
TIDAK jauh dari perkemahan, aku menemukan sungai kecil yang kemungkinan tempat Iry mengambil air— untuk membasuh tubuhku. Memikirkan itu justru membuatku semakin malu. Menggelengkan kepala, aku berusaha menghilangkan bayangan Iry yang sedang membasuh tubuhku.
Secara perlahan aku mencelupkan jari-jemari kakiku, sebagai pengukur suhu air.
"Wah, dinginnya!" Pekikku terkejut, lantas menarik kembali kakiku.
Air yang sangat dingin dengan hembusan angin malam—akan membutuhkan waktu bagiku untuk membiasakan diri.
Setelah dapat beradaptasi, aku mulai membersihkan tubuhku dari keringat dan kotoran. Membasuh punggungku dengan air jernih, pada malam berbintang di tengah hutan.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengakhiri sesi mandi. Ya, tidak butuh waktu lama. Aku keluar dari dalam air, dan menghampiri dahan dengan pakaian yang diberikan oleh Iry, tergantung di atasnya.
Karena Iry tidak memberiku pakaian dalam, dan bahkan jika ia memberikannya aku tetap tidak akan memakainya. Aku terpaksa mengenakan Jeans Short pants tanpa ****** *****, karena milikku sebelumnya penuh akan bercak darah. Mengganti T-shirt putih berukuran besar yang kupakai sebelumnya, dengan T-shirt baru yang diberikan oleh Iry, tetap tanpa bra.
Aku berjalan kembali ke tempat Iry berada, sambil membawa gulungan T-shirt putih, karena kemungkinan pakaian ini milik Iry.
Cukup lama aku mencoba untuk menghilangkan noda darah dari pakaian itu, namun tidak dapat hilang sepenuhnya. Juga aku memutuskan untuk membuang ****** ***** lamaku, dengan menghanyutkannya di sungai.
Sesampainya di tempat, aku di hadapkan dengan Iry yang memasang wajah kusut sedang memikirkan sesuatu.
"Iry, kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Ah, Rikka. ****** ***** tali atau ****** ***** rumbai, mana yang lebih kau suka?" Dengan spontan tanpa keraguan, ia mengajukan pertanyaan itu.
Aku melempar kaos lembab miliknya, tepat ke arah wajah. Ia sama sekali tidak menghindar, atau menangkis lemparanku.
"Bahkan jika mustahil untukku membunuhmu, aku akan membunuhmu!" Ujarku dengan nada penekanan di setiap katanya.
Ekspresi bingung Iry berubah jadi waspada setelah aku mengatakan itu. Ia menyunggingkan senyuman memohon ampun, sebagai permintaan maaf. Aku yang sadar mungkin telah berlebihan, menghembuskan nafas panjang guna meredakan emosiku.
"Hmm, maaf Iry, tapi aku sungguh tidak apa-apa." Ucapku menyesal.
Meski terkesan tidak sopan, Iry hanya berusaha membantuku. Melempar baju basah milik seseorang yang telah menolongku, bukankah aku malah terkesan tidak tau malu?
"Oh, enggak masalah." Jawab Iry sambil menggelengkan kepalanya cepat.
Suasana menjadi sedikit canggung, tidak ada yang ingin membuka pembicaraan. Kami hanya terdiam duduk di depan perapian, menatap nyala api yang berkobar indah.
Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk bangkit.
"Aku akan tidur duluan ya?" Ujar-ku pada Iry yang masih sibuk mengatur kayu-kayu kering yang menjadi bahan bakar api unggun.
"Hm, tentu." Dia menjawabnya dengan sebuah senyuman ramah.
Membalas senyuman ramahnya, aku juga ikut tersenyum senatural yang kubisa. Sulit rasanya tersenyum pada seseorang yang baru kau kenal, dalam situasi canggung.
Aku bergerak perlahan menuju tempat sebelumnya aku tidur. Meski keras, batang pohon yang dibelah itu merupakan satu-satunya kasur yang layak, di tengah hutan tak berpenghuni ini.
Mungkin terdengar aneh, jika aku memilih tidur, ketika seseorang yang baru kukenal berada di sekelilingku. Tetapi entah mengapa, rasanya aku dapat mempercayai Iry.
Aku berbaring di atas kasur yang keras, dengan langit luas di atasku.
Rigel ... Betelgeuse ... dan Bellatrix .... Ucapku dalam hati, sembari menunjuk bintang-bintang yang sedikit lebih terang daripada yang lainnya.
