagasan ataupun opini pribadi.
Mudahnya dapat di katakan, “No evidence”.
Senyap, hampa, mencekam. Aku bahkan tidak tahu saat ini sedang dalam keadaan malam, atau aku yang kini tidak bisa melihat apapun. Layaknya berada di lautan dalam nan gelap, aku semakin tenggelam dan tenggelam.
"Sudah berapa lama aku dalam kondisi seperti ini. Apakah sehari telah berlalu? Atau mungkin sudah beberapa Minggu telah terlewati? Jadi sekarang sudah berapa bulan? Tidak mungkin hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun kan ... kan?"
Mungkin hanya dengan memikirkan hal-hal itu, aku dapat mengetahui kalau aku sedang terbangun saat ini.
Namun pemikiran itu tidak pernah berhenti, atau mungkin aku yang tetap terjaga dalam dimensi kosong ini, tanpa bisa menghilangkan kesadaranku sedikitpun.
Aku tidak bisa merasakan anggota tubuh sedikitpun, tidak dapat mengetahui apakah cuaca sedang panas ataupun dingin.
"Apakah seluruh organ tubuhku tetap beroperasi normal selayaknya? Apa aku masih bernafas saat ini? Sudah berapa lama aku tidak makan?"
Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus berulang, seiring dengan diriku yang mulai kehabisan pertanyaan. Meski kukatakan kehabisan, tetap tidak ada satupun pertanyaan yang telah terjawab.
Setelah sekian lama bertanya-tanya. Akhirnya aku dapat memuaskan rasa penasaranku, dengan sebuah jawaban atas pertanyaan paling sulit—Sebuah jawaban paling buruk juga, yang aku bahkan menolak untuk memikirkannya.
"Ahh ... jadi seperti ini rasanya, mati."
Tidak ada yang menanggapi semua perkataan ku. Bahkan dari awal aku tidak tahu, apakah ada seseorang di sekitar sini.
"Yah, tidak buruk juga perasaan ini," ucapku dengan riangnya.
"Aku bebas melakukan apapun disini, tidak ada yang mengganggu ataupun terganggu akan tindakanku."
Semakin aku mengatakan kalimat-kalimat pendukung itu, semakin aku merasakan kesepian yang tak terhingga. Moralitas ku tidak sembuh, namun malah semakin memburuk tahap demi tahap. Rasanya aku ingin seseorang membantuku untuk bangkit, menolongku dengan kata-kata murahan apapun, yang bisa membuatku terus berusaha.
Aku takut, aku ingin berbicara dengan seseorang. Biarkan aku menghilangkan rasa kesepian ini!
"Aku tidak perlu takut lagi ketika di sini." Ucapku mencoba menyembunyikan perasaan yang akan meluap.
Kumohon, bahkan jika aku hanya akan tersiksa oleh rasa sakit, bahkan jika aku hanya akan terus kecewa akan harapan yang datang ... kembalikan perasaanku!
Pertentangan atas kemauan hati dengan pemikiran logis ini, terus menerus memberikan dampak yang menyakitkan bagi diriku.
"Dari awal aku terlalu lelah memikirkan kehidupan, tapi sekarang aku dapat beristirahat. Ahh, syukurlah, syukurlah~."
Masih banyak tempat yang ingin kubawa kakiku melangkah, masih banyak cita rasa di dunia yang belum kucoba, aku masih ingin merasakan sensasi udara yang mengalir di tenggorokanku ketika aku bernafas.
Aku sampai ke fase ketika, aku bahkan telah tidak mempercayai diriku sendiri untuk berjuang. Namun, perasaan terus-menerus memaksaku untuk mencoba sekali lagi.
Untuk beberapa saat aku terdiam, aku hanya ingin menghentikan kontradiksi dalam diriku ini untuk sebentar saja.
"Sialan, aku ingin hidup!"
-
SUDAH begitu lama sejak aku mengatakan kalimat manis itu. Mungkin hatiku telah lelah berusaha percaya, dan memutuskan untuk berhenti berharap.
Saat ini tetap sama, aku tetap berada dalam kegelapan total yang hanya menyisakan setitik cahaya. Ya ... setitik cahaya yang kutemukan setelah berjuang mencari harapan—Cahaya yang sama yang menghancurkan harapan itu juga.
