
"MAKHLUK apa itu?!" Hutan raksasa dipenuhi oleh teriak ketakutan dariku sore itu.
Sesekali melihat sekilas ke belakang, aku dapat melihat teror terbesar yang pernah kurasakan seumur hidup.
Tanah berguncang setiap kali ia menapakkan kaki, menciptakan lubang besar dengan bentuk telapak binatang dengan lima (5) jari. Kuku tajamnya mencetak tanah dengan guratan-guratan besar. Keberadaan makhluk raksasa yang sedang mengejarku saat ini, kutemukan ketika sedang asik bermain dengan binatang kecil.
Makhluk ini dapat dijelaskan seperti: seekor beruang raksasa yang memiliki tanduk rusa. Berwarna hitam dengan sedikit coretan putih dekat leher, layaknya beruang madu.
Cakar tajamnya mengayun liar, merobek pohon-pohon raksasa di sekelilingku. Aku terlalu panik, memikirkan cara untuk melarikan diri dari makhluk itu. Berlari secepat yang ku bisa, dan menggunakan pohon sebagai penghambat gerakan makhluk pencipta teror itu. Hanya ini cara yang dapat kupikirkan.
"Mati, mati, kali ini aku akan benar-benar mati!!" Seruku panik, sambil dengan gesit melompati akar yang menyembul tinggi.
Tidak semua akar yang keluar dari tanah itu, dapat kuhindari. Terkadang aku harus tersandung beberapa akar yang menyembul, namun tetap memaksa untuk bangkit dan berlari lagi.
Aku melompati parit alami, dengan aliran air yang jernih. Indah, namun bukan saatnya untuk berhenti dan menikmati pemandangan.
"Uwahh, apa System akan memberikanku kesempatan hidup lagi setelah ini?" Ujarku selagi melihat pohon yang tumbang di sisi kananku.
[Jawab: Kau akan benar-benar mati, jika saat ini mati.]
Sudah cukup dengan keadaan genting yang kualami saat ini, aku diharapkan terkejut dengan keberadaan “Makhluk” yang satu lagi.
Memejamkan mata sebentar, dan mengumpat dalam hati dengan gigi yang digertak-kan. Tidak ada waktu untuk berhenti dan berdebat dengannya, aku tetap berlari dan berlari.
"Kau brengsek, kau masih di sini?!" Aku berteriak berang kepada siapapun “Dia”, yang mengaku tuhan itu.
[Jawab: System tidak pernah mengatakan/menyebutkan/menuliskan bahwa akan pergi atau menghilang.]
Cakar Berusa (beruang rusa) dengan kuat mengayun ke arahku. Ukuran yang begitu besar dari kuku tajam itu dapat membagi tubuhku menjadi 3 bagian, hanya karena terkena jari kelingking dan manisnya.
Aku melompat dan berguling ke depan, untuk menghindari serangan itu. Tubuhku terus berputar menghiraukan kasarnya permukaan tanah, sebelum akhirnya terhenti ketika menubruk batang pepohonan.
"Ya, ya akan kubuat kau menghilang untuk selamanya setelah ini ..." Tuturku sangat pelan, dengan nafas ngos-ngosan.
Nafasku begitu berat saat ini, detak jantungku yang begitu cepat memompa darah memperburuk keadaan, aku begitu lelah.
Terduduk bertumpu pada satu tangan dan lututku, melihat ke arah makhluk besar yang kini berhenti mengejar dan tengah mengamati gerak-gerikku. Keadaan ini dapat kugunakan untuk sedikit mengurangi rasa lelah, dan memikirkan solusi.
"Tapi untuk sekarang, ada cara untuk mengatasi situasi ini?" Tanyaku pasrah pada System.
[Jawab: Selain terus berlari hingga ia lelah, tidak ada.]
"Kau tidak berguna!!"
Sekali lagi hutan di penuhi dengan teriakan, raungan, dan beberapa suara burung yang terbang menjauh ketika pohon hinggapannya tumbang. Aku kembali dalam acara kejar tangkap, dengan makhluk berukuran delapan (8) meter sebagai lawan-ku.
Mustahil. Kalimat itu terngiang berulang kali dalam benakku.