Jika aku bisa menemukan bintang-bintang itu, bukankah artinya aku masih berada pada koordinat yang sama ketika bintang itu ditemukan. Dalam artian lain, bukankah aku tetap berada di bumi?
Ingin sekali kutanyakan mengenai hal ini pada System.
"Orion."
Namun setelah aku mengatakan kata itu, tubuhku tiba-tiba terasa sangat lemah. Aku sangat mengantuk, rasanya seperti ada sesuatu yang memaksaku untuk berhenti berpikir lebih jauh.
Setidaknya aku tidak ingin mengakhiri hariku seperti ini. Meski harus melupakan sejenak masalah bintang, setidaknya aku harus menyelesaikan masalah yang terjadi saat ini.
"Terima kasih ya, Iry." Dengan kata itu, aku mulai menutup mata dan bersiap untuk tidur, tanpa menunggu jawaban darinya.
"Ya, selamat malam." Sebelum aku terlelap tidur, aku dapat mendengar lembut kalimat itu.
-
Cahaya di langit mulai menyingsing naik, menampilkan keagungannya. Cahaya yang mirip seperti matahari itu, di dunia ini disebut dengan Solis.
Menurut penjelasan Iry, semua penyebutan makhluk atau benda di dunia ini, menggunakan penamaan dari bahasa latin dan ilmiah.
Burung (Aves) yang berkicau merdu, saling bersahutan menyambut hari baru pagi ini. Sedang aku yang sudah bangun beberapa saat yang lalu, tengah memutar otak akan kejadian yang ku alami.
"System, jarak dari kematianku dengan keberadaan dunia ini, terpisah berapa waktu?" Tanyaku pada System, untuk memulai acara pemecahan puzzle pagi ini.
[Jawab: Jarak program dunia [Zylth] ini terbentuk, dengan program dunia [Terra] tempat dirimu berjalan sebelumnya dihentikan. 260.000 tahun dalam hitungan waktu pada program duniamu]
[Berdasarkan kematianmu, 260.012 tahun]
Itu artinya, dunia lamaku berakhir sesudah aku mati 12 tahun lamanya. Jika begitu, aku bukanlah orang yang bertahan sampai akhir dunia, lantas mengapa aku dapat dihidupkan kembali.
"System, menurut penjelasan dari Iry, seharusnya aku bukanlah salah satu orang yang terpilih, apa yang terjadi?"
System tidak langsung menjawabku. Tampaknya hal itu berkaitan dengan sesuatu yang memiliki kuasa lebih tinggi darinya.
[Jawab: menurut ketentuan yang diberikan oleh %#&:∆°^, Code Program: NO. 280-(+#! memiliki-]
[Error]
Apa maksudnya dengan penjelasan yang disensor itu?
Sekali lagi System mengalami kesalahan. Aku tidak dapat menemukan petunjuk mengenai entitas satu ini.
Memutuskan untuk tidak asal menyebut permasalahan ini kepada siapapun. Sosok aneh atau irregular sepertiku, dapat menimbulkan beberapa masalah kedepannya.
"Kau bergumam sendirian, seperti itu lagi." Ujar Iry sambil menguap.
Aku cukup terkejut, ketika Iry yang baru bangun membuka suara. Apa dia mendengarnya?
"Ah, selamat pagi Iry, aku hanya sedang mencoba memikirkan hal-hal yang harus kulakukan kedepannya." Ucapku mencoba memberi jawaban yang meyakinkan.
Iry mengangguk mengerti. Dia lalu bangkit dari posisi tidurnya, dan mulai mengenakan T-shirt yang sebelumnya kupakai. Mengacak rambutnya pelan, guna menyingkirkan helaian rerumputan yang menempel—karena ia tertidur hanya beralaskan tanah.
Aku tidak dapat menyadari karena gelapnya malam. Iry memiliki rambut putih, dengan beberapa gradasi hitam di beberapa sisi. Matanya yang berwarna merah gelap, tampak begitu kontras dengan kulit putihnya.
Ketahanan manusia di dunia ini sungguh mengesankan, jika ia baik-baik saja ketika tidur tanpa pakaian apapun tadi malam. Keluhku dalam hati, setelah mengingat alasan aku terbangun, karena rasa dingin yang menjalar. Mungkin sebuah benda yang menyelimutiku, telah membantu agar aku tidak mati kedinginan tadi malam.
Ya, sebuah selimut yang mungkin pemberian dari Iry, sedikit menghangatkan malam ku. Aku menyadarinya ketika bangun pagi ini, dan mendapati tubuhku yang sudah tergulung selimut.