Dari awal aku seharusnya paham, aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa bergerak. Berbagai cara kulakukan untuk mendekati sumber cahaya itu, tetapi sama sekali tidak merubah intensitas cahaya tersebut.
Ingin sedikit saja kugapai, tetapi kehendak berkata bahwa: Aku lebih cocok berada dalam kegelapan, merenung dan menyesali keputusan.
"Setidaknya aku bisa tau, aku dapat merubah arah pandanganku."
Sekarang aku hanya sedang bersenandung ria, menciptakan lagu ke 102 milikku saat ini. Sebelum tiba-tiba titik cahaya itu mulai membesar sedikit.
Aku cukup terperanjat ketika menyaksikan kejadian itu. Mulai menaruh fokus pada cahaya itu, memperhatikan bentuk cahaya itu yang semakin besar dan kian menghampiriku.
Setitik cahaya yang dulu menjadi harapan, sekarang telah hampir memenuhi pemandangan di depanku sebagai sumber ketakutan. Tidak butuh waktu lama, kini penglihatanku telah terselimuti oleh ruang dengan warna putih bersih secara keseluruhan.
"Ganti sesi?" Tuturku pelan, bingung akan peristiwa yang terjadi saat ini.
"Hoi~, aku lebih suka dengan ruangan yang gelap tadi~!"
Mencoba melihat sekeliling, namun tidak ada yang berubah, tetap putih di manapun. Aku bahkan mulai berdelusi tentang bentuk sebenarnya ruangan ini.
Hm, kotak? Enggak enggak, aku tidak melihat sudutnya. Ujarku dalam hati sembari melihat 45° ke atas kanan.
Kalau begitu bulat? Tapi aku tidak tahu di depanku ada cekungan atau tidak.
[Pertanyaan: Apakah kau ingin kembali ke tempat yang sebelumnya?]
Aku terkesiap ketika tiba-tiba sebuah suara muncul. Secara liar melayangkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan dari suara itu. Nihil, aku tidak dapat menemukannya.
"Siapa kau?! Keluarlah!" Dengan gusar aku berteriak pada siapapun yang mengeluarkan suara tadi.
[Jawab: System; Sebuah program yang menyusun, mengatur, dan memutuskan secara sempurna dan terperinci segala hal tentang dunia.]
[Pertanyaan: Apakah kau ingin kembali ke tempat yang sebelumnya?]
Suara ini terus bermunculan, tetapi aku tidak dapat mengetahui darimana datangnya. Tidak dari kiri, kanan, depan ataupun belakang. Terdengar seperti suara ini bergema di dalam kepalaku.
"Tidak, aku tidak ingin kembali. Tapi bisakah kau menjawab pertanyaanku?!" Aku tidak mengetahui apakah dia dapat mendengarku dengan jelas, jadi aku tetap berbicara dengan nada tinggi.
Tidak ada jawaban sama sekali, aku mulai takut dia tidak ingin menjelaskan apapun, dan pergi meninggalkanku.
"Hei kumohon beri tahu aku, aku ada di mana saat ini?!"
[Jawab: Alter; Sebuah tempat yang diciptakan untuk menyimpan data, dari Program (makhluk hidup) yang telah berhenti beroperasi.]
"Data? Apa maksudnya data dari manusia?!" Dapat kutebak wajah yang mungkin kutampilkan saat ini, wajah dengan dahi yang berkerut ketika aku bingung.
[Jawab: Tidak dapat menemukan jawaban yang cocok untuk pertanyaanmu. Mencari referensi: manusia menyebutnya dengan; Jiwa.]
[Penjelasan lebih lanjut: Jiwa; Menurut referensi Jiwa atau Jiva berasal dari bahasa Sanskerta yang art-]
"Aku mengerti, aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya lebih lanjut!" Aku memotong penjelasannya, aku merasa ini akan lama jika dia meneruskannya.
Menghembuskan nafas kasar. Dengan segala event yang berlangsung saat ini, aku merasa otakku tidak dapat mencernanya lebih jauh.
"Baiklah, jadi System?" Ucapku ragu harus memanggilnya apa.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan menarikku kemari?"
Mungkin ada suatu hal yang dapat kulakukan, sehingga "dia" yang mengaku sebagai Regulator memanggilku.
[Jawab: System; Sebuah Program yang menyusun, mengatur, dan memutuskan secara sempurna dan terperinci segala hal tentang dunia.]