Aku sudah hampir kehabisan seluruh tenaga saat ini, sedang Berusa itu masih terlihat baik-baik saja. Bahkan aku sudah tidak lagi berlari, dan berjalan terseok-seok dengan nafas tak beraturan. Untuk berbicara saja aku terlalu lelah.
Melirik kebelakang, dan melihat makhluk besar itu tengah berjalan santai ke arahku. Dia sedang bermain-main denganku.
Layaknya pemangsa yang telah memastikan kemenangannya, dan memutuskan bermain dengan buruannya.
[Saran: Dalam hitungan ke sepuluh (10), jatuhlah.]
System kembali bersuara, dengan sebuah masukan yang sangat mustahil untuk ku mengerti alasannya. Namun, untuk berargumen saja aku tidak ingin.
Pertama kalinya dalam hidupku, aku mempercayakan segala hal pada seseorang. Membiarkan tubuhku jatuh terjerembab.
Dengan pandangan kabur, aku dapat melihat cakar raksasa itu mulai bergerak cepat ke arahku. Namun, tetap tidak ada tanda-tanda solusi yang akan membantuku, dengan mengikuti saran System.
Detik berikutnya, kuku panjang dari makhluk itu menembus tubuh lemah ku. Menembus masuk kedalam tanah, memaku tubuhku pada daratan.
Darah yang mengalir deras dari lubang yang terbentuk di tubuhku, menciptakan kesan hangat yang mengalir di sekitaran. Indera meraba ku mulai mati, pandanganku buram dan aku mulai tidak dapat berpikir jernih.
"Sudah kuduga, seharusnya aku tidak pernah percaya pada Tuhan." Tuturku sangat pelan, dengan darah yang mengalir dari mulutku.
"Sial." Seiringkata terakhir itu, aku akhirnya sepenuhnya jatuh dalam kegelapan.
—
AKU terbangun dengan iringan suara jangkrik yang saling bersahutan. Membuka perlahan kedua mataku, pemandangan langit malam penuh bintang menyambut penglihatan.
Suara percikan bunga-bunga api yang berhamburan, ketika kayu yang digunakan sebagai bahan bakar, patah ditelan api.
Kuperhatikan api yang berkobar stabil, dalam tempat perapian sederhana. Api unggun yang menghangatkan malam, menjadi satu-satunya penerangan di suasana gelap nan sunyi ini.
"Di mana aku?" Aku duduk dari posisi tidur, dan mulai menganalisis keadaan sekitar.
Aku seperti berada di sebuah tempat perkemahan, yang hanya beratapkan langit. Batu yang disusun mengitari api unggun, dapat ku asumsikan sebagai tempat duduk.
Sedang aku tertidur pada sebuah batang pohon yang cukup datar, tak jauh dari perapian. Pohon yang sebagai tempat tidurku, di belah dua secara rapi, hingga tidak menyulitkan untuk tidur di atasnya.
Ku pijat leher belakangku yang kaku, karena tidur pada permukaan keras. Tulang-tulang berderak ketika aku mencoba bergerak paksa.
Menundukkan kepala dan mengurut batang hidungku. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum aku tertidur.
Sedikit demi sedikit aku dapat memahami keadaanku, tetapi ingatanku berhenti ketika aku jatuh pingsan, setelah kuku Berusa menusuk tubuhku.
Dengan panik, aku melihat kondisi perutku yang tertusuk. Tidak mengerti sebabnya, perutku bersih tanpa bekas luka sedikitpun. Seakan-akan kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
Sesuatu yang lebih membuatku bingung adalah, pakaian yang kugunakan. Dress putih telah berganti dengan sebuah kaos T-shirt berukuran besar tanpa bra. Bagian bawah tubuhku hanya tertutup ****** ***** berwarna putih dengan Border pink, yang kugunakan sebelumnya.
Sedikit bercak darah menghiasi kedua pakaian ini, meyakinkanku bahwa kejadian sebelumnya benar terjadi. Lantas apa yang terjadi, hingga tubuhku tidak terluka sama sekali?
Sebentar melupakan hal rumit itu, aku mengingat sesuatu yang jauh lebih penting.
"System!" Panggilku setengah berteriak, ketika mengingat keberadaan “makhluk” berbahaya satu ini.