"Mengingat hal itu, mungkin kau belum mengerti cara menggunakan kemampuanmu, karena kau merupakan generasi baru ..."
"Jadi, bagaimana jika aku mengajarkanmu?." Jelas Iry panjang lebar disela-sela peregangan ringannya.
Aku yang mendapatkan informasi baru pagi ini, mulai menaruh rasa penasaran.
"Apa maksudnya dengan generasi baru?" Tanyaku dengan antusias. Bahkan aku mendekatinya, berdiri di samping Iry, dan ikut meregangkan badan.
"Aku belum menjelaskannya kemarin?" Tanya Iry balik, yang ku jawab dengan gelengan kepala singkat.
"Manusia yang dihidupkan kembali ke dunia ini, tidak langsung secara bersamaan, melainkan secara bergelombang." Penjelasan itu, menjelaskan mengapa Iry, tidak bingung ketika aku tidak dapat menggunakan kemampuan unik milik manusia di dunia ini.
Sekarang permasalahannya adalah, apakah ada kemungkinan manusia yang juga baru dihidupkan kembali, memiliki kasus sepertiku (Mati sebelum akhir dunia).
"Jadi bagaimana?" Tanya Iry kembali, kemungkinan pertanyaan mengenai sarannya agar ia mengajarkanku.
Aku mengangguk kuat menyetujui. "Tentu saja!"
Iry tersenyum manis sambil bertolak pinggang. Ia bertindak seakan seorang instruktur, dan aku adalah pasukannya.
"Sebelum itu, kita akan sarapan terlebih dahulu, mungkin kau juga lapar mengingat kau tidak makan apapun semalam."
Pernyataan itu langsung membuatku terperanjat, rasa yang sudah lama tidak pernah kurasakan langsung menerjangku. Aku, lapar.
"Sudah 260.000 tahun aku tidak makan, dan aku baru menyadarinya sekarang." Tuturku menyadari kenyataan pahit itu.
Puncak rambutku diacak gemas oleh Iry. Rambut pagi yang tidak disisir, semakin berantakan dengan helai rambut yang mencuat di sana-sini.
"Kau memang aneh, daging beruang tidak masalah, kan? Rasanya juga mirip rusa, kok." Kata Iry dengan menahan tawa, dan hanya memberikan gelengan tidak percaya.
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Tidak peduli apapun itu, aku ingin makan.
Iry lalu melangkah menuju perapian, yang mulai padam setelah menyala semalaman. Menambahkan kayu bakar di atas perapian itu, ia lalu berdiri dekat dengan perapian. Merentangkan satu tangannya ke depan, dan mulai menggumamkan kata-kata yang hampir sama seperti sebelumnya.
"Create Chemical Reaction: Fire."
Setelah mengucapkan itu, api mulai menyembur dari tangannya yang terentang. Membakar kayu, guna menyalakan perapian.
Aku semalam sudah melihatnya, tapi ini benar-benar seperti sihir. Pikirku melihat kejadian itu.
"Setelah itu ..." Ucap Iry setelah melihat api yang telah menyala. Ia lalu mengarahkan tangannya ke sebelah perapian, lalu terdiam beberapa saat.
"Inventory." Kali ini dia mengucapkan kata yang berbeda.
Setelah mengucapkan itu, partikel cahaya yang keluar membentuk sebuah potongan daging mentah yang cukup besar, beberapa tumbuhan, alat memasak, dan bahan yang kemungkinan rempah.
Semua bahan telah terkumpul, Iry mengadakan acara memasak pagi, sedang aku memperhatikan dengan seksama.
"Ada sesuatu yang membuatku penasaran ..." Ujarku pada iry, di sela-sela ia yang sedang menaburkan garam (sal) di atas potongan daging.
"Jika System bisa melakukan hampir segalanya, apa dia tidak bisa membuat masakan?"
Aku cukup penasaran dengan hal ini. Dia bahkan bisa menciptakan pakaian, yang normalnya memiliki proses lebih lama. Tidak mungkin jika ia tidak bisa memasak bukan?
Iry tetap fokus pada kegiatan memasaknya, saat menjawab pertanyaanku.
"System dapat melakukannya, tapi entah karena alasan apa, setiap masakan yang dibuat tidak pernah memiliki rasa yang sesuai." Jawab Iry yang juga bingung mengapa.
Berkat kasus yang satu ini, aku akhirnya memiliki alasan bagus untuk menginterogasi System. Mungkin juga aku dapat kesempatan untuk meledeknya.