[Penjelasan lebih lanjut: System memiliki authority untuk ...]
Sialan, aku tidak bermaksud menanyakan itu.
Setelah itu, suara tadi mulai menjelaskan secara terperinci tentang apa itu System. Aku hanya diam menyesali cara bicaraku, dan mendengarkan informasi yang mungkin akan berguna.
Aku tidak tau definisi waktu di tempat ini, tapi mungkin telah berlalu 3 jam ketika aku masih di bumi. Hingga akhirnya suara itu selesai menjelaskan pengertian dari System.
Singkatnya ...
System sendiri merupakan “Tuhan” yang mengatur kehidupan. Dia dapat menciptakan dunia dari rangkaian program, dan menghentikan pengoperasian program-program tersebut.
Program ini dapat di atur oleh System dengan menambahkan inti, yang disebut dengan (Data). Kumpulan Data ini juga yang akan mengatur berbagai aspek dari makhluk hidup.
Kemampuan, kebutuhan, kebiasaan, bahkan keinginan. Semuanya merupakan data yang di ciptakan oleh System pada Program (dunia), dan akan tertulis dalam Memory (takdir).
Yah terserahlah, aku bahkan tidak percaya tuhan dari awal. pikirku dalam hati, merasa tidak ingin peduli, dan ikut andil dalam sebuah argumen. Dari awal aku telah mati, apa yang ingin dilakukan tuhan pada arwah sepertiku? Memasukkanku ke neraka?Tidak buruk juga, mungkin aku dapat menemui arwah lainnya di sana ...
[Jawab: System telah selesai memproses izin, syarat, dan ketentuan yang dibutuhkan, untuk mengoperasikan kembali Program-mu.]
Aku cukup terkejut ketika suara itu muncul kembali. Aku malas untuk berpikir misal masih ada beberapa penjelasan lanjutan tentang System.
Apakah ini jawaban dari alasan "dia" memanggilku? Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak menanyakan sesuatu dengan suara keras.
Jika mengamati situasinya. System akan memberikan jawaban, jika aku bertanya padanya. Namun tidak menjawab jika aku menanyakan sesuatu dalam hati.
[Jawab: Sama seperti perkataannya, pengoperasian kembali bertujuan untuk memulai/menjalankan kembali Program. Mencari referensi: manusia menyebutnya dengan; Reinkarnasi.]
[Progress: 74%]
"Hei apa maksudmu, apa kau telah memulai prosesnya? Kau bahkan tidak menanyakan pendapatku!" Aku berteriak kesal padanya yang memutuskan seenaknya.
[Jawab: System tidak membutuhkan izin apapun dari manusia, untuk menjalankan keputusannya]
"Sialan, egois sekali!"
Aku tidak dapat melakukan apapun padanya, dari awal aku bahkan tidak tau seperti apa bentuknya. Aku diam dan mulai memikirkan segala informasi yang kudapatkan dari System.
"System ..." Aku memanggilnya ketika menyadari sesuatu.
"Sebelumnya kau menanyakan padaku 'Apa aku ingin kembali ke ruang sebelumnya?'." Dapat kuingat jelas ketika dia menanyakan pendapatku untuk kembali.
"Itu artinya memanggilku kemari bukan berasal dari keputusanmu."
Jika keputusan System mutlak, berarti memanggilku bukanlah melalui keputusannya. Karena jika benar itu keputusannya, ia dapat memanggilku tanpa mempedulikan pendapatku untuk kembali.
"Lalu kau berkata bahwa kau memproses izin, syarat dan, ketentuan agar program-ku dapat berjalan kembali."
" Jika disusun menurut segala kejadian, Itu artinya ada sesuatu yang memberimu perintah untuk memanggilku kemari. Juga kau menegosiasikan perizinan, syarat dan ketentuan dengannya untuk menghidupkanku kembali."
"System, siapa atau apa itu?" Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan tidak langsung dijawab oleh System.
Tidak ada suara dari System untuk beberapa saat. Aku mulai ragu bahwa selama ini aku hanya berhalusinasi, dan berbicara sendirian.
[Jawab: Error, tidak dapat menemukan authority untuk memberikan jawaban.]
Aku memang terkejut ketika tiba-tiba saja System bersuara kembali, tetapi aku lebih dikejutkan oleh jawabannya.