"Kau sialan, Kau mencoba membunuhku sekali lagi?!"
[Jawab: Aku memberimu saran, agar tetap hidup.]
"Apanya yang saran untuk membantuku bertahan hidup?! Meski tidak ada bekasnya, tubuhku tetap berlubang ketika mengikuti saranmu!" Meski aku tahu dia dapat mendengarku tanpa harus berteriak, tapi aku tetap ingin menumpahkan kekesalan dalam benakku.
[Jawab: saran yang kuberikan adalah, jatuhlah ketika hitungan kesepuluh (10).]
[Bukan, jatuh secepat yang kau bisa]
Aku terenyuh ketika mendengar jawabannya. Setelah dipikirkan ulang, dia sama sekali tidak salah.
Aku langsung terjatuh, ketika dia memberikan saran itu. Tetapi ada perbedaan apa diantara hitungan kesepuluh (10) dan jika aku jatuh saat itu juga.
"Jadi ini salahku?" Tuturku pada diri sendiri, System sama sekali tidak menjawabnya.
Aku mulai menerima kesalahanku dalam memproses informasi. Untuk saat ini lebih baik aku mulai berpikir tentang keadaanku sekarang.
"Dari awal kenapa aku tidak mati? Apakah ada seseorang yang menolongku?" Ucapku pelan, sembari memiringkan kepalaku heran.
"Melihat kau yang bisa berteriak ceria, tampaknya kau telah baik-baik saja."
Aku terkesiap ketika tiba-tiba saja, sebuah suara muncul dari balik kegelapan malam. Suara berat dari seseorang yang ku yakini laki-laki, meningkatkan kewaspadaanku.
Langkah kaki yang mendekat dari dalam bayang-bayang, menjadi pertanda untuk aku bersiap akan segala kemungkinan.
Bangkit secara perlahan. Aku menyeret kakiku pelan, untuk membuat jarak yang kurasa cukup aman.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun." Suara yang berasal dari pria itu kembali muncul, ketika keseluruhan tubuhnya telah terekspos oleh cahaya dari api unggun.
Seorang pria dengan perawakan remaja beranjak dewasa, menyunggingkan senyum ramah ke arahku. Satu tangannya melambai riang, menambahkan aspek positif pada dirinya.
Meski dia terlihat cukup ramah, aku tidak bisa menurunkan kewaspadaanku begitu saja. Bahkan penculik anak repot-repot membeli permen, untuk mengelabuhi korbannya.
Kuamati tubuhnya yang cukup besar dengan bahu yang lebar. Otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna, terlihat jelas karena ia tidak mengenakan pakaian apapun bagian atas—Ya, dia baik, jika mengikuti referensi apa yang ingin ku lihat.
Aku tidak tahu apapun tentang bertarung, tapi aku yakin dia kuat. Pikirku setelah mempercayakan diriku pada insting bertahan.
"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan padaku?" Tanyaku mulai menginterogasinya, dengan sedikit menunjukkan aura mengancam.
Ia memegang dagunya, dan mengangkat kepalanya ke atas sambil bergumam pelan. Memejamkan mata sebentar, lalu kembali membukanya dan menatap ke arahku.
"Aku Iry, hanya Iry. Kalau kau bertanya apa yang kulakukan, aku hanya menolongmu." Jawab pria itu dengan sopan dan tetap tersenyum ramah.
Melihat respon yang diberikannya, aku sedikit dapat berhenti khawatir untuk sementara.
"Rikka, Kaede Rikka." Ujarku membalas perkenalannya.
Dia berjalan mendekati perapian, dan duduk bersebrangan dari posisiku. Matanya menatap fokus ke arah api yang menyala, dengan tangan yang sibuk memperbaiki kayu bakar.
Aku dengan sigap menarik kaos yang ku kenakan ke bawah, menutupi bagian bawahku yang hanya celana dalam—meski tidak terlalu berpengaruh.
Di situasi apapun, wanita tetap harus mempertahankan kehormatannya. Prinsip yang akan terus kupegang teguh.
"Jadi kali ini, Rikka ya." Tuturnya sangat pelan, namun masih dapat kudengar.
"Maksudnya?" Ucapku bingung dengan pernyataannya.