"System?" panggilku pada System, untuk mencari alasannya.
[Jawab: ...]
Aku telah menunggu jawaban yang akan diberikan, tetapi System tidak meneruskan perkataannya.
"Kau ingin mengatakan apa?!" Reaksiku kesal dengan responnya.
[Jawab: System hanya membuat makanan, berdasarkan cara paling optimal. Tanpa dapat meng-copy rasa maupun aroma masakannya]
“Alasan” yang diberikan olehnya dapat diartikan juga. System memasak dengan cara menggabungkan semua bahan, tanpa melakukan proses memasak yang sebenarnya. Sebenarnya hal itu cukup mengesankan, mengingat ia dapat mempertahankan bentuk masakan itu sendiri.
"Itu bukan alasanmu saja, kan?" Tanyaku memastikan, namun tidak mendapatkan Jawaban apapun dari System.
"Oi, oi, oi jawab!" Seruku kesal.
System sama sekali tidak menggubrisku, membuatku melancarkan beberapa ejekan padanya.
Puas berdebat dengan System, aku melihat Iry yang menatap bingung ke arahku. Pandangan Iry selalu sama, ketika aku berbicara pada System. Dia selalu menampilkan wajah yang keheranan, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Ingin aku menanyakan alasannya, tetapi tidak dapat menemukan cara yang tepat untuk itu. Aku tidak ingin dianggap terlalu percaya diri, dan malah mempermalukan diriku.
Tidak butuh waktu yang terlalu lama, makanan telah siap.
Daging yang tertancap pada sebuah tusukan, dengan diselingi beberapa sayuran, dan saus harum yang menggugah selera. Sebuah makanan yang begitu berat untuk sarapan sebenarnya.
Tidak ingin memikirkan apapun, aku mulai menyantap Barbeque yang masih panas itu. Sesekali meniupkan udara untuk mengurangi panas, tidak ada yang dapat menghentikan acara makanku kali ini.
"Iry... Sniff~... Sekarang tanggal berapa?" Tanyaku dengan intonasi nada haru.
Iry terdiam beberapa saat, mungkin mengingat-ingat. "Tanggal 17, bulan ke delapan (08) dari dua belas (12) bulan, tahun 172."
Itu artinya, aku telah mati selama kurang lebih. Sembilan puluh lima juta, tiga ratus dua puluh ribu, seratus enam puluh empat hari (95.032.164), atau sekitar (260.184) tahun lamanya.
Sudah lebih dua ratus enam puluh (260) milenium, aku tidak pernah merasakan kenikmatan makanan. Aku yakin siapapun dapat menangis, untuk sensasi ini.
Terburu-buru, aku bahkan lupa untuk mengunyah makananku. Mengakibatkan daging yang kutelan, tersangkut di kerongkonganku. Aku terbatuk-batuk beberapa kali, tercekik dan hampir tidak bisa bernafas.
Iry memberikan sebuah kantong yang terbuat dari kulit, berisikan air bersih. Aku segera menenggak senyawa dengan rumus kimia (H2O) itu, hingga habis tak bersisa.
"Iry, aku baru saja minum." Tuturku dengan mata yang berkaca-kaca, dan nada suara yang sesenggukan.
Sedang Iry terlihat begitu senang melihat tingkahku, mungkin terlihat lucu baginya. Dia lalu menyodorkan tusukan daging lainnya padaku, yang langsung ku santap cepat. Ini adalah acara makan yang sangat singkat—bukan karena makanannya yang sedikit, namun subjek yang memakannya terlalu cepat.
Aku menstabilkan pernafasan, setelah makan besar itu. Terduduk bersandar pada batu, yang berada di sekeliling perapian. Perutku terlalu penuh, bahkan sulit bagiku untuk bergerak.
Memperhatikan Iry yang dengan telaten, membersihkan bekas acara makan, dan perabotan memasaknya. Selain alat yang digunakan untuk memasak, sisa bahan masakan terbuat dari benda organik, jadi dapat dibersihkan dengan menguburnya. Dia lalu menggunakan api yang tersisa untuk merebus air bersih, mungkin ingin membuat suatu minuman.
Sedang berusaha menenangkan diri, rasa sakit secara tiba-tiba menyerang perutku. Iry yang melihatku mengerang sakit, langsung datang menghampiri. Aku bergelung sambil memegangi perutku.