"Apa maksudnya itu?! Ada sesuatu yang memiliki kekuasaan lebih tinggi darimu?!" System sama sekali tidak memberikan jawaban kali ini.
"Hei jawab aku, brengsek!" Mengumpatinya berulang kali, tapi System tidak bergeming.
"Maaf, aku tidak bisa." Kali ini, suara yang berbicara padaku berubah.
Suara yang bergema di kepalaku kali ini, merupakan suara lembut dari seorang wanita. Aku segera mencoba mencari-cari keberadaan dari suara wanita itu. Namun layaknya seperti System, keberadaannya sama—tidak kuketahui.
[Progress: Complete.]
[System: Re-creating program. Creating the visual. Taking Data from memory ... Finish. Rewrite data ... Finish. Insert data ... Finish.]
[Code program: No. 280SZ2MF Processing to Run ... Success.]
[Teleporting to the Zylth in: 10.]
Belum selesai aku terkejut dengan suara wanita itu, kini aku diharuskan mengetahui fakta bahwa proses penghidupan kembali telah selesai.
"Oi sialan, aku belum selesai disini!" Aku berteriak sekuat mungkin untuk menyampaikan argumen ku.
Namun System tidak menggubris perkataanku sama sekali, dan meneruskan hitungan mundur. Teriakanku tidak berhenti, seiring dengan hitungan mundur yang tetap berlangsung.
[Teleporting to the Zylth in: 4.]
Seiring dengan hitungan mundur, penglihatanku semakin menggelap.
"Setidaknya, biarkan aku memukulmu sekali!" Setelah menyampaikan protesku untuk terakhir kalinya, pandanganku telah gelap sepenuhnya, dan kesadaranku mulai menghilang.
[Teleporting to the Zylth.]
[Have a nice trip~.]
"Brengsek."
Untuk sekian lama, akhirnya aku dapat merasakan kehilangan kesadaran. Apakah ini yang disebut tidur, atau malah bisa dibilang pingsan? Entahlah ....
–
AKU dapat merasakan kesadaranku telah kembali, namun semuanya tampak gelap. Aku juga bisa merasakan keberadaan organ tubuhku, seperti tangan, kaki ataupun mulutku. Tetapi aku sama sekali tidak bisa menggerakkannya.
Melalui sensasinya, aku tengah dalam keadaan berbaring telentang, di atas sebuah permukaan yang bergerigi namun lunak. Angin semilir yang terkadang menerpaku, serta suara cuitan burung yang bersahutan di dekatku. Kemungkinan aku sedang berada di luar ruangan.
Apa mungkin saat ini aku telah bangun, namun tidak dapat membuka kelopak mataku?
Perasaan ini mirip ketika merasakan, kejadian Sleep paralysis. Keadaan ketika kesadaran telah kembali dari tidur, namun tubuh mengalami Ketidakmampuan temporer untuk bergerak atau berbicara.
Aku mencoba berbagai cara untuk keluar dari keadaan ini. Mulai dari memaksa anggota tubuhku bergerak, mengatur nafas, dan mencoba mengeluarkan suara.
Sedikit demi sedikit, aku mulai mendapatkan kontrol akan tubuhku. Aku mulai dapat menggerakkan jari tanganku, dan bersuara pelan.
"Bangun ... bangun ... bangun." kata ini kuulangi terus-menerus, dengan suara paling kuat yang dapat ku keluarkan. Meski kukatakan paling kuat, sebenarnya aku hanya berbisik pelan.
Aku menarik nafas panjang, dan bersiap melakukan sebuah gerakan spontan. Memaksakan diriku untuk bergerak bahkan jika harus mengorbankan seluruh tenagaku.
Setelah merasa cukup dengan segala persiapan, ini saatnya aku untuk bangun.
"Bangun sialan!" Dengan teriakan penuh semangat itu, aku mengeluarkan seluruh kekuatanku untuk membuka mata dan bangkit.
"Agh, ini sakit!" Seruku sambil memeluk erat kedua lengan bagian atas.
Mungkin karena gerakan tiba-tiba yang kulakukan, menyebabkan sarafku terjepit. Hal ini menimbulkan nyeri yang merambat hampir di sekujur tubuhku. Namun dengan pengorbanan itu, aku akhirnya dapat menggerakkan keseluruhan anggota tubuhku.