Dia menatapku dengan pandangan pura-pura bingung, yang masih kentara di wajahnya.
"Hm, maksudnya apa?" Jawabnya dengan membalikkan pertanyaan-ku.
Aku kembali bersiaga dengan gerak-gerik mencurigakannya. Sedang ia tetap fokus, menambahkan kayu bakar dan sesekali meniup bara api.
"Maksudmu dengan 'kali ini Rikka'. " Perjelas ku pada pertanyaan, sekali lagi.
Dia mengalihkan matanya ke kanan, dan tidak menjawab untuk sesaat.
Perasaanku mengatakan ia berbohong, dan sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi tidak dapat kutemukan alasan berbahaya dari tindakannya yang menutupi sesuatu.
Apa yang bisa didapatkan dari nama? Juga ia telah menolongku dari kematian sebelumnya.
Mungkin ia hanya tidak ingin menceritakan masa lalunya. Dengan meyakini hal itu aku bisa sedikit menurunkan rasa khawatirku, meski tidak sepenuhnya.
"Mengenai kau yang menolongku, aku sangat berterima kasih." Aku sedikit menundukkan kepalaku, memberikan rasa hormat dan terima kasih padanya.
Dia menggelengkan kepalanya pelan, dan sesekali melambaikan tangannya. "Ah tidak masalah, aku memang sedang memburunya."
Jadi dia sedang berburu di hutan ini. Tapi berpikir untuk memburu binatang sebesar itu, bahkan jika System mau menghidupkanku kembali, aku akan menolaknya. Pikirku setelah membayangkan ukuran dan bentuk mengerikan Berusa.
"Ah, kau pemburu, jadi di mana temanmu yang lainnya?" Ucapku sambil mencoba mencari di gelapnya malam.
Memikirkan tidak mungkin manusia dapat memburu binatang itu sendirian. Jadi wajar saja aku mengira ia memiliki kelompok berburu.
Iry menatapku seakan bingung. "Teman apa?"
Sebingung apapun ia, aku jauh lebih bingung. Pertanyaanku bukanlah sesuatu yang sulit untuk dimengerti, juga bukan hal yang terlalu privasi untuk dijawab.
"Temanmu, teman yang membantumu berburu." Ucapku memperjelas pertanyaan, yang seharusnya sudah cukup jelas.
Iry semakin bingung dengan pertanyaanku, alisnya berkerut dan matanya menerawang jauh. Bahasa-ku yang sulit dimengerti, atau dia yang terlalu bodoh?
"Tidak, aku sendirian." Jawabnya setelah mencoba meyakini dan mencerna pertanyaan itu.
"Huh?!" Bahkan itu bukanlah sebuah kata. Namun suara itulah satu-satunya bukti, penolakan dan rasa tidak percayaku akan jawabannya.
Ia terkejut namun tetap memasang tampang bingungnya, dengan sedikit mengangkat kedua bahu.
"Jadi-... Jadi kau punya senjata yang bisa menakutinya atau membunuhnya sekali serang?" Tanyaku dengan memikirkan satu-satunya kemungkinan yang tersisa.
"Tidak, aku tidak menggunakan senjata seperti itu. Dari awal Urvidae bukanlah makhluk yang sulit di hadapi." Iry menjelaskan dengan santainya.
'Binatang sebesar itu? Dan apa itu Urvidae, lebih bagus Berusa!' Pikirku tidak percaya dengan Iry yang mengatakan binatang besar itu, bukanlah sebuah ancaman yang terlalu berbahaya.
Aku terduduk lemas di salah satu batu yang tersusun, sambil tetap menutup ****** ***** ku dengan T-shirt besar ini. Mataku menyipit tidak percaya, mencoba mencari kebohongan dari dirinya.
Mungkin karena melihat ekspresi tidak percayaku, Iry dapat menarik sebuah kesimpulan.
"Ah, jadi begitu. Kau bukanlah salah langkah dalam menghadapi Urvidae, tapi kau dari awal tidak dapat melawannya." Tarik kesimpulan Iry, yang sepenuhnya benar.