"Kau kenapa?" Dengan panik ia menanyakan itu. Tetapi dikarenakan rasa sakit yang sangat, aku hanya menjawabnya dengan gelengan dan menunjuk perutku.
Dia mengangguk mengerti. "Sudah kuduga akan jadi seperti ini."
Setelah mengatakan itu, Iry menggunakan bantuan System untuk menciptakan sebuah rempah dan gelas. Ia mengiris rempah itu, lalu menyeduhnya dengan air hangat yang tadi direbusnya.
Aku memperhatikannya sambil tetap menahan sakit. Setelah selesai, ia menghampiriku dengan air seduhan itu.
"Minum ini!" Perintahnya padaku dengan cepat.
Dengan bantuan Iry, aku dapat duduk dengan bersandar pada lengannya. Menyeruput minuman itu sedikit, seketika rasa pedar menguasai indera perasa ku. Aku terbatuk karena tidak mengantisipasi rasa itu sebelumnya.
"Ini seduhan jahe (Zingiber officinale), rasanya memang agak pedas tapi minumlah. Ini dapat mengurangi sakit, akibat maag di perutmu." Iry mencoba menjelaskan. Dengan memaksa diri, aku meminumnya. Rasa pedas ini tidak sebanding, dengan rasa sakit di perutku.
Setelah habis meminumnya, memang rasa sakit ku sedikit berkurang, tetapi tetap tidak membuatku langsung lebih baik. Aku melihat Iry yang dengan sabar mengusap keringat di dahiku, sedang aku tetap menahan sakit dalam rangkulannya.
Orang bilang, "Saat bosan waktu akan terasa berjalan lama". Jika mengutip kalimat itu, maka saat sakit waktu akan terasa berhenti. Momen singkat yang kualami, terasa tidak akan pernah berakhir.
Tidak tahu berapa lama telah terlewati. Sakit di perutku sudah jauh lebih baik. Iry kembali menyandarkanku pada bebatuan, sedang ia menyeduh minuman lain.
"Maaf ya." Ucapannya yang tiba-tiba itu, membingungkan ku.
"Untuk apa?"
"Seharusnya aku tidak menyediakan makanan berat seperti itu, padahal aku tau kau belum makan apapun." Sambungnya menjelaskan alasan konyol ia meminta maaf.
"Oi, kalau ada yang harus meminta maaf di sini, itu harusnya aku yang selalu merepotkanmu." Tangkasku tidak terima dengan pernyataannya.
Dia menatapku cukup lama, mencoba mencari kebohongan dalam diriku. Mungkin ia mengira aku hanya menghiburnya. Tetapi aku sungguh-sungguh di sini, sudah berapa kali aku mendapatkan pertolongannya. Dari awal bertemu saja ia telah menyelamatkanku, hingga kini dia tidak pernah ragu membantuku.
Jika terus begini, aku akan kehilangan kesempatan untuk membalasnya.
"Tapi aku-."
"Iry, jika kau terus begitu, kau hanya membuatku semakin bersalah." Sergahku menghentikan perkataannya.
Aku datang menghampirinya dengan tertatih. Menggenggam kedua tangannya, dan menundukkan kepalaku.
"Sebaliknya, aku sungguh berterima kasih padamu." Ucapku yang di balas senyuman lebar senang darinya.
Setelah itu, ia memberikan secangkir hangat teh chamomile (Matricaria chamomilla) padaku. Duduk bersebrangan dengan Iry, aku menikmati aroma dan setiap seruputan dari teh ini.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Iry memecah keheningan.
Menengadah untuk melihatnya, yang sedang menyimpan kembali cangkir dan teko.
"Sudah jauh lebih baik." Jawabku sambil memberikan acungan jempol.
Dia mengangguk paham. "Beristirahatlah sebentar, setelah itu kita mulai pelatihannya." Aku sempat lupa, bahwa Iry akan mengajari ku kemampuan baru manusia. Dengan semangat, aku mengangguk menerima sarannya.
Dua puluh (20) menit aku beristirahat, sebelum benar-benar mengatasi sakit di perutku. Dalam 20 menit itu juga, aku memberi sugesti pada diriku sendiri, agar tidak ceroboh saat makan kedepannya.
Kini kami berdua sedang bersiap-siap, sebelum memulai acara pelatihan. Iry mengatakan ia akan mengajariku di dalam hutan. Katanya jika hanya sebatas teori akan rumit, jadi lebih baik praktek langsung.
Berangkat lebih masuk ke dalam hutan. Aku dan Iry sedang mencari target untuk berlatih.
—