"Ini sakit sekali ... *Sniff." Tuturku hampir menangis, saat berusaha bergerak.
Memeriksa setiap bagian tubuhku, memastikan apakah aku mengalami kecacatan ketika proses penghidupan kembali.
Sebuah dress putih yang begitu anggun, terlihat sangat cocok ketika membalut tubuh indah ku. Dengan ornamen yang tidak terlalu berlebihan, menambah kesan menawan penggunanya.
Flip-flops Shoes yang tidak kusadari sebelumnya, ternyata tengah membalut kakiku. Warna putih bersih dengan tali yang memiliki border hitam, sangat cocok dipadukan dengan dress-ku saat ini.
"Ahh, dadaku menyusut." Ujarku sembari meremas kedua payudaraku. (Tidak ada perubahan)
Setelah selesai mengecek tubuhku, aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling tempatku berada. Sebelumnya aku tidak sempat memikirkan keberadaanku saat ini, karena rasa sakit yang menerjang.
Pupil mataku melebar, terkesima akan apa yang kulihat. Ingin kuberpikir bahwa ini semua hanya mimpi, tetapi rasa sakit yang kurasakan menunjukkan fakta.
Hutan lebat dengan pohon raksasa berjejer tak beraturan, sejauh mataku memandang. Burung dengan berbagai ukuran, terbang bebas di langit biru nan cerah. Berbagai jenis binatang, bergerak leluasa di padang rumput penuh bunga. Dengan rasa hangat cahaya yang menerpa tubuhku, dari sela-sela daun rimbun di pohon yang menjulang tinggi.
Aku bangkit dari dudukku, dan mulai berjalan perlahan menyusuri tempat ini.
"Ini terlalu indah, untuk sebuah dunia impian." Kalimat itu meluncur mulus dari lisanku, untuk menggambarkan tempat ini.
Berlari pelan aku mengitari pohon-pohon raksasa. Sesekali melompat pendek untuk menghindari akar besar yang menyembul di atas permukaan tanah.
Setelah lelah berlarian, aku membiarkan tubuhku jatuh bergulung di atas padang bunga. Tidak peduli jika aku harus mengotori dress putih indah yang kukenakan saat ini. Tidak peduli jika seseorang melihatku dan berpikir aku kekanakan.
Sehari saja, biarkan aku bertingkah seperti apa yang kudambakan. Kututup mataku dan merasakan semilir angin, yang berhembus di sela-sela bunga dan rerumputan.
"Sudah begitu lama, aku tidak dapat bergerak seleluasa ini." Ucapku riang, di tengah-tengah nafas yang berat setelah berlarian.
Mengingat aku terjebak dalam sebuah penjara dalam kehidupanku sebelumnya, dan kemudian berakhir dalam dimensi ruang kosong tanpa batasan waktu. Aku begitu senang dapat bergerak bebas disini.
Berbaring menghadap langit, aku memandang kearah intensitas cahaya yang hangat, namun menyilaukan.
Menggunakan telapak tangan kananku, aku mencoba menutup pancaran cahaya itu, meski beberapa kilauan cahaya dapat menerobos dari sela jariku.
"Bahkan di kehidupan lamaku, sudah berapa lama aku tidak dapat melihat matahari?" Bermonolog aku meratapi kehidupan monoton itu.
Seekor kupu-kupu hinggap di atas jari telunjuk, yang sedang menghalangi sumber cahaya di dunia ini.
"Hei, tuan kupu-kupu..." Panggilku pada serangga mungil dengan sayap indah itu.
Aku bangkit dari tidurku secara perlahan, agar kupu-kupu itu tidak terbang menjauh. Kupu-kupu berwarna hitam dengan corak putih polkadot pada sayapnya.
"Sama sepertimu. Apakah aku dapat terbang bebas di dunia ini?" Menghembus pelan kupu-kupu itu, aku memperhatikannya terbang semakin tinggi.
Menepuk-nepuk pakaian, guna membersihkan kotoran yang mungkin menempel. Sedikit melakukan peregangan tangan, aku kini telah sepenuhnya siap untuk melakukan penjelajahan.
"Baiklah, waktunya mencari informasi!" Seruku dengan semangat, dan mulai berjalan menuju lebatnya hutan.
–