Ini akan menjadi masalah gawat, jika seseorang yang dapat mengalahkan beruang berukuran ±8 meter sendirian, mengetahui betapa lemahnya keadaanku. Belum lagi orang itu merupakan orang asing yang kutemui di tengah hutan belantara, dan tidak kuketahui watak aslinya.
"Jadi System tidak menjelaskannya padamu?" Ucap Iry dengan pertanyaan yang jauh lebih mengejutkan lagi.
"Kau-.... Kau mengetahui tentang System?!" Dengan penuh penasaran, aku ingin mengetahui informasi yang dimilikinya.
Dia tertawa kecil dan memberikan senyuman miring. Seakan ia sedang meledek ketidaktahuan ku.
"Wah, dari situ?" Jawabnya dengan tidak percaya.
"Ok dengarkan, akan kujelaskan dengan sedetail mungkin yang aku bisa."
Aku sedikit mendekat, sambil tetap mencoba menutupi bagian bawahku dengan T-shirt ini. Menaruh fokusku kepada Iry agar dapat mendengar jelas.
Ia menarik nafas panjang dan mulai menjelaskan tentang dunia ini, makhluk yang hidup di dalamnya, dan apa itu manusia di dunia ini.
Iry bercerita panjang, dengan sesekali masih terfokus pada api yang menyala. Bahkan aku tidak dapat memikirkan waktu, ketika mengetahui fakta-fakta mengejutkan yang diberitahukannya.
Singkatnya mengenai penjelasannya, akan ku rangkum seperti ini.
—
Dunia ini bernama Zylth, sebuah tempat yang memiliki kemiripan hampir sempurna dengan bumi.
Sebuah tempat di mana makhluk yang terakhir bertahan, dan mati dalam pemberhentian program dunia (akhir dunia). Dihidupkan kembali oleh System dalam dunia ini, dengan beberapa perubahan data.
Setiap keberadaan di dunia ini mengalami perubahan, penambahan, dan penghapusan data, oleh System pada program-nya. Hal ini juga tentu saja, akan mempengaruhi fungsinya.
Ada beberapa program yang telah diketahui kegunaannya setelah diubah.
Manusia di dunia ini tidak akan pernah menua, tetap berpenampilan sama dengan waktu sebelum ia mati ketika di dunia lama.
Contoh lainnya adalah kemampuan manusia. Kemampuan manusia di dunia ini, jauh lebih sempurna dibandingkan kehidupan di dunia lama.
•Manusia dapat mengubah Keadaan tubuhnya sendiri, hanya dengan menambahkan poin pada panel (Status)-nya.
•Manusia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan, hanya dengan mengorbankan poin miliknya (Create).
•Manusia dapat menyimpan sebuah program dan mengeluarkannya kembali, hanya dengan ganti beberapa poin (Inventory).
•Manusia dapat secara otomatis menguasai sebuah keterampilan, dengan poin sebagai bayarannya (Skill).
Dengan System sebagai batasannya, ia menambahkan data (poin) pada program makhluk hidup. Hanya dengan menggunakan alat pertukaran yang berupa (poin), manusia dapat melakukan hampir segalanya.
(Poin) bisa di dapatkan, dengan mengambil (poin) milik makhluk lain. Setiap makhluk di dunia ini memiliki (poin), simpelnya (poin) itu sendiri merupakan ganti nyawa makhluk tersebut.
Ketika poin mencapai nol (0), meski kau tidak terluka atau sakit sedikitpun, Program-mu akan berhenti berkerja—mati. Sebaliknya, semakin banyak (poin) yang kau miliki, kau akan tetap abadi.
—
Aku tercengang, kagum dan takut di setiap penjelasan itu. Rasanya terlalu sulit untuk percaya, dengan kenyataan yang tampak seperti game di dunia ini.
Aku bahkan sempat berpikir Iry gila, tetapi karena mengingat kemungkinan dari kemampuan System, aku dipaksa untuk percaya.
"System?" Aku berkata pelan, mencoba meyakinkan sekali lagi penjelasan Iry pada System.
[Jawab: Itu realitas]
Jawaban singkat dari System, meruntuhkan segala keraguanku.
Tercengang. Menutup mulutku dengan satu telapak tangan, sedang tangan lain tetap menarik kaosku, tidak dapat berkata apa-apa dengan keadaan ini.
"Memang terlalu sulit dipercaya, tapi itu kenyataannya." Tutup Iry pada penjelasannya.
"Mungkin ini dapat dikatakan sebagai contoh. Kau telah memeriksanya bukan, lubang di tubuhmu."
Setelah Iry mengatakan itu, aku mengingat tubuhku yang bersih tanpa bekas luka. Aku mengangguk pelan mengetahui maksudnya.
"Dengan bantuan System (Create), aku menciptakan ulang jaringan-jaringan dan sel di tubuhmu. Oleh karena itu, bekas lukanya tidak ada."
Jadi maksudnya, dengan dia menciptakan sel dan jaringan di tubuhku yang hilang ketika aku terluka. Sama halnya seperti menciptakan ulang dan mengganti daging, kulit, saraf, darah dan organ-organ dari tubuhku.
Itu menjelaskan mengapa bekas lukanya menghilang. Dengan bantuan System, dia menciptakan kondisi dimana dari awal memang tidak pernah ada luka pada tubuhku.
"Ah, jika kau ingin melihatnya secara langsung, seperti ini."
Tiba-tiba Iry bangkit, membuatku secara panik ikut bangkit. Dengan kemampuan gila yang diberikan System, apapun dapat terjadi di situasi ini.
"Create item: Clothes; T-shirt, Short Pants" Iry mengucapkan itu dengan mata tertutup.
Tangannya menggapai ke udara kosong. Dia diam untuk beberapa detik, sebelum sebuah partikel bercahaya tiba-tiba muncul di telapak tangannya.
Aku mengambil salah satu tongkat dekat perapian dan bergerak mundur, takut akan apa yang mungkin dia lakukan.
Partikel itu mulai menyatu, dan membentuk sebuah bentuk yang dapat ku kenali, pakaian?
Iry membuka matanya, dengan menggenggam Jeans short pants, dan kaos T-shirt bersih berwarna hitam di tangannya. Dia melempar pakaian itu ke arahku, yang dengan sigap ku tangkap dengan satu tangan—sedang tangan lainnya tetap memegang tongkat.
"Kau terlihat tidak nyaman dengan pakaian itu." Ujarnya, sambil menunjuk tubuhku dengan dagunya.
Aku mengamati tubuhku sendiri, yang hanya memakai T-shirt dan ****** ***** penuh bercak darah. Wajahku memanas, dapat kuketahui pipiku yang mulai memerah.
"Dari tadi aku penasaran, apa kau yang mengganti bajuku?"
Akhirnya aku dapat menanyakan salah satu misteri yang belum terpecahkan.
Iry tampak sedikit mengingat-ingat sesuatu. "Hm? Ya tentu, badanmu penuh darah, jadi aku takut kau tidak bisa beristirahat dengan nyenyak dan malah semakin parah, jadi aku membersihkannya ..."
"Ah, jika kau menginginkan pakaianmu, aku menggantungnya di dahan pohon itu. Itu pun jika kau lebih memilih menggunakan pakaian yang bolong." Jawabnya panjang, sambil menunjuk salah satu pohon yang tidak terlalu tinggi.
"Kau melihatnya?"
"Melihat apa?" Dengan wajah polos ia menanyakan hal itu.
"Kau melihatnya, bukan??" Menahan kesal aku menanyakan itu gemas.
Wajahku mungkin telah memerah sepenuhnya saat ini. Aku menunduk, tidak ingin melihat ke arah wajahnya.
"Ohhh~..."
Mungkin karena menyadari maksud pertanyaanku, Iry mengangguk kecil dan menampilkan wajah paham dengan mulut terbuka. Memukul pelan telapak tangan kirinya dengan genggaman tangan kanan, ia lalu bersiap ingin melakukan sesuatu.
"Terima kasih banyak!" Ucapnya riang, sambil membungkukkan badan.
"Mati!" Seruku geram.
Ku-lempar kayu yang tadi kugenggam ke arahnya, walau dapat dengan mudah dihindari olehnya.
Tidak ingin berlama-lama bersamanya, dan berakhir aku harus bertatapan dengan wajahnya. Aku langsung pergi menuju kegelapan untuk mengganti pakaianku.